Container Icon

Malam yang Kalut di Payakumbuh

Catatan pembuka :
Tulisan di bawah ini mengisahkan perjalananku dari Bukittinggi menuju Lembah Harau, melalui Payakumbuh. Agar pembaca tidak bosan, aku mengemasnya dalam bentuk cerpen.
Selamat menikmati...

Traveling alone is a joy and priviledge. Not everyone can afford to do so, be it in terms of finance or time. However, it is definitely something every single person should do, at least once in their lifetime :)

Dari kejauhan, sebuah L300 berjalan menuju ke arah kami berdiri di tepi jalan raya. Entah dengan cara bagaimana, Ii memastikan bahwa itu Tranex yang aku tunggu, yang akan membawaku ke Payakumbuh. Aku melirik jam di pergelangan tangan. 17.30. Sudah terlalu sore bagi seorang perempuan memulai perjalanan menuju kota lain di daerah yang masih asing baginya. Bagaimanapun, sesuai rencana yang telah disusun, aku harus terus melanjutkan perjalananku.

L300 tersebut penuh, namun aku bersyukur masih tersisa sebuah bangku untuk aku duduki. Saat aku masuk ke dalam Tranex, Ii dan motornya pun kembali ke Padang Panjang, tempat ia tinggal. L300 yang aku tumpangi ini terdiri dari 4 baris termasuk baris paling depan dimana sopir berada. Bangku kosong untukku terletak di baris ketiga. Merupakan bangku tambahan tanpa sandaran yang diletakkan di antara celah antara bangku untuk dua orang yang sudah permanen di sebelah kanan dan bangku untuk satu orang di sebelah kiri yang juga sudah melekat dengan rangka mobil. 

Baru beberapa menit aku duduk disana dan Tranex melaju pergi, salah satu penumpang di barisan paling belakang meminta sopir Tranex untuk berhenti. Nampaknya ia telah tiba di tujuannya. Karena rute yang harus dilaluinya untuk menuju pintu keluar adalah melewati bangkuku, mau tidak mau aku harus beranjak turun untuk memberinya jalan. Pastinya dengan sedikit kerepotan karena membawa serta ransel besarku.

aku dan ranselku

Saat si penumpang yang turun tadi sudah menghirup udara luar, aku masuk kembali ke dalam Tranex. Ransel yang aku bawa sempat menyenggol seorang penumpang di sebelah kananku. "Maaf," ucapku spontan. Gadis muda itu hanya tersenyum. Tanpa disangka, ia menawariku bertukar posisi dengannya. Mungkin ia iba membayangkan kemungkinan masih ada penumpang lain di barisan belakang yang akan turun, yang mana akan memaksaku ikut turun untuk kemudian naik lagi ke dalam angkutan antar kota ini. Mungkin juga dia khawatir ranselku akan menyenggolnya sekali lagi, atau dua kali lagi, atau bahkan tiga kali lagi. Karena masih ada 3 penumpang di barisan paling belakang, yang entah kapan akan turun.

Aku sangat berterimakasih atas pengertiannya.

Sepanjang jalan aku terus terjaga. Lagipula aku tidak mengantuk, jadi memang tidak terpikir untuk memejamkan mata dan tidur meski hanya dalam waktu singkat. Pukul 18.45, Tranex memasuki kota Payakumbuh. Kutolehkan kepala kanan dan kiri demi mencari keberadaan terminal tempat aku berencana turun dan kemudian mencari ojek yang akan mengantarkanku ke Lembah Harau, sebuah lembah subur yang terjebak di antara dua tebing terjal. Keindahannya sangat memukau, demikian kabar yang aku dengar. Sekelumit informasi yang sudah cukup untuk menarik langkahku kesana.

Sampai jarum kecil di arlojiku menunjukkan angka 7 dan jarum panjangnya menunjukkan angka 2, aku tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan terminal. Sepertinya tadi kami sempat melewati pasar. Jangan-jangan terminal yang kucari berlokasi di dekat pasar. Atau bisa jadi Tranex ini akan berhenti di terminal di ujung perjalanannya nanti. Naluri travelerku mengatakan bahwa dugaan terakhir sangat kecil kemungkinannya.

