Container Icon

Komodo Sailing Trip - Latar Belakang, Itinerary, dan Budget

"Kamu yakin mau ngabisin cutimu tahun ini?" Bapak Kasi, atasan saya di kantor meminta penegasan setelah sekilas membaca berkas permohonan cuti saya yang mencantumkan kata-kata "mengajukan cuti selama 5 hari".
"Yakin Pak. Kalopun saya mendadak harus cuti lagi, saya terpaksa ijin ya, Pak, potong gaji."
"Hmm, oke," sahut Bapak Kasi sambil meneruskan membaca berkas di tangannya.

"Hah? Kamu mau ke NTT? Ngapain?" Rupanya beliau sampai pada bagian dimana saya menuliskan alamat saya selama mengambil cuti. Tentang pertanyaan "ngapain" ini entah sudah berapa orang yang menanyakan. NTT masih dipandang sebagai suatu destinasi yang sangat tidak biasa untuk sebuah acara bertajuk liburan.
"Ya ngapain lagi selain liburan, Pak," saya pun menjawab apa adanya.

Saat berkas saya yang sudah diberi persetujuan oleh Bapak Kasi sampai di tangan Ibu Bos, ada bonus pertanyaan tambahan, mau kemana saja selama di NTT. Plus pertanyaan "sama suami?".
Jawaban saya kurang lebih seperti ini:
"Saya mau berlayar, Bu, dari Lombok sampai Labuan Bajo. Kali ini engga bareng suami, karena dia mabuk laut."

menyongsong pagi dari atas kapal

Dan demikianlah liburan panjang saya berlangsung selama 9 hari. Dimulai dari Jumat sore 17 Oktober saat pesawat saya bertolak ke Lombok dan berakhir pada 27 Oktober saat saya kembali ke Jakarta.

Penampilan baru saya dengan kulit gosong dan durasi liburan saya yang tergolong lama mengundang banyak pertanyaan dari berbagai pihak. Jadilah saya memaksa diri untuk menuliskannya *dasar blogger pemalas*. Banyak juga yang bertanya apakah liburan kali ini, saya ikut open trip atau backpacker-an sendiri. Jawabannya adalah separo-separo. Untuk sailing (4D3N), saya memang gabung open trip. Namun setelah sailing berakhir, saya merancang liburan lanjutan sendiri (5D4N).

Cerita tentang trip 9 hari ini akan ditulis dalam beberapa bagian. Pertama-tama, ijinkan saya bercerita tentang latar belakang trip ini *duh, kelamaan* *biarin, ini penting soalnya* *dilarang protes pada blogger ngeyel*. Selain itu, disini saya juga akan membahas tentang itinerary dan total biaya. Kenapa? Karena sebagian besar pertanyaan yang saya terima adalah soal itin dan budget itu. Kalo cerita soal tripnya mah pada dasarnya udah bisa diintip dari poto-poto yang udah saya tebar-tebar cantik di Instagram en Path. Hihihi...

Dimulai dari chat saya dengan Rima, adik ipar saya alias istrinya Olik. Intinya dia cerita kalo Olik mau ke Labuan Bajo. Pengen diving plus liat komodo, katanya. "Liat komodo" itu semacam sebuah keinginan yang agak absurd menurut Rima. Hmm, sepertinya dia salah memilih orang buat cerita. Cos yang ada saya malah jadi pengen ikutan. Sebenarnya, Labuan Bajo sebagai pintu gerbang ke Pulau Komodo memang sudah menjadi salah satu destinasi impian saya. Kenapa pengen ke Pulau Komodo? Ya karena saya pengen liat komodo - langsung di habitatnya! Sama halnya dengan saya pengen liat bunga Rafflesia Arnoldi langsung di Bengkulu *sayangnya saya kesana pas belum mekar*, dan juga liat orangutan langsung di Tanjung Puting *hmm, kapan ya*. Mungkin sedikit absurd menurut pendapat sebagian orang, tapi kata Albert Camus, "life is absurd" *oke, engga ada hubungannya*.

