Container Icon

Ambon - Say Hi to Miss Blue Starfish and Mr. Giant Eel

Aku baru sedang akan membayar beberapa barang di kasir Alfamart ketika sebuah panggilan dari nomor lokal masuk ke HP. Ternyata dari "Taxiku" yang menginformasikan bahwa sopir yang akan mengantarku ke bandara sudah mengarah ke rumah *maksudnya kontrakan*. Segera kubayar belanjaanku yang tidak terlalu banyak malam itu sebelum kemudian terburu-buru kembali pulang. 

Aku masih sempat mampir ke sebuah toko alat elektronik untuk membeli kabel olor mungil untuk kubawa travelling. Melewati warung ayam penyet langganan, aku teringat bahwa tadi aku sempat memesan seporsi nasi dengan ayam beserta jus mangga. Pesananku ternyata sudah 90% siap. Sambil memohon maaf, aku meminta Si Bapak untuk membungkusnya saja. Sembari Si Bapak menata nasi, ayam, dan sambal di wadah styrofoam, aku menghabiskan jus mangga yang sudah tersaji dalam gelas.

Tak jauh dari warung, sebuah taksi berwarna kuning terlihat sudah menanti di depan pagar. Waktu masih menunjukkan pukul 21.40.

"Bapak cepat juga ya datangnya, padahal saya pesan untuk jam 10. Saya mengambil tas dulu ya," ujarku kepada Pak Sopir.
"Iya mba. Kalau memang masih mau bersiap-siap, tidak apa-apa, saya menunggu disini," jawab Pak Sopir.
"Engga lama kok, Pak. Sebentar ya."

Sampai di kamar, aku menyelipkan obat-obatan yang tadi kubeli di Alfamart, kabel olor, dan sebungkus nasi ayam penyet ke dalam tas. Kupakai sandal gunungku, lalu setengah berlari menuju keluar pagar setelah sebelumnya tak lupa mengunci pintu rumah. Taksi pun berangkat ke bandara. 40 menit kemudian kami pun tiba di bandara. Relatif cepat. Maklum, jalanan saat itu relatif sepi. Oya, makan malamku tadi kan belum tersentuh ya. Aku pun menuju deretan kursi di pojok Terminal 3. Disana aku membuka bekalku. Untungnya aku bukan traveler pemalu, jadi makan di depan counter check in pun engga pake malu. Hehehe...

untung engga ada larangan makan disini :p

Selesai makan, aku ingat untuk mengonsumsi pil kina. Aku engga tahu pasti apakah malaria masih sering menjangkiti orang yang datang ke daerah timur, tapi upaya pencegahan tidak ada salahnya. Aku pun menelan pil pahit itu. Btw, pil kina ini rasanya bener-bener pahit, jauh lebih pahit daripada obat kebanyakan. Kemudian aku pun mengantri di counter check in. Malam itu aku akan terbang ke Ambon dengan pesawat jam 00.30. Disana aku akan bertemu Mr. Banker. Dia berangkat dari Surabaya. Sembari menunggu boarding yang dijadwalkan jam 00.00, aku kembali ke pojok tempatku makan tadi lalu mengobrol dengan seorang bapak disana. Rupanya dia akan terbang ke Kupang dengan penerbangan jam 2.30 pagi. Walah, Si Bapak masih harus menunggu lumayan lama tuh *pukpuk Si Bapak*

menunggu...

Menjelang waktu boarding, aku pun menuju ke waiting room. Waktu belum juga menunjukkan pukul 00.30 ketika pesawat take off. Sekitar 50 menit kemudian, makan malam, emm, lebih tepatnya makan lewat tengah malam disajikan. Menunya kwetiau with chicken katsu. Sebagai pendamping, saya meminta teh panas.

ini namanya makan malam episode 2

Oya, aku menemukan garam dan merica di dalam plastik tempat peralatan makan. Ini sedikit berbeda dengan menu makanan di Garuda *sebagai satu-satunya saingan Batik Air sebagai maskapai full service*.

salt and pepper

Dengan pendaratan yang tidak bisa dibilang mulus, pesawat tiba di Ambon menjelang pukul 6 WIT. Kenapa aku bilang engga mulus? Yah, pesawat sempat terlonjak saat menyentuh landasan. Orang-orang di dalam pesawat langsung pada istighfar. Anehnya, aku sampai sempat bingung mau pegangan apa. Sampai beberapa menit setelah lonjakan pun deg-degannya masih terasa. Wewww...

