Container Icon

Desa Saleman, Sebuah Negeri Dongeng

Setelah sebelumnya mencicipi kuliner kota Ambon, agenda kami hari itu adalah menuju Desa Saleman yang terletak di Pulau Seram, Maluku Tengah. Kami berangkat menuju Pelabuhan Tulehu setelah sebelumnya menikmati sarapan berupa nasi kelapa yaitu nasi uduk khas Ambon.

nasi kelapa

Nasi uduk khas Ambon ini sedikit mengingatkanku pada sego megono khas Pekalongan. Rasa nasinya memang berbeda, secara nasi uduk ini rasanya gurih sedangkan sego megono menggunakan nasi biasa. Yang bikin mirip adalah keberadaan parutan kelapanya. Untuk nasinya sendiri, nasi kelapa ini dimasak dengan santan kelapa dengan tambahan bumbu rempah seperti sereh dan jeruk lemon cina. Di dalam nasi kelapa ini terdapat potongan ikan asar, yaitu ikan tongkol yang sudah melalui proses pengasapan sehingga rasanya gurih dan lebih kering.

Sampai di Pelabuhan Tulehu, kami disambut oleh pemandangan anak-anak yang bermain di tepi pelabuhan.

berulang-ulang, mereka meloncat ramai-ramai ke air

narsis dulu lah

pohon di latar belakang ini kayak di cerita dongeng nenek sihir

Di Port of Tulehu ini, kami akan menyeberang ke Pulau Seram dengan kapal cepat. Pak Ani menyerahkan tiket bertuliskan VIP kepada kami. Harganya 225ribu per orang. Penyeberangan ke Pulau Seram memakan waktu 2 jam perjalanan.

kapal Express Cantika 88

Sebelum kapal bertolak meninggalkan Pelabuhan Tulehu, aku memberikan Antimo kepada Mr. Banker. Maklum, dia suka mabuk laut. Aku sendiri ngemil apel, hehehe...

bagian dalam kapal dan bekal kami

perhatikan nama yang tertera pada tiket :D

Kapal Express Cantika 88 yang kami tumpangi berangkat tepat pada pukul 09.15. Ada sebuah layar televisi di ruang VIP yang kami tempati ini. Menayangkan video klip lagu-lagu berbahasa Ambon yang dibawakan oleh Mitha Talahatu. Entah bagaimana aku dan Mr. Banker langsung menyukai lagu-lagunya. Mr. Banker bahkan merencanakan untuk mencari DVD-nya saat kami kembali ke Ambon 2 hari lagi.

tayangan video klip Mitha Talahatu

Sambil mendengarkan alunan suara Mitha, aku membaca buku yang sengaja aku bawa dari Jakarta. Walo ayunan ombak mempermainkanku, aku tetep baca buku #haiyah 

keep calm and read a book ;)

River's Note ini keren sekali! Aku engga bisa berhenti membaca setiap kata yang teruntai di dalamnya. Sebuah buku karangan Fauzan Mukrim ini dikirimkan oleh penulisnya sendiri kepadaku. Di dalamnya tertera tanda tangan penulis dan juga tertulis bahwa buku itu ditujukan padaku. Ceritanya panjang. Yang jelas aku berterima kasih kepada Fiki yang telah menghadirkan buku itu ke tanganku. Makasiy, Fiki :-* Makasiy juga Mas Ocan atas tulisannya yang sangat menginspirasi. Buat penyuka tulisan ringan yang penuh makna, wajib banget punya buku ini!

Tepat 2 jam setelah kapal kami bertolak dari Pelabuhan Tulehu, kami tiba di Pelabuhan Amahai, Masohi. Kami mencari keberadaan Mas Andre dan rekannya yang akan mengantar kami ke Saleman. Setelah bertemu, kami meneruskan perjalanan ke Desa Saleman yang diperkirakan akan menghabiskan waktu 2,5 jam. Oya, jalanan di Masohi ini relatif sepi. Namun demikian jalannya lebar sekali. Bahkan dibikin 3 jalur.

jalanan di Masohi

Tak jauh dari Pelabuhan Amahai, kami berhenti makan dulu di sebuah warung makan berjudul "Bambu Kuning". Satu hal yang langsung menyita perhatianku adalah hiasan di mejanya. Kemangi! Kata teman-teman yang bersamaku, itu bukan hiasan. Tapi kalo orang yang makan disitu pengen, bisa langsung metik. Hmm, begitu ya? Atau bisa jadi si kemangi itu multifungsi, bertindak sebagai hiasan meja sekaligus pelengkap makanan. Hehehe...