Chat saya pun beralih ke Olik. Lhadalah ternyata dia bisa tiba-tiba ada rencana ke Labuan Bajo itu gara-gara ada promo Garuda yang mana Singapura - Labuan Bajo pp cuma 284 SGD alias sekitar 2,5 juta "saja", Sodara-sodara! Kemupengan saya  perlahan memudar begitu sadar bahwa tiket normal Jakarta - Labuan Bajo pp yang paling murah itu sekitar 3,6 juta >.<

Informasi tambahan tentang resort yang dipesan Olik di Pulau Kanawa (sekitar 1 jam dari Bajo) menambah kehampaan saya. Harga kamarnya siy biasa aja. Tapi stay disana untuk beberapa hari berarti saya harus lunch dan dinner disana, secara engga ada warteg di sekitar resort. Anggaran untuk makan di restonya adalah sekitar 85 ribu sekali makan! Bukan suatu keharusan siy, tapi masa iya saya mau ngemilin roti en buah mulu selama 4 hari 3 malam menginap disana -_-

Hal terakhir yang makin membebani pikiran saya adalah ini:
Kunjungan Olik ke Bajo dikhususkan untuk diving. Otomatis saya bakal sendirian di resort. Bukannya saya takut ato apa *pernah travelling solo ke Sumbar, masa iya mendadak jadi penakut*, tapi selama dia diving, saya mau ngapain coba? Ikutan diving juga jelas engga mungkin, lha wong saya engga bisa diving. Ikutan paket tour-nya, cek harganya lha kok lumayan. Harga tripnya berkisar antara 250 ribu - 400 ribu. Sebagai contoh : trip 1 hari ke Pulau Komodo, Manta Point, Batu Bolong, dan Pink Beach : 400 ribu belum termasuk tiket masuk Pulau Komodo. 

Kemampuan matematis saya yang biasanya hanya digunakan untuk menghitung utang-utangan di kontrakan pun langsung saya manfaatkan untuk melakukan perhitungan kilat :

1) Tiket Jakarta - Labuan Bajo terdiri dari tiket Jakarta - Denpasar 700 ribu-an plus Denpasar - Labuan Bajo 1,2 juta-an  = 1,9 juta-an. Di-pas-in 2 juta lah ya, termasuk ongkos ke bandara dan airport tax. Pastinya lagi, pesawatnya bukan pake Garuda -_-
2) Untuk penginapan di Kanawa, kita ambil 1 bungalow dengan twin bed dan kamar mandi dalam (karena saya berjilbab, jadi ribet kalo pilih kamar mandi luar) untuk 3 malam. Rate untuk bungalow adalah 430ribu + 10% tax per malam =  473ribu. Dikali 3 trus dibagi 2, jadinya 710ribu. 
3) Makan di Kanawa : 6 kali x 85ribu = 510ribu. Enam kali itu terdiri dari 3 kali makan malam dan 3 kali makan siang. Breakfast engga diitung karena udah termasuk harga kamar.
4) Paket tour untuk saya sendiri : sekitar 1 juta untuk 3 paket tour.

Kesimpulan : 4 hari 3 malam di Pulau Kanawa membutuhkan sekitar 4,2 juta, belum termasuk tiket pulang dan lain-lain. Rencananya Olik, dari Labuan Bajo masih pengen lanjut ke Ende buat liat Danau Kelimutu. Naik pesawat dunk, ke Ende-nya. Hadeh... Nambah berapa lagi tuh? Dengan kesadaran penuh atas segala keterbatasan finansial saya, saya menyatakan mundur dari "Trip 2 Bersaudara" ini.

