Container Icon

Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur

Pendahuluan :
Sebelum membaca tulisan di bawah ini, sebaiknya baca yang ini dulu :
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Kenapa judul tulisanku mengandung mistis begini ya? Hahaha... Sebenarnya aku cuma mau cerita tentang hari pertama di Padang, dimulai dari saat pertama kali menjejakkan kaki di sana. Trus kenapa ada penangkal ilmu hitam segala? Itu siy biar orang tertarik buat baca aja. Hihihi... Eh, tapi tentang jus tersebut nanti ada di dalam cerita juga kok.

Pesawat Citilink yang akan membawa saya ke Padang mengalami delay sehingga dari yang seharusnya take off jam 18.10 berubah menjadi setengah jam kemudian. Perjalanan Jakarta-Padang memakan waktu 1 jam 25 menit.

tiba di bandara

Setelah antri beberapa saat untuk turun dari pesawat, officially aku tiba di Padang jam 20.15. Keluar dari terminal kedatangan, aku celingukan mencari keberadaan Damri. Sempet nyesel kenapa engga mencaritahu terlebih dahulu dimana Si Damri menunggu penumpang. Berdiri sendiri di luar pintu kedatangan, aku dikerumuni orang-orang yang ribut bertanya, "Mau kemana?" ato "Udah ada yang jemput atau belum?". Mereka adalah orang-orang yang menawarkan taksi ato travel. Dengan halus kutolak semuanya. Aku pun mengeluarkan HP dan menghubungi Ve untuk menanyakan tempat Damri. Ternyata aku harus berjalan dulu ke arah kiri terminal kedatangan.

Dari kejauhan aku melihat petugas berseragam biru. Tak jauh darinya ada bis Damri mungil. Dari kejauhan aku bertanya "Damri?" Ia mengangguk. Tiba-tiba ada mas-mas menghalangi jalanku ke arah Damri. Ternyata dia adalah petugas Tranex. Sebenarnya sama saja bagiku, mau naik Damri ato Tranex. Tapi karena dari awal aku mau naik Damri, ya aku tetep pilih Damri. Aku engga mau membuat petugas Damri yang tadi merasa di-PHP-in.

Lumayan lama Si Damri ini menunggu penumpang. Ada sekitar 40 menit gitu, deh. Aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Bis Damri mini ini hanya terdiri dari 27 seat. Susunan kursinya 2-1. Sampe saat berangkat, penumpangnya hanya ada 6 orang termasuk aku (exclude sopir dan kondektur). Sambil membayar ongkos Damri sebesar 22 ribu Rupiah, aku memberitahu si kondektur kalo aku nanti minta diturunkan di Hotel Nabawy Syariah 2.

Aku juga sempat mengobrol dengan si kondektur tadi yang ternyata bernama Uda Robi (nama "Robi" terbaca di seragamnya).
Aku : "Uda, jam berapa Damri terakhir berangkat dari bandara?"
Uda Robi : "Jam 10 malam, Kak."
Aku : "Kalo Damri yang ke bandara untuk keberangkatan pesawat jam 8 malam gitu, ada engga?"
Uda Robi : "Kalo Kakak menginap di Nabawy Syariah 2, tinggal nunggu aja di depan hotel. Sekitar jam setengah 6, Damri bakal lewat di depannya."
Uda Robi juga sempat memberiku nomor HP-nya, kalo-kalo aku mau mengecek keberangkatan Si Damri ini hari Minggu besok.

Sampai di Hotel Nabawy Syariah 2 (alamatnya di Jalan Veteran Nomor 51), aku disambut oleh Pak Asrinal yang sudah menerima pesanan kamar atas namaku dari Ve. Aku diberi kamar paling dekat dengan pintu masuk. Tampilannya seperti ini :

serba ijo

toilet di dalam kamar

Tarif per malam di hotel ini adalah 150 ribu Rupiah kalo aku sendirian. Tarifnya akan bervariasi tergantung jumlah orang yang menginap di dalam 1 kamar. Kamar yang diberikan juga tergantung jumlah orang yang akan menginap di sana. Ada kamar yang memang bisa menampung 4 orang karena di dalamnya ada 2 bed besar. Untuk pemesanan bisa menghubungi Pak Asrinal di 081374407144. Bilang aja, "Saya tau nomer ini dari Mba Isti Jakarta yang pernah nginep sini, sempat nitipin tas sehari trus balik nginep sini lagi". Tapi engga ngejamin juga siy, pak Asrinal bakal inget ato engga. Hihihi...

