Container Icon

Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Travel is a remarkable thing, right? Somehow it brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. It's the simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger.
(Ika Natassa - Critical Eleven)

Kalimat-kalimat di atas aku baca di sebuah buku kumpulan cerpen, "Autumn Once More" yang menemani perjalananku dari Jakarta ke Padang pada pertengahan bulan April lalu. Sungguh sebuah awalan yang tepat dalam memulai traveling soloku di Sumatera Barat dan menjadi seorang asing disana.

di Lembah Harau, Kab. 50 Koto

Sebenarnya dalam rencana hidupku *halah*, engga pernah terbersit keinginan untuk traveling sendirian. Semuanya terjadi begitu saja *kalimat ini kok berkonotasi negatif ya*. Berawal dari promo tiket Citilink yang cuma seharga 55ribu sekali jalan sekitar setengah tahun lalu, berujung pada traveling solo ke Padang. Dari dulu aku emang pengen ke Padang. Bukan ke Padang siy, tepatnya, tapi ke Bukittinggi. Pengen liat Jam Gadang. Kenapa gitu? Ya pengen aja. Sama kayak waktu aku ke Bengkulu kemarin (yang tiketnya juga Citilink 55ribuan) dengan alasan pengen liat bunga Rafflesia Arnoldi (walo sayangnya pas engga mekar). Alhamdulillah dapet tiket untuk long weekend untuk bisa pergi ke kedua kota ini. Cerita tentang Bengkulu sudah aku tulis disini.

akhirnya bisa kesini

Kebetulan aku punya beberapa temen yang tinggal di Padang. Secara aku kesana pas long wiken, udah kebayang aja kalo kemungkinan ketemu mereka itu kecil. Bisa aja kan, mereka lagi liburan juga di kota lain? Walo begitu, aku masih ngarep mereka bisa nemenin aku jalan-jalan. Sehingga rencana ke Padang di bulan April udah aku woro-woroin ke mereka dari beberapa bulan sebelumnya.

2 minggu menjelang keberangkatan (yaitu tanggal 17 April), aku mulai googling tentang Sumatera Barat. Mulai menentukan tempat-tempat mana yang bakal aku kunjungi, plus transportasi menuju kesana. Dari yang awalnya cuma pengen ke Padang dan Bukittinggi, jadi nambah ke Payakumbuh, tepatnya ke Kabupaten 50 Koto. Ini berkat Ima, seorang teman yang aku kenal di trip ke Ujung Kulon yang ngomporin banget tentang pesona Lembah Harau disana. Si Ima yang penyuka jalan-jalan ini pernah traveling sendirian di Flores selama 10 hari. Berkat Ima juga, aku jadi memantapkan hati buat traveling solo. Sebuah saran dari Ima, aku engga usah terlalu pusing soal angkutan umum. Naik ojek aja kemana-mana. Hal ini pernah diterapkan oleh seorang temennya Ima waktu ke Sumatera Barat. Hmm, ide bagus tuh! 

Oya, di luar ide tentang memanfaatkan jasa ojek, aku sempat terpikir untuk mencari tour organizer. Sayangnya, semua tour organizer yang aku hubungi via telepon hanya mengadakan trip untuk rombongan sesuai pesanan. Sebuah tour organizer menyarankanku menyewa mobil dengan biaya 400 ribu per hari (termasuk sopir). Kalo aku berpindah-pindah kota, si sopir harus diberikan biaya penginapan 100ribu per hari. Hmm, berarti kalo aku mau keliling Sumbar 3 hari, aku kudu merogoh kocek 1,4 juta hanya untuk mobil dan sopir. Itu pun belum termasuk biaya makan yang pasti kudu aku bayarin. Berat juga kayanya. Saran ini jelas tidak masuk pertimbangan. Aku pun memantapkan diri untuk memanfaatkan ojek dan angkutan umum.