Sampai kemudian pada suatu sore yang cerah di bulan Ramadhan, saya, Olik, Rima, en Magda (ini adiknya Mr. Banker yang juga kerja di Jakarta) memutuskan untuk buber. Ketika obrolan tentang rencana trip Olik ke Labuan Bajo muncul, Rima, memaksa saya untuk menemani suaminya. Sebagai seorang istri yang sedang hamil, Rima semacam kuatir kalo suaminya ngetrip sendirian. Entah dengan alasan apa. Namanya bumil, ada aja lah ya, yang dikuatirin. Sebagai seorang kakak yang baik, saya pun tak kuasa untuk menolak permintaannya *mencari pembenaran*. Tapi saya bilang ke mereka kalo saya mau minta ijin ke Mr. Banker dulu. Plus ngajakin, siapa tau dia mau. Pas buber itu, saya engga ngebahas keberatan saya terkait masalah biaya. Sebagai seorang kakak, saya merasa gengsi *gubrak!*

Waktu minta ijin ke Mr. Banker, eh, entah kenapa kok langsung dikasih ijin, gitu. Walo target ngajakin dia engga berhasil, tapi berhasil mengantongi ijin dari dia itu sudah sangat berarti! Sayangnya pemberian ijin tidak dibarengi dengan pemberian sumbangan dana. Ya wis lah, kali ini saya terpaksa harus mencairkan deposito yang belum jatuh tempo >.< Alasan pembenaran kali ini : Kapan lagi bisa travelling bareng adik sendiri? Sebenarnya ini adalah sebuah fenomena yang aneh. Saya dan Olik sama-sama suka travelling, tapi belum pernah travelling bareng. Jadi, sekaranglah kesempatannya!

Berbarengan dengan pencarian yang jelas tidak akan berujung akan tiket murah, saya mendapat info tentang Komodo Sailing Trip tanggal 18 - 22 Oktober dengan Kang Indra Patriasandi sebagai leader (cek FB-nya untuk dapet info tentang trip-trip keren selanjutnya!). Adalah Mba Via yang memperkenalkan saya pada Kang Indra. Mba Via yang pernah ikut trip Kang Indra ke Karimun Jawa ini mengira saya ke Flores itu memang dalam rangka ikut trip-nya Kang Indra. Lah, how come, secara nama Kang Indra aja saya malah belum pernah denger! Mba Via bilang, trip-nya Kang Indra itu recommended!

Oya, Mba Via itu bisa dibilang sohib lama saya. Kita pernah nge-trip berdua ke Vietnam en Kamboja. Pernah juga barengan ikut open trip ke Ujung Kulon dan sama-sama merasa dikecewakan oleh penyelenggara tripnya (inisialnya Mas R dari JT). Jadi saya menganggap Mba Via ini udah kenal saya banget dan paham apa maunya saya. Makanya saya langsung percaya dengan rekomendasi Mba Via ini.

Tentang Komodo Sailing Trip-nya Kang Indra dengan jadwal yang berbarengan dengan rencana Olik ke Labuan Bajo adalah suatu kebetulan yang menyenangkan. Dengan titik keberangkatan di Labuan Lombok (yang berada di Lombok tentunya), titik akhir di Labuan Bajo, dan durasi trip selama 4 hari 3 malam, nampaknya trip ini merupakan solusi bagi masalah finansial saya. Mari kita hitung bersama mengenai besaran duit yang dibutuhkan:

1) Tiket pesawat ke Lombok = 800 ribu-an. Anggep 900 ribu lah ya, termasuk ongkos ke bandara (Damri aja lah, yang murah. Plus airport tax).
2) Biaya sailing trip = 2.750.000 (termasuk makan 3 kali sehari, 1 malam menginap di homestay di Lombok, 1 malam menginap di home stay di Bajo, plus perlengkapan tidur di kapal).

Total = Rp 3.650.000,-

Lah, kok bedanya cuma 550 ribu-an gitu? Eh, 550 ribu itu banyak loh! Bisa buat beli tiket Garuda dari Bajo ke Ende! Hehehe... Engga cuma itu, siy alasannya. Mendengar kata "sailing", alarm petualangan di kepala saya langsung berbunyi. Berapa banyak di antara kita yang pernah berlayar? Bagi saya sendiri, pengalaman naik kapal yang paling lama adalah hanya selama 3 jam yaitu saat menempuh perjalanan dari Bangka ke Palembang. Itu pun dengan kapal cepat. Sedangkan di sailing trip ini, yang kita tumpangi adalah kapal tradisional. Disini seluruh peserta trip (ada 16 orang ditambah 5 ABK) akan hidup bersama di sebuah kapal selama 4 hari. Dari satu tujuan ke tujuan lain, tidak ada alat transportasi lain yang akan kita pergunakan selain kapal tempat kita tinggal.