murmer buat yang mau nginep rame-rame

Setelah meletakkan barang di kamar, aku bertanya pada Pak Asrinal dimana warung terdekat yang masih buka, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ternyata di sekitar hotel banyak tempat makan yang buka sampe malam. Selain warung, ada kafe en ongkrongan juga (semacam angkringan gitu). Aku memutuskan untuk makan di sebuah kedai berjudul Dapoer Neng Dara. Saat melihat daftar menu, aku bingung juga mau makan apa, abisnya terlihat menggiurkan semua, sampe akhirnya memutuskan untuk memesan kebab.

daftar menu Dapoer Neng Dara

Untuk minumannya, aku memesan jus kundua batang. Kenapa memilih itu? Adalah karena aku belum pernah denger en belum pernah tau apa itu buah kundua.Pastinya belum pernah nyobain juga. Aku sampe pake acara nanya ke mba yang ngejualin. Karena bingung gimana ngejelasinnya, si mba ampe nunjukin buah sekaligus bagian dalemnya. Mau moto disitu kok lebay, jadilah aku pasang foto hasil googling dari sini ya...

buah kundua

Hasil googling juga menyatakan bahwa buah kundua yang juga sering disebut kundur ini memiliki nama lain beligo. Dalam bahasa Inggris disebut winter melon karena kulitnya (sebelum dibersihkan) berselaput tepung putih yang menyerupai salju. Uniknya, buah ini dianggap memiliki khasiat mistis sebagai penangkal ilmu hitam. Hehehe... Aku baru googling setelah kembali ke hotel siy, setelah jus buah berwarna putih tersebut tandas. Oya, rasa jusnya gimana? Nyaris kayak jus melon tapi manisnya setingkat di bawah melon. Emm, bisa siy, 2 tingkat di atas melon asal minumnya sambil ngeliatin aku *ini kenapa aku jadi ketularan Ivna -_-*.

Keesokan paginya, Ve tiba di hotel menjelang jam 7. Aku langsung checkout dari hotel setelah sebelumnya menitipkan tas berisi sebagian pakaianku kepada Pak Asrinal. Dengan angkot (ongkosnya 2000 per orang), kami menuju Bofet Rajawali Juanda di Jalan Ir. H. Juanda Nomor 33 untuk menikmati Soto Padang. Bofet ini kayanya semacam istilah untuk kedai yang menjual beberapa macam menu makanan.

daftar menu Bofet Rajawali Juanda

Soto Padang

Kata Ve, di Padang ini, harga makanan bisa dibilang mahal. Seperti Soto Padang yang aku nikmati ini, harganya 21 ribu. Teh panasnya 3 ribu. Untung ditraktir ama Ve. Hehehe... Oya, isian dalam Soto Padang ini adalah daging yang digoreng plus perkedel dan bihun. Aku suka dagingnya yang crunchy. Rasanya maknyus. Kalo di Jakarta ada yang jualan, aku pengen mampir...

Selesai makan, Ve mengantarkanku (pastinya dengan angkot lagi) ke pool travel di depan Basko Grand Mall. Pool disini bukan bangunan ato sejenisnya. Cuma tempat travel yang berderet untuk menunggu penumpang. Mobil yang digunakan adalah APV. Untuk menuju Bukittinggi, ongkosnya adalah 40 ribu. Kalo mau lebih murah, bisa naik Tranex (berupa L300/Elf) saja. Ongkosnya sekitar 18 ribu.

Tepat jam 8, travel yang aku tumpangi berangkat. Memasuki wilayah Lembah Anai, sopir menanyaiku mau turun dimana. Aku hanya menjawab "Lembah Anai". Kata sopir, "Di villa?" Daripada bingung, aku iyain aja. Tetottt, wrong answer!

