Container Icon

Live On Board - Cerita Saya Selama Tinggal di Kapal

Ini postingan kedua saya tentang exploring Flores. Postingan pertama yaitu tentang Komodo Sailing Trip bisa ditengok disini. Sebelum melanjutkan cerita tentang spot-spot seru yang saya datangi, saya pengen cerita tentang suka duka tinggal di kapal. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir separo liburan saya habiskan dengan sailing trip. Bersama 15 teman dan 5 orang ABK, kita menghabiskan 4 hari 3 malam di sebuah kapal. Sebuah home stay di Senggigi menjadi titik awal keberangkatan. Btw, home stay-nya lumayan lho, deket ama pantai. Jadi pagi-pagi sebelum sarapan, saya sempat melipir buat narsis di Pantai Senggigi bentar :p

Senggigi, tinggal jalan kaki 5 menit dari home stay

Dari home stay, kami naik bis ke pelabuhan Kayangan.

welfie itu wajib!

bisnya lucu yak

Oya, awalnya peserta sailing trip ini adalah 18 orang termasuk Kang Indra. Dalam perjalanan menuju pelabuhan, kami berhenti di supermarket. Ketika sebagian besar dari kami sedang belanja, tiba-tiba Irene, salah satu anggota tim kami, sakit. Untungnya sopir bis kami dengan sigap mengemudikan bis ke arah hotel terdekat yang memiliki fasilitas klinik. Ikut dalam rombongan ke klinik ada Mas Matius - suaminya Irene, Kang Indra, Mba Tati, dan saya sendiri. Kebetulan saya dan Mba Tati lagi males ikut belanja jadi kami stay di bis. Waktu Mas Matius panik, saya memanggil Kang Indra.

Singkat cerita, kami sampai di klinik. Dengan bantuan kursi roda, Mas Matius setengah berlari mendorong istrinya ke ruangan klinik yang letaknya agak jauh dari tempat parkir. Sambil setengah berlari di samping kursi roda, saya udah nangis-nangis aja karena badan Irene udah dingin. Kami berusaha mengajaknya bicara terus-menerus karena Irene udah nyaris tidak sadarkan diri. Mas Matius sampai menepuk pipinya berulang-ulang agar Irene terus terjaga. Untunglah kemudian petugas klinik dengan sigap menolong Irene.

Kang Indra sempat menawarkan untuk menunggu sampai kondisi kesehatan Irene membaik. Namun Mas Matius tidak berani mengambil risiko. Ia menyatakan mundur dari trip. Sebuah keputusan yang sangat bisa dipahami. Secara agenda kami adalah berlayar. Bisa dibilang kami akan berada "jauh" dari peradaban. Kalo tiba-tiba Irene nge-drop lagi, kami engga tau musti bagaimana. Jika kami berada di posisinya, pastilah kami akan memutuskan hal yang sama. Jadilah dengan berat hati kami meninggalkan Irene dan Mas Matius di Lombok. Meskipun kami baru saja saling kenal satu sama lain, entah mengapa kami semua di tim sailing trip sudah merasa dekat. Begitulah traveler.

Dari klinik, kami kembali menjemput para anggota tim lainnya di supermarket. Beberapa menit kemudian, bis berhenti lagi di pasar buah. Wah, makin penuh aja ini bis. Bukan, bukan karena ketambahan penumpang, tapi karena ketambahan persediaan ransum. Hahaha...

bis yang penuh sesak oleh makanan

Kemudian bis pun melaju lagi. Kami sempat berhenti untuk sholat di... haha, saya engga tau itu dimana. Yang jelas setelah menempuh sekitar tiga jam perjalanan, tibalah kami di Pelabuhan Kayangan. Seorang penggembala bersama kambing-kambingnya menjadi pemandangan pertama yang menyapa mata kami.

permisi ya, Pak

Satu persatu kami turun ke kapal kayu. Belum juga mulai berlayar, sebuah pelajaran penting kami dapatkan: Jangan mengantongi HP atau benda berharga lain saat naik atau turun dari kapal. Kecuali ada risleting yang bisa menahannya dari risiko terjatuh. Berikut adalah foto terakhir yang diambil dengan benda kenangan tersebut.

pada baru slese belanja

Jadi, benda kenangan apakah yang membuat si empunya ngerasa "sakitnya tuh disini" itu? Kamera? Handphone? Hmm, walo di blog-nya sendiri, Mas Ifan alias si empunya benda kenangan engga mau bilang itu apa tapi saya terpaksa menuliskannya. Dengan alasan tulisan tentang benda ini udah duluan nangkring di draft *alasan macam apah ituh*.
Kata Mas Ifan : "Ini trip termahal yang pernah diikutinya di Indonesia".
RIP Iphone 6-nya Mas Ifan... *lempar bunga ke laut*

Btw, kalo mau baca tentang Komodo Sailing Trip versi komplit, monggo mampir ke blog-nya Mas Ifan ya... Psst, ybs lagi cari jodoh loh! Kalo bisa suka travelling juga, secara Pak Bos satu ini hobi banget travelling. Udah keliling Indonesia, pulak! *ngiri*. Yang mau apply ato kirim CV buat jadi pasangan hidupnya, boleh nitip ke saya lho *mendadak jadi makcomblang*.