10 hari menjelang jadwal keberangkatan, aku kirim bbm kepada Ve, salah seorang temen di Padang, buat nanya apa masih ada damri dari bandara untuk jadwal landing jam 19.35. Soalnya hasil googling-ku tidak membawa hasil berarti. Kata Ve, jam 8 malam masih ada Damri dan Tranex. Dari rentetan bbm kita, aku jadi tau kalo Ve bersama suaminya ada rencana ke Medan pada long wiken itu. Jadi jelas dia engga mungkin nemenin aku jalan-jalan.

Selain Ve, temen lain yang juga aku recokin adalah Cicil dan Ratih. Dengan bantuan mereka bertiga, aku menyusun itinerary perjalanan. Terkait pemilihan hotel, juga aku diskusikan dengan mereka. Ve merekomendasikan sebuah hotel untuk tempatku menginap selama di Padang. Yaitu Hotel Nabawy Syariah 2, karena letaknya yang strategis di pinggir jalan raya serta dekat dengan laut. Pada kenyataannya, sampai hari terakhir aku di Padang, aku tidak mengunjungi laut yang ada di dekat hotel. Hanya sempat selintas lewat di Sabtu malam.

Saran tentang Hotel Nabawy Syariah 2 ini didukung oleh Ratih yang pernah nginep seminggu disana gara-gara peraturan di kost-an khusus cewenya yang melarang suami menginap di kost. Karena hotel ini engga ada di agoda dan sejenisnya, aku sempat mencoba memesan via telpon. Yang ada aku salah sambung ke toko bangunan -_-" Akhirnya Ve mendatangi langsung hotel tersebut dan memesankan kamar untukku.

Selain 2 malam di Padang, aku juga menginap semalam di Lembah Harau. Dari hasil googling, aku menemukan "Lembah Echo". Tertarik dengan kamar-kamar unik yang mereka tawarkan, aku mencoba menghubungi nomor yang aku temukan di internet. Entah kenapa tidak tersambung. Saat mengetahui aku mau menginap di Lembah Echo, Ve langsung mengatakan kalo dia juga pernah menginap disana. Sebuah hotel yang recommended menurut Ve. Kabar baiknya, Ve punya no HP pengelola hotel. Aku pun menghubungi nomor yang diberikan oleh Ve. Tersambung, bicara dengan pengelola hotel bernama Pak Eka, dan kamar pun siap untuk tanggal yang aku pilih.

salah satu cottage di "Lembah Echo"

Ide tentang ojek juga aku kemukakan kepada ketiga temanku itu. Alhamdulillah mereka bersedia mencarikannya untukku. Kebetulan ada sodara dari Dodi, suaminya Ve, yang bersedia mengantarkanku explore Bukittinggi dengan motornya. Kebetulan ia sedang menganggur dan tinggal di Padang Panjang yang tidak begitu jauh dari Bukittinggi. Ve juga menyarankanku untuk mengunjungi Istana Pagaruyung di Batusangkar keesokan harinya, dengan ditemani lagi oleh Ii, nama sodaranya itu.

Cicil turut mencarikan ojek untuk transportasi ke Pantai Air Manis yang lokasinya memang agak jauh dari kota Padang. Sedangkan Ratih menawarkan tukang ojek langganannya untuk menemaniku berkeliling kota Padang di hari terakhir. Pada kenyataannya, aku batal berkeliling Padang dengan ojek di hari terakhirku di Sumatera Barat karena Ratih menawarkan untuk jalan bareng ke Pariaman yang bisa ditempuh dengan menggunakan kereta api dari Padang. Keputusan ini diambil hanya sehari sebelumnya. Sungguh sebuah rencana dadakan yang menyenangkan.

Jadilah selama berkeliling Sumbar selama 4 hari 3 malam, aku menggunakan berbagai moda transportasi. Dimulai dari pesawat, lalu Damri bandara yang mengantarkanku ke hotel (kebetulan lokasi hotelnya dilewati jalur Damri), angkutan kota selama di Padang, sepeda motor, travel dan Tranex (angkutan umum antar kota, berupa Elf) untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dan juga kereta api serta speed boat untuk menyeberang ke Pulau Angso Duo di dekat Pantai Gandoriah, Pariaman. Oya, sempat juga naik mobilnya "Lembah Echo", hotel tempatku menginap di Lembah Harau, serta mobil kantornya Ratih dengan diantar sopir saat akan kembali ke Jakarta. Hehehe...

