Container Icon

Backpacker Narsis di Bukittinggi

Prakata :
Kalo mau langsung baca yang ini, monggo. Kalo ada yang bingung, bisa menengok tulisan-tulisan terkait sebelumnya, yaitu:
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat serta Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur.

Dengan mengendarai motor dari Lembah Anai ditambah "beristirahat" sebentar karena turun hujan, aku dan Ii baru tiba di Bukittinggi sekitar jam 12. Kota ini berhawa sejuk dan memiliki kontur yang unik. Sesuai namanya yang mengandung kata "bukit", kontur tanah disini memang berbukit-bukit. Jalan yang kami lewati pun naik turun. Kami langsung menuju Jam Gadang. Seperti halnya di Pantai Pasir Putih Bengkulu, disini aku bertemu remaja-remaja berkostum tokoh kartun yang mengajak foto bersama dengan meminta bayaran 5000. Sedikit memaksa gitu, siy. Ya wis lah, yuk ambil 1 foto bersama tokoh kartun yang entah apa namanya.

badut ini sebenarnya merusak pemandangan -_-

Dalam bahasa Minang, Jam Gadang ini berarti Jam Besar. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh sebuah mesin yang diproduksi di Jerman yang hanya dibuat 2 unit. Mesin satunya menggerakkan Big Ben di London, Inggris. Ada keunikan lain dari Jam Gadang ini. Coba perhatikan gambar di bawah ini dengan lebih seksama. 

perhatikan apa yang aneh disini

Adakah yang sudah menemukan keunikannya? Ya, angka Romawi keempat yang tertera disana bukannya tertulis "IV", melainkan "IIII". Entah apa maksudnya. Berdasar informasi dari masyarakat seperti disadur dari sini, angka empat aneh tersebut menunjukkan jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau bisa jadi si pembuat menyengaja seperti itu. Entahlah... Kalo saya siy, mikirnya karena Jam Gadang ini terdiri dari 4 jam besar dan bangunannya terdiri dari 4 tingkat. Hihihi, ngarang :p

Sebuah informasi lain yang menarik, peletakan batu pertama di Jam Gadang ini dilakukan oleh seorang anak berusia 6 tahun, putra pertama dari sekretaris atau Controleur Belanda di Bukittinggi pada masa itu. Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926.

Oya, kata orang, Jam Gadang akan terlihat lebih indah di waktu malam. Yah, maybe next time dijadwalkan lagi kesana dan menginap di Bukittinggi sehingga bisa menikmati keindahan Jam Gadang di malam hari.

Selesai berfoto, Ii minta izin untuk menunaikan Sholat Jumat. Aku pun berjalan-jalan sendiri di taman sekitar Jam Gadang. Di dekat situ ada sebuah gedung dengan plang "Istana Bung Hatta" di depan pagarnya. Hmm, kayanya belum pernah ada yang merekomendasikan lokasi ini sebagai tempat wisata. Tapi daripada penasaran, aku masuk ke dalam gerbang dan bertanya kepada seseorang disana. Ternyata gedung ini merupakan gedung yang disewakan untuk pertemuan, jadi memang bukan tempat wisata. Oalah... Aku pun kembali ke taman Jam Gadang dan duduk sendiri disana, memperhatikan sekitar.

Eh, pada nyadar engga, kalo di foto yang tadi kuambil, yang berpose bersama kartun geje, menunjukkan langit yang mendung? Ternyata benar, tak lama kemudian, memang turun hujan. Seorang traveler memang seyogyanya menerapkan peribahasa "Sedia Payung Sebelum Hujan" secara harfiah. Aku menyesali payung yang sebenarnya sudah aku bawa dari Jakarta tapi ketinggalan di Hotel Nabawy Syariah 2 gara-gara sempat aku pake untuk menemaniku membeli makan lalu kemudian aku titipkan di petugas hotel untuk mengeringkannya. Ya sudahlah. Sedikit berlari, aku menuju Plaza Bukittinggi, sebuah mall di depan Jam Gadang untuk numpang berteduh.