kemangi di meja makan

Beberapa orang anggota rombongan beramai-ramai ke belakang warung untuk memilih ikan untuk diolah. Ada ikan bergaris-garis hitam dengan tambahan warna kuning yang unik. "Ini ikan apa namanya?" tanya salah satu dari kami. Pelayan warung menggumamkan sesuatu tentang nama ikan itu. Jadi nama ikan itu adalah... aku lupa, hehehe. Yang jelas, karena penasaran, kami meminta ikan tersebut untuk dibakar dan disajikan di meja makan bersama beberapa ikan lain yang sudah familier seperti kerapu misalnya.

ada ikan yang tampil beda niy

yang sebelah kanan adalah ikan yang fashionable tadi

Ikan bergaris-garis yang kami pesan tadi ternyata rasanya agak aneh. Eh, bukan rasanya ding, tapi teksturnya. agak alot seperti ayam. Tapi toh di akhir acara makan, tetep ludes juga.

Selain ikan, kami juga memesan papeda. Bubur sagu ini disajikan bersama ikan kuah kuning. Aku sempat mencobanya. Awalnya aku membayangkan akan merasakan keanehan di lidah. Rasa yang aneh, maksudnya. Tapi ternyata, rasanya biasa aja. Lebih tepatnya, tidak ada rasanya. Di antara kami ada yang engga tega memakannya demi melihat penampakannya yang menyerupai lem. Tapi aku sendiri berhasil menghabiskan sepiring papeda bersama ikan kuah kuning *kuahnya harus banyak* disertai colo-colo ini. 

mencicipi papeda

Untuk minumannya, aku memesan jus alpukat yang ternyata sangat kental. Rasanya alpukat banget deh! Saking kentalnya, aku sampai tidak bisa meminumnya melalui sedotan. Rasanya butuh sendok untuk bisa mengantarkan jus alpukat kental itu ke mulutku. Oya, total biaya yang dihabiskan untuk makan siang ini adalah 510ribu (untuk 10 orang).

Dari warung Bambu Kuning, kami meneruskan perjalanan ke Desa Saleman. Kami sempat berhenti dulu untuk sholat di sebuah masjid. Untuk menuju Desa Saleman ini, kami melewati jalan yang menanjak berkelok-kelok. Tapi jangan kuatir, jalannya mulus kok. Sampai sekitar setengah jam mendekati Desa Saleman. Jalan mulus tadi berubah menjadi jalanan berbatu sepanjang 5 km yang lumayan bikin mabuk darat. Sekitar 20 menit, perut akan terasa dikocok-kocok. Alhamdulillah aku tetap baik-baik saja *sepertinya karena terbiasa ditugaskan kantor meninjau daerah terpencil >.<*

jalanan kayak gini yang disukai Mr. Banker untuk offroad

disini kita terpaksa turun dari mobil dan jalan kaki

Kami merasa lega ketika melihat plang di bawah ini.

welcome...

"Itu dia yang namanya Ora Beach. Besok kita akan menyeberang kesana.” Dua kalimat dari Mas-aku-lupa-namanya yang menyetir mobil kami langsung membuat kami seketika memandang ke arah kanan, ke luar jendela. Di kejauhan, terlihat deretan rumah apung di tepi pantai, berlatar belakang perbukitan. Hanya dengan melihat pemandangan tersebut, kami seakan sudah tak sabar menanti esok tiba untuk bisa menyeberang kesana.

Ora Beach ada di seberang sana

Perjalanan kami ke Kepulauan Maluku ini terutama memang untuk bisa menikmati Pantai Ora alias Ora Beach. Demi membuktikan keindahan Ora Beach yang selama ini hanya bisa kami nikmati lewat cerita para traveler di blog mereka, kami rela menempuh perjalanan yang kalo ditotal adalah 9 jam lebih dari Jakarta, kombinasi darat, laut, dan udara. Mr. Banker malah lebih lama lagi. Dilebihin 2 jam karena pesawatnya dari Surabaya pake acara transit 2,5 jam di Makassar. Kalo dirinci, dimulai dari Jakarta-Ambon yang ditempuh dalam waktu 3,5 jam via udara, lanjut 1 jam bermobil dari bandara ke Pelabuhan Tulehu, kemudian 2 jam naik kapal cepat menyeberang ke Pelabuhan Amahai di Masohi, masih diteruskan dengan 2,5 jam perjalanan darat ke Desa Saleman. Ora Beach hanya tinggal 15 menit dari tempat kami mengaguminya sekarang. Seperti yang sudah dikatakan oleh driver kami tadi, besok pagi kami akan menuju Ora Beach dengan menumpang speed boat.

Malam itu kami menginap di rumah sesepuh desa. Setiba di rumah yang dimaksud, kami mengobrol bersama pemilik rumah yaitu Pak Marwan. Kami bahkan sempat bercengkerama dengan anak-anak Desa Saleman yang tinggal dekat rumahnya.

bersama anak-anak Desa Saleman yang ceria

"Om, Om, kok tangannya rangkul-rangkul saya siy"

Desa Saleman belum tersentuh oleh jaringan listrik dari PLN. Mereka menggunakan tenaga surya yang kemudian oleh generator akan diolah menjadi listrik. Listrik tenaga surya di Desa Saleman ini hanya bisa dinikmati mulai jam 6 sore.