Aku pun bertanya pada seorang penumpang yang duduk di sebelah kananku, perempuan yang usianya sekitar 5 tahun di bawahku, yang dari tadi asyik dengan tabletnya. "Mba, terminal masih jauh ya?"
Jawabannya mengejutkan walaupun aku sudah bersiap menerimanya, "Wah, udah kelewatan, Mba."
Meskipun di luar sedang turun hujan, aku spontan meminta sopir untuk berhenti. Turun dari Tranex, aku mengeluarkan selembar uang berwarna ungu yang memuat lukisan seorang pahlawan nasional dari Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II. Aku pernah membaca bahwa di balik sketsa yang tertuang di pecahan uang kertas sepuluhribuan ini ada sengketa antara pelukis dengan pihak Bank Indonesia. Aku tak tahu bagaimana akhir dari cerita tuntut-menuntut antara kedua pihak tersebut. Yang aku tahu, saat ini aku tersesat di sebuah kota asing.

"Tranex ini sebenarnya menuju kemana, Pak?" tanyaku sambil membayar ongkos.
Pak sopir menggumamkan jawaban yang tidak jelas.
"Maaf, kemana, Pak?" aku meminta pengulangan jawaban.
Lagi-lagi aku hanya mendengar gumaman tak jelas.
Seorang penumpang wanita yang duduk di samping sopir mengulangi perkataan pak sopir untukku. Hmm, aku masih tak bisa menangkap perkataannya.

Mungkin aku sudah lelah. Mungkin juga aku memang sama sekali tidak mengenal daerah ini sehingga tidak bisa menangkap perkataan apapun terkait nama tempat di sekitar sini. Mungkin juga suara hujan yang sedang mengguyur Payakumbuh di malam itu menelan suara sopir dan penumpang sebelahnya sebelum sampai ke telingaku.

Aku beruntung sopir Tranex tadi menurunkanku di depan sebuah toko kelontong yang masih buka. Aku pun masuk ke dalamnya untuk mencari informasi.
"Maaf Pak, terminal masih jauh ya, dari sini?" tanyaku pada penjaga toko yang sepertinya merangkap sebagai pemilik toko. Ah, mungkin lebih tepat aku bilang sebaliknya, yaitu pemilik toko yang merangkap sebagai penjaga toko.
"Lumayan jauh sih, Mba."
"Di dekat sini ada ojek engga, Pak?"
"Biasanya ada, tapi kalau lagi hujan gini, engga ada, Mba."
Aku hanya bisa mendesah kecewa.
"Lagian jam segini terminal sudah sepi. Mba mau apa kesana?"
"Saya mau ke Lembah Harau, Pak. Tadi rencananya saya mau nyari ojek di terminal buat nganterin kesana. Sebelumnya saya naik Tranex dari Bukittinggi tapi saya telat turun, jadi terminalnya sudah kelewatan."
"Wah, kalo jam segini, di terminal juga udah engga ada ojek, Mba!"
"Waduh, terus saya ke Haraunya naik apa, Pak?"
"Kalo mau ke Harau, ada sih, travel kesana. Travelnya lewat sini kok."
"Travelnya kayak gimana, Pak?"
"Biasanya Avanza, Mba."
"Lha trus gimana caranya saya membedakan antara Avanza travel dengan Avanza biasa?"
"Itu dia, Mba, engga bisa dibedakan. Caranya ya dengan menyetop Avanza yang lewat."

Pak penjaga toko keluar dari balik etalasenya. Bersama-sama kami menunggu kedatangan Avanza. Setiap ada Avanza lewat, dia melambaikan tangannya. Hasilnya nihil. Tidak ada satu pun Avanza yang berhenti. Meskipun agak kecewa, sebenarnya aku sekaligus bernafas lega. Menghentikan setiap Avanza yang lewat membuatku sedikit parno. Kalaupun sopir Avanza mengiyakan saat aku bertanya apakah ia menuju Harau, darimana aku bisa memastikan dia tidak sedang berbohongi? Bagaimana kalau ternyata dia berniat jahat padaku? Hmm, sepertinya aku terlalu berburuk sangka. Tapi menurutku, itu salah satu sikap waspada yang mana bagi seorang perempuan yang traveling sendirian seperti aku saat ini hukumnya wajib, karena ia harus menjaga dirinya sendiri!