Eh, ini kenapa jadi postingan biro jodoh, sik. Maklum, Mas Ifan ini kampungnya sama kayak saya, alias sama-sama dari Malang. Bedanya, saya stay di Jakarta, Mas Ifan stay di Makassar.

Yak, kembali ke setting kapal dengan scene ketika semua bawaan (dan juga orang) sudah ada di kapal. Agenda pertama kami di kapal ini adalah makan siang. 

poto dulu sebelum makan

KAPAL = RUMAH 

Abis makan, kita poto lagi. Bandingkan poto di bawah ini dengan poto sebelum kita makan tadi.

poto lagi setelah makan

Ruangan tempat kami berfoto ini keliatan lebih lega, kan? Itu karena setelah makan siang, kami menurunkan tas-tas besar ke bawah lantai. Cuma tas-tas kecil dengan isi seperlunya aja yang boleh ditaruh di "lobi". Biar kapalnya engga sumpek, gitu. Lobi yang saya maksud disini adalah ruangan luas di depan ruang kemudi. Di sepanjang dindingnya ada papan yang dilekatkan membentuk semacam bangku, gitu. Oya, istilah lobi ini, bukan istilah umum loh, ya. Saya aja yang dengan sotoy-nya menyebut ruangan ini sebagai lobi :p

Selama 4 hari, agenda kami adalah mengunjungi pulau-pulau yang dilewati sepanjang pelayaran dari Lombok menuju Labuan Bajo. Kami akan snorkeling dan island hopping. Kalo sudah puas trekking dan main air, ke kapal inilah kami akan kembali. Singkatnya, kapal ini adalah rumah kami selama 4 hari 3 malam. Istilahnya adalah Live On Board, biasa disingkat LOB yang artinya tinggal di kapal.

Selain lobi dan ruang kemudi, disini juga ada ruang tidur di lantai 2. Yup, di dek kapal sudah disediakan matras, bantal dan selimut untuk kita tidur. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah peserta trip.

kamar tidur kami

Untuk menuju ke ruang tidur ini, ada 2 tangga. Yang satu di dekat lobi, tepatnya di sebelah ruang kemudi. Satu lagi di dekat toilet. Di kapal ini hanya tersedia satu toilet. Lengkap dengan bath tub, shower, dan pemanas air. Oke, boong. Toilet kapal ini sangat sederhana. Hanya berupa sebuah kloset duduk yang bersebelahan dengan ember dengan gayung di sebuah ruangan berukuran sekitar 1 meter x 0,7 meter. Kabar baiknya adalah toilet ini dilengkapi tisu dan gantungan baju. Air yang ada di dalam ember adalah air laut. Toilet ini terletak di bagian belakang kapal, dekat dengan dapur. Di antara dapur dan ruang kemudi, ada ruang ABK sekaligus merangkap ruang tidur mereka.

toilet di bagian belakang kapal

Oya, kalo tadi saya cuma menceritakan bagian-bagian dari kapal, maka ini dia penampakan kapalnya secara keseluruhan!

saat berlabuh di Gili Kambing

ketika berkunjung di Kampung Komodo


YEAH, WE'RE SAILING!!

Ketika kapal mulai berlayar, Kang Indra meminta ijin untuk memutar sebuah lagu *haiyah, pake ijin segala*. Selama 30 menit, "Full Sail" dari Ryan Farish mengalun dari HP-nya, memantul dari dinding-dinding kapal. Memenuhi rongga kepala. Mencuci otak kami. Memberi atmosfer baru di udara. Sebuah perasaan excited di hati terasa membuncah. Yeah, we're sailing... Emm, maap kalo agak lebay, but that's exactly how we feel! Sampai beberapa minggu setelah sailing trip berakhir, kami masih sering bernostalgia dengan lagu ini :)

Kembali ke kapal. Saat brainstorming song diputar, saya memperhatikan sekeliling. Kang Indra memakaikan bandana di kepalanya kemudian duduk diam memandang laut di atas sampan yang tertambat di anjungan kapal. Mungkin demikian ritualnya setiap kali memulai sailing trip.

