Container Icon

Menyimak Nisan Berkisah di Museum Taman Prasasti

aku di dalam museum

Sebulan yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu, 1 Maret 2014, aku mengikuti tour bersama Komunitas Love Our Heritage, sebuah komunitas pencinta sejarah, seni dan budaya Indonesia. Dalam tour yang berjudul “Jelajah Jakarta Pusat 2014 - Dulu, Kini & Mendatang" ini, peserta tour akan diajak mengunjungi Museum Taman Prasasti, Istana Negara, Museum Nasional, dan Jakarta City Planning Gallery.  Biaya ikut tour ini cukup seratus ribu Rupiah saja, sudah mencakup snack, makan siang, serta segala macam tiket dan perizinan. Eh, dapet buku juga, ding, judulnya "Petunjuk Museum Sejarah Jakarta".

Yang akan aku ceritakan disini adalah kunjungan di Museum Taman Prasasti saja. Awalnya, di postingan ini aku mau nulis lengkap tentang sehari bersama Komunitas Love Our Heritage, tapi kepanjangan. Hehehe...

meriam tua menyambut pengunjung museum

tulisan "prasasti"-nya udah engga lengkap

Jam 7 pagi, aku sudah sampai di Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat. Pada saat registrasi ulang, aku juga diminta menitipkan KTP untuk dibawa ke Kementerian Sekretariat Negara guna mendaftar tour kepresidenan yang diagendakan setelah tour disini selesai. Karena peserta yang sudah datang baru sedikit, aku memutuskan untuk berjalan sendirian menyusuri museum ini.

nuansa di poto ini agak-agak gimana, gitu...

Jam 7.45, tour di Museum Taman Prasasti dimulai. Pak Adjie, tour guide dari LOH mengajak kita berkeliling museum ruang terbuka (outdoor) seluas 1,3 hektar ini, sambil menceritakan sejarah museum serta beberapa prasasti yang ada disana.

Dibangun tahun 1795, Museum Taman Prasasti ini awalnya merupakan kompleks pemakaman umum terbesar di dunia. Aku engga salah ketik. Terbesar di dunia. Pada saat itu, di luar negeri pun, kompleks pemakaman yang ada hanyalah kompleks pemakaman keluarga, belum ada yang merupakan tempat pemakaman umum.

Menurutku, cerita tentang sejarah museum ini menarik. Aku ulas sedikit ya... Sebelum dikenal sistem pemakaman umum, pemakaman lazim dilakukan di halaman belakang kebun rumah atau tempat ibadah. Di Jakarta, sistem pemakaman umum didirikan pada sekitar tahun 1630 yaitu pemakaman Tionghoa di Mangga Besar. Sedangkan untuk warga Belanda, pemakaman dilakukan di halaman luar  gereja De Nieuwe Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara). Pada abad 18, terjadi ledakan angka kematian di batavia yang diakibatkan wabah penyakit (tifus, kolera, disentri) sehingga membuat pemakaman penuh dan mendesak pemerintah kota Batavia mencari lahan baru di luar kota.

Seorang putra Gubernur Jenderal Batavia saat itu menghibahkan 5,5 hektar tanahnya kepada pemerintah kota Batavia untuk dijadikan taman pemakaman umum (TPU). TPU yang diberi nama Kerkhof Lann dan resmi digunakan pada 28 September 1795 ini lokasinya jauh dari tembok Kota Batavia namun letaknya cukup strategis karena dekat Kali Krukut sehingga jenazah dapat diantar melalui jalan darat maupun sungai. Di bawah ini, foto kereta jenazah yang digunakan untuk mengangkut jenazah yang telah tiba di dermaga Kali Krukut. Jumlah kuda penarik kereta yang bervariasi menunjukkan strata sosial orang yang meninggal.


kereta jenazah

Mulai tahun 1799, warga Batavia dapat membeli atau menyewa makam Kerkhof Lann. Warga mengenal pemakaman ini dengan sebutan Kebon Jahe Kober (kober = kuburan), karena terletak di daerah Kebon Jahe, Jakarta Pusat.

