Container Icon

Foto Bareng Pak SBY Bersama Komunitas Love Our Heritage

Postingan ini masih dalam rangka tour "Jelajah Jakarta Pusat 2014" bersama Love Our Heritage (LOH), sebuah komunitas pecinta seni, sejarah, dan budaya.  Visi dari LOH adalah melestarikan budaya, peninggalan sejarah dan kesenian Indonesia dengan tindakan nyata mengembangkan rasa peduli dan cinta terhadap peninggalan sejarah, seni, dan budaya Tanah Air kepada lingkungan sekitar (sumber dari sini).

Selain berkomitmen untuk menjaga peninggalan sejarah, LOH ini juga mendukung gerakan Go Green loh! Perjalanan rombongan tour ini dilakukan dengan jalan kaki! Untungnya lokasi-lokasi yang dipilih dalam tour kali ini tidak terlalu berjauhan. Tak sampai 15 menit, kami pun mencapai kompleks Sekretariat Negara.

Salah satu syarat untuk bisa melakukan pendaftaran wisata ke Istana Negara sudah kami lengkapi pada saat melakukan registrasi sebelum memulai kunjungan ke Museum Taman Prasasti, yaitu menyerahkan KTP. Syarat lainnya adalah berpakaian rapi (tidak boleh menggunakan T-shirt dan sandal).

klik untuk membesarkan gambar ya...

FYI, wisata kepresidenan ini hanya berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu jam 8 pagi sampai dengan jam 1 siang. Peserta yang ikut biasanya rombongan. Daftarnya kudu sepagi mungkin. Urutan kunjungan ke dalam istana berdasarkan urutan pendaftaran. Bagi pengunjung yang datang tidak dalam rombongan, misalnya cuma bersama keluarga ato bahkan sendirian, jangan kuatir, tetep bisa masuk kok. Nantinya bakal digabungkan dengan rombongan lainnya. Satu rombongan terdiri dari sekitar 50 orang.

Memasuki gerbang kompleks Sekretariat Negara, kami diminta berjalan melewati body scanner yang diawasi oleh petugas. Selanjutnya kami menuju sebuah tenda yang mana disitu ada sebuah meja dengan beberapa petugas yang duduk di belakangnya. Di atas meja ada sebuah papan bertuliskan "Tempat Pendaftaran". Pak Adjie, guide dari LOH, memberitahu petugas bahwa tadi pagi ada perwakilan dari LOH yang sudah kesini untuk mendaftarkan rombongan kami. Petugas tadi memberi info bahwa rombongan kami mendapat urutan no. 10. Rombongan yang sekarang lagi berwisata adalah rombongan dengan nomor urut 2. Mengobrol sejenak dengan Pak Adjie, ia mengatakan bahwa ia sudah beberapa kali membawa rombongan tour ke Istana Negara, tapi belum sekalipun bertemu dengan Presiden.

Sembari menunggu, kami sempat foto bersama.

aku engga ada soalnya aku juga ikutan moto :p

Oya, peserta tour ini terdiri dari berbagai kelompok usia. Ada anak kecil (pastinya diajakin ama ortunya), ada juga seseorang yang tampak sudah berumur namun masih terlihat tangguh. Aku banyak mengobrol dengan seseorang yang kami panggil Om Stephen ini. Menilik usianya yang sudah 70 tahun, aku sempat mengajaknya duduk setelah kami lumayan lama mengobrol sambil berdiri. Tapi beliau malah menolak. Ternyata hobi Om Stephen adalah traveling dan diving. Pantesan kuat jalan en berdiri lama-lama.

Menunggu sekitar 1 jam di sekitar tenda pendaftaran, akhirnya kami disilakan untuk menitipkan barang-barang di loker. Oya, barang yang boleh kita bawa selama kunjungan hanyalah dompet dan HP, itupun harus dalam kondisi nonaktif. Selainnya harus dititipkan di loker. Setelah menitipkan barang, kami dipersilakan duduk di semacam lobi. Disana terdapat layar televisi yang memutar foto-foto keenam istana kepresidenan yang terletak di berbagai kota di Indonesia.

Tak lama, kami dipanggil menuju sebuah gedung. Sebelumnya kami melewati pos pemeriksaan yang dilengkapi dengan body scanner. Di depan pintu kami disambut oleh beberapa wanita cantik yang mempersilakan kami masuk. Mereka ini adalah WARA (Wanita Angkatan Udara) yang memang ditugaskan sebagai pemandu di Istana Negara. Di dalam ruangan, kami duduk bersama rombongan sebelumnya, yaitu rombongan dari TK apa, gitu. Anak-anak TK itu datang bersama ibu dan guru-gurunya.

Di depan kami ada sebuah screen. Setelah semua orang duduk di bangku masing-masing, seorang WARA maju ke depan. Memberikan sedikit pengantar tentang film yang akan kami tonton sambil meminta rombongan anak TK untuk menyimpan suaranya selama film berlangsung. Film yang dibuka dengan sapaan dari Ibu Ani selaku Ibu Negara ini menceritakan sekilas tentang bagian dalam istana. Durasinya hanya sekitar 13 menit.