Tiba-tiba aku terpikir untuk menghubungi pengelola hotel "Lembah Echo" yang sudah aku pesan untuk tempat menginap malam ini. Aku memang belum pernah membaca tentang fasilitas penjemputan yang disediakan "Lembah Echo" untuk para tamunya. Informasi yang aku dapat dari hasil googling, para traveler yang berencana menginap disana memanfaatkan angkot dilanjutkan dengan ojek untuk mencapai hotel. Tapi tak ada salahnya mencoba peruntungan. Aku pun berusaha menghubungi nomor HP Pak Eka, pengelola "Lembah Echo". Lama terdengar nada sambung namun teleponku tak kunjung diangkat. Mungkin Pak Eka sedang sibuk sehingga tidak bisa mengangkat teleponku. Aku pun memutuskan untuk mengirim sms saja. 

Melihatku sibuk dengan HP, Pak pemilik toko kembali ke balik etalasenya.

Aku terus menerus memperhatikan layar HP, menanti jawaban sms dari Pak Eka. Layar HP-ku tetap gelap, nyaris tak ada harapan. Sekali lagi aku mencoba menghubungi nomor HP-nya. Sama seperti sebelumnya, panggilanku tak diangkat.

Jadi, apa yang sebaiknya kulakukan? Oke, apa yang akan dilakukan perempuan lain dalam situasi sepertiku saat ini? Menangis? Ah, sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk menangis. Buat apa? Memangnya menangis bisa membawa solusi atas masalahku? Yang ada malah membawa masalah lain. Paling tidak, masalah bagi pemilik toko. Kasihan beliau harus menanggung masalah atas sesuatu yang benar-benar di luar kuasanya. Kehadiranku ke tokonya saja sudah cukup membawa masalah, aku rasa.

Di tengah-tengah perasaan yang sedikit kalut, aku merasa kelaparan. Aku baru ingat kalau makan besar terakhirku sudah terjadi 9 jam yang lalu, yaitu sate di Padang Panjang. Setelahnya, perutku hanya terisi oleh kerupuk kuah yang bahkan tidak kuhabiskan dan air mineral.

"Pak, warung terdekat dimana ya?" lagi-lagi aku terpaksa mengganggu ketenangan Pak pemilik toko.
"Ada sih, Mba, tapi masih harus jalan agak jauh kesana," jawabnya sambil menunjuk arah kanan. Duh, masa iya aku harus hujan-hujanan demi menuju kesana. Mengingat nasibku yang masih belum jelas, ancaman masuk angin atau sakit karena kehujanan sepertinya sangat tidak menarik.

Daripada kelaparan, aku mencomot beberapa makanan kecil dari rak.
Saat aku akan membayar, Pak pemilik toko ganti bertanya, "Mba darimana?"
Sepertinya dia tidak bermaksud untuk kepo. Dia hanya ingin tahu. Oke, jadi apa bedanya dengan kepo? Menurutku, kepo itu lebih ke mengarah ke rese. Berbeda dengan rasa ingin tahu yang tersirat dari pertanyaan Pak pemilik toko. Mungkin situasi semacam ini baru sekali ini dialaminya. Seorang perempuan muda membawa ransel besar turun dari Tranex di malam berhujan yang sepi kemudian menanyakan arah terminal dengan maksud mencari ojek ke Harau. So weird, mungkin demikian yang ada di pikirannya.

"Saya dari Jakarta, Pak," aku menjawab pertanyaannya tadi.
"Sendirian?"
"Iya."
"Ke Harau mau ke tempat saudara?"
"Engga, Pak."
"Trus mau ngapain di Harau?"
"Liburan aja Pak."

Aku merasakan tatapan sedikit heran dari Pak pemilik toko.