Tiba-tiba saya teringat akan sebuah lagu.

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Hidungnya panjang, telinganya lebar...
???!!!

Wait, kenapa berubah jadi lagu tentang seekor hewan berbelalai panjang, ya? Duh, sepertinya memori masa kecil saya harus dirapikan lagi. Entah kenapa, setiap ingin menyanyikan lagu ini, kalimat ketiganya selalu salah. Sampai-sampai saya diomeli Olik karena meracuni ingatan masa kecilnya dengan lagu yang kacau versi saya ini.

Yah, intinya, di liburan kali ini saya sekaligus ingin membuktikan apakah di dalam darah saya yang berbangsa Indonesia ini juga mengalir darah pelaut, seperti nenek moyang saya *mendadak nasionalis* *efek Hari Sumpah Pemuda* *emm, udah kelewat lama juga siy benernya -_-*.

Liburan sambil berlayar nampaknya akan menjadi suatu cerita yang unik dan tidak biasa. Sebagai seorang yang anti mainstream, extraordinary thing ini adalah faktor penting! ;) Hidup di kapal dengan fasilitas terbatas serta mengarungi lautan yang tidak pernah bisa dipastikan bagaimana gelombangnya - akan bersahabat atau tidak - akan menguji kekuatan mental dan fisik saya *oke, ini mulai berlebihan*. Rute sailing trip yang melibatkan pulau-pulau eksotis yang pastinya bakal susah didatengin kalo saya cuma sendirian semakin menguatkan tekad saya untuk bergabung.

Hmm, nampaknya pembahasan tentang latar belakang sudah cukup. Next, itinerary di Komodo Sailing Trip. Penekanannya pada snorkeling dan island hopping (tentunya akan ada acara trekking di berbagai medan). Secara garis besar, itinerary-nya kayak gini:

Hari 1 : Mulai berlayar. Sorenya kita akan snorkeling en trekking ringan di Gili Kambing. Disini kita akan menikmati sunset.
Hari 2 : Explore Pulau Moyo dan Pulau Satonda (masih masuk wilayah Nusa Tenggara Barat). Dari sini kita akan menempuh pelayaran panjang tanpa jeda (16 jam).
Hari 3 : Trekking di Gili Laba (sudah masuk wilayah Nusa Tenggara Timur), lanjut snorkeling di Pink Beach. Sorenya berkunjung ke Kampung Komodo untuk menyerahkan sumbangan berupa buku bacaan dan alat tulis ke satu-satunya SD disana. Pulangnya mampir bentar ke Pulau Komodo.
Hari 4 : Trekking di Pulau Rinca, lanjut snorkeling di dekat Pulau Bidadari. Sorenya merapat di dermaga Labuan Bajo.

Berikut sedikit dari banyak foto yang bikin saya ngabisin waktu berjam-jam buat milih mana yang mau dipajang di postingan ini. Kalo nurutin kata hati, maunya paling engga ada 5 foto, gitu. Maksudnya 5 poto mewakili 1 spot, gitu. Hihihi... Tapi setelah semedi 7 hari 7 malam, inilah poto-poto yang terpilih untuk dipajang disini. Yang lainnya mudah-mudahan bisa nampang di postingan selanjutnya.

Tim Komodo Sailing Trip 2014
syarat ikut trip ini : kudu narsis! :D

kapalnya cuma selebar ini
(photo by : Indra P.)

