Container Icon

Mencari Cermin di Goa Batu Cermin

Sepulang dari Cunca Wulang, rombongan kecil yang terdiri dari saya, Mba Tati, Mad, Mas Gun, dan Gesine menuju Goa Batu Cermin. Letaknya di Desa Wae Sambi hanya berjarak sekitar 4 km dari pusat Labuan Bajo.

Welcome to Batu Cermin

Kami sampai di Goa Batu Cermin ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Kami pun membeli tiket masuk seharga 10 ribu Rupiah per orang (tidak ada perbedaan antara wisatawan domestik dan asing). Selanjutnya ditemani oleh seorang pemandu yang usianya masih sekitar 20 tahun, kami berjalan menyusuri jalan setapak sepanjang 300 meter menuju goa.

Si pemandu meminta ijin untuk memberi penjelasan dalam bahasa Inggris. Langsung kami iyakan, daripada kami harus mengalihbahasakannya lagi untuk Gesine. Tentang penggunaan bahasa ini, saya jadi teringat akan pemandu di Pulau Rinca. Karena orang asing di rombongan kami hanya satu yaitu Gesine, dia tetap menjelaskan segala sesuatunya dalam bahasa Indonesia. Yang ada kami bergantian menjadi penerjemah untuk Gesine.

Pemandangan keren sepanjang perjalanan menuju goa membuat kami beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Beberapa kali pula kami diingatkan oleh si pemandu untuk bergegas. Karena sebentar lagi sekitar kami akan gelap. Maklum, sudah sore. Kami adalah pengunjung terakhir untuk hari itu.

gazebo sederhana di tepi jalan

jalan menuju goa dinaungi bambu cantik

Goa Batu Cermin yang memiliki luas 19 hektar dan tinggi sekitar 75 meter ini terletak di bukit batu yang gelap. Ditemukan oleh Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda sekaligus arkeolog pada tahun 1951, baru pada tahun 1986 goa ini dibuka untuk wisatawan. Namun tetap saja, belum banyak wisatawan yang mengenal goa ini. Apalagi wisatawan Indonesia. Dari temuan fosil kura-kura dan koral di dinding goa, disimpulkan bahwa goa ini dulu berada di bawah laut.

Goa Batu Cermin

narsis dulu

Untuk menuju bagian dalam goa, kami menaiki tangga yang baru dibangun beberapa tahun lalu. Saya lupa memotret tangga yang kami lewati saat pertama kali memasuki goa. Tapi saya sempat mengambil gambar tangga yang ada di bagian lain. Semacam ini lah penampakannya...

tangga untuk masuk ke goa

memasuki bagian dalam goa

Selanjutnya kami masuk lewat lubang sempit yang hanya bisa dilewati oleh 1 orang, tidak bisa berpapasan. Sebelum memasukinya, kita harus memakai helm. Kalo engga pake helm, bisa-bisa kepala kita cedera karena terantuk stalaktit yang berada di langit-langit goa.

wajib pake helm

mind your head

Oya, memasuki goa ini sangat disarankan untuk memakai sepatu keds atau sandal gunung, ya. Karena ada ancaman cedera kaki karena tersandung bebatuan di dasar goa. Hehehe...

Karena sudah diwanti-wanti oleh pemandu bahwa kita akan melewati lorong goa yang rendah sehingga nyaris harus selalu merunduk (atau bahkan merangkak bila perlu), Mba Tati memilih menunggu di luar. Kuatir kelelahan. Bagaimanapun, dia lagi hamil.

Berbekal senter, bergantian kita memasuki lubang tersebut. Setelah merunduk-runduk selama beberapa saat, sampailah kami di dalam goa. Ternyata bagian dalamnya lumayan luas.



Dari area luas itu, kami masuk lagi beberapa meter ke dalam lorong. Disana kami melihat bahwa ada beberapa bebatuan yang terlihat berkilau. Rupanya karena kandungan garam di dalamnya. Seperti sudah saya sebutkan di awal, goa ini dulunya memang berada di bawah laut.

terlihat ada kristal-kristal putih di beberapa bagian

Selanjutnya kami diajak melihat fosil kura-kura.

fosil kura-kura

Selain fosil kura-kura, di dinding goa kami juga melihat batuan yang penampakannya seperti sosok Bunda Maria.

entah kenapa warnanya berbeda

Jadi, mana cerminnya? Itu pertanyaan yang ada di benak kami semua.

Kami diajak berjalan terus sampai bertemu dengan sebuah area yang mana disitu ada sedikit celah di atas.  Sinar matahari memasuki bagian dalam goa melalui celah yang sempit itu. Saat hujan, air hujan akan memasuki goa dan menimbulkan genangan. Nah, genangan air yang terkena sinar matahari inilah yang disebut cermin. Oalah, jadi bisa liat cerminnya kalo lagi hujan doang tho? Sayangnya disini hujan jarang terjadi.

air hujan bisa masuk dari celah ini

Ya sudahlah, kita foto-foto aja disitu, hihihi...

di bawah sini tempat "cermin"-nya

Selanjutnya kami kembali ke area luas yang tadi. Pemandu sempat meminta kami mematikan senter untuk beberapa saat. Yang ada di sekitar kami hanya hitam. Benar-benar gelap. Selanjutnya pemandu mengajak kami keluar lewat sisi yang lain.

sedikit mendaki untuk bisa keluar goa

Kami berjumpa dengan akar-akar pohon yang merambat di beberapa bagian dinding goa.

rambatan akar pohon

Pemandu mengajak kami ke suatu sudut. Ternyata ada sebuah fosil ikan di dinding luar goa.

penampakan fosil ikan

Tak berlama-lama disana, kami pun kembali menyusuri jalur dengan lengkungan pohon bambu untuk kembali ke tempat parkir. Setelah memberikan tip sebesar Rp 30.000, kami pun berpamitan dengan si pemandu.

Perjalanan pulang ke pusat kota Labuan Bajo hanya memakan waktu 20 menit. Dengan demikian, berakhirlah trip singkat kami di Labuan Bajo.

4 comments :

kang jum said...

tapi sayang, jauh banget dari TKP mbak.

isti thoriqi said...

Hmm, iya siy, jauh kalo dari sini :(

IBU WINDA DI GARUT said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Josefine Yaputri said...

Wisata goa..gelap tapi seru, ya? :D

Josefine Yaputri
Content Writer & Editor
PT. Grivy Dotcom
P: +62(0)21 2960 8168
Office 8 Tower, Floor 18A
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

Post a Comment