Container Icon

Kenapa Harganya Musti Turun?

Tulisan ini sepertinya berbalik 180 derajat dengan tulisan saya sebelumnya. Ceritanya saya tiba-tiba iseng ngecek harga tiket buat saya hanimun ama Mr. Banker beberapa hari lagi. Yang ada saya bete abis. Gara-gara tiket Mr. Banker yang udah saya beliin bulan kemarin sekarang turun harga. Engga tanggung-tanggung, dari harga 1,3jutaan cuma jadi 970ribuan. Heran, itu kenapa Lion mendadak promo kayak gitu! Parahnya, saya jadi mengecek harga tiket kami berdua untuk balik dari tempat hanimun ke Surabaya.

melayang :'(

Saya pede bakal terhibur melihat kenaikan harganya. Secara Garuda, gitu. Tapi apa yang saya lihat? Itu tiket turun harga jugak, 275ribu-an per orang, yang artinya 550ribu berdua! Ini tumben-tumbenan Garuda tiba-tiba turun harga gitu menjelang tanggal keberangkatan.

Malam yang Kalut di Payakumbuh

Catatan pembuka :
Tulisan di bawah ini mengisahkan perjalananku dari Bukittinggi menuju Lembah Harau, melalui Payakumbuh. Agar pembaca tidak bosan, aku mengemasnya dalam bentuk cerpen.
Selamat menikmati...

Traveling alone is a joy and priviledge. Not everyone can afford to do so, be it in terms of finance or time. However, it is definitely something every single person should do, at least once in their lifetime :)

Dari kejauhan, sebuah L300 berjalan menuju ke arah kami berdiri di tepi jalan raya. Entah dengan cara bagaimana, Ii memastikan bahwa itu Tranex yang aku tunggu, yang akan membawaku ke Payakumbuh. Aku melirik jam di pergelangan tangan. 17.30. Sudah terlalu sore bagi seorang perempuan memulai perjalanan menuju kota lain di daerah yang masih asing baginya. Bagaimanapun, sesuai rencana yang telah disusun, aku harus terus melanjutkan perjalananku.

L300 tersebut penuh, namun aku bersyukur masih tersisa sebuah bangku untuk aku duduki. Saat aku masuk ke dalam Tranex, Ii dan motornya pun kembali ke Padang Panjang, tempat ia tinggal. L300 yang aku tumpangi ini terdiri dari 4 baris termasuk baris paling depan dimana sopir berada. Bangku kosong untukku terletak di baris ketiga. Merupakan bangku tambahan tanpa sandaran yang diletakkan di antara celah antara bangku untuk dua orang yang sudah permanen di sebelah kanan dan bangku untuk satu orang di sebelah kiri yang juga sudah melekat dengan rangka mobil. 

Baru beberapa menit aku duduk disana dan Tranex melaju pergi, salah satu penumpang di barisan paling belakang meminta sopir Tranex untuk berhenti. Nampaknya ia telah tiba di tujuannya. Karena rute yang harus dilaluinya untuk menuju pintu keluar adalah melewati bangkuku, mau tidak mau aku harus beranjak turun untuk memberinya jalan. Pastinya dengan sedikit kerepotan karena membawa serta ransel besarku.

aku dan ranselku

Backpacker Narsis di Bukittinggi

Prakata :
Kalo mau langsung baca yang ini, monggo. Kalo ada yang bingung, bisa menengok tulisan-tulisan terkait sebelumnya, yaitu:
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat serta Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur.