Kang Indra khusyuk dalam diamnya

Setelah beberapa waktu, Kang Indra pindah duduk di atas "pagar", semacam papan yang menjadi batas antara lobi dan anjungan. Bergabung dengannya beberapa orang dari kami. Mereka ikut memandang laut di sekitar yang seakan mengucapkan "selamat berlayar" untuk kami semua.

nongkrong bareng

Anggota rombongan lainnya berbaring dan memejamkan mata di lantai. Yang menarik, di sudut lobi ada salon dadakan. Beberapa cewe mengantri untuk dikepang rambutnya oleh Mad.

kepangan cantik ala Mad

Puas mengamati sekeliling, saya kemudian mengeluarkan novel dari tas dan mulai membaca.

ada yang ngeh, engga, cover novelnya pink kayak baju saya loh! :p


5 GAYUNG AIR MANDI

FYI, persediaan air tawar di kapal sangat terbatas. Air tawar yang ada hanya cukup untuk memasak dan mandi. Eh, jangan girang dulu. Pemakaian air tawar untuk mandi disini ada jatahnya. Cowo 3 gayung, dan cewe 5 gayung. Saat mendengar tentang 3 dan 5 gayung ini, kami lumayan shock. Padahal kenyataannya tak sehampa yang dibayangkan. Lama kelamaan, saya bahkan merasa kalo 3 gayung bagi cewe pun sudah cukup. Lah, gimana bisa? Jadi, mandi di kapal pun ada tipsnya, loh. Pertama, byar byur dulu pake air laut. Trus pake sabun. Baru deh, abis itu pake air tawar. Selesai perkara!

Eh, tapi toiletnya kan cuma satu. Kudu ngantri berapa jam, coba? Ternyata pada kenyataannya cuma saya dan Mba Tati *dari 9 cewe di rombongan, cuma kami berdua yang berjilbab* yang mandi di toilet. Entah bagaimana ceritanya, entah siapa yang memulai, sore itu, sepulang snorkeling lanjut trekking di Gili Kambing, para cewe berkumpul di anjungan trus mandi rame-rame disana. Karena biasanya agenda kita sore itu adalah berenang, mereka mandinya ya sambil pake baju renang. Baru deh, setelah itu antri toilet, tapi engga bakal lama di dalam cos cuma ganti baju doang. Abis para cewe selesai mandi, gantian para cowo yang mandi rame-rame.

Sore-sore berikutnya, ritual mandi ya tetap seperti itu tadi. Mandi rame-rame ditemenin musik yang heboh. Semacam party kecil-kecilan di anjungan kapal. Air laut ditimba dulu sama Kang Indra trus digabyurin ke para cewe. Oya, kita cuma mandi sekali aja dalam sehari. Kalo pagi, engga pada mandi. Ngapain, toh abis itu bakal nyemplung ke laut. Hihihi...

Btw, tentang mandi rame-rame di kapal ini saya ragu buat majang potonya, takut dicekal FPI. Hihihi...


NGAPAIN AJA DI KAPAL?

Kelar snorkeling ato island hopping, kami pastinya akan berada di kapal. Di lobi yang bisa dianggap sebagai ruang serbaguna, kami akan menghabiskan sebagian besar dari waktu kami di kapal. Dari cuma sekedar duduk-duduk sambil mengobrol, membaca, main kartu, makan, bobo siang, bahkan bobo malam disini juga boleh kalo mau *plus tahan dengan goyangan kapal yang diterpa gelombang*.

bobo siang di lobi

ada juga yang sunbathing di anjungan

barisan kelaparan

Setiap sore selesai mandi, kami berkumpul di lobi. Ngobrol ato main kartu sambil menunggu makan malam disiapkan. Abis makan, ngobrol ato main kartu lagi.

ada yang ngobrol, ada yang main kartu,
ada yang cuma nonton yang lain main kartu *itu saya*

Kalo udah bosen, lampu dimatikan dan kita pindah ke anjungan depan untuk stargazing alias ngeliatin bintang. Soundtrack yang paling pas, apalagi kalo bukan "Sky Full of Stars" dari Coldplay. Sampe sekarang tiap denger lagu ini, yang muncul di ingatan adalah langit bertaburan bintang yang ada di atas kepala kita, yang kita pandangi sembari kapal berjalan. Beberapa dari kami mendapat keberuntungan melihat bintang jatuh saat stargazing ini. Sayangnya saya tidak termasuk. Oya, selain melihat ke atas, kami juga memandang ke bawah, ke lautan maksudnya. Di beberapa spot, kami bisa melihat laut berpendar karena plankton yang ada disana. Awesome!