Ketika hujan sudah agak reda, aku melipir ke sebelah kiri mall yaitu ke Bank BRI untuk mengambil uang di ATM-nya. Dari sana aku menyeberang ke Pasar Atas (orang menyebutnya Pasar Ateh, di sisi lain kota ini ada juga Pasar Bawah yang merupakan pasar tradisional biasa). Aku memang sudah berniat membelikan oleh-oleh untuk keluargaku disana. Plus Nizam, ding.

Aku membelikan Mama sebuah kain sulaman yang cantik, kemudian mukena bordir untuk Mba Fithri en Laalaa, ponakanku yang cewe. Untuk Akmal (adiknya Laalaa), dan juga Nizam (anaknya Ivna), aku belikan 1 stel kaos dan celana *standar banget*. Sebenarnya aku juga ngebeliin Laalaa setelan gitu. Biasanya siy, tiap aku ngebeliin Laalaa setelan kayak gitu, setelah dicobain ke ybs, selalu kekecilan. Kali ini pun, lagi-lagi kekecilan, dunk. Yang ada, itu setelan langsung menjadi hak milik Akmal. Sayang engga nemu oleh-oleh buat Ayah, abisnya bingung mau beliin apa -_- Kalo Mr. Banker siy, seperti biasa, memang engga aku beliin apa-apa. Hihihi... Emang dia sendiri siy, yang berpesan kayak gitu :D

Seusai menunaikan Sholat Jumat, Ii menyusulku ke Pasar Ateh, kemudian kami menuju Lobang Jepang dengan motor. Harga tiket masuk Lobang Jepang sekaligus Taman Panorama adalah 8 ribu Rupiah di hari libur ato 5 ribu Rupiah di hari biasa.

baca pengumuman di bawahnya baik-baik ya...

Seorang guide menawarkan diri untuk memandu kami menyusuri Lobang Jepang dengan biaya 50 ribu Rupiah. Katanya, di dalam banyak lorong, kuatirnya kami akan tersesat. Aku bertanya pada Ii, perlukah kami menyewa guide. Kata dia, tidak perlu. Aku kira Ii udah pernah masuk ke dalamnya, jadi udah tau lorong-lorongnya. Eh, ternyata dia belum pernah masuk juga. Lha trus piye? Tapi kata Ii engga masalah walo engga pake guide, tinggal kita telusuri aja lorong-lorongnya. Oke, anggap aja lagi di wahana rumah kaca #apaseh

masuk dari sini

berhasil keluar di sisi satunya

Saat keluar di sisi satunya ini, petugas yang ada menyarankan untuk memindahkan motor yang diparkir di tempat awal. Pikir-pikir, daripada balik lagi menyusuri kegelapan di dalam lobang, baiknya memang mengambil motor aja. Mana, mana foto kegelapan lubangnya? Sabar ya... ada alasan kenapa fotonya engga aku pasang sekarang.

Singkat cerita, Ii pun memanggil ojek untuk mengantarnya ke dekat pintu kita masuk tadi. Ketika Ii sudah kembali sambil mengendarai motornya, kami pun menuju ke Janjang Koto Gadang atau The Great Wall of Koto Gadang yang menyerupai Tembok Cina. Gerbang Great Wall ini sudah masuk ke wilayah Kabupaten Agam, tepatnya Kecamatan IV Koto.

bagian depan The Great Wall of Koto Gadang

Oya, kalo mau menyusuri The Great Wall ini, baiknya pake sandal yang nyaman. Kalo bisa sandal teplek (flat). Sandal teplek pun jangan yang licin bagian solnya, apalagi di musim penghujan. Kalo perlu pake sepatu keds ato sandal gunung sekalian. Jangan pake hak tinggi!