Bersama dengan para penumpang lain, aku pun turun dari pesawat lalu mengantri bagasi di conveyor belt. Setelah lumayan lama menunggu, ranselku datang juga. Aku pun berjalan keluar bandara untuk mencari musola. Di luar sedang turun hujan. Pantesan bagian kanan ranselku basah.

Oya, satu hal yang kusesali saat itu adalah lupa mencaritahu jadwal sholat di Ambon. Aku baru sholat Subuh jam 6.15, di saat langit sudah benar-benar terang. Padahal jadwal sholat Subuh di Ambon saat itu adalah pukul 4.56. Hiks, kalo saja aku udah cari info dari sebelum naik pesawat, aku tadi sholat di pesawat aja >.< *maaf Tuhan, saya khilaf* *Tab saya pake acara error siy* *oke, engga bisa dijadiin alasan*

Sekitar setengah jam kemudian, pesawat Mr. Banker tiba. Kasian juga dia, berangkat dari Surabaya dengan jadwal lebih awal (jam 22.25), tapi nyampe Ambonnya masih duluan aku. Gara-gara pesawatnya pake acara transit 2,5 jam di Makassar. Waktu aku cerita kalo pesawatku tadi terlonjak di landasan, eh, dia bilang kalo pesawatnya terlonjak juga. Wah, jangan-jangan hal seperti ini udah biasa di Bandara Pattimura. Hmm, faktor cuaca kali ya... Oya, Mr. Banker juga sempat cerita waktu penumpang di pesawatnya turun, di dekat tangga ada petugas bandara yang meminjami payung. Tiap orang dapat pinjaman 1 payung. Oalah, ternyata pesawatnya tadi engga dihubungkan pake garbarata ke gate bandara.

Singkat cerita, kami pun bergabung dengan rombongan trip. Total ada 8 orang termasuk kami. Empat orang di antaranya yaitu Neni, Dytha, Nunu, Sabo ternyata sepesawat denganku waktu berangkat dari Surabaya. Kemudian ada lagi Mba Tati dari Banjarmasin dan Mas Asrul dari Makassar. Kami didampingi Pak Ani dan Pak Samuel, guide lokal yang menyambi sebagai driver.

Bukan kebiasaan saya dan Mr. Banker mengikuti trip untuk menikmati keindahan suatu tempat. Dua bulan sebelumnya kami sudah berusaha memesan kamar sendiri ke Alvin, pengelola Ora Beach Resort yang tersohor itu. Sayangnya untuk tanggal yang kami rencanakan, seluruh kamar laut yang tersedia sudah full-booked. Kamar laut adalah sebutan untuk rumah-rumah apung di Ora Resort. Jumlahnya memang terbatas. Kebetulan sebuah trip organizer menjanjikan kamar laut untuk para peserta tripnya. Demikianlah ceritanya kenapa saya dan suami bisa bergabung dengan 6 orang lain yang sebelumnya tak kami kenal ini dalam sebuah agenda wisata.

Mendung menggelayut di langit saat kami berkendara menuju kota Ambon. Masih 1 jam perjalanan yang harus ditempuh dari bandara ke kota. Jalanan utama menuju kota berada di sepanjang garis pantai. Sehingga pemandangan cantik sudah terpampang di papan mata padahal bandara baru saja kami tinggalkan.

view pantai di sepanjang perjalanan

Pukul 9 lewat 10 menit, kami tiba di wisma tempat kami akan menginap malamnya. Disana kami disuguhi sarapan berupa nasi kuning khas Ambon.

di dalamnya ada potongan tempe dan tongkol

Setelah beristirahat sejenak, siangnya kami menikmati kota Ambon. Tujuan pertama adalah Lesehan Ikan Bakar Joanna. Di sana kami makan ikan bakar pastinya.