"Ini tadi dari Bukittinggi?"
"Iya, Pak."
"Di Bukittinggi ada keluarga?"
"Engga, Pak." Baiklah, daripada semakin berpanjang lebar langsung saja saya beritahukan bahwa, "Di Sumatera ini saya engga ada keluarga, Pak. Saya memang ke Sumbar ini untuk liburan, sendirian."

Oke, tatapan Pak pemilik toko sekarang sudah heran maksimal. Tak diragukan lagi, baru kali ini dia bertemu dengan seorang perempuan yang jalan-jalan sendirian dalam rangka tujuan wisata. Aku tidak heran kalau ia heran. Teman-temanku aja heran. Aku sendiri heran suami dan orangtuaku tidak kaget saat aku mengatakan pada mereka, long weekend ini aku tidak pulang ke Malang karena mau menjelajahi Sumatera Barat sendirian.

Di tengah keheranannya, Pak pemilik toko mengajukan pertanyaan lagi.
"Sudah pesan penginapan di Harau?"
Dari awal aku tiba, sudah banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan Pak pemilik toko. Hal ini membuatku merasa seperti berada dalam sebuah interview untuk melamar pekerjaan. Mungkin aku bahkan tidak akan menganggap aneh kalau-kalau Pak pemilik toko mengajukan pertanyaan : "Jadi, apa motivasi Mba melakukan traveling sendirian?"
Aku mungkin akan menjawabnya seperti ini : "Tahukah Bapak bahwa traveling solo merupakan manifesto seorang wanita modern? Jalan-jalan saya ini akan berakhir pada tanggal 21 April dini hari. Itu Hari Kartini, Pak. Pada hari dimana para perempuan lain memperingatinya dengan memakai kebaya, pada hari itu saya membuat pencapaian sebagai Kartini modern yang mencari pengalaman dengan memberanikan diri bertualang seorang diri di tempat asing."
Oke, dialog dalam kepalaku makin tidak masuk akal dan mengada-ada. Kita kembali saja ke situasi nyata yang sedang aku alami.

Jadi, tadi Pak pemilik toko menanyakan apa, ya? Oh iya, ini dia.
"Sudah pesan penginapan di Harau?"
"Sudah, Pak."
"Sebenarnya di dekat sini juga ada wisma, Mba. Menginap disana saja."
"Tapi saya sudah memesan kamar di Harau, Pak. Tujuan saya jauh-jauh kesini adalah untuk menginap disana. Besok siang saya akan melanjutkan perjalanan. Kalau saya menginap disini, kuatirnya saya engga sempat jalan-jalan di Harau, Pak."
"Minta hotel untuk menjemput Mba disini aja, kalo gitu."
"Ini tadi saya sudah sms orang hotel, Pak. Saya masih menunggu jawabannya. Saya duduk di depan ya, Pak."
"Silakan, Mba."

Membawa beberapa makanan kecil yang tadi sudah aku bayar, aku kembali ke bagian depan toko. Kebetulan di sana tersedia bangku yang bisa kududuki. Atapnya masih melindungiku dari tetesan air hujan. Yah, hujan masih terus saja turun. Entah kapan akan berhenti.

Sambil menunggu jawaban dari Pak Eka dari "Lembah Echo", aku memutuskan untuk menceritakan situasi yang sedang menimpaku kepada suamiku melalui bbm. Tak ada notifikasi apapun atas bbm yang telah aku kirim. Ternyata bahkan bbm-ku tadi pagi juga tak ada notifikasi apa-apa. Hanya simbol centang yang ada disana. Sepertinya memang tidak ada sinyal di lokasi tempat dia berada saat ini, sebuah taman nasional di Jawa Timur dimana dia sedang offroad bersama teman-teman offroader-nya.

Pada saat menikmati cemilanku, aku ingat permintaan Mba Via, seorang temanku sesama traveler agar aku selalu update status. Supaya dia tahu kalau aku baik-baik saja. Masalahnya saat ini aku tidak bisa dibilang berada dalam kondisi baik-baik saja.