Jadi rutenya begini. Di dekat monumen mungil merah yang ada di foto di atas (sebagai penanda gerbang masuk), kita akan menyusuri jalanan yang menurun. Paving block ini akan licin setelah diguyur air hujan (kebetulan kami kesana sehabis hujan, jadi masih licin). Bila tidak hati-hati, bisa terpeleset. Setelah melewati turunan, kita akan melewati jalan mendatar sampai kemudian bertemu dengan jembatan gantung. 

brenti sebentar buat narsis


jembatan gantung

Namanya aja jembatan gantung, kalo dilewati, jembatan ini akan bergoyang-goyang. Bagi yang tidak nyaman bisa saja akan merasa panik. Jembatan gantung di atas tidak boleh dilalui oleh banyak orang secara bersama-sama. Maksimal hanya 10 orang sekaligus. Itupun harus jalan satu persatu (berbaris ke belakang). Pada saat menyusuri jembatan ini untuk kedua kalinya (ketika akan kembali ke gerbang), ada rombongan terdiri dari 5 orang yang akan lewat jembatan. Cuma 5 orang itu saja sudah membuat jembatan bergoyang lumayan kencang. Beberapa orang dari rombongan tersebut keliatan stres saat meniti jembatan. Pake acara nutup mata segala sambil berpegang ke besi yang ada di pinggiran jembatan. Sampe akhirnya mendekati ujung jembatan, mereka langsung berlari sampai menjejak tanah. Waduh, kalo lari-lari gitu, yang ada goyangan niy jembatan makin kenceng >.<

sungai mengalir di bawah kakiku

Sampai di ujung jembatan, kita mulai menaiki tangga. Denger-denger, Great Wall yang baru diresmikan pada Januari 2013 ini memiliki panjang 1,5 km. Yang sudah kami lewati baru 500 meter pertama. 1 km berikutnya harus ditempuh dengan menaiki 1000 anak tangga menuju puncak ngarai. Baru menaiki beberapa puluh anak tangga sambil bawa ransel aja udah bikin aku ngos-ngosan parah. Ii yang seorang perokok pun menyatakan tidak sanggup untuk terus naik ke atas. Kami pun memutuskan untuk kembali.

cukup sampai disini

Dalam perjalanan kembali ke gerbang masuk, Ii menunjukkan kumpulan orang-orang jauh di seberang, di sebuah tempat yang lumayan tinggi.
"Itu dimana, Ii? Gimana caranya bisa kesana?" aku bertanya.
"Itu di Taman Panorama, Kak. Caranya kesana ya balik lagi ke tempat awal kita masuk Lobang Jepang tadi. Bedanya, tadi waktu mau masuk Lobang Jepang, kita turun ke bawah. Kalo ke Taman Panorama, kita menyusuri tangga ke atas."

Aku memutar balik ingatan. Oh, iya ya, bener juga. Kenapa tadi engga ke Taman Panorama dulu aja, ya, sebelum ke Lobang Jepang? *tepokjidat*.

Taman Panorama di atas Lobang Jepang

Kami pun kembali memasuki Lobang Jepang melalui loket III, tempat dimana kami tadi keluar. Aku bilang ke petugas yang berjaga disana, "Pak, kami tadi udah masuk sini tapi mau masuk lagi soalnya belum liat Taman Panorama". Petugas pun mempersilakan tanpa meminta kami membeli tiket lagi. Mungkin dia apal banget sama penampakanku, cewe cantik beransel besar. Hehehe...

Dari Taman Panorama, kita bisa melihat pemandangan Ngarai Sianok. Disini juga banyak terdapat monyet. Kayak di Uluwatu, Bali. Bedanya, monyet-monyet disini kayanya engga hobi nyopet gadget ato topi. Hehe...

Ngarai Sianok

sekumpulan monyet

Puas menikmati panorama dari Taman Panorama (!), kami masuk Lobang Jepang lagi. Lagi? Ngapain coba? Inget engga, tadi kan kami memarkir motor di dekat Great Wall. Jadi mau engga mau ya kami kudu balik ke Great Wall lagi. Haiyahhh... Karena Lobang Jepang ini berkali-kali kami lewati, sepertinya engga afdol kalo aku engga me-review-nya. Jadi, udah tau kan, alasan aku engga majang foto kegelapan lubang di paragraf-paragraf sebelumnya? Adalah karena aku udah niat buat menceritakannya di bagian ini. Hehe...