Kalo baca paragraf-paragraf di atas tadi, pelayaran kali ini kayanya lancar jaya, ya. Lautnya bersahabat, gitu. Jadi, engga ada yang mabuk laut, ya? Eits, tunggu dulu! Cerita saya belum selesai..


KETIKA MALAM DATANG

Malam pertama tidur di kapal rasanya aneh, mungkin karena belum berpengalaman bobo di kapal. Meski demikian, ayunan ombak masih terasa nyaman. Saya sempat terbangun beberapa kali, namun bisa tidur lagi tanpa susah payah. Paginya, saya bangun dan menuju toilet untuk berwudhu. Rasanya masih baik-baik saja, tidak mual atau apa. Selesai sholat, Mba Tati minta tolong dibuatkan teh. Dia merasa sedikit mual. Bisa dimaklumi karena dia sedang hamil muda. Hah, hamil muda ikut berlayar? Fakta ini tak hanya mengagetkan kalian. Saya juga. Seluruh peserta sailing trip juga. Bahkan Mba Tati sendiri juga!

Jadi ceritanya dia baru tau kalo dia lagi hamil hanya 2 hari menjelang keberangkatan. Hal itu tak mengurungkan niatnya untuk tetap ikut trip bersama saya. Oya, saya kenal Mba Tati waktu nge-trip bareng ke Ambon. Waktu tahu saya mau ke Flores, Mba Tati langsung mupeng buat ikut. Engga tanggung-tanggung, dia pengen ikut dari awal trip sampai trip saya berakhir di Kupang nantinya. Hmm, baiklah... Saya hanya bisa berpesan untuk jangan memaksakan diri dan jangan sampai kecapekan. Kalo ada apa-apa dengan kehamilannya, bisa-bisa saya diomelin suaminya. Karena waktu tahu saya mau ikut trip, Mba Tati langsung mupeng buat ikutan juga. Dengan kata lain, Mba Tati ikut trip ini gara-gara saya. 

Saat mencari teh celup untuk Mba Tati, tiba-tiba saya sendiri merasa pandangan mulai berputar-putar. Wewww, sepertinya saya ikut mual. Hamil juga? Ngarep ini mah, jelas engga. Kata Pak Dulah, salah satu awak kapal, kemungkinan saya mual karena tadi berwudhu dengan air laut. Berkumur dengan air laut rupanya bisa membuat mual. Itu saya baru tahu. "Lain kali kalo mau sholat, bilang saya aja ya, Mba, nanti saya kasih air tawar," kata Pak Dulah baik hati. Waaa, baiknya... Makasiy ya, Pak ^^

Tentang Mba Tati yang pengen teh tadi, sayangnya teh celup engga tersedia. Mungkin engga ada yang kepikiran untuk beli di supermarket sebelum naik kapal kemarin. Untungnya Mas Indra dengan sigap sudah mengangsurkan segelas air putih hangat untuk Mba Tati. Kemudian segelas lagi untuk saya. Tak lama kemudian, teman-teman yang lagi duduk di anjungan kapal pada teriak "dolphins!". Saya pun merasa sehat seketika dan langsung bergabung dengan yang lain di anjungan depan kapal. Plus teriak-teriak heboh sendiri saat melihat ada dolphin yang lompat-lompat deket kapal.

Sayang engga dapet poto lumba-lumba yang oke. Yang ada poto kita yang baru selesai nontonin dolphins :p

ada yang masih ngantuk tuh :p


JANGAN SEPELEKAN JEPITAN BAJU

Selain cerita tentang body yang tiba-tiba merasa not delicious, pagi hari itu saya juga dikejutkan oleh pemandangan yang menyambut ketika turun dari dek. Kaos, bikini, celana terlihat berserakan di lantai kapal. Entah milik siapa saja. Rupanya semalam atau pagi tadi bertiup angin yang lumayan kencang. Rupanya dia berefek menerbangkan berbagai jenis kain yang tergantung di dalam kapal. Pagi itu saya menemui kenyataan pahit bahwa celana renang yang saya jemur dekat jendela kapal, hilang terbawa angin. Sedihnya, itu celana baru dibeli, jadi pastinya baru sekali dipake. Hiks.

Ya, kami memang menjadikan lobi kapal ini sebagai ruang jemuran juga. Kebetulan di langit-langitnya tersedia tali-tali, tempat kita bisa nyantolin apa pun yang pengen kita cantolin. Hehe... Gara-gara Mad koar-koar di grup WA kalo mau bawa gantungan baju en jepit jemuran, sebagian besar dari kami ikutan bawa. Termasuk saya. Jepit yang saya bawa sebenarnya bisa dibilang lebih dari cukup, namun pada saat menjemur celana, saya terlalu malas untuk mengubek-ubek isi tas demi mencari jepit jemuran. Jadi celana renang yang baru dipake pun saya selipkan begitu saja ke tali jemuran. Benar kata pepatah, penyesalan selalu datang terakhir. Kalo datang di awal namanya pendaftaran >.<

Tak lama setelah saya menemui kenyataan bahwa celana saya hilang, angin lumayan kencang bertiup lagi.