Gili Kambing dengan penampakan yang absurd-absurd indah

menikmati sunset dari puncak Gili Kambing
(photo by : Indra P.)

di bawah air terjun Pulau Moyo
(photo by : Indra P.)

kadang warnanya suka tiba-tiba jadi ajaib kayak gini
(photo by : Indra P.)

snorkeling di Pulau Satonda
(photo by : Indra P.)

Welcome to Satonda Island!

danau air asin di tengah Pulau Satonda

mendaki ke puncak Gili Laba di siang hari bolong
demi pemandangan spektakuler

tidak semua anggota tim bisa mencapai Gili Laba

snorkeling di Pink Beach

tiduran di pasir pink-nya Pink Beach

bersama anak-anak di Kampung Komodo

narsis bareng komodo di Pulau Rinca

trekking di Pulau Rinca

mampir ke Pulau Bidadari

tiba di Labuan Bajo

Udah ngiler abis liat poto-poto di atas? So, segera rencanakan liburanmu di Flores, sekarang! Hehehe...

Oya, sebelum memulai sailing trip, kita sempat patungan buat beli ransum. Yang tadi saya sebutin di awal, biaya sailing trip sudah termasuk makan 3 kali sehari. Tapi namanya tinggal di kapal berhari-hari kayanya mulut bakal pahit kalo cuma ngandelin makan besar. Apalagi hiburan berupa gadget mungkin tidak selalu bisa dinikmati karena ketiadaan sinyal. FYI, kalo urusan mengecas gadget ato batere kamera, jangan khawatir, disediakan waktu khusus kok. Jadi kita blanja-blanji cemilan dulu dalam perjalanan menuju pelabuhan. Patungannya 150 ribu per orang. Kasir supermarket yang kita datengin rada shock kali ya, tiba-tiba harus melayani pembelian cemilan dan pernak-pernik bangsa tisu basah senilai 2,5 juta-an. Hihihi...

Cerita tentang live on board alias tinggal di kapal bakal saya tulis di postingan terpisah. Sesampai di dermaga Labuan Bajo, kita jalan kaki ke Hotel Bajo Beach. Saya sekamar dengan Mba Tati. Sorenya, kita nongkrong di Paradise Bar, sebuah kafe dimana kita bisa menikmati pemandangan sunset di Labuan Bajo.

nongkrong cantik di Paradise Bar

sunset di Labuan Bajo

Oya, ongkos nongkrong di Paradise Bar ini udah masuk tanggungan masing-masing. Sebagai gambaran, disana saya menikmati banana milkshake seharga 20 ribu. Harganya standar aja lah, ya. Malamnya, kita makan malam di dekat pelabuhan. Selesai makan, kita bayar patungan, masing-masing 87 ribu.

malam terakhir Tim Komodo Sailing Trip 2014

Setelah makan malam, kita pulang ke hotel. Dengan demikian, berakhirlah Komodo Sailing Trip 2014. Tapi bagi saya dan beberapa teman, trip kita di Labuan Bajo belum usai. Emang kemana lagi? Hmm, tunggu postingan selanjutnya ya... Tapi bocorannya udah bisa diintip dari perhitungan budget di bawah ini kok. Buat yang nanya tentang budget, sengaja saya tulis semua pengeluaran yang ada dari awal berangkat sampai kembali ke Jakarta. Biar sekalian, gitu. Oya, huruf yang tercetak miring dan berwarna biru maksudnya adalah pengeluaran yang bisa di-share. Untuk harga penginapan disini, sekamar isi 2 orang ya. Selain yang sudah saya sebutkan sebelumnya, semua biaya yang saya cantumkan disini adalah untuk perorangan.