Bagian dalam lubang ini gelap *no wonder*. Tapi engga gelap gulita juga sehingga untuk menyusurinya engga perlu bawa senter. Di beberapa tempat memang terpasang lampu neon.

menuruni tangga (aku membelakanginya
biar mukaku keliatan di poto :D)

tanpa blitz

pake blitz

Keliatan dari poto-poto di atas, walopun namanya lubang, di dalamnya engga terasa sesak. Engga sumpek ato panas juga. Yang ada hawanya dingin walo tanpa AC. Beda banget ama terowongan bawah tanah milik tentara Vietnam yang dinamai Cu Chi Tunnel yang pernah aku coba masuki *ya iya lah, peruntukannya juga beda*. Oke, sebelum makin ngelantur en juga diprotes ama Mba Via karena cerita tentang Vietnam ini engga muncul-muncul juga di blog walo udah lewat setahun, mari kita lanjutkan cerita tentang Lobang Jepang.

Wikipedia menyebutkan bahwa Lobang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan. Sebelumnya, Lobang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 meter dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.

Selain yang disebutkan di atas, aku juga menemukan ruangan-ruangan yang aku sebut "entertainment rooms" yaitu cafe dan mini theater.

"Cave Cafe"... sounds cool, right?
(secara tempatnya menyerupai gua)

ada jadwal pemutaran filmnya, engga, ya? :D

denah Lobang Jepang

Kembali ke penjelasan dari Wikipedia. Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.

Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.

Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah pada tahun 1984 oleh pemerintah kota Bukittinggi. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta, dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

Sesampainya lagi di Great Wall, kami mengambil motor lalu melanjutkan perjalanan ke Janjang Saribu. Karena hujan lagi-lagi turun, setelah memarkir motor, kami ngemil sambil duduk di gazebo yang tersedia. Aku mencoba cemilan yang dinamai kerupuk kuah, yaitu kerupuk singkong (opak) yang di atasnya diberi bihun dan kuah sate (sate Padang tentunya). Ii engga mau ngemil itu, engga suka katanya. Dia memilih untuk minum doang. Setelah aku coba sendiri, ternyata aku juga engga suka ama cemilan ini. Perpaduan rasanya aneh kalo menurutku. Hehehe...

kerupuk kuah

Aku sempat bertanya pada Ii, dia mau makan engga? Belum laper katanya. Hmm, aku juga belum laper siy. Padahal di dekat situ ada Warung Makan Gulai Itiak Lado Mudo yang ngehits. Sayangnya aku baru tau kalo menu andalannya yang berupa gulai daging bebek dengan cacahan cabai hijau itu ngehits setelah balik ke Jakarta en ditanyain ama Ibu Bos apa sempat mampir kesana. Hwaaa, nyesel!

Ketika hujan reda, kami berjalan kaki ke Janjang Saribu. Obyek wisata alam ini berupa jalanan berliku-liku menelusuri celah-celah tebing menuju ke puncak. Anak tangganya konon berjumlah seribu. Haiyah, sama kayak di Great Wall tadi! Entah kenapa, orang Minang sepertinya memfavoritkan angka 1000 dalam membuat anak tangga, demikian pikirku.

menunjuk puncak di kejauhan

Pertanyaannya, apakah kali ini saya akan mendaki ke-1000 anak tangga itu, pemirsa? Walo denger-denger cuma butuh 30 menit untuk sampai ke puncak, dengan kondisi membawa ransel kayak saya sekarang, seperti sudah bisa ditebak, jawabannya jelas tidak! Alasan lain, aku harus menghemat waktu karena masih ada tempat-tempat lain yang ingin dituju. Jadilah aku cukup berfoto di dekat judul lokasinya. Hehehe...

numpang narsis doang

Dari Janjang Saribu, kami mampir ke sebuah musola untuk sholat. Dilanjutkan dengan mencari lokasi Benteng Fort De Kock yang katanya berdekatan dengan Kebun Binatang. Sayangnya kami engga berhasil menemukan keduanya. Ya sudah, mengingat waktu yang terbatas, kami memutuskan untuk langsung ke Museum Bung Hatta saja yang terletak di Jalan Sukarno-Hatta 37, tidak jauh dari Pasar Bawah.