Pada tahun 1975, Pemda DKI memutuskan menutup Kebon Jahe Kober. Sebagian areanya kemudian dijadikan kantor Walikota Jakarta dan KONI DKI Jakarta-PRSI. Pemakaman Kebon Jahe diresmikan menjadi Museum Taman Prasasti pada tanggal 9 Juli 1977.

Koleksi yang terdapat di Museum Taman Prasasti terdiri dari kereta jenazah, nisan, dan aneka benda yang berkaitan dengan pemakaman. Oya, walo suasananya memang masih seperti di pemakaman pada umumnya, tapi engga perlu merasa takut untuk menjelajahi museum ini. Karena yang tersisa disini memang hanya nisan/prasastinya saja. Semua jenazah yang ada sudah dipindahkan. Ada yang dikembalikan ke keluarganya di Belanda, ada juga yang dipindahkan ke berbagai pemakaman, seperti Tanah Kusir dan Menteng Pulo.

Di Museum Taman Prasasti disimpan juga dua peti mati yang merupakan tempat disemayamkannya jenazah Presiden pertama RI Ir Soekarno serta wakilnya Moh. Hatta berada di dalam peti mati ini. Pada saat menyimak penjelasan dari Pak Adjie, ada anggota rombongan yang bertanya, kenapa petinya tidak ikut dikubur? Adalah karena kedua tokoh proklamator RI itu muslim sehingga ketika jenazahnya diturunkan ke dalam liang lahat, peti matinya tidak ikut dikuburkan.

Berikut beberapa tokoh yang pernah dimakamkan di Kebon Jahe Kober beserta cerita di baliknya:

1. Olivia Marianne Raffles

makam Olivia Marianne Raffles
Olivia Marianne Raffles adalah istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekaligus pendiri Singapura). Selama menjabat sebagai istri gubernur, Olivia turut mengadakan perubahan sosial tertentu dalam kapasitasnya sebagai pendamping penguasa tertinggi di Jawa pada saat itu. Ia mendampingi di sisi suaminya dalam berbagai kegiatan resmi, seperti misalnya mengunjungi para pemimpin setempat. Ia juga mengadakan perjamuan untuk umum yang terbuka baik untuk pria maupun wanita dari berbagai bangsa, yang mana adalah hal baru di Jawa, di mana sebelumnya para wanita Eropa tidak ikut bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Olivia Raffles meninggal dunia pada tahun 1814 karena sakit. Sebuah monumen peringatan juga didirikan untuk mengenangnya di Kebun Raya Bogor yang dirintis oleh suaminya yang memang memiliki minat besar dalam bidang botani.

2. Pieter Erbelveld

liat foto ini dengan seksama

Coba perhatikan gambar di atas. Di atas monumen berbentuk tembok yang ada disana, terpasang sebuah tengkorak. Di dinding monumen bertengkorak itu, tertulis kalimat dalam bahasa Belanda dan bahasa Jawa (dalam bentuk Aksara Jawa/Hanacaraka) yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira begini:
“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakkan batu bata dan menanam apapun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722”.

Menurut versi VOC, Elberveld, seorang keturunan Indo Jerman bersekongkol dengan beberapa pejabat Banten di Batavia untuk membunuhi orang Belanda pada suatu perayaan pesta tahun baru. VOC juga menuduh ia bersekongkol dengan keturunan Surapati di Jawa bagian timur. Tidak diketahui motivasi Elberfeld sesungguhnya, apakah ia memang ingin membantu orang Banten (dipimpin Raden Kartadriya) menguasai kembali Batavia, atau ia memiliki rencana sendiri, apabila Belanda enyah dari sana, karena ia sakit hati atas perlakuan Gubernur Jenderal Johan van Hoorn yang telah menyita tanahnya.

Rencana pembunuhan ini bocor karena ada budak yang melapor ke VOC. Versi lain mengatakan, kalau Sultan Banten-lah yang membocorkan karena ia khawatir akan pengaruh Elberveld dan Kartadriya yang akan merongrong kekuasaannya.