Jadilah aku terbengong-bengong di pinggir jalan, di dekat baliho bertulisan Anai Resort *yang dibilang villa ama pak sopir tadi*. Aku baru inget kalo aku pernah baca tentang air mancur Lembah Anai yang terletak di tepi jalan (bukan di resort-nya!). Mustinya aku tadi langsung menjawab air terjun ato air mancur *istilah disana untuk menyebut air terjun*. Aku menghubungi Ve untuk memberitahu posisiku. Kata Ve, dari resort ke air terjun yang kutuju masih lumayan jauh bila harus ditempuh dengan berjalan kaki. Masih harus naik ke atas lagi. Solusi dari Ve : sebaiknya aku nyari ojek aja. Palingan bayar 5 ribu.

Tolah-toleh, aku engga menemukan ojek sama sekali. Aku pun bertanya pada ibu pemilik warung yang ada di dekat situ. Ibu tersebut menjawab dengan acuh tak acuh, "Biasanya disitu ada ojek," sambil menunjuk ke suatu lokasi yang mana disana tak kutemukan motor satu pun. Aku pun keluar dari warung dengan hampa. Seorang bapak yang mendengar percakapanku dengan si ibu pemilik warung menyuruhku untuk mendatangi satpam resort. "Nunggu di posnya aja, Mba. Ato mungkin dia sendiri mau mengantar," kata Si Bapak.

Aku pun berjalan ke arah pos satpam yang terletak dekat gapura menuju resort. Mengetahui aku mau ke air mancur, pak satpam langsung menawarkan jasanya. Ia meminta ongkos 10 ribu, tapi teringat kata-kata Ve kalo 5 ribu aja cukup, aku pun mencoba menawar, "5 ribu aja ya, Pak, dekat ini" *sok tau*. Pak satpamnya mau, loh! Alhamdulillah... Perjalanan ke air mancur hanya memakan waktu 5 menit. Hehe, beneran deket ternyata.

disebutnya air mancur, bukan air terjun

Seperti udah aku sebut di atas, air mancur ini terletak di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi. Jadi engga usah masuk gapuranya juga bisa siy, cos air terjunnya udah keliatan juga dari luar. Tapi sembari menunggu Ii, sodara dari suaminya Ve yang akan mengantarkanku keliling Bukittinggi, engga ada salahnya aku masuk aja. Tiketnya cuma 3 ribu Rupiah.

Air Mancur Lembah Anai

Sekitar 10 menit aku disana, Ii menghubungiku lewat telpon, mengabarkan kalo posisinya sudah dekat. Aku pun keluar dari lokasi wisata dan menunggu motor Ii di depan gapura. Kami pun langsung berkendara menuju Bukittinggi. Belum juga 10 menit di atas motor, kami memasuki kota Padang Panjang. Tak jauh dari gapura selamat datang, tepatnya di sebelah kiri jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah yang kami lewati, aku melihat rumah makan Sate Mak Syukur. Wah, kuliner ngehits, niy. A must visit place to dine! Aku pun meminta Ii untuk mampir *pura-pura lupa kalo baru sarapan belum juga 3 jam yang lalu*.

Sate Mak Syukur

Oya, kata "Mak" disini merupakan akronim dari kata "Mamak" yang berarti panggilan untuk laki-laki dewasa dalam bahasa Minang. Pada tahun 1941, Sutan Rajo Endah yang biasa disebut Mak Syukur berjalan memikul tempat panggang dan berjalan sekitar 4 km dari Padang Panjang menuju Batusangkar untuk menjajakan satenya. Sekarang beliau sudah almarhum, tapi namanya tetap diabadikan oleh keturunannya, tentunya beserta warisan resep satenya (sumber dari sini).

so pasti kami memesan Sate Padang

Aku pribadi sebenarnya tidak menyukai kuliner sate Padang yang terbuat dari daging sapi dengan kuah kuning kental ini. Tapi atas nama wisata kuliner, aku rela mencobanya. Hasilnya, tetep engga suka *meringis*. Walo demikian, tetep aja piringku ludes tak bersisa dalam waktu 15 menit saja *meringis lagi*.