di depan Museum Bung Hatta

Museum ini merupakan rumah kelahiran Bung Hatta. Renovasi yang dilakukan terhadap rumah ini tidak mengubah bentuk aslinya. Museum dibuka untuk umum setiap hari (Senin - Minggu) mulai pukul 8 pagi. Kita bebas mengambil foto disana, hanya saja kita dilarang untuk menyentuh barang-barang di dalamnya. 

ruang tamu (maap, ngeblur)

kamar kelahiran Bung Hatta

ruang makan

foto-foto Bung Hatta

di samping lukisan Sang Proklamator

balkon lantai 2

di belakang rumah

ada lumbung di latar belakang

Wah, aku benar-benar mengagumi kecantikan dan keasrian rumah kayu ini sampe engga sadar kalo foto-foto museum yang aku pajang disini banyak banget! Jujur, dibandingkan Rumah Bung Karno yang pernah aku kunjungi di Bengkulu, rumah Bung Hatta ini lebih menarik. Kesannya homey banget, gitu.

Saat akan meninggalkan Museum Bung Hatta, si ibu penjaga museum memintaku untuk mengisi buku tamu. Aku juga dipungut biaya sukarela untuk pemeliharaan museum. Sembari mengisi buku tamu, kami sempat mengobrol. Tentang darimana asalku, dalam rangka apa ke Bukittinggi, serta tujuanku selanjutnya.

Ketika aku memberitahu si ibu bahwa aku masih akan naik Tranex ke Payakumbuh, si ibu kelihatan kaget. Apalagi saat mengetahui bahwa perjalananku ke Payakumbuh untuk selanjutnya menuju Lembah Harau akan kutempuh sendirian. "Udah sore mba, dari sini jangan kemana-mana lagi ya, langsung cari travel ke Payakumbuh," demikian si ibu berpesan.

Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mestinya aku sudah berangkat ke Payakumbuh 2 jam sebelumnya. Masalahnya jam 3 tadi posisiku masih di Taman Panorama. Aku memang traveler serakah yang engga mau melewatkan spot-spot menarik *kecuali Fort De Kock yang terpaksa di-skip karena engga berhasil nemu lokasinya*.

Demikian tulisan seorang backpacker narsis plus sedikit nekat di Bukittinggi. Nantikan tulisan selanjutnya tentang perjalanan ke Payakumbuh dan pesona Lembah Harau ya... 

5 comments :

HM Zwan said...

aaarrkkk smakin pengdn kesanah mbk huhu..keren bgttt

ivna said...

aduh itu rumahnya bung Hatta emag keliatan asik banget yak...pengen pas pensiun punya kyk gitu*mari berkhayal du;u*

Ratih said...

Mbak isti....itiak lado ijo emang ngeHits bangett, pak Bondan aja gak pernah melewatkan...bukan nya kemarin aq ngomong ya 'mbak...ntar maksi nya pas di bukit itnggi ke itiak lado ijo aja, deket koq dari ngarai sianok'. Apa aq yang lupa ngomong ya??hi8...enyaaakkk bangeett mbak, next lah ya...kalo kesana lagi... Anyway...aq malah belum pernah ke great wall itu sampe sekarang, penasaran di atasnya pasti keren...

isti thoriqi said...

@Mak HM : hahaha, bukittinggi memang menggoda, mak...hayukk...kesonooo :D
@Ivna : mungkin bisa bikin rumah kayak gitu kalo reksadananya dicairkan pas jatuh tempo #ngarep
@Ratih : hwaaa...entahlah, say, mungkin aku yang lupa. nyeselll... ya wes, moga bisa kesana lagi suatu saat nanti. pengen nyoba jalan sampe ke puncak great wall juga, hihi...

IBU WINDA DI GARUT said...
This comment has been removed by a blog administrator.

Post a Comment