Aku pun mengganti statusku menjadi seperti ini : "@Payakumbuh. Bengong di pinggir jalan karena kemalaman, hujan, ga ada ojek"
Bbm dari Mba Via pun masuk tak lama setelah status terbaruku muncul di BB-nya. Isinya : "Wahhh, trus gimana? Mau kutelponin temenku? Kamu dimana sekarang?"
Oh iya, ketika mengetahui kalau aku mau ke Payakumbuh, Mba Via memberitahuku bahwa dia mempunyai seorang teman di Payakumbuh, seorang Pimpinan Kantor Cabang Bank X.

Aku pun menjelaskan situasiku. Lama tak ada notifikasi. Hmm, sepertinya bbm-ku atau bbm-nya agak lemot. Hal seperti ini bisa menimpa pengguna bbm manapun, dimanapun, apapun provider-nya. Bukan hal baru, bukan masalah baru. Masalahnya, kenapa ini musti terjadi sekarang, di saat aku benar-benar membutuhkan bantuan. Aku berusaha menelepon Mba Via. Tak terdengar nada sambung. Oke, sepertinya tak hanya bbm-nya yang lemot, namun sinyal dari provider-nya juga sedang minim.

Aku memutuskan menunggu paling lama setengah jam lagi di toko itu. Bila bala bantuan tak juga kudapatkan, aku akan membatalkan rencanaku ke Harau malam itu. Gantinya, aku akan menginap di wisma yang tadi disebut-sebut oleh Pak pemilik toko. Sedikit kecewa karena ada perubahan rencana mendadak, tapi mau bagaimana lagi.

Tepat di saat aku mulai putus asa, HP-ku berbunyi. Pak Eka Harau calling... demikian tampilan yang aku lihat di layar.
Dengan semangat aku mengangkatnya.
Dari seberang terdengar suara Pak Eka, "Maaf Mba Isti, saya baru lihat sms dan juga misscall dari Mba. Saya sedang di Rumah Sakit karena anak saya sakit."
"Wah, maaf Pak, saya jadi mengganggu ya?" aku merasa sangat tidak enak plus bersalah karena Pak Eka pasti sedang ribet juga di RS.
"Engga apa-apa, Mba. Kebetulan ini ada pegawai hotel yang sedang berada di kota *maksudnya Payakumbuh*. Setelah ini, dia bersama Ibu saya akan pulang ke Harau, sekalian menjemput Mba Isti juga."
"Oh, begitu ya, Pak. Nanti saya bayar berapa ke pegawai Bapak?"
"Tidak perlu membayar, Mba."
"Wah, terimakasih banyak, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf sudah merepotkan."
"Engga, kok, Mba. Jadi, Mba Isti sekarang posisi dimana?"
"Pak, saya bingung menjelaskan posisi saya. Saya sedang menumpang berteduh di sebuah toko. Pak Eka bicara langsung dengan pemilik tokonya ya...," jawabku sambil langsung menyerahkan HP ke pemilik toko yang dengan sigap langsung menerima HP-ku. Rupanya dia tadi juga ikut menyimak pembicaraanku dengan Pak Eka. Dengan singkat dan jelas, Pak pemilik toko menginfokan lokasi tokonya.

Bersamaan dengan selesainya pembicaraan via telepon dengan Pak Eka, aku menerima bbm dari Mba Via. Ia mengatakan bahwa ia sudah memberitahu temannya. Pak Andre, nama temannya itu, akan memerintahkan sopir kantornya untuk menjemputku. Untuk sementara, aku bisa menginap di rumah dinas untuk kemudian keesokan harinya akan diantar ke Harau.

Cepat-cepat aku memberitahu Mba Via bahwa aku sudah aman karena akan dijemput pihak hotel. Mba Via memintaku segera menghubungi Pak Andre untuk memberitahunya langsung. Melalui sms, aku mengabarkan kepada Pak Andre bahwa aku minta maaf sudah merepotkan, namun saat ini aku sudah akan dijemput pihak hotel. Pak Andre membalas sms-ku untuk memastikan apakah situasiku benar-benar sudah aman. Jika perlu bantuan, aku diminta agar tidak segan-segan menghubungi beliau. Aku sangat berterimakasih atas kebaikan beliau. Aku sekaligus mengkonfirmasi bahwa situasi sudah benar-benar aman.