"Handuk belang oranye putih punya siapa ya?" Seseorang berseru di tengah deru suara angin.
"Kayanya punya Egi. Kenapa?" tanya yang lain.
"Barusan ketiup angin."
Yah, sudahlah...


JACKPOT!!

Sore harinya, selesai mandi, lagi-lagi saya merasa tidak enak badan. Padahal siangnya saya baik-baik saja. Seharian itu kami bermain di Pulau Moyo, Pulau Satonda, dan Pink Beach. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya merasa mual. Saya pun naik tangga ke dek dan tidur-tiduran di matras saya. Makin lama ombak terasa makin besar.   

Saya memandang sekeliling. Bersama saya di dek sudah ada Mba Tati, Ayu, dan Mas Ifan. Sore tadi mereka sudah jackpot. Itu istilah yang kita pake sebagai pengganti kata muntah-muntah. Saya belum muntah tapi badan saya terasa sangat lemah. Menyalakan hp untuk mencari penghiburan, tapi ternyata mati. Dua-duanya. Charger ada di tas saya di bawah, namun fisik saya seakan menolak diajak bergerak. Badan saya makin tidak karuan rasanya.

Sekitar setengah jam setelah saya hanya terbaring bengong, ada seseorang melongok ke dek. Ternyata Numan. Saya minta tolong dia mencarikan minyak kayu putih. Numan turun lagi dan tak berapa lama dia kembali sambil membawa minyak kayu putih dari Liana. Setelah mengoleskan minyak kayu putih ke perut dan kaki, saya mulai merasa sedikit nyaman. Kemudian saya ketiduran.

Saya terbangun karena pengen ke toilet. Matras saya terletak di tengah, agak jauh dari tangga. Saya pun merayap untuk mencapai tangga dekat toilet. Oya, dalam kondisi biasa, pergerakan di dek ini memang engga bisa dilakukan sambil berdiri. Kalo kondisi badan lagi enak, bisa lah, jalan jongkok disini. Namun saat itu merayap pun rasanya sangat sulit.

Di bawah saya bertemu dengan Pak Dulah. "Mau sholat, Mba?", ujarnya. Mungkin ia bermaksud mengambilkan air tawar untuk saya berwudhu.
"Engga Pak, tadi saya sudah sholat." Seingat saya, tadi setelah mandi saya langsung sholat Ashar. Saat kembali ke dek, saya baru menyadari bahwa langit sudah mulai gelap. Sosok berjilbab di matras sebelah saya bergerak. Rupanya Mba Tati terbangun.

"Mba, boleh pinjam HP-nya? Sekarang jam berapa, ya?"
"Jam 6," jawab Mba Tati sambil menunjukkan layar HP-nya.
"Walah, udah Maghrib dong. Aku turun lagi buat wudhu ya, Mba."
"Lha kirain tadi kamu turun buat wudhu."
"Engga Mba, tadi pipis. Itu aja tadi aku paksain buat turun ke bawah. Susah ngempetnya. Mau turun lagi kok susah ya."
"Ya udah, wudhu pake ini aja," kata Mba Tati sambil memberikan botol Aqua.
"Oke, makasiy, Mba."

Saya pun beringsut ke tepian dek. Disitu ada space terbuka di antara pinggiran dek dan terpal penutup. Selesai berwudhu, saya pun kembali ke matras. Namun tiba-tiba saya merasakan mual yang teramat sangat. Saya berusaha kembali ke tepian dek secepat yang saya bisa.

............. (disensor #apaseh)

Dan demikianlah. Akhirnya saya muntah juga. Berkali-kali, mengotori dinding kapal bagian luar.

Saya minum sedikit Aqua dari botol yang saya bawa untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulut. Kemudian saya berwudhu lagi. Kembali ke matras saya dan sholat sambil duduk. Dalam keadaan mabuk laut, sholat sambil duduk pun terasa susah. Apabila ditambah goyangan ombak yang makin parah. Subhanallah, betapa bisa sholat dalam keadaan sehat dan kondisi normal itu sungguh merupakan sebuah kenikmatan #mendadaksholehah

sholat di kapal cuma bisa saya lakukan sambil duduk
(foto diambil keesokan paginya, waktu udah baikan)
Selesai sholat, saya tiduran lagi. Selama 2 jam lebih, saya cuma bisa terbaring dengan mata terpejam tapi kantuk tak juga datang. Gelombang laut yang mengayun-ayun kapal ke kanan dan ke kiri makin nakal saja sepertinya. Saya mengamati sekeliling. Tiga teman di sekitar saya tampak tenang. Terutama Mas Ifan. Dari awal saya naik ke dek, posisi tidurnya tidak berubah. Mungkin karena efek antimo yang sudah ditelannya.