Ketika senja mulai turun, kami pun berkumpul di lantai 3 rumah Pak Marwan, yang merupakan ruang terbuka, hanya dilindungi oleh atap. Dari sini kami bisa leluasa menikmati keindahan pemandangan yang tersaji di sekitar kami. Desa Saleman yang dikelilingi perbukitan dan laut ini tampak seperti negeri dongeng.

pemandangan di sebelah kanan

pemandangan di sebelah kiri

Kami melihat selarik pelangi di dekat bukit. Bagi penduduk setempat, melihat pelangi mungkin adalah hal yang biasa. Namun tidak bagi kami yang sebagian besar tinggal di Jakarta ini, bisa melihat pelangi adalah keberuntungan tersendiri. Apalagi kemarin kami juga sudah melihat pelangi di Pantai Liang. Kurang beruntung apa lagi coba, bisa melihat pelangi dua hari berturut-turut? Seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat sesuatu yang cantik, kami berceloteh riang diseling dengan kegiatan mengabadikan momen indah tersebut dengan gadget yang kami bawa.

pelangi di Desa Saleman

Sambil menikmati pemandangan yang memanjakan mata, kami disuguhi pisang goreng dan teh manis oleh Pak Marwan. Pisang gorengnya masih fresh from the wajan!

cemilan sore itu

Pak Marwan sempat memotret kami berdelapan dengan kamera poketnya. Aku tak mau kehilangan momen, lalu meminta tolong Pak Marwan untuk menjepret kami sekali lagi dengan kameraku.

rombongan yang kompak :D

Setelah berfoto, aku kembali memperhatikan aktivitas warga Desa Saleman di sore hari itu. Yang terlihat adalah anak-anak Desa Saleman bermain bersama di luar rumah. Terlihat beberapa ternak juga sedang menghabiskan sore di luar kandang.

Desa Saleman di sore hari

anak-anak berkumpul di depan rumah seberang

Di sebelah kiri bawah, kami melihat beberapa orang menyiapkan sebuah perhelatan. Rupanya nanti malam akan ada pesta disana. Kata Pak Marwan, anak si pemilik rumah di dekat kami tersebut lolos seleksi PNS. Akan diadakan syukuran untuk merayakannya.

Pak Marwan mengatakan bahwa pada sekitar jam 6 sore, kami bisa melihat rombongan burung yang muncul dari sebuah gua di atas tebing, terbang ke arah laut. Namanya burung lusiala. Penampakannya unik, mukanya menyerupai manusia dan memiliki buntut tikus.

Tak berapa lama, salah seorang di antara kami memekik, ”Lihat ke atas!” Kami serentak memandang ke atas. Subhanallah, kami melihat rombongan burung-burung kecil melintas di atas kami. Jumlahnya tak terhitung. Mungkin ribuan, atau bahkan puluhan ribu. Entahlah. Karena mereka sedemikian kecil, kami jelas tidak bisa melihat penampakannya. Jadi kami tidak bisa membuktikan apakah benar burung tersebut bermuka manusia dan berbuntut tikus. Kami hanya bisa mengabadikannya, dengan latar belakang pelangi.

rombongan burung lusiala

mari kita potret lagi dengan menambahkan zoom

Saking kecilnya burung lusiala itu (kata Pak Marwan, panjangnya hanya seukuran geretan), zoom maksimal dari kameraku pun tak sanggup menangkap penampakannya. Malamnya, Pak Marwan bercerita pada kami bahwa tak semua orang yang datang ke Desa Saleman bisa melihat rombongan burung yang melintasi desa tadi, seperti yang kami lihat. Burung-burung lusiala akan memilih kepada siapa mereka akan menampakkan diri. Hanya orang-orang baik yang bisa melihat kemunculannya. Wallahu alam. Semoga kami memang termasuk golongan orang baik.

Burung lusiala tidak bisa dipelihara. Beberapa belas tahun yang lalu, ada seorang pendatang yang tidak percaya bahwa burung lusiala tidak bisa dipelihara. Pada suatu ketika, ada seekor burung yang jatuh ke laut. Kemungkinan ia jatuh setelah sempat disambar oleh elang. Seperti halnya semua burung lusiala yang jatuh ke laut di dekat Desa Saleman, burung tersebut berenang ke pantai desa. Salah seorang penduduk mengambilnya. Warga desa memberitahu pendatang-yang-tidak-percaya-bahwa-burung-lusiala-tidak-bisa-dipelihara tadi, sebut saja Mr. X bahwa mereka akan membuktikan cerita yang beredar selama ini memang benar.