Dari situ kami beranjak ke Istana Negara dengan menumpang bus yang disediakan. Bus ber-AC yang nyaman ini berkapasitas sekitar 30 orang. Kami berhenti di sebelah air mancur. Turun dari bus, kami disambut oleh seorang WARA yang memperkenalkan dirinya sebagai Meril. Dialah yang akan menjadi guide kami dalam melihat-lihat bagian dalam Istana Negara. Mba Meril meminta kami untuk berbaris dengan rapi sebelum memulai wisata kepresidenan.

Di depan masjid, lagi-lagi kami harus melewati body scanner. Pemeriksaan berlapis-lapis ini sangat bisa dimaklumi, mengingat kami akan memasuki wilayah pusat pemerintahan. Sambil berjalan, kami merasa sedikit aneh karena di dekat kami ada 1 barisan polisi militer. Awalnya aku mengira mereka sedang latihan rutin. Tapi kenapa musti di dekat-dekat kami, ya? Kenapa engga di tempat yang lebih longgar, gitu. Secara rombongan kami yang berjumlah 50an orang ini lumayan bikin jalanan menuju gedung Istana agak penuh.

Pertanyaanku terjawab ketika rombongan kami tinggal beberapa meter menuju Istana. Di depan kami Istana Negara berdiri dengan anggunnya. Rombongan sebelum kami terlihat sedang berfoto ala Kabinet Menteri di deretan anak tangganya. Disitulah biasanya Presiden menyambut para tamunya. Di situ jugalah setiap tanggal 17 Agustus dilakukan penyerahan Bendera Merah Putih.

Pada saat kami sedang mengantri giliran berfoto di depan Istana, seorang satpam mendekati rombongan kami. Dia meminta Mba Meril selaku pemandu kami untuk memberitahu bahwa Bapak Presiden sedang dalam perjalanan kesini. Reaksi kami adalah seketika heboh. Kami langsung bertanya, apakah kami boleh melambaikan tangan kepada Pak SBY? Pak satpam tadi mengatakan boleh, tapi kami dilarang terlalu heboh. Hmm, pak satpam engga mengatakan persis demikian siy, tapi intinya gitu deh.

Kami pun deg-degan menunggu kedatangan Pak SBY. Eh, jangan-jangan aku doang yang deg-degan? Tolah-toleh ke sekeliling, mimik-mimik muka di sekitarku sumringah semua en menunjukkan perasaan excited. Hehe, kayanya seluruh peserta rombongan ini pada engga sabar untuk bisa melihat sosok Pak SBY secara live, dari jarak dekat.

Mobil yang pertama memasuki gerbang adalah sejenis mobil jeep. Kacanya terbuka, menampakkan sosok-sosok pengawal Presiden yang memperhatikan kami satu-persatu dengan teliti. Sepertinya di antara kami tidak nampak sosok yang mencurigakan, sehingga jeep itu berlalu. Yang bener-bener di luar sangkaan kami, mobil RI 1 yang ada di depan berhenti. Udah pada tau kan ya, kalo mobil RI 1 ada 2, sehingga masyarakat engga bisa tau pasti di mobil mana Presiden berada. Tebakan kami adalah Pak SBY mungkin memang mau membuka kaca kali ya, biar bisa melambaikan tangan pada kita, tapi melambaikan tangan aja engga perlu pake berhenti, kan?

Tiba-tiba aja pintu mobil terbuka. Kami semua pun bengong sesaat demi melihat Pak SBY keluar dari mobil. Kehebohan sedikit terjadi ketika kami semua nyaris serempak menggumamkan kata-kata yang nyaris serupa, "Ya ampun, Pak SBY turun, turun loh!" Serentak kami semua melambaikan tangan dengan semangat, pastinya dengan muka yang makin sumringah. Ada rasa terharu juga, mungkin, cos kejadian kayak gini sama sekali engga terbayangkan sebelumnya!

"Nanti foto bareng disana, ya," kata Pak SBY sambil menunjuk bagian depan Istana. Dengan gagah beliau berjalan menuju Istana didampingi para ajudannya. Rombongan anak TK beserta guru dan wali muridnya mendadak heboh mengetahui Pak SBY akan berfoto bersama mereka. Hmm, mungkin hebohnya udah dari tadi, berbarengan dengan kami ketika mengetahui Pak SBY memasuki gerbang Istana. cuma akunya aja yang engga nyadar karena perhatian hanya terpusat pada gerbang dan iring-iringan mobil yang memasukinya.

Setelah rombongan sebelumnya selesai berfoto, giliran rombongan kami. Walaupun awalnya kami tetap berjalan dalam barisan, ketika sudah sampai di deretan anak tangga, langsung pada semburat deh. Semua berebut pengen berada di depan. Karena terbiasa berada di ujung dalam suatu barisan foto, aku engga ikut heboh. Kalem aja. Woles. Sekalem Pak SBY yang dengan sabar berdiri menunggu selama rombongan kami sibuk berebutan posisi di tengah depan agar berada sedekat mungkin dengan beliau. Pengarah foto meminta rombongan membuka jalan untuk beliau. Setelah space kosong di tengah rombongan sudah tersedia, barulah beliau dengan tenang menempatinya.