Sekitar jam 20, saya mendengar panggilan makan dari lobi. Namun saya masih tak kuasa untuk bergerak. Jam 20.30, Kang Indra muncul di dek, menyuruh saya untuk makan. "Nanti kalau setelah makan ternyata muntah lagi, engga apa-apa. Berarti yang dikeluarkan itu makanan. Kalo perut engga ada isinya, yang keluar nanti adalah asam lambung. Bahaya..."

Saya pun membangunkan Mba Tati. "Mba, mau makan sekarang?" saya menawarkan.
Kang Indra kembali memberikan penjelasan tentang makanan dan asam lambung seperti telah dijelaskan pada saya sebelumnya.
Mba Tati hanya menggeleng lemah.
"Hmm, mungkin nanti kita bakal turun waktu goyangan kapalnya udah engga sekenceng ini ya, Mas," kata saya.
"Oke."

Tapi ternyata setelah saya merencanakan untuk makan malam, tak lama kemudian saya malah jatuh tertidur. Alhamdulillah, tidur yang ini bisa dibilang nyenyak.

Keesokan paginya, saya udah ngerasa jauh lebih baik dari kemarin. Abis sholat Subuh malah lanjut ngobrol di anjungan kapal.

ngobrol sambil menikmati sunrise

FYI, dari 15 anggota rombongan, cuma 3 yang engga jackpot. Kata Kang Indra, baru kali ini dalam sailing trip yang di-handle olehnya, peserta yang jackpot segitu banyak. Tapi kondisi lautan saat kita berlayar memang berpengaruh banget. Seseorang yang biasanya engga mabuk laut pun (contohnya saya dan sebagian besar anggota rombongan lainnya) pun bisa saja mendadak mabuk laut dalam kondisi lautan yang kami layari kemarin...


SOAL MENGISI PERUT

Walo tinggal di kapal, engga usah kuatir bakal kekurangan gizi. Pak Dulah, ABK kapal yang bertugas sebagai chef selalu menyiapkan menu yang cukup untuk memberi tenaga selama kita beraktivitas di sailing trip ini.

nasi goreng, ikan teri, dan telur ceplok

ada teri, sayur, dan tempe, lengkap dengan sambal!

pancake nanas dengan susu

Jangan lupa, sebelum berangkat, kita juga udah mampir buat belanja kan? Apa aja siy, yang dibeli sama teman-teman?

ngemil apa, ngemil apa, ngemil apa sekarang?

kurang mewah apa coba?

abis berenang, makan pop mie itu enaknya engga nyante

Saking banyaknya jajanan yang dibawa, waktu sailing trip berakhir, masih ada lelang jajanan. Hahaha... Oya, tips buat yang ada rencana buat sailing trip. Bawalah minuman berwarna yang banyak (sebangsa teh ato minuman rasa buah). Dimasukkan ke box yang berisi es batu, minuman seger kayak gitu jadi rebutan kalo abis berenang. Favorit banget, deh, sampe-sampe di hari ketiga stoknya menipis drastis. Yang ada, beberapa botol yang tersisa kudu rela dijadiin konsumsi rame-rame. Minuman bersoda yang awalnya jarang dilirik pun akhirnya diembat juga.


PERKARA SINYAL DAN CHARGING

Ada temen yang nanya, di laut ada sinyal apa engga. Kalo kita lagi berlayar di suatu tempat yang bisa dibilang dekat dengan BTS tower, ya tetep ada sinyal. Kalo lagi dapet sinyal gitu, semua orang tiba-tiba jadi autis dengan gadget masing-masing. Ngapain lagi kalo bukan buat aplot poto. Hihihi...

pas nemu sinyal malem-malem, langsung pada autis :D

Soal mengecas, jangan kuatir. Di ruang kemudi kapal tersedia beberapa colokan listrik multi plug. Ada jam-jam tertentu dimana kita boleh mengecas hp ato batere kamera. Walo engga bisa langsung bareng semuanya, soal mengisi daya ini engga pernah jadi masalah kok ;)

para fakir listrik


MENDADAK KREATIF

Percaya atau tidak, tinggal di kapal dengan fasilitas terbatas itu bikin kita mendadak kreatif. Coba perhatikan foto di bawah ini dan temukan satu hal yang tidak akan ditemui kalo kita engga stay di kapal.

perhatikan dengan seksama

Sudah menyerah? Baiklah, saya zoom ya...

maap Andi, kamu tertangkap kamera saya :D

Dan demikianlah, jika sedang berada di kapal, sebungkus pembalut pun bisa tiba-tiba berubah fungsi menjadi bantal. Hehehe...