Ini pemandangan di depan mata saya diambil dari tempat saya duduk di beberapa angkutan tersebut.

angkot di kota Padang

menyusuri Lembah Harau dengan motor

Tranex PO Ayah saat akan kembali ke Padang

kereta eksekutif menuju Pariaman

boat menuju Pulau Angso Duo

Perhatian dari teman-teman pun sangat aku rasakan selama traveling sendirian itu. Dari saat sebelum take off ke Padang pada Rabu malam, Mba Via, seorang yang sudah aku anggap kakak sendiri yang sering menjadi partner travelingku mengirim bbm ini : "Anak wedhok jjs sendiri, apdet status selalu ya, supaya tau kalo kamu baik-baik saja". So touchy. Love you, Mba :-* 

Mba Via juga yang keesokan malamnya heboh menghubungi rekannya, seorang pimpinan Bank X di Payakumbuh ketika aku kemalaman tiba disana selepas dari Bukittinggi, padahal aku masih harus melanjutkan perjalanan ke Lembah Harau. Saat itu masih jam 7 malam tapi suasana sudah sepi. Mana hujan turun, pulak. Jelas engga ada ojek yang mau nganterin aku ke Harau. Sempat sudah akan dijemput oleh sopir Bank X ketika kemudian pihak hotel berkenan menjemputku. Cerita lebih detilnya akan ada di postingan selanjutnya. Yang jelas malam itu aku mengalami kebingungan tingkat tinggi.

Kembali ke momen dimana aku baru tiba di Padang. Demi melihat status bbm-ku yang menampilkan foto Bandara Minangkabau yang aku ambil sesaat setelah turun dari pesawat, Viola, seorang teman seinstansi yang asli Padang dan juga dinas di Padang mengirim pesan : "Kalo nyasar-nyasar ato kalo ada apa-apa, kabar-kabari ya. Sapa tau aku bisa bantu".

Mak Dewiezul dari KEB yang juga orang Padang namun sekarang tinggal di Jakarta juga langsung bbm begitu melihat pp-ku yang menampilkan Bandara Minangkabau. Ia menginfokan tempat-tempat asyik yang bisa aku datangi serta aneka penganan yang bisa aku coba.

Terakhir, ada Vitha yang adalah cewe dari temen kostnya Mr. Banker waktu masih pacaran sama aku *so long time ago* yang keturunan Padang tapi engga pernah menginjakkan kaki disana. Dia nyesel karena telat mengetahui rencanaku tentang traveling ke Padang.

Segala macam perhatian ini membuatku hepi sekaligus terharu...

Ada teman yang bertanya, krik-krik engga siy, jjs sendiri? Hmm, pada kenyataannya, selama di Sumbar, aku engga pernah bener-bener sendirian. Kecuali di kamar hotel. Aku memang sempat ketemuan dengan Ve, Cicil, dan Ratih.

Kamis pagi, Ve menjemputku ke hotel untuk kemudian menikmati soto Padang di Bofet Rajawali Juanda. Setelah itu ia mengantarku ke pool travel menuju Bukittinggi.

sambil menunggu travel

Tentang Ve, aku mulai kenal dengannya sekitar 5 tahun yang lalu. Waktu itu aku yang masih berstatus pegawai bank X ditugaskan untuk monitoring layanan di sebuah kantor cabang. Di situ aku ketemu dengan temen seangkatan waktu diklat tahun 2006. Kami pun makan bareng sambil reuni kecil-kecilan di kantin kantornya. Disitulah aku berkenalan dengan Ve. Walo aku dan Ve cuma sekali bertemu, pertemanan kami terus berlanjut via FB, lalu bbm, kemudian sekarang ada Path juga. Sampe akhirnya Ve resign dari bank X untuk mengikuti suaminya yang orang Padang, kami terus berteman. Sebuah kesamaan harapan dengan kemungkinan yang tipis untuk memiliki momongan makin mendekatkan kami berdua.