makan siang besar

Oya, yang ada di dalam mangkok putih kecil di sebelah es jerukku itu namanya colo-colo. Yaitu makanan pelengkap untuk meningkatkan selera makan. Isinya adalah tomat hijau kemerahan yang dirajang bersama cabe merah dan bawang, ditambah air jeruk dan kemangi. Rasanya asem-asem sedap! Colo-colo ini akan menyertai sebagian besar makanan yang kami nikmati di Kepulauan Maluku. Aku bukan penggemar ikan, tapi kali ini aku "terpaksa" mengakui bahwa menu makan siang kali itu enak sekali!

Oya, es jeruk yang aku pesan pun bukan es jeruk biasa. Namanya es lemon cina, yaitu jeruk purut khas daerah Maluku. Rasanya agak manis, mirip dengan es jeruk kunci yang aku nikmati di Belitung.

Setelah makan, kami menyempatkan diri untuk menengok pantai yang terletak sekitar 10 meter di belakang warung makan. Ini bukan pantai tujuan wisata, tapi pemandangannya sudah membuat kami terpukau.

Laut Banda di kejauhan

Sabo pake acara naik-naik "podium" untuk mengabadikan pemandangan

Saking asyiknya menikmati keindahan pantai, Pak Ani dan Pak Samuel sampai harus memanggil kami. Masih banyak tempat yang harus kami datangi. Oya, di sebelah Lesehan Ikan Bakar Joanna ini, ada semacam ruko yang mana di depannya tertera besar-besar tulisan "Cinema 8 Dimensi". Aku kira itu cuma guyonan. Belakangan aku tahu dari Pak Samuel kalo gedung itu memang bioskop yang menyajikan film 8 dimensi. Tiketnya 50 ribu. Entah bagaimana rasanya menonton film 8 dimensi itu, secara di Jakarta aja baru sampe 4 dimensi. Sayangnya rasa penasaran akan film 8 dimensi itu tidak mendapat kesempatan untuk terpuaskan sampai akhir perjalanan :(

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Liang. Aku benar-benar terpana melihatnya. Ini masih di kota, kan? Pantai di kota kok bisa sebening ini siy? Kami menyesal meninggalkan alat snorkeling di penginapan, karena disini pun kami sudah bisa snorkeling.

Pantai Liang

ada bintang laut biru!

say hi to Miss Blue Starfish

sempat ada pelangi di sana (photo by : Mba Tati)

thx to Neni and Sabo for this picture ;)

Meninggalkan Pantai Liang, Pak Samuel mengatakan bahwa selanjutnya kami akan melihat belut. Hah, apa siy menariknya belut? Oke, aku dan Mr. Banker terkadang suka makan belut. Tapi kami belum pernah denger ada wisata melihat belut. Tapi kami manut saja *ya iya lah, namanya juga ikut trip*

Kami pun menuju Waai. Sampai di sana, kami bingung. Pemandangan yang menyambut kami adalah para ibu-ibu yang sedang mencuci di sebuah sungai.

mencuci berjamaah

Ada juga anak-anak yang sedang mandi.

mandi rame-rame

Selain ibu-ibu mencuci dan anak-anak mandi, ada hal lain yang langsung menarik perhatian kami. Kejernihan air di sungai tersebut. Waai artinya sumber, disana memang terdapat sumber mata air.

jernihnya air di mata air

Bukan keberadaan sumber mata air yang menjadikan kawasan ini menarik. Melainkan keberadaan belut raksasa yang disebut morea. Yah, belut yang disebut-sebut oleh Pak Samuel tadi ternyata bukan belut biasa, tapi belut luar biasa! Jadi, dimana belut-belut ini bersembunyi? Yuk mari kita kembali ke tempat para ibu yang sedang mencuci tadi. Ketika kami sudah berkumpul di tepi sungai, seorang tokoh desa yang bertindak selaku pawang belut masuk ke sungai. Eh, ini sungai ato kolam siy, sebenarnya? Hmm, sebut kolam aja kali, ya, karena sudah disemen tepiannya.