Harga Sate Padang  lengkap dengan katupek (alias ketupat) adalah 16.500 Rupiah. Untuk minumnya, aku sempat menanyakan minuman khas disitu. Kata pelayannya, disana ada sorbat telor yang merupakan minuman jahe campur telor. Haduh, secara aku kalo minum STMJ aja tanpa telor, kayanya aku bakalan engga suka sama minuman ini. Untuk amannya, aku memesan es jeruk saja (seharga 11ribu). Aku juga sempat mencomot sebungkus emping melinjo (10ribu). Oya, emping melinjo disitu disebut kerupuk. Kerupuk jenis lain juga disebut kerupuk. Hmm, bingung ya? Aku juga bingung menuliskannya. Hihihi... Eh, ada lagi yang agak beda ding, yaitu rempeyek. Disana disebut kerupuk laki karena ada kacangnya. Demikian penjelasan dari Ii.

Kenyang makan sate, kami melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Sebenarnya, perjalanan ke Bukittinggi dapat ditempuh dalam waktu 1 jam. Sayangnya di tengah jalan turun hujan deras sehingga kami sempat berhenti dan menumpang berteduh di sebuah warung tepi jalan. Ii memilih menunggu sambil merokok di depan ruko yang sedang tutup di sebelah warung. Sedangkan aku, masuk ke dalam. Ibu pemilik warung yang mempersilakan. Awalnya aku menolak karena aku memang engga berniat membeli apa-apa. Secara perutku udah penuh banget rasanya. Tapi si ibu tetap memaksa. Senyumnya menyiratkan pesan bahwa ia tidak mempermasalahkan bila seorang gadis (!) yang terpaksa menepi karena kehujanan menumpang berteduh di warungnya walopun engga membeli apa-apa.

Di dalam warung sudah ada sepasang suami istri setengah baya yang juga numpang berteduh sambil menikmati semangkok mie berdua. Mereka mengajakku mengobrol tentang apa saja. Mulai tentang darimana aku berasal sampai ke budaya matrilineal di Sumatera Barat. Jadi berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, sistem kekerabatan disini berdasarkan garis keturunan ibu.

Sekitar 45 menit kemudian, ketika hujan deras sudah berubah menjadi gerimis, Ii mengajak untuk melanjutkan perjalanan. Ia memang perlu mengejar waktu untuk menunaikan sholat Jumat.

Cerita tentang Bukittinggi ada di tulisan selanjutnya. Mudah-mudahan engga bosan untuk mengikuti serial ini ya... ;)

5 comments :

Muhammad Lutfi Hakim said...

Penasaran dengan buah kondua yang katanya bisa menangkal ilmu hitam.

Riski Fitriasari said...

Makan soto dan sate Padang di daerah asalnya rasanya gimana Mba Isti?? :)

Ratih said...

MBak...kayaknya kita sama. hampir 4tahun saya disini tetep gak suka dg kuliner Padang. Mulai dari Sate Padang, Rendang, kerupuk kuah yang mbak ceritakan di post lain nya...semuanya terasa aneh di mulut saya, hi8... Lidah Jawa tulen kali yee... :p

Ahadini Karimah Rizqiyani said...

Lhaa... aku juga ga suka sate padang Mbak Is.. hampaa makannya.. bingung di mana enaknya. Ngok

isti thoriqi said...

@Mas Lutfi : Wah, tentang khasiat kundua yang itu, monggo di-googling lebih lanjut :p
@Mak Riski : yang pasti rasanya lebih bisa dihayati #apaan siy Jujur, kalo Soto Padang saya langsung jatuh cinta, Mak, tapi Sate Padangnya tetep engga bisa bikin saya suka :p
@Ratih : hahaha, dan dirimu selalu bahagia kalo nemu masakan Jawa di Padang :D eh, tapi kalo rendang, aku masih mau loh :)))
@Rima : bingung dimana enaknya? nah, itu dia... kuahnya, aku engga cocok, daging sapinya, engga sreg juga... begitulah...

Post a Comment