Elberveld dihukum mati bersama dengan Kartadriya dan 17 orang penduduk asli lainnya di halaman selatan Benteng Batavia, bukan di halaman Balai Kota. Pelaksanaan hukuman mati itu digambarkan sangat sadis, dilakukan dengan menarik kedua tangan dan kaki, masing-masing diikat pada seekor kuda. Jadi, ada 4 ekor kuda yang akan menarik tubuhnya ke empat arah berbeda. Akibatnya, tubuh mereka yang dihukum akan tercerai berai. Kulit pun akan terkelupas, sehingga peristiwa itu dinamakan peristiwa pecah kulit. Kepala mereka juga dipenggal. Hal ini dilakukan VOC untuk memberikan efek jera kepada penduduk agar tidak lagi mencoba-coba melakukan perlawanan pada mereka.

Tubuh Elberveld dimakamkan di suatu sudut yang sekarang merupakan Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta dan di sana kemudian didirikan suatu tugu peringatan. Di tugu itu dipajang tengkorak Elberfeld yang ditusuk tombak dan di bawahnya terdapat prasasti. Saat kedatangan Jepang pada tahun 1942, tugu itu dihancurkan namun prasastinya dapat diselamatkan. Replikanya kemudian didirikan kembali. Sejak tahun 1985 tugu itu kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti (sumber : wikipedia).

3. Marius J. Hulswit

makam Marius Hulswit

Hulswit adalah arsitek profesional pertama di Indonesia. Sebelum Hulswit datang pada tahun 1890, gedung didesain di Belanda dan desain dikirim ke Indonesia untuk dibangun oleh arsitek amatir, superintendant, insinyur sipil atau kadang insinyur militer (sumber dari sini). Beberapa karyanya adalah Gereja Katedral Jakarta yang lokasinya terletak di dekat Lapangan Banteng dan Escompto Bank di Surabaya (sekarang digunakan sebagai kantor oleh Bank Mandiri cabang Kembang Jepun).

4.  Soe Hok Gie

makam Soe Hok Gie

Nisan bertuliskan "Nobody knows the troubles, I see nobody knows my sorrow" ini merupakan prasasti dari makam Soe Hok Gie.  Lahir pada 17 Desember 1942, sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru. Semasa kuliah di universitas indonesia, Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Mahasiswa Universitas Indonesia fakultas sastra jurusan sejarah ini ikut mendirikan Mapala UI. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya. Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Gie meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut.

Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Kebon Jahe Kober. Pada saat pemakaman ini dibongkar, keluarga menolak pemindahannya. Teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango (sumber dari sini).

Pada tahun 2005, Riri Riza menggarap film Gie dimana tokoh Soe Hok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra.

5. Miss Riboet

makam Miss Riboet

Miss Riboet adalah seorang tokoh opera pada tahun 1920-an yang bergabung dengan sebuah Opera Komedi Stambul dengan nama Miss Riboet Orion atau sering hanya disebut dengan Miss Riboet saja yang didirikan oleh suaminya, Tio Tik Djien. Rombongan opera ini paling terkenal pada masanya, di samping pesaing kuatnya seperti Rombongan Opera Dardanella, Rombongan Opera Union Dhalia dan lain-lain. Miss Riboet juga terkenal dengan permainan pedangnya, Ia sangat menonjol ketika berperan menjadi perampok perempuan, sebagai Juannita de Vega karya Antoinette de Zema.

Tio Tek Djien memimpin opera Miss Riboet-nya menjadi sebagai perkumpulan seni dan olahraga, sesuatu hal yang jarang-jarang terjadi pada masa itu. Ia membuat tradisi baru dalam dunia kesenian, bahwa setiap seniman musik dan teater yang ingin bergabung dalam perkumpulan seninya itu, haruslah menguasai seni, juga sekaligus olahraga sepakbola. Dalam waktu tertentu, pemain-pemain operanya harus ikut bertanding dan harus menang dalam kejuaraan sepakbola yang diselenggarakannya. Mengawinkan seni dan olahraga itulah yang menyebabkan mengapa sampai sekarang sering terlihat toko-toko yang menjual alat musik sekaligus alat olahraga