Tak lama, mobil hotel pun tiba. Aku pun berpamitan pada Pak pemilik toko yang sudah direpotkan oleh kehadiranku selama 1 jam terakhir. Terimakasih banyak ya, Pak...

Pegawai yang bertugas menyetir mobil malam itu langsung memperkenalkan diri, "Saya Wawan, Mba."
"Baik, berarti saya panggil Uda Wawan, ya?", kataku.
Di sebelah Uda Wawan, sudah duduk seorang wanita berusia lanjut. Saat aku memasuki mobil, beliau menoleh untuk memperhatikanku sekilas. Uda Wawan memperkenalkan wanita tersebut sebagai pemilik hotel. Pak Eka yang tadi aku telpon adalah putranya. 

Kami bertiga pun terlibat dalam percakapan. Wanita yang pada awalnya aku sapa dengan panggilan "Ibu" itu memintaku untuk memanggil "Nenek" kepadanya, seperti kebanyakan orang menyapanya. "Umur saya sudah 73 tahun," demikian kata Nenek.

Aku sempat bertanya tentang dimana aku harus mencari ojek untuk mengantarku ke pool Tranex yang menuju Batusangkar.
"Wawan, besok antar Mba Isti ini ke tempat travel," perintah Nenek kepada Uda Wawan yang langsung mengiyakan.
"Terimakasih, Nek," sahutku.
"Besok pagi kamu bisa melihat-lihat air terjun yang ada di Lembah Harau," kata Nenek.
"Saya dengar letak masing-masing air terjun yang ada disana berjauhan ya, Nek?", aku menjawab.
"Memang. Tapi kamu tidak usah khawatir harus berjalan jauh. Wawan, besok kamu antar Mba Isti ke air terjun, ya," lagi-lagi Nenek memberi perintah pada Uda Wawan.
"Siap. Besok pagi setelah sarapan, saya antar Mba ke beberapa air terjun yang ada di Harau. Naik motor ya, Mba," ujar Uda Wawan.
"Wah, terimakasih, Uda. Terimakasih banyak ya, Nek," aku hanya bisa mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Tak terkira leganya hati ini. Drama malam itu berakhir baik, ditambah permasalahan transportasiku untuk keesokan harinya seketika beres malam itu juga.

"Kamu sudah makan?" tanya Nenek.
"Belum, Nek."
"Pengen makan apa? Asal tahu saja, disini banyak orang Jawa sehingga tak hanya makanan Padang yang tersedia, makanan Jawa pun gampang dicari," Nenek menjelaskan.

Aku terpikir makanan Padang berupa rendang dan sayurannya. Sepertinya ide bagus kalau aku menikmati makanan Padang di Padang. Oke, lebih tepatnya 120 km dari kota Padang. Nenek pun meminta Uda Wawan berhenti sebentar di RM Mis Munin. Aku pun memesan nasi bungkus untuk aku makan di hotel. Selanjutnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Lembah Harau di Kabupaten 50 Koto.

Kami tiba di "Lembah Echo" setelah bermobil selama setengah jam dari Payakumbuh. Mobil berhenti di depan rumah Nenek. Turun dari mobil, Nenek sempat mengamatiku beberapa saat. "Tadi engga kelihatan karena gelap di mobil, sekarang saya sudah bisa melihat wajahmu dengan jelas," kata Nenek.

Nenek sempat mengajakku masuk ke rumahnya. Menawarkan teh hangat namun dengan halus kutolak karena kasihan Nenek kalau masih harus menemaniku mengobrol malam-malam begini. Aku pun minta diri kemudian mengikuti langkah Uda Wawan yang mengantarku ke kamar yang berbentuk cottage mungil di bawah naungan pohon. Di kegelapan, aku nyaris tidak bisa melihat sekitar. Kata Uda Wawan, "Para tamu yang kesini pada malam hari, keesokan paginya akan kaget waktu bangun dan melihat sekeliling, Mba."

Wah, jadi penasaran apa yang akan aku lihat saat aku terbangun besok. Sekarang waktunya istirahat...