BE CAREFUL WHAT YOU'RE THINKING

Hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, karena itu bisa saja menjadi kenyataan. Sebenarnya petuah ini engga cuma harus diterapin kalo kita di laut, kok. Tapi dimana pun, kapan pun. Cuma kebetulan aja ini terjadi saat trip.

Di tengah Pulau Satonda terdapat danau yang luas. Di sana ada sebuah kepercayaan. Jika kita menggantungkan sesuatu milik kita di pohon yang ada di tepi danau tersebut, keinginan kita akan terwujud.

Bukannya saya percaya mitos atau apa. Ketika mendengar tentang hal itu, di pikiran saya langsung terlintas sesuatu.
"Kalo aku sekarang disuruh menggantungkan sesuatu, aku bakal naruh apa, ya. Secara kesini cuma bawa kamera sama kacamata. Masa iya kamera ditinggal? Yah, mungkin kacamata aja, lah, ya."

Udah, saya cuma mikir gitu doang. Engga pake mikir keinginan apa yang pengen segera terwujud. Lha wong seperti saya bilang tadi saya memang engga percaya ama hal-hal beginian kok. Pas nyampe ke tepi danau, ternyata yang banyak tergantung di pohon adalah batu.

batu-batu keinginan yang digantung

foto bareng sebelah pohon tempat menggantungkan keinginan

Ada siy, yang ngegantungin kaleng minuman ato apa lagi ya, saya lupa. Intinya ternyata kita engga perlu mikirin mau ngegantungin apa, cos batu aja udah cukup. Tapi alih-alih memikirkannya, saya memilih langsung masuk ke dalam danau. Rupanya sebagian besar yang lain udah masuk danau duluan. Seseorang mencetuskan ide untuk berfoto membentuk lingkaran sambil mengambang di danau yang langsung disambut persetujuan yang lain.

"Bentar, bentar, kacamata dicopot dulu kali ya," ujar entah siapa.
"Jangan, kacamatanya tetep dipake aja, biar keren," usul saya sambil membenarkan letak kacamata yang saya taruh di atas kepala.

Dalam usaha untuk mengambang, saya yang memang engga bisa berenang ternyata kesulitan. Berkali-kali saya tenggelam. Hasil foto bersama teman-teman pun jadi kurang sempurna karena kelemahan saya tersebut. Maaf ya, teman-teman...

membentuk formasi

Di danau Pulau Satonda ini, banyak ikan-ikan kecil yang katanya akan menggigiti kulit kaki kita yang telah mati. Semacam fish spa yang sering kita temui di mall-mall. Sayangnya ketika saya mencoba duduk diam di tepi danau, ikan-ikan kecil itu cuek saja berenang di sekitar kaki saya. Tidak ada satu pun yang sudi menggigiti kaki saya. "Kakinya terlalu bagus, engga ada kulit mati yang menarik untuk digigiti," mungkin demikian yang ada dalam pikiran ikan-ikan itu #kepedean.

Kami tidak berlama-lama di Pulau Satonda. Kami meninggalkan danau dan berjalan kembali ke tepi pulau. Sebagian besar rombongan kembali ke kapal dengan berenang. Saya, Mba Tati, Mba Ruth dan Liana memilih untuk memanfaatkan fasilitas sampan yang ada di kapal. Tiba-tiba saya teringat sesuatu, tapi saya memilih untuk tetap diam. Barulah ketika kami sudah berada di sampan, saya bersuara.

"Kacamataku jatuh..."
"Hah, dimana?" tanya yang lain.
"Di danau tadi."
"Kenapa engga bilang ama yang lain, kan ada yang bisa menyelam untuk mengambilnya di dasar? Toh kita tadi cuma di tepian aja, engga dalem."
"Nah, itu dia, aku nyadarnya telat, pas kita udah mau naik sampan."
"Ya sudahlah, direlakan..."
"Iya, engga apa-apa.. Hehe.."

Bye, my H & M sunglasses :'(


GAGAL MOVE ON

Tinggal bareng dengan orang yang itu-itu aja, full selama 4 hari 3 malam, mau engga mau bikin kita semua jadi deket. Untungnya selama di kapal, engga pernah ada konflik. Kami semua bener-bener having fun bareng! Sampe trip berakhir pun, kami masih tetep keep in touch lewat grup WA. Beberapa dari kami malah masih sering ketemuan!