17 Oktober // Berangkat ke Lombok :
Damri ke Cengkareng : 35.000
Tiket Lion Air CGK - LOP : 800.000
Airport tax : 40.000
Damri ke pool di Lombok : 20.000
Taxi dari pool ke Senggigi : 75.000

18 - 22 Oktober // Sailing Trip :
Biaya : 2.750.000
Patungan ransum : 150.000
Patungan beli buah : 15.000
Tip ABK : 25.000

23 Oktober // One Day Trip at Labuan Bajo :
Sewa mobil (termasuk driver dan bbm) : 700.000
Tiket Cunca Wulang : 10.000
Tip guide Cunca Wulang : 100.000
Tiket Goa Batu Cermin : 10.000
Tip guide Cunca Wulang : 30.000 
Laundry : 31.000
Hotel Bajo Beach : 300.000
Makan, minum, nongkrong : 200.000 (untuk 2 hari)

24 Oktober // Berangkat ke Ende :
Taksi (sewa mobil) ke bandara : 50.000
Tiket Garuda LBJ - ENE : 501.000
Airport tax : 11.000

24-26 Oktober // Ende - Moni - Ende - Riung - Ende :
Sewa mobil Ende - Moni - Ende (termasuk driver dan bbm untuk 2 hari) : 1.000.000
Sewa mobil Ende - Riung : gratis (karena punya temen)
Makan dan minum : 120.000
Tip penjaga rumah Bung Karno : 10.000
Penginapan di Moni (24 Okt) : 225.000
Tiket Danau Kelimutu : 5.000
Parkir mobil di Danau Kelimutu : 10.000
Penginapan di Riung (25 Okt) : 400.000
Sewa kapal (termasuk makan siang ikan bakar) : 600.000 
Penginapan di Ende (26 Okt) : 125.000

27 Oktober // Berangkat ke Kupang :
Taksi (sewa mobil) ke bandara : 50.000
Tiket Garuda ENE - KOE : 524.000
Airport tax : 10.000

27 Oktober // One Day Trip at Kupang :
Sewa mobil (termasuk driver dan bbm) : 500.000
Tiket masuk Pantai Lasiana : 10.000
Parkir mobil di Gua Kristal : 5.000
Makan dan oleh-oleh : 500.000

27 Oktober // Kembali ke Jakarta :
Tiket Sriwijaya Air KOE - CGK (transit Surabaya) : 1.219.000
Airport tax : 20.000

Untuk total pengeluaran, silakan diitung sendiri ya. Sebagai gambaran, kalo kamu nge-trip berempat dan engga ada fasilitas mobil gratisan seperti yang saya dapatkan untuk perjalanan Ende - Riung pp, maka budget per orangnya adalah sekitar 8,5 juta. Bila kamu bukan orang yang suka nongkrong kayak saya en engga punya kewajiban buat beli oleh-oleh, kurangkan 500 ribu lagi. Masih mau lebih murah lagi? Iritlah dalam membeli makanan. Hehehe... Eh, tapi menurut pendapat saya, harga makanan dan minuman di Flores standar aja kok, engga semahal kalo kita beli di Ambon atau Makassar. Dikarenakan kebutuhan pokok yang dipasok dari Surabaya didatangkan lewat Maumere, masih di Pulau Flores juga, sehingga harga jualnya di sini tidak terlalu melonjak.

Sekian. Mudah-mudahan info yang saya bagi disini berguna yaaa :)

15 comments :

ivna prawesti said...

Mihilnya mantep ya mba...km sendiri ke flores sama ak liburan bertiga ke KL jatohnya sama deh...hehehe

Jade Ayu said...

Istiii.... asli gw ngiler abis pgn ikutan ksana. Mahal sih emang ya, tp tanpaknya worthed kali. Yakk, menabung dimulaiiii

Ratih said...

manteebb bangett mbak jalan-jalannya, kalo aq baca postingan mbak isti rasanya seperti ikut jalan2 dan liat2 keindahan alam Indonesia yang memang keren banget yaa....sumpah...

Anyway... aq bisa-bisanya bayangin wajah bapak Kasi dan Ibu bos sewaktu mbak nyerahin surat cuti 5hari...ke NTT dan sendirian..hi8...

isti thoriqi said...

@Ivna : Hihihi... Iya, lha malah lebih mahal dari aku 4D3N ke Kamboja en Vietnam. Eh, tapi niy aku 9 hari loh...

@Jade Ayu : Yes, worth it banget lah... Ayooo semangat nabunggg!!! *mendadak jadi cheers* *bawa pompom*

@Ratih : Hahaha... Tapi masih kalah shock dibanding waktu aku pulang dari Sumbar en mereka baru tau kalo aku traveling solo kesana >.<

Armae said...

Howaooo.. lengkap bangeeet. Lah mbak, Damri dari LOP ke Senggigi kan ada yang langsung? Kenapa gak sekalian coba? -_-

Sebagian ada yang sudah pernah saya kunjungi, terutama yang di NTB. Kalo NTT Beluuuuumm,. khususnya yang di flores.
Ternyata budgetnya gede juga yakk kalo di total-total. Tapi lumayan sekali jalan bisa dapat banyak banget destinasi. Cuma di kepalaku udah pasti bakalan pusing aja. Gak biasa kalo harus traveling dengan destinasi buanyak banget tapi waktunya terbatas. Maunya bisa sempat tidur2an gitu di penginapan. Hahahha..

isti thoriqi said...

Hai Armaaa....
Tentang perjalanan Jakarta - Lombok memang engga aku bahas disini. Jadi begini ceritanya, karena pesawat kita delay hampir 2 jam, kita baru nyampe bandara Lombok jam 1 pagi. Damri terakhir emang masih nungguin, tapi dia cuma nganter sampe pool. Jadi kalo harusnya bisa langsung ke Senggigi dengan ongkos 30 ribu, waktu itu kita cuma disuruh bayar 20 ribu, tapi ya gitu deh, engga bisa dianter sampai Senggigi. Udah kemaleman kali ya... (ato kepagian? :p).
Oya, aku menepati janji sama kamu untuk berkunjung ke Satonda loh ;)
Wah, kalo aku travelling, pengennya yang dapet banyak destinasi, wkwk. Kalo perlu, bobonya bentar aja, wkwk...

Eka Fikriyah said...

Ih,.keren bingit Gili laba.aku belum pernah tuh naik-naik sampe ke puncak-puncak, baru sampe pucak atap kantor doang mbak, alias roof top, hihhihi. .Foto-fotonya keren2-euy, kudu dilirik nih tempat.Tengkyu ulasannya...

Tokopenjual said...

lumayaaan yaaa seru sih seru tapi budget nya itulooh cukup beli gadget keren ..hahahaha

isti thoriqi said...

@Mba Eka : Haha, aku juga pnah naik-naik ke puncak kantor trus poto-potoan disana :p Btw, tempat ini wajib masuk salah satu destinasi trip, lho, Mba, hehe...

@Tokopenjual : Makasiy udah mampir :) Hihihi... Sebagai bukan penggila gadget, kalo saya mending buat traveling daripada beli gadget :p

ia Alginat said...

Mupeng liat foto-fotonya. Budgetnya lumayan fantatis yah mba, tp kebayar sih sama indahnya pemandangan.

Anonymous said...

Duh sailing tripnya beneran bikin mupeng, ajarin cari open trip ke sana yg oke dong mba
Shinta (maap males log in haha)

isti thoriqi said...

@Lia : Iya lia... Budgetnya lumayan gede juga, hihi... Tapi Alhamdulillah, it's worth the cost!
@Mba Shinta : Kalo mau LOB, bisa cek FB-nya Indra Patriasandi. Info lebih lengkap ada di postingan berikutnya mba ;)

Josefine Yaputri said...

Lengkap sekali infonya :) Trims sudah berbagi :)

Josefine Yaputri
Content Writer & Editor
PT. Grivy Dotcom
P: +62(0)21 2960 8168
Office 8 Tower, Floor 18A
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

@shrestyanidya said...

Mba, informatif deh blognya. Aku mau tanya2 lebih lanjut boleh ga minta kontaknya mba ke shintarestyanaw@yahoo.com, terima kasih mba :)

isti thoriqi said...

@Sefin: Makasiy sudah berkunjung :)
@Shrestya: Sippp... Saya email ya...

Post a Comment