pak pawang ikut masuk kolam

Pawang tadi memancing belut keluar dari persembunyiannya yaitu di balik bebatuan kolam dengan sebuah telur mentah yang kulit bagian atasnya sudah dipecahkan. Yang pengen mencoba memegang belut, silakan masuk ke kolam. Aku belum pernah ikut lomba memindahkan belut, jadi aku memang belum pernah memegang belut sebelumnya. Tapi demi melihat belut sepanjang lebih dari 1 meter yang sepertinya engga bakal aku temui lagi di tempat lain, rasanya kok sayang untuk melewatkan kesempatan untuk memegangnya. Anggep aja tantangan, lah, ya!

pak pawang sepertinya ngefans ama Deddy Corbuzier

berasa pengen nyanyi ular naga panjangnya, bukan kepalang...

Itu belut memang licin banget yak. Tiap mau diangkat, bagian tengah badannya langsung bergeser ke belakang. Selain licin, rasanya aneh saat dipegang. Aku berasa sedang memegang lemak yang lembut *apa coba* *maklum, bingung cari padanan* Kata Pak Samuel, belut yang ada di kolam itu berjumlah puluhan. Ada yang besarnya bahkan melebihi belut yang aku pegang tadi. Belut-belut yang ada di Waai tadi merupakan belut keramat (sacred eel) peliharaan warga. Tidak ada yang berani menangkapnya. Konon, orang yang nekad melakukannya akan dihantui mimpi buruk, sehingga pada akhirnya ia akan mengembalikan belut tangkapannya tadi ke Waai.

Di dekat lokasi belut raksasa tadi, Pak Samuel menunjukkan daerah yang pernah dihancurkan saat kerusuhan Ambon tahun 1999. Pada saat itu rumah-rumah warga dibakar, dirusak, dan dijarah. Warga desa pun mengungsi. Setelah kerusuhan reda, pemerintah kembali membangun tempat tinggal untuk sekitar 7500 warga desa Waai. Mudah-mudahan kerusuhan serupa tidak akan pernah terjadi lagi, baik di Ambon maupun di daerah lain di Indonesia... Aminn...

Dari Waai, kami beranjak ke pinggiran jalan yang mana dari sana terlihat sebuah pantai. Pantai Natsepa namanya...

Pantai Natsepa

Tujuan kami kesini bukan untuk turun ke pantainya, tapi untuk menikmati rujak Natsepa yang terkenal di seantero Ambon. Di sepanjang jalan, berdiri kedai-kedai (disini disebut walang) dengan jualan yang sama : rujak Natsepa, es kelapa, dan ada juga yang menjual jagung rebus. Benar-benar sebuah contoh pasar persaingan sempurna.

kios rujak semuaaa

Kami berhenti di depan Walang Rujak Mama Ting Manuputty. Oya, "Mama" disini adalah penyebutan untuk wanita dewasa. Seperti kita di daerah lain menyapa "Ibu" walau bukan kepada orang tua kita sendiri. Menurut Pak Ani, rujak yang enak ada di kios ini dan kiosnya Mama Nona (sedang tutup pada waktu kami kesana). Yah, kami jelas engga bakal sempat membandingkan ulekan Mama Ting dengan ulekan Mama lainnya, jadi kami percaya aja deh.

Walang Rujak Mama Ting Manuputty

gaya Mama Ting saat menyiapkan rujak

rujak Natsepa (Rp 10.000,-)

Jadi apa bedanya rujak Natsepa dengan rujak buah lain yang biasa kita makan? Kalo diliat dari penampakan gambar di atas, mungkin engga keliatan bedanya, ya. Hanya bumbunya yang berupa ulekan kasar kacang tanah yang terlihat engga pelit untuk dituangkan. Kalo ditilik lebih dalam, di antara potongan buah yang ada disana, ada ketela. Engga biasa ada di rujak tho? Trus lagi, kedondongnya itu, loh. Rasanya engga kecut tapi nyaris manis. Yang jelas, kesimpulannya adalah rujak Natsepa ini wuenak polll! Setelah selesai makan pun, sambalnya masih tersisa banyak. Sayang aku engga nemu kerupuk di walang Mama Ting. Coba kalo ada, udah aku cocolin itu kerupuk ke sambal kacang yang rasanya maknyus sangat itu!