Andi pernah memajang poto ini di Path-nya :

di Pink Beach

Salah seorang temen Andi komen kayak gini:
"What a diverse group, Ndi! Dari jilbab syar'i sampe bikini. Imagine all the people.. Living life in peace... #metikgitar "

Hmm, bener juga ya, apa yang dibilang temennya Andi itu. Walo kami "bervariasi", kami punya kesamaan, yaitu sama-sama suka travelling en berpetualang. Hehehe... Foto di bawah ini lagi-lagi nunjukin kedekatan dan kebersamaan kami yang rasanya udah kayak keluarga:

beauty in diversity at Pink Beach

Dan demikian, berakhirlah cerita tentang tinggal di kapal selama 4 hari 3 malam. Yang jelas, Kang Indra sebagai leader rombongan sailing trip kami bener-bener bikin kami semua susah move on dari trip ini. Kesampingkan soal jackpot, karena kesenangan yang kami dapat di trip ini jauh lebih besar! Bener-bener sebuah pengalaman yang engga bakal terlupakan!

Oya, yang masih penasaran pengen ngerasain tinggal di kapal dalam Komodo Sailing trip, bisa kontak Kang Indra lewat WA di 08112230124. Foto-foto yang lebih komplit bisa diintip di Facebook-nya : Indra Patriasandi.

Terakhir, mengutip dari Path-nya Ayu :
They say we shouldn't sad that it's over, just be glad that it happened. And glad I am indeed!

Gonna miss all the fun with all of you, guys!

Sekian...

Keterangan:
Foto-foto yang saya pajang di atas adalah hasil jepretan banyak orang. FYI, butuh flashdisk 16 GB untuk menyimpan semua foto dari kamera/hp masing-masing :D

12 comments :

ia Alginat said...

Uang habis bisa dicari yah mba,
tapi kenangan tidak ada habisnya,
ahhh, jadi pengen liburan.
jadi pengen sailing trip

tati yuliati said...

Keren mb isti.. tapi kayaknya abis sailing aku malah ngidamnya aneh, mual liat pantai dan laut.. moga2 abis lahiran bisa kembali normal hehe

Keke Naima said...

asik banget jalan-jalannya, Mak. Pengen juga kayak gitu. Tapi, kayaknya nunggu anak agak gedena :)

isti thoriqi said...

@Lia: Yes, right! Ayooo, segera berangkat liburan! Btw, Lia udah jadi ke lampung, belum?
@Mba Tati: Walah, untung waktu di laut kemarin gpp ya, mba? Moga kehamilannya lancar yaaa....
@Mak Myra: Ato ngajak anak sekalian, Mak? Hehe

Arya said...

Wah, seru banget cerita pengalaman sailingnya. Kebetulan saya bulan mei ini mau sailing juga dan baru kepikiran bawa jepitan baju untuk ngejemur. hehehehe

isti thoriqi said...

LOB emang seru banget, kok! ^^
Hahaha, jepitan baju itu ternyata penting banget loh! Kalo bisa disiapin mulai sekarang biar engga lupa *berlebihan!*.
Ditunggu cerita LOB-nya ;)

Elisa Yuniastuti said...

Bhuaaa baca blognya isti bikin iri...jalan2 mulu euy...btw ini bareng mas indra yaa?pengeenn:(

isti thoriqi said...

Hai hai elisa ^^
hihihi, sekarang udah jarang kok, jalan-jalannya :p
Elisa kok tau mas indra juga???

Josefine Yaputri said...

Waaaaaah! LOB! Saya pingin sekali nyoba LOB!

Josefine Yaputri
Content Writer & Editor
PT. Grivy Dotcom
P: +62(0)21 2960 8168
Office 8 Tower, Floor 18A
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

isti thoriqi said...

Kalo ada waktu, coba LOB mba Yosefine :)

Wiwien said...

mba isti, mau nanya dong kalo keramas gimana? pake air laut atau air tawar? ngeringin rambutnya gimana? hehe maaf ya banyak nanya soalnya saya tertarik LoB juga dan saya juga berjilbab.. Cerita nya seru banget nih dan informative

isti thoriqi said...

Mohon maaf baru balas, Mba Wiwien. Terimakasih sudah mampir dan leave comment.
Keramasnya pakai air laut juga Mba, dibilas pakai air tawar. Tapi karena stok terbatas, cuma sekedarnya saja Mba. Pastinya kurang nyaman. Jadi waktu udah nyampe darat, langsung dipuas-puasin buat keramas. Hihi...

Post a Comment