Pertemuan dengan Cicil mengambil waktu Sabtu malam. Ia menemaniku menikmati kota Padang di waktu malam. Aku langsung meng-upload foto di bawah ini, yang aku ambil di  Es Durian Ganti Nan Lamo, untuk mengiming-imingi Anis, teman kami berdua yang sebenarnya berencana ke Padang juga hari itu namun batal karena suatu alasan. Tentang Cicil, aku mengenalnya waktu traveling ke Bangka. Ceritanya ada disini.

saling memfoto untuk kemudian dijejerin :p

Setelah mencicipi es durian, menyusuri Jembatan Siti Nurbaya dan sungai di bawahnya, di tengah jalan turun hujan deras. Sempat berhenti sebentar untuk kemudian Cicil mengenakan jas hujan terusan dan aku bisa berlindung di balik punggungnya. Kemudian kami tetap meneruskan perjalanan. Ketika melewati Pantai Padang yang sering disebut Taplau (Tapi Lauik), Cicil memintaku mengintip sebentar dari balik jas hujan. Yah, buat syarat aja kalo pernah kesitu. Hihihi... Kami akhirnya berhenti untuk makan di Lontong Padang dekat hotel tempatku menginap dengan celana nyaris basah kuyup. Untuk kembali ke hotel yang sebenarnya tinggal ngesot aja, kami masih harus menunggu lama. Secara hujannya deres banget, gitu :D

Dengan Ratih, aku jalan bareng ke Pariaman, yang sebelum berangkat ke Padang pun tak pernah terpikirkan olehku untuk merencanakan kesana. Ratih yang belum pernah ke Pariaman penasaran. Keputusan untuk merubah sedikit itinerary ini benar-benar tidak salah. Jalan bareng kami hari itu sangat fun. Secara kami sama-sama narsis, foto-foto kami di Pariaman menghabiskan seperempat memori foto perjalananku di Sumbar. Hahaha...

nyaris seperti pasangan hanimun :))))

Kalo aku hanya pernah bertemu dengan Ve dan Cicil masing-masing sekali, yang namanya Ratih ini malah belum pernah aku temui. Perkenalan dengan Ratih dimulai dari kerajinannya *mau bilang kesukaannya, tapi aku sungkan* mengunjungi blog-ku. Dari komen di blog berlanjut ke FB, trus lanjut lagi ke bbm. Mengetahui aku mau ke Padang, Ratih udah heboh pengen ngajak ketemuan. Tapi dia agak galau juga secara suaminya ada di Medan. Kalo long wiken gini, kemungkinan dia bakal ke Medan. Kalopun engga, suaminya yang bakal ke Padang. Jelas aku engga berani merusak kebahagiaan dua sejoli LDR itu *merasa senasib*. Ternyata, yang terjadi adalah Mas Agus, suami Ratih mengunjungi Ratih di Padang. Tapi di hari Sabtu, Ratih meminta suaminya untuk membeli tiket pagi aja buat balik ke Medan, jadi dia bisa jalan bareng aku. Untungnya Mas Agus sangat memaklumi keinginan istrinya itu :p

Kemarin aku diberitahu Ratih kalo pada saat kita jalan bareng ke Pariaman itu, dia ternyata dalam kondisi hamil. Hanya saja dia engga menyadarinya. Secara dia pernah memiliki riwayat keguguran, aku bakal merasa bersalah kalo kehamilan yang ini tidak baik-baik saja. Apalagi abis nganterin aku ke bandara hari Minggu malam, Ratih sempat muntah-muntah. Aku jadi curiga kalo itu karena baby-nya. Tapi kata dia, walo saat itu udah hamil, muntah-muntahnya hanya diakibatkan oleh pusing karena bbm-an di mobil plus masuk angin cos main di pantai seharian. Alhamdulillah tadi dia cerita kalo hasil USG-nya baik.