Dengan mengendarai motor dari Lembah Anai ditambah "beristirahat" sebentar karena turun hujan, aku dan Ii baru tiba di Bukittinggi sekitar jam 12. Kota ini berhawa sejuk dan memiliki kontur yang unik. Sesuai namanya yang mengandung kata "bukit", kontur tanah disini memang berbukit-bukit. Jalan yang kami lewati pun naik turun. Kami langsung menuju Jam Gadang. Seperti halnya di Pantai Pasir Putih Bengkulu, disini aku bertemu remaja-remaja berkostum tokoh kartun yang mengajak foto bersama dengan meminta bayaran 5000. Sedikit memaksa gitu, siy. Ya wis lah, yuk ambil 1 foto bersama tokoh kartun yang entah apa namanya.

badut ini sebenarnya merusak pemandangan -_-

Dalam bahasa Minang, Jam Gadang ini berarti Jam Besar. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh sebuah mesin yang diproduksi di Jerman yang hanya dibuat 2 unit. Mesin satunya menggerakkan Big Ben di London, Inggris. Ada keunikan lain dari Jam Gadang ini. Coba perhatikan gambar di bawah ini dengan lebih seksama. 

perhatikan apa yang aneh disini

Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur

Pendahuluan :
Sebelum membaca tulisan di bawah ini, sebaiknya baca yang ini dulu :
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Kenapa judul tulisanku mengandung mistis begini ya? Hahaha... Sebenarnya aku cuma mau cerita tentang hari pertama di Padang, dimulai dari saat pertama kali menjejakkan kaki di sana. Trus kenapa ada penangkal ilmu hitam segala? Itu siy biar orang tertarik buat baca aja. Hihihi... Eh, tapi tentang jus tersebut nanti ada di dalam cerita juga kok.

Pesawat Citilink yang akan membawa saya ke Padang mengalami delay sehingga dari yang seharusnya take off jam 18.10 berubah menjadi setengah jam kemudian. Perjalanan Jakarta-Padang memakan waktu 1 jam 25 menit.

tiba di bandara

Setelah antri beberapa saat untuk turun dari pesawat, officially aku tiba di Padang jam 20.15. Keluar dari terminal kedatangan, aku celingukan mencari keberadaan Damri. Sempet nyesel kenapa engga mencaritahu terlebih dahulu dimana Si Damri menunggu penumpang. Berdiri sendiri di luar pintu kedatangan, aku dikerumuni orang-orang yang ribut bertanya, "Mau kemana?" ato "Udah ada yang jemput atau belum?". Mereka adalah orang-orang yang menawarkan taksi ato travel. Dengan halus kutolak semuanya. Aku pun mengeluarkan HP dan menghubungi Ve untuk menanyakan tempat Damri. Ternyata aku harus berjalan dulu ke arah kiri terminal kedatangan.

Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Travel is a remarkable thing, right? Somehow it brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. It's the simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger.
(Ika Natassa - Critical Eleven)

Kalimat-kalimat di atas aku baca di sebuah buku kumpulan cerpen, "Autumn Once More" yang menemani perjalananku dari Jakarta ke Padang pada pertengahan bulan April lalu. Sungguh sebuah awalan yang tepat dalam memulai traveling soloku di Sumatera Barat dan menjadi seorang asing disana.

di Lembah Harau, Kab. 50 Koto

Sebenarnya dalam rencana hidupku *halah*, engga pernah terbersit keinginan untuk traveling sendirian. Semuanya terjadi begitu saja *kalimat ini kok berkonotasi negatif ya*. Berawal dari promo tiket Citilink yang cuma seharga 55ribu sekali jalan sekitar setengah tahun lalu, berujung pada traveling solo ke Padang. Dari dulu aku emang pengen ke Padang. Bukan ke Padang siy, tepatnya, tapi ke Bukittinggi. Pengen liat Jam Gadang. Kenapa gitu? Ya pengen aja. Sama kayak waktu aku ke Bengkulu kemarin (yang tiketnya juga Citilink 55ribuan) dengan alasan pengen liat bunga Rafflesia Arnoldi (walo sayangnya pas engga mekar). Alhamdulillah dapet tiket untuk long weekend untuk bisa pergi ke kedua kota ini. Cerita tentang Bengkulu sudah aku tulis disini.

akhirnya bisa kesini