Oya, disini kita juga menikmati es kelapa yang segar.

es kelapa (Rp 10.000,-)

Pada saat kami menikmati rujak dan es kelapa, kebetulan ada pedagang keliling yang lewat menawarkan sagu bakar. Yuk, mari, dicoba sekalian!

sagu bakar (Rp 6.000,- dapat sepotong isi 5)

Setelah menikmati rujak Natsepa, kami sempat mencari musola. FYI, di sekitar pantai Natsepa engga ada musola. Masjid terdekat yang kami temui ada di daerah Passo, sekitar 15 menit berkendara dari Pantai Natsepa.

Malamnya, kami menikmati seafood di Rumah Makan Ratu Gurih. Aku lupa apa aja yang kami pesan. Sebagian penampakannya ada di foto di bawah ini. Lumayan juga siy, kocek yang kudu dirogoh untuk makan disini. Kalo ditotal, kami bersepuluh menghabiskan sekitar 760 ribu Rupiah.

makan malam di Ratu Gurih

Sambil menikmati hidangan, kami sempat dihibur oleh penampilan Pak Ani dan Pak Samuel yang kami paksa untuk menyumbangkan suaranya. Pastinya suara mereka oke, dunk. Hmm, sepertinya semua orang Ambon memang dikaruniai bakat menyanyi :)

Pak Ani memilih lagu "To Love Somebody"

gaya Pak Samuel saat membawakan sebuah lagu Ambon

Sebelum pulang ke penginapan, kami sempat mampir ke sebuah supermarket lokal untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi dan juga air mineral. Keluar dari supermarket, hujan deras melanda. Mobil kami tidak bisa merapat ke depan pintu masuk karena ada deretan motor yang parkir disana. Terpaksa kami memakai kresek untuk menutupi kepala dan berlari menembus hujan untuk bisa masuk ke mobil.

gaya fashion terkini?

Walo sempat keujanan, kami tetap hepi. Rasanya engga sabar menanti pagi segera datang untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Seram keesokan harinya.

6 comments :

Riski Fitriasari said...

euleuh.. euleuh.. si geulis teh jalan-jalan wae.. jadi ngiler nih pengen juga.. hehehe... :)

IntanAriestya said...

Istiiii.. Nggak pernah bosen bacain cerita2 disini.. dan sampai pada judul ini, yg bikin aku mewek plus ngiler *gimana tuh? Hehehe*
Aku tinggal di ambon ga sampai setahun, dan what I miss about it is everithing in it.. Nasi kuningnya, colo2nya, natsepa, liang, waai dan banyaakkkk lagiii.. Sebagian hatiku tertinggal disana, dan belum sempat kuambil kembali. Semoga secepatnya aku datangi lagi ambon manise ���� makasih udah nulis ini, rinduku sedikit terpuaskan..

isti thoriqi said...

@Mak Riski : hahaha...maap ya Mak, bikin Mak ngiler-ngiler. Aku kasih lap deh, hihihi...
@Intan : Intannn...makasiy ya, udah setia membaca tulisanku yang suka-suka ini *terharu* Bingung deh, baca tulisan mewek sambil ngiler, ternyata Intan pernah disana tho? Mudah-mudahan intan bisa kesana lagi suatu saat nanti ya, untuk bernostalgia dengan makanan dan kenangan disana ;)

Greenpack said...

Saya habis makan jadi laper lagi nih... :p
Kunjungan balik ke Box Makanan Food Grade.

isti thoriqi said...

Hehehe.... berarti sekarang makan lagi aja ;)

Adeline Fiananda said...

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata dengan sejumlah tempat wisata yang menarik. Sangat menginspirasi untuk tempat-tempat wisata yang menarik dan penuh dengan suasana baru di Indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pariwisata yang bisa anda kunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

Post a Comment