Pada saat aku sendirian dan tidak bersama ketiga temanku tadi, aku tetap enjoy aja. Pada dasarnya, aku mudah mengobrol dengan siapa saja. Dengan Ii, sodara suaminya Ve yang mengantarku kemana-mana, dengan Pak Ojek yang mengantar ke Pantai Air Manis, dengan pengelola/pemilik/pegawai hotel yang aku inapi, dengan sepasang suami istri yang ketemu di warung waktu berteduh karena kehujanan, juga dengan orang yang duduk di sebelahku di angkutan antar kota yang aku tumpangi.

Keluhan yang aku rasakan selama traveling sendirian ini adalah capek karena membawa-bawa ransel di Bukittinggi. Secara aku engga ada rencana menginap di Bukittinggi, ransel jelas aku bawa kemana-mana. Walopun separo pakaian udah aku titipkan ke Hotel Nabawy Syariah 2 karena memang ada rencana menginap disana lagi, tetep aja itu ransel lumayan berat. Lha masa iya mau aku titipkan di penjaga parkir motor? Minta tolong Ii untuk membawakan juga pantangan bagiku. Kalopun dia menawarkan bantuan, aku juga pasti akan menolak. Aku membayarnya karena memanfaatkan jasa transportasinya. Dia bukan porter di Gunung Rinjani yang selain memandu pendaki gunung, juga memanggul tas serta memasak untuk si pendaki. Anyway, kalo aku pengen ke Rinjani tapi menyewa porter, kira-kira Mr. Banker bakal keberatan engga ya? *istri manja yang pengen ikut suaminya naik gunung*.

Anehnya, walo membawa-bawa ransel kemana-mana itu capek, sakit punggung yang sering muncul akhir-akhir ini entah kenapa tidak menyerangku disana. Seusai traveling pun dia tidak menampakkan batang hidungnya. Aku curiga selama ini ia hanyalah gejala psikosomatis yang ternyata bisa sembuh hanya dengan traveling. Hehehe...

jalan-jalan sambil bawa ransel

Selain capek karena ransel, kakiku sempat pegal sepulang dari Batusangkar dan tiba kembali di Hotel Nabawy Syariah 2. Padahal aku sudah janjian dengan Pak Ojek yang akan mengantarku ke Pantai Air Manis. Sampai saat aku mendudukkan pantatku ke boncengan motor, kakiku masih terasa sakit. Sekali lagi anehnya, sakit itu mendadak hilang saat motor mencapai pantai. Walo demikian, biar si kaki engga makin protes, malamnya aku menempelkan koyo di kedua betisku. Hehehe...

di Pantai Air Manis

Oya, foto di atas sempat aku upload di Path, lalu aku menuliskan "alone" sebagai pelengkap foto. Seorang teman langsung bertanya, kalo alone siapa yang moto? Nah, ini dia enaknya pake ojek, bukannya angkutan umum. Asalkan ojek yang kita sewa itu kita ajak masuk ke semua tempat wisata (plus diajak makan juga yak!), kita seperti punya fotografer pribadi. Yah, mungkin harap dimaklumi kalo foto yang dihasilkan kurang bisa seperti yang kita harapkan. Alternatif lain adalah bawa tripod. Aku siy, males ngatur-ngatur begituan. Ato bisa juga bawa tongsis. Kalo ini, aku malu bawa-bawanya. Hihihi... Sekalinya terpaksa selfie adalah waktu di Air Terjun Lembah Anai. Waktu itu sembari menunggu Ii, aku memasuki tempat wisata sendirian trus poto-poto sendiri.