Kata seorang teman traveler, dimana pun kamu berada, percayalah bahwa selalu ada yang namanya travel angel, seseorang yang dikirim oleh Tuhan untuk membantumu saat kamu berada dalam kesulitan. Aku bersyukur pada malam itu Tuhan menghadirkan banyak travel angel untukku :)

12 comments :

Armae said...

Terharu bacanya mbak. Memang ya, disetiap kesulitan slalu ada kemudahan, berkali kali lebih mudah dari cobaan yang sebelumnya kita alami.

Rizki Ayu Ramadhana said...

dear mba Isti..

salam kenal..
seru banget ceritanya..
boleh dnk lain kali ikutan backpackersan...

isti thoriqi said...

@Arma : Iya, Arma juga selalu ngerasain kan, kalo lagi traveling? Adaaa aja hal-hal ajaib yang terjadi :D
@Mba Rizki : Salam kenal juga, Mba. Ayo, backpackeran bareng :D

Anonymous said...

sekedar saran mbak, tulisannya ribet banget.. klo tujuan you mau bikin novel mungkin you bisa bikin tulisan seribet ini. tapi klo tujuan you pengen bikin writing ttg liburan dan liputannya, ini sucks banget, sumpah! no hard feelings, ok!

isti thoriqi said...

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, Mr./Ms./Mrs. Anonymous. Terimakasih juga sudah membaca sebagian bahkan mungkin menuntaskannya sehingga bisa memberi saran seperti di atas. Juga menyempatkan diri untuk menulis komentar disini.
Saya minta maaf bila tulisan ini mengecewakan Anda. Mungkin Anda mengharapkan sebuah liputan tentang Payakumbuh, hanya saja tidak menemukannya disini. Saya memang bukan blogger yang mengkhususkan diri untuk menulis tentang traveling, jadi harap dimaklumi bila gaya penulisan saya berbeda dengan para travel blogger. Anda bisa melihat di menu "All Time Popular" di sebelah kiri halaman ini, disana bahkan tidak ada tulisan bertema traveling yang populer di kalangan pembaca blog saya. Saya menulis ini hanya karena saya ingin menuliskannya. Alhamdulillah jika ada yang tertarik untuk membacanya, bahkan bisa jadi menyukainya.
Oya, mungkin ada tulisan saya di awal postingan yang sedikit terlewat untuk dibaca, ya. Disitu saya menulis bahwa tulisan kali ini memang berbentuk cerpen. Atau kalau ada yang menawari saya untuk membuat novel yang dikembangkan dari tulisan ini, dengan senang hati akan saya terima. Mohon doanya :)
Saya tunggu komentar-komentar selanjutnya ;)
Salam hangat...

Pungky said...

wow... mbak isti jadi backpakeran ke sumbar ya? sayangnya saya sudah tidak di sumbar lagi mbak... sebenarnya tempat saya tidak begitu jauh dari lembah harau, salut pokoknya sama mbak yg berani backpackeran sendirian... :)

isti thoriqi said...

Iya, jadi, Mas Pungky. Engga apa-apa, Mas, hehe... Makasiy, Alhamdulillah kemarin lancar selama di Harau :)

Bang Jun said...

Kamu keren banget!

isti thoriqi said...

Terima kasih Bang Jun :)

Anonymous said...

Mbak isti.. Keren deh...
Kayagnya menyenangkan ya, jalan2 sendirian begitu..hehe

Btwa aku nungguin kelanjutan ceritanya lho...hihi

Dhiny

dedy rusadi said...

Harusnya kontek saya kebetulan saya dari bandung sdh lama di payakumbuh mbak isti.....hehe...seru ceritanya...yang saya baca sempat2nya mbak isti jelasin soal pelukis uang sepuluh ribu dan pihak bank hehe....dan yang bikin saya senyum sendiri..nunggu travel avanza mbak...wah pernh ngalamin juga tuh..hehe

isti thoriqi said...

@Dhiny : Kelanjutan cerita yang mana niy? Hihi... Terimakasih sudah mampir :)
@Dedy: Haha... tulisan saya memang random banget ya :p

Post a Comment