Fotografer khusus di wisata kepresidenan ini sempat mengambil foto dua kali. Foto-foto yang dibuatnya bisa ditebus dengan harga 10 ribu per lembarnya. Ke-woles-anku tadi memberikan hasil yang sedikit mengecewakan. Di kesempatan langka ini, aku cuma berdiri di ujung, kayak anak yang terkucil.

aku di pojokan >.<

Di foto satunya lagi, saat pose melambaikan tangan, mukaku malah ketutupan -_-"

aku engga keliatan -_-"

Wah, harusnya aku lebih agresif, yak, biar dapet di depan en engga ada halangan yang bisa menutupi wajah cantikku. Hihihi #trusdilemparkamera Walo terkucil en ketutupan, aku tetap merasa beruntung. Lha gimana engga beruntung, Mba Meril, seorang WARA yang saat itu memandu kami aja baru kali ini ketemu Pak SBY padahal dia udah setahun kerja jadi pemandu wisata kepresidenan. Alhamdulillah ya, sesuatu... #kalimatiniudahenggangehitsyak

Setelah berfoto, kami diajak melihat-lihat bagian dalam Istana Negara. Engga semua ruangan siy, tapi lumayan lah. Ruangan yang kami masuki adalah Credential Room dan Reception Room. Kemudian kami menyusuri tepi lapangan yang dihiasi patung-patung wanita telanjang bergaya Yunani (dibikin pada era Soekarno). Oya, patung-patung semacam ini juga ada di Istana Bogor.

Di lapangan ini juga terdapat banyak pohon trembesi yang disangga dengan tiang-tiang besi karena sudah berusia tua. Oya, ada beberapa bagian rumput di lapangan ini yang warnanya tidak sama. Rupanya lapangan ini juga dimanfaatkan sebagai tempat menyalurkan hobi Pak SBY bermain golf.

Di sebelah kanan lapangan, terdapat Wisma Negara. Dahulu para tamu negara diinapkan disini. Saat ini, Wisma Negara berubah fungsi menjadi tempat menginap para Ajudan Presiden. Selain itu, disini juga ada ruang musik Presiden SBY dan ruang bendera.

Di ujung lapangan, ada sebuah gazebo. Pada masa Soekarno, disinilah anak-anaknya belajar. Mereka tidak bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak kebanyakan, melainkan home schooling. Kalo sekarang, gazebo ini dipakai oleh Pak SBY untuk sarapan.

Di seberang Istana Negara, terdapat Istana Merdeka. Kami tidak memasukinya. di dekat situ, ada semacam lorong yang mana di sebelah kanannya terpajang berbagai foto kegiatan Pak SBY dan Ibu Ani. Mulai dari kesibukannya sebagai Presiden dan Ibu Negara, baik di acara-acara yang diselenggarakan oleh berbagai Kementerian maupun keterlibatan di forum internasional, sampai ke foto-foto yang memperlihatkan kehangatan keluarga, yaitu foto bersama anak, menantu, dan para cucu.

Wisata kepresidenan pun berakhir. Kembali ke dekat masjid tempat kami datang tadi, kami dipersilakan mengambil air mineral yang telah disediakan.

Tour berlanjut ke Museum Nasional Republik Indonesia yang terletak di Jalan Merdeka Barat 12. Museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara ini juga sering disebut Museum gajah karena di halaman depan museum terdapat patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Kerajaan Siam (sekarang Thailand) yang berkunjung ke museum pada tahun 1871. Museum ini memang sudah dibuka untuk umum mulai tahun 1868.

bersama patung gajah

Hingga saat ini Museum Nasional menyimpan sekitar 141.000 benda-benda bernilai sejarah yang terdiri dari koleksi prasejarah, arkeologi, numismatik, heraldik dan keramik, etnografi, sejarah, dan geografi.

Di bawah ini salah dua (!) koleksi pameran utama di Museum Nasional Indonesia.
Arca Bhairawa

Bhairawa digambarkan sebagai raksasa mengerikan yang merupakan perwujudan Siwa sekaligus Buddha dalam aliran Tantrayana. Arca Bhairawa ini memiliki dua tangan, tangan kiri memegang mangkuk dari tengkorak manusia berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk menunjukkan upacara ritual Matsya atau Mamsa. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah dalam upacara meminum darah.

Arca raksasa ini aslinya terletak di bukit di tengah persawahan di kompleks percandian Padang Roco, Sumatera Barat. Arca raksasa ini sempat roboh dan terkubur tanah, hanya satu sisi bagian lapik (alas) yang menyembul ke permukaan tanah. Penduduk setempat yang tidak menyadari keberadaan arca itu menjadikan batu itu sebagai batu pengasah parang dan membuat lubang lumpang batu sebagai