terpaksa selfie :p

Akhir kata *kayak lagi ceramah*, aku bener-bener berterima kasih kepada teman-teman yang telah membantuku selama traveling sendirian di Sumbar. Bersyukur banget punya temen-temen yang baik seperti mereka. Berkat Ve, Ratih, Cicil, dan juga banyak orang-orang baru yang aku temui selama perjalanan yaitu Ii, Pak Oyon, Nenek Usna Darus (pemilik Lembah Echo), Pak Eka (pengelola Lembah Echo, putra dari Nenek), Uda Sikar (pegawai Lembah Echo yang nganterin aku keliling hotel), Uda Wawan (pegawai Lembah Echo yang udah nganterin keliling Lembah Harau), Pak Asrinal (pengelola Hotel Nabawy Syariah 2 yang mau nerima titipan tasku), Mba Via dan juga temen-temen lain yang udah care sama aku, my first solo trip-ku ini berjalan seru, lancar, seru, menyenangkan, dan sangat patut untuk dikenang! Oya, meskipun belum sempat bertemu, terimakasih juga buat Pak Andre, Pimpinan Bank X yang udah menawarkan bantuan saat aku kemalaman di Payakumbuh.

Kalo ada yang nanya, apa ada rencana untuk traveling solo lagi, hmm, sementara masih belum ada, siy, tapi traveling sendirian ini belum bisa dipastikan untuk menjadi kenangan sekali seumur hidup :D


11 comments :

kacamatamia said...

Ish kereeeen.. solo travelling nya seru ya mak Isti jadi ketemu banyak orang. Yang lembah Harau itu tampak sejuk dan indah ya mba

isti thoriqi said...

Iya, Mak Mia, memang seru, pake banget! Ketemu banyak teman, baik lama maupun baru. Lembah Harau itu keren banget, Mak. Nanti akan aku bahas di postingan tersendiri, baik tentang Lembah Harau-nya maupun tentang hotel tempatku menginap yang juga unik :D

Riski Fitriasari said...

punya banyak temen itu enak banget ya Mba.. trus daerah di Bukittinggi memang indah dan hijau.. aku diimingi ibu kosku buat pergi kesana suatu hari.. :)

Ratih said...

Wkwkwkwk, akhirnya di publish juga... aq juga belum sempet nulis nih mbak...padahal udah pengen banget...
Viola...lengkap bgt neng nulis aku nya, apalagi yg ttg hamil padahal benerx blm aq publish scara pers *sokngartis, hi8 untung g banyak yg kenal aq di blog ini. Anyway....ayoooo mbak...kita main lagi, seruuuu main ma mbak istiii.... :D

isti thoriqi said...

@Mak Riski : Iya, Alhamdulillah Mak, jadi walo traveling sendirian engga perlu kuatir ilang, hehe... Bukittinggi recommended banget buat didatengin, Mak. Tulisan tersendiri tentang Bukittinggi ada disini : http://www.istithoriqi.com/2014/05/backpacker-narsis-di-bukittinggi.html
@ Ratih : Hwaaa... masih off the record, ya? Maap, maap, aku terlalu excited dengan kehamilanmu, sampe-sampe langsung bikin konferensi pers sendiri, hahaha... Perlu diedit-kah? *udah telat banget kali yak :p*

Ahadini Karimah Rizqiyani said...

Itu namanya lembah echo d lmbh harau. Semcam bisa dgr suara echo kah klo tereak...

isti thoriqi said...

Iya, bisa... Nanti tentang Lembah Harau dan Lembah Echo aku tulis di postingan tersendiri, say ;)

Anonymous said...

Hallo mba isti..salam kenal..aq putri..
Mw nanya mba..biaya penginapan di lembah echo brpa ya mba? Rncana lebaran mw kesana..tks

isti thoriqi said...

Hai Mba Putri, salam kenal juga. Untuk room rate-nya bisa dicek di http://lembahecho.blogspot.com/. Kalo mau reservasi, bisa menghubungi Pak Eka di 081266191501. Moga liburannya menyenangkan ya...

covalimawati said...

aku baru baca postingan ini.. iihh keren bgt dirimuu.. mupeng bgt pengen traveling sndrian jg... Itu sbnrnya cita2ku sejak lama.. Mgkn udah saatnya diwujudkan, mumpung anak2ku dah gede.. hehe

isti thoriqi said...

Udah baca komen Mak Cova tapi pas mau bales pas engga bisa, baru sekarang deh, balesnya...
Ayo, Mak, segera diagendakan... travelling solo itu beneran seru loh ;)

Post a Comment