Sore itu, di rumah sesepuh desa, si burung ditempatkan dalam sebuah sangkar kecil. Disaksikan warga desa dan Mr. X sendiri, sangkar tersebut dimasukkan ke dalam koper yang yang kemudian digembok. Kunci gembok tersebut diserahkan kepada Mr. X untuk disimpan. Kemudian semua orang pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya beramai-ramai mereka berkumpul lagi di rumah sesepuh desa. Tentunya Mr. X tidak ketinggalan untuk turut serta. Tak lupa ia membawa kunci gembok untuk membuka koper berisikan burung lusiala yang kemarin ditempatkan disana.

Apa yang terjadi ketika koper dibuka? Burung lusiala yang kemarin bersama-sama mereka lihat ada di dalam sangkar kecil di koper dan bersama-sama pula mereka mengetahui bahwa koper tersebut dikunci, sekarang lenyap tak berbekas. Konon ia sudah kembali ke sarangnya. Sejak itu Mr. X percaya bahwa burung lusiala tidak bisa dipelihara.

Cerita di atas bukan karangan belaka. Karena Pak Marwan sendiri menjadi saksi saat peristiwa tersebut terjadi. Selain cerita tentang burung lusiala, Pak Marwan juga menceritakan berbagai kisah unik seputar Desa Saleman yang 100 persen penduduknya menganut agama Islam tersebut.

Malam itu, kami makan malam bersama di meja makan rumah Pak Marwan. Menunya seafood dan pastinya tersedia semangkuk besar colo-colo di meja. Suasananya kekeluargaan banget. Saking kekeluargaannya, selesai makan, Neni dan Dytha ngeyel mau nyuciin piring. Mama yang ada di sana mau protes kayak gimana juga, mereka tetep nerusin cuci piring. 


Mama protes tapi Neny en Dytha cuek ajah :D

Hihihi... kocak juga ngeliat Mama yang awalnya protes-protes akhirnya cuma bisa pasrah. Abis itu yang ada kita malah ngobrol bareng sama para Mama di dekat dapur :D


ngobrol bareng duo Mama

Eh, kalo cewe-cewe pada ngobrol di dapur, cowo-cowo dimana ya? Eh, ternyata mereka juga lagi ngumpul di teras. Wealah, ternyata semuanya merupakan ahli hisap. Cocok banget dah >.<


gerombolan ahli hisap

Menjelang tengah malam, aku, Mr. Banker, dan beberapa anggota rombongan yang belum tidur menonton acara syukuran di rumah tetangga. Tidak, kami tidak bertandang kesana. Kami hanya melihat keramaian yang ada dari lantai 3. Tampak muda-mudi berjoget, berpasangan 2 orang atau membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang.  Tarian gaya bebas mereka diiringi lagu yang diputar dari CD player. Sesekali seluruh muda-mudi yang hadir di pesta membuat barisan dan menari bersama. Mereka menyebutnya wayase (dibaca : wayasi). Sungguh seru kelihatannya.


wayase, menari bersama dalam barisan

Pak Marwan yang menemani kami menonton menyuruh aku dan Mr. Banker ikut bergabung dalam pesta. Namun kami menolak. Malu, kami menyadari kalau kami tak biasa berjoget. Hehehe... Pesta belum usai namun kami  memutuskan untuk berhenti menonton. Besok kami harus bangun pagi.

Ditemani suara musik yang masih terus terdengar dari perhelatan di rumah tetangga *baru selesai jam 3 pagi*, kami pun terlelap dalam kehangatan Desa Saleman yang keindahannya bagaikan sebuah negeri dongeng.

5 comments :

tati yuliati said...

Nice story, mb..
Yuk travelling bareng lagi.. where's next? ^^

isti thoriqi said...

Makasiy, Mba Tati :-*
Yuk, yuk, kapan ya enaknya? *kayak punya waktu libur banyak aja :p*

Wawan Sumantri said...

ceritanya seru dan pastinya gak bosan untk dibaca,,
and dari smua cerita yg bikin aku tersenyum bhkan sape ngakak itu pas liat foto dgn tulisan "Om, Om, kok tangannya rangkul-rangkul saya siy" wkwk..

isti thoriqi said...

Makasiy sudah mampir, Mas Wawan. Hehe... tentang foto yang itu, saya langsung kepikiran ngasih caption demikian, abisnya mimik muka anak cewe disitu agak aneh gimana, gitu... :D

Josefine Yaputri said...

Perjalanan yang seru! :) Nasi kelapanya sangat menggoda!

Josefine Yaputri
Content Writer & Editor
PT. Grivy Dotcom
P: +62(0)21 2960 8168
Office 8 Tower, Floor 18A
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

Post a Comment