Pada nisan sederhana ini terukir dalam bahasa Indonesia:
“Atas dasar mutiara tjinta sutji murni selama ampir 50 taon telah hidup-rukun beruntung beredjeki dalam persahabatan”
  
Disitu juga terukir nama Bu Riboet dan nama suaminya T.D Tio Jr. Terukir juga bahwa Miss Riboet dilahirkan di Atjeh pada 24 Desember 1900 dan meninggal di Djakarta pada 19 April (Paskah) 1965. Sedangkan sang suami Tio Tik Djin lahir di Ngandjuk pada 2 Desember 1895 dan meninggalnya menyusul. Mungkin mereka pernah memiliki keinginan untuk dimakamkan dalam satu liang lahat sehingga ketika Miss Riboet meninggal pun, nama suaminya sekalian diukir di nisannya. Pada kenyataannya, aku engga tahu pasti apakah ketika Tio Tek Djien meninggal, ia jadi ikut dimakamkan bersama jenazah istrinya.

Di Museum Taman Prasasti ini juga ada sebuah tombe yaitu makam keluarga. Cuma saya lupa mencatat namanya, hehe...







ada 4 anggota keluarga yang dulu dimakamkan disini

Selain kisah di balik makam-makam yang ada, patung-patung malaikat disini membuatku terpesona. Sayang, banyak di antara patung-patung indah itu yang engga utuh. Entah memang dibuat demikian ataukah karena ulah tangan-tangan nakal. Ada juga coretan-coretan jahil di makam-makam. Eh, tapi yang aku pajang disini yang cantik-cantik aja ya :)




Pastinya engga cuma aku yang terpesona pada keindahan museum ini. Buktinya, museum ini sering digunakan untuk syuting video klip. Sebut saja Ungu, Kerispatih, Base Jam. Sebagai spot pemotretan juga keren. Waktu kami kesini juga ada rombongan yang lagi pemotretan di dekat patung "Si Cantik Menangis" yang mana merupakan prasasti untuk seorang wanita yang konon meninggal karena terus menangisi suaminya yang bunuh diri akibat tak tahan dengan penyakit malaria yang dideritanya.

pemotretan di dekat patung "Si Cantik Menangis"

Tertarik pengen berkunjung ke Museum Taman Prasasti? Perhatikan jadwal bukanya ya. Museum ini dibuka pada hari Selasa-Jumat jam 9 pagi sampe jam 3 sore. Tiket masuk per orangnya adalah 5000 untuk dewasa, 3000 untuk mahasiswa (mungkin perlu menunjukkan kartu mahasiswa ya), dan 2000 untuk anak-anak. untuk rombongan minimal 30 orang, ada diskon khusus loh ;)

8 comments :

Ratih said...

Mantab mbak isti...penjelasan sejarahnya detaill bangeett... jadi tau..hehehhe.. oh ya mbak.. folback blog ku ya..lagi belajar nulis juga nih, hihihi..

isti thoriqi said...

Abisnya menarik, say...jadi aku tulis disini...
Siap...aku maen ksana yaaa :)

khalida fitri said...

Haduuh mak mupeng bgt.suka bgt sama jalan2 yg ky gini. Kpn2 kasi tau ya kalo ada tur2 sejarah lg.sip postingannya bermanfaat bgt.

isti thoriqi said...

Alhamdulillah kalo memang dirasa bermanfaat, mak. Kalo besok, temanya "Kantor pos dari masa ke Masa", mak. Mungkin berminat?

Shintaries.Com said...

haduh kok jadi syerem ya makk qiqiiq
tapi baguss tempatnya, klo bawa anak-anak takut sayah hehehe

isti thoriqi said...

Emang bagus mak Shinta, en engga serem kok... Kemaren waktu aku kesana juga ada pengunjung yang bawa anak-anak kecil. Mereka juga hepi-hepi aja :D

Museum Prasasti said...

mantap mba... kpn main ke Museum prasasti lg...

isti thoriqi said...

Terimakasih Museum Prasasti... Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa berkunjung kesana lagi :)

Post a Comment