Container Icon

Ora Beach, Serpihan Surga yang Jatuh ke Bumi

Sepertinya postingan tentang Pantai Ora yang lebih sering disebut Ora Beach ini *oke, sama aja artinya* udah ditunggu oleh banyak penggemar saya *trus ditabok berjamaah*. Setelah sebelumnya explore Ambon dan Desa Saleman, agenda kami di hari ketiga adalah menuju Ora Beach yang disebut-sebut sebagai Maldives-nya Indonesia. Ora Beach ini terletak di Teluk Sawai, sisi utara Pulau Seram, Maluku Tengah. Just info, hanya dengan lanjut naik speed boat sekitar 3 jam lagi ke arah utara, kita bakal nyampe ke Misool yang merupakan bagian dari Raja Ampat, Papua Barat.

Ora Resort

Setelah sarapan bersama dengan menu nasi goreng telur mata sapi, kami berdelapan beserta Pak Marwan berangkat dengan berjalan kaki menuju dermaga. Berpapasan dengan anak-anak Desa Saleman yang berangkat ke sekolah dan juga sekumpulan binatang ternak.


keceriaan pagi


nongkrong rame2 di pagi hari

Tak berapa lama sampailah kami di dermaga.


dermaga Negeri Saleman


Mr. Banker nampang dulu


saya juga nampang

Baru nyampe dermaga aja, pemandangan indah telah menanti. Hamparan air tenang dan bening bernuansa hijau. Transparan, kami bisa melihat terumbu karang dan ikan di bawah permukaan air tersebut. Seekor lobster terperangkap di sebuah ”keramba” mungil. Disini memang tak perlu melaut jauh-jauh untuk mendapat tangkapan berupa cumi dan lobster.


transparan...

Satu persatu, kami menaiki speed boat yang telah menanti. Perahu pun segera melaju. Lima belas menit kemudian kami tiba di dermaga Ora Resort.


dermaga Ora Resort



di depan Ora Resort

Lagi-lagi kami terbius oleh pesona yang ditawarkan. Tepat di bawah jajaran papan kayu tempat kami berjalan kaki menuju penginapan, ikan beraneka warna berenang riang di antara terumbu karang yang cantik. Tak jarang rombongan ikan yang anggotanya ratusan ikan serupa muncul dan membentuk berbagai formasi. Subhanallah, rasanya tak percaya saya bisa menikmati keindahan yang ada tanpa perlu snorkeling maupun diving. Oya, air di Pantai Ora ini tenang, nyaris tak beriak. Dikarenakan Pantai Ora ini terletak di teluk dan terlindung oleh tebing-tebing batu. Walau kami belum tahu surga itu seperti apa, Ora Beach ini bagaikan serpihan surga yang jatuh ke bumi.


school of fish...they're just under my feet

bening...

Tapi jauh-jauh kesini rasanya tak afdol bila tak melakukan kegiatan snorkeling. Setelah menitipkan bawaan di lobi resort, kami naik lagi ke perahu dan menuju Pulau Tujuh, sekitar 30 menit dari Ora Beach. Dinamakan Pulau Tujuh karena gugusan pulau ini terdiri dari 7 pulau. Lebih tepatnya 6 karena salah satu pulau sudah hilang karena abrasi. Disana kami hanya mampir ke 2 pulau. Yang pertama adalah Pulau Tengah. 


deretan pohon kelapa menemani perjalanan kami


merapat ke Pulau Tengah

Disini kami cuma poto-poto doang.


tenang dan damai...


pose yang entah apa namanya (photo by Dytha)


pose ala Monumen Selamat Datang di Bunderan HI :p

Dari Pulau Tengah,  kami sempat berhenti di salah satu snorkeling spot di dekat situ. Untuk snorkeling, tentunya. Semuanya langsung pada pengen loncat ke air yang biru. Pemandangannya jangan ditanya. Keren abis! Sayang engga ada yang bawa underwater camera. Saya sendiri yang dari dulu punya niat buat beli casing underwater juga engga beli-beli. Sebenernya HP-nya Sabo tahan air, masalahnya itu HP lagi error *ya udah siy, engga usah diceritain >.<*.


pada nyebur

Eh, ada satu orang ding, yang engga mau nyebur. Oknum satu ini meminta saya merahasiakan namanya. Baiklah, kita sebut saja Mawar. Si Mawar ini baru mau terjun ke air setelah kita paksa-paksa. Tapi engga lama kemudian, dia minta naik lagi ke kapal.


sebut saja Mawar

Oya, buat saya yang engga bisa berenang, snorkeling tetep bisa dilakukan dengan bahagia dengan bantuan life vest dan fin. Kesulitan baru muncul ketika tiba saatnya naik ke perahu lagi. Sebelum naik perahu, fin dilepas dulu. Pas itu fin udah dilepas, eh, perahunya kan jalan tuh. Saya ngos-ngosan buat ngejar. Yang ada, saya ditarik pake tali deh! Oya, ada bagusnya Si Mawar tadi engga mau nyemplung lama-lama. Jadi ada yang motoin saya waktu diselamatkan oleh tim rescue alias para awak perahu *barbuk itu penting*.


saved by the rope

Setelah snorkeling kami menuju ke pulau entah apa namanya (saya lupa menanyakannya ke Pak Marwan) untuk makan siang.


serbuuu!

Meninggalkan Pulau Tujuh, perahu sempat ngadat. Ternyata ada as yang patah terbentur karang. Maklum, kami memang sempat melewati karang yang bagian atasnya sangat dekat dengan permukaan laut. Dengan bantuan awak perahu rombongan trip lain yang sedang melintas di dekat kami serta keterampilan tangan Pak Marwan, perahu pun bisa bergerak lagi. Kami menuju ke Tebing Hatu Pia. Disana kami bertemu sama seorang cewe yang baru berkano bareng guide-nya. Lumayan, kanonya boleh dipinjem buat properti poto.


(pura-pura) berkano

Keliatan dari gambar di atas, air disini sangat menggiurkan buat nyemplung. Warnanya itu loh... Kayak engga nyata. Jadilah beberapa dari kami tergoda buat menceburkan diri kesana. 


saya ngeliatin Mr. Banker yang loncat ke air

Di poto itu, keliatan kalo saya pake life vest. Aslinya engga perlu juga, cos airnya ternyata cuma seperut aja dunk. Hehehe... Baiklah, kalo gitu life vest-nya dicopot aja.


(pura-pura) berenang bareng

Beberapa orang dari kami (termasuk saya dan Mr. Banker) sempat berenang ke goa yang ada di sana untuk melihat kelelawar. Oya, mengingat saya engga bisa renang, perjalanan pulang pergi ke goa di Tebing Hatu Pia adalah sangat melelahkan. Padahal jaraknya cuma sekitar 15 meter saja >.< Untuk bisa ikut tim jelajah goa, saya terpaksa pake life vest lagi cos kudu renang juga. Eh, katanya tadi airnya cuma seperut, trus kenapa musti renang, engga jalan kaki aja, gitu? Jadi begini, kedalaman air di sekitar Tebing Hatu Pia itu bervariasi. Ada bagian yang dalem juga, jadi kita engga bisa menjejakkan kaki disana. 


bagian item vertikal di tengah tebing itulah goanya

Hujan turun saat kami akan melanjutkan perjalanan ke Mata Air Belanda. Meskipun demikian,  perahu kami tetap melaju. Toh kami sudah telanjur basah setelah berenang di dekat Tebing Hatu Pia. Turun dari perahu, kami sudah merasakan air dengan suhu yang berbeda dengan air laut yang sebelumnya kami rasakan. Semakin mendekati mata air, airnya makin dingin, seperti es. Mata Air Belanda ini konon dahulu merupakan tempat mandi orang-orang Belanda. Saya sempat merasai airnya. Engga asin loh. Jadi, rasanya gimana? Ya engga ada rasanya aja, gitu.

Dytha en Nunu sempat bikin kompetisi siapa yang paling kuat bertahan untuk berendam di dalam air yang dingin itu. Peserta kompetisinya mereka berdua aja. Meskipun saya engga ikut kompetisi, saya sempat mencoba berendam disana. Sekitar 10 menit saya masih kuat, lah, dengan airnya yang menggigit kayak es itu. Oya, kami engga sempat berfoto disini. Karena seperti saya bilang tadi, engga ada yang bawa kamera tahan air. Tapi demi memuaskan para pembaca, saya googling deh, buat cari gambarnya.


Mata Air Belanda (sumber dari sini)

Pas mau capcus dari Mata Air Belanda, para cowo sempat bantuin Pak Marwan buat ngedorong perahu ke laut lagi. Dengan berlindung di bawah tingkap perahu bagian depan, Neny memotret para awak perahu dadakan itu. Hehehe...


ayo, kalian bisaaa!

Pas perahu udah lumayan ke tengah en para cowo kembali bergabung, kita selfie berjamaah :D


selfie rame-rame...


selfie rame-rame lagi...

Eh, tapi ada juga yang pengen selfie berdua aja :D


"Selfie dulu yuk, Pak," kata Sabo pada Pak Marwan

Kami pun kembali ke Ora Beach. Setelah check in, kami meletakkan bawaan di kamar masing-masing, trus... snorkeling lagi! Spot snorkeling kali ini engga perlu jauh-jauh. Cukup dari belakang kamar. Serius, langsung loncat aja dari dermaga mini di belakang kamar!

langsung nyebur!

Tak disangka, terumbu karang dan ikan-ikan yang kami temui di sekitaran kamar tak kalah cantik dari yang kami lihat di snorkeling spot dekat Pulau Tujuh tadi. Penuh dengan warna. Seperti mimpi rasanya bisa mengapung di kolam renang raksana plus melihat lukisan hidup di depan mata.


me at the giant pool


Mr. Banker, still at the giant pool

Kalo tadi waktu snorkeling di dekat Pulau Tujuh saya kesulitan untuk naik ke atas perahu, sekarang saat snorkeling di belakang kamar, saya kesulitan untuk naik ke dermaga mini. Beberapa kamar laut menyediakan semacam tangga kayu di belakang kamarnya, buat langsung naik ke kamar dari laut. Sedihnya, cottage kita yang merupakan kamar laut paling gede ini engga punya tangga. Sempat dibantu Mr. Banker buat memanjat ke atas. Tapi penuh perjuangan gitu mengingat massa badan saya yang tidak bisa dibilang ringan >.<

Parahnya, pas udah susah-susah nyampe cottage en istirahat bentar, engga lama kemudian, saya ngiler buat nyemplung lagi. Oke deh, selagi disini, loncat lagi aja daripada nyesel seumur idup! 


snorkeling lagi, ayeay!!!

edisi rame-rame (nyomot dari Path-nya Neny)

Pas udah cape snorkeling en mau naik ke cottage lagi, lha kok Mr. Banker engga ada disitu. Tolah-toleh, lhadalah ternyata dia lagi asyik berkano sendirian. Saya pun berenang ke arahnya. Trus jadi mupeng buat ikutan berkano. Tapi naik ke atas kano dengan posisi berada di air begini kok susah ya?


"Aduh, gimana ini naiknya?" (photo by Nunu)

Daripada kuatir itu kano bakal kebalik, saya balik ke pantai dulu aja wis. Terumbu karang di pantai ini banyak loh. Alhasil, saya harus sangat berhati-hati saat berenang menuju tepian. Walo sudah berhati-hati, tetep aja ada beberapa karang yang menggores kaki saya. Untung engga sampe terluka ato berdarah-darah. 

Rada serem juga ngeliat Si Dytha mengoleksi luka karena tergores karang. Dia emang paling semangat buat nyebur dimana-mana. Walo terluka di beberapa bagian tubuhnya, tuh anak keliatan hepi-hepi aja. Katanya siy dia udah biasa kayak gitu. Tiap liburan, adaaa aja "oleh-oleh" semacam itu untuk dibawa pulang. Malemnya, luka-luka Dytha diobati oleh Pak Marwan yang sepertinya selalu bisa diandalkan dalam segala situasi itu.

Sesampainya saya di pantai, Mr. Banker udah menunggu di tepian bersama kanonya. Kami berdua pun berkano ria hingga senja menjelang. 

dari sela pagar belakang (photo by Nunu)

menanti senja

Terlihat romantis tho? Emm, aslinya biasa aja siy. Yang ada malah saya rebutan dayung sama Mr. Banker. Lha kan saya pengen ikut berkontribusi dengan mendayung juga. Pas dayung udah saya pegang, baru mendayung sebentar, lha kok udah cape aja ya, rasanya. Ya wis, saya balikin lagi dayungnya ke tangan Mr. Banker :p

Puas berkano, kami menikmati teh dan snack yang sudah disediakan di kafe resort. Momen romantis (kali ini beneran) tersebut sempat diabadikan oleh Neny :)


romantic afternoon tea

Abis tea time, kami sempat melakukan sesi foto. Kami disini maksudnya saya jadi model, Mr. Banker jadi fotografernya. Muahaha... Dimulai dari berfoto di kafe sampai foto bersama kano yang tadi sudah membawa kami berkelana *tsahhh* *oke, berlebihan*

mendadak model

Maksud hati mau majang poto-poto lainnya, lha kok Mr. Banker lupa engga bawa file-nya pas dateng ke Jakarta dalam rangka ngerayain ultah saya 2 hari lalu. Ntar di-update lagi deh, kalo udah ada :D

Eh, tapi tapi, ternyata engga cuma saya yang ber-photo session. Temen-temen yang lain juga... Kalo kata Neny, tema photo session ini adalah menggalau... Oya, 4 poto pertama dicomot dari Path-nya Neny. Poto terakhir dari pp di bbm-nya Mba Tati :D

kata Neny, karena menggalau sambil menikmati sunset itu lebih nikmat

menggalau versi Dytha

menggalau versi Nunu

menggalau versi Sabo
To
menggalau versi Mba Tati

Ketika matahari mulai tenggelam, sekali lagi kami dibuat terpukau oleh pemandangan yang belum pernah kami temui di tempat lain. 


Mr. Banker mengabadikan senja


senja di Ora


menggalau versi saya *halah, masih lanjut aja*

Kami bahkan bisa menikmati senja dari balik jendela kamar.

panorama senja dari balik jendela

Kalo biasanya foto itu menampilkan sesuatu yang lebih cantik dari aslinya, senja di Pantai Ora ini aslinya jauh lebih indah daripada di foto manapun! Tak henti-hentinya kami hanya bisa mengucap Subhanallah...

Malamnya, kami kembali ke kafe resort untuk makan malam. Untuk melengkapi menu makan malam sederhana yang disediakan oleh resort, Pak Marwan membawakan lobster untuk kami. 


Pernah liat saos merk Bango? Cuma ada di Ora, loh :D

momen romantis ini diabadikan oleh Pak Marwan

Tentang lobster, Neny en Nunu sempat heboh banget waktu mau menyantapnya. Adalah karena mereka bingung gimana cara ngebuka kulitnya yang keras itu. Sampe pake acara diajarin dulu ama Bang Andi. Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang melelahkan (bagi para penonton mereka, maksudnya), Neny dan Nunu berhasil juga mengeluarkan lobster dari kulitnya. Selamat, yaaa!

momen keberhasilan ini diabadikan oleh saya :p

Selesai makan malam, Mr. Banker nongkrong di teras untuk memotret kerlip bintang-bintang di langit.

Mr. Banker khusyuk nyiapin perlengkapan perang

Saya? Nemenin dia ampe ketiduran di bangku kayu bulat yang ada di belakangnya...

bobo cantik

Oke, saya ngaku deh. Poto di atas boongan. Yang ada saya pura-pura merem aja trus minta dipotoin. Eh, tapi abis itu saya beneran ketiduran disitu. Ampe kudu pake acara dibangunin segala buat pindah bobo di kamar -_-

Jam 5 pagi, speed boat yang akan mengantar kami ke Desa Saleman menunggu di dermaga mini cottage kami. Pas yang laen udah pada naik kapal, Mr. Banker heboh cos sendalnya engga ada. Yang tersisa hanya sandal gunung cewe yang saya sudah tau pasti siapa pemiliknya. Tak lain dan tak bukan adalah salah seorang dari kami, sebut saja Melati. Dia engga nyadar kalo salah ambil sendal. Hihihi...

Tiba saatnya kami berpisah dengan pesona Ora Beach. Kembali ke Ambon dengan menempuh perjalanan darat dan laut lagi, kami masih sempat mampir untuk membeli oleh-oleh di Petak 10 *jangan kaget dengan harga oleh-oleh Ambon yang lumayan mahal ya*. Setelah itu, beberapa dari kami juga membeli ikan asap di tepi pantai *maap, lupa tepatnya dimana*.

ikan asap

Saya dan Mr. Banker juga sempat berfoto di Gong Perdamaian Dunia. Sebenarnya, pagar yang mengelilingi monumen Gong Perdamaian ini belum dibuka. Namun ada penjaga yang memperbolehkan kami masuk (bayar 5000 Rupiah per orang) dengan cara meloncati pagar >.<


tolong jangan ditiru

Gong Perdamaian Dunia Kota Ambon adalah gong perdamaian dunia yang ke-39. Gong ini berdiri di Ambon City Centre sebagai peringatan tragedi kerusuhan sosial bermotif SARA yang terjadi di Maluku, khususnya kota Ambon pada tahun 1999.

di depan gong perdamaian

Kami juga sempat mampir makan siang di Restoran Sari Gurih, Jalan Sisingamangaraja nomor 2, Passo - Ambon. Ikan kuah bening disini wajib dicoba!


Rumah Makan Sari Gurih


ikan kuah bening (110ribu dapet 2 mangkuk seperti ini)

Dalam perjalanan menuju bandara, saya dan Mr. Banker sempat berhenti untuk berfoto lagi di tepi jalan utama. Disitu terpampang huruf besar-besar "Ambon City of Music" dalam formasi terbalik. Abisnya kita sebagai pengguna jalan hanya bisa membacanya dari belakang. Kalo pengen baca tulisannya dari depan, kita kudu nyebur ke laut dulu *ato naik kapal juga bisa siy*.

Ambon, City of Music

nampang berdua

Dan demikianlah jalan-jalan kami di Maluku berakhir. Memori tentang Ambon, Desa Saleman, dan Pantai Ora akan selalu lekat dalam ingatan. Mudah-mudahan suatu hari nanti kami berkesempatan kembali untuk mencicipi keindahannya lagi. Semoga...

Info:
Banyak yang nanyain, berapa biaya yang harus disiapkan untuk jalan-jalan di Ambon plus ke Ora Beach tentunya. Karena saya ikut trip, biaya yang harus saya bayar 2,7 juta per orang. Tapi itu belum termasuk makan (kecuali sarapan di hotel). Bisa lebih murah kalo kita beramai-ramai (minimal 4 orang lah ya) en handle perjalanan sendiri, pastinya termasuk sewa mobil beserta sopir en cari penginapan sendiri. Untuk tiket pesawatnya, pp Jakarta - Ambon atau Surabaya - Ambon sekitar 2,5 juta per orang. Jadi kesimpulannya, paling engga siapin dana 6 juta kali, ya...

8 comments :

Ratih said...

mantaabbb mak...bagusss amaaatt...pengennn pengeenn pengeen... *sokngidam.

isti thoriqi said...

Aslinya lebih bagus dari di poto, Tih. Ngidam ga papa...tapi ntar kesininya kalo bayinya udah lahir yak, hehe...

rika said...

mbaaa... keren banget, airnya tenang banget, liat fotonya aja bikin hati jadi tenang, jadi pengen kesana deh .. hehehe... masuk wishlist :D

isti thoriqi said...

Iya, mba rika, emang keren abis... Wajib deh, masukin Ora Beach ke must-visit-place-nya mba :D

Arya said...

mba, ada kontaknya pak marwan nggak? terima kasih

isti thoriqi said...

Hai Mas Arya, terimakasih sudah mampir...
Pak Marwan bisa dihubungi melalui nomor 082399093957 :)

Josefine Yaputri said...

Beruntung sekali sudah pernah ke Ora. Cantik :)

Josefine Yaputri
Content Writer & Editor
PT. Grivy Dotcom
P: +62(0)21 2960 8168
Office 8 Tower, Floor 18A
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

isti thoriqi said...

Iya... hayo mba, segera direncanakan kesana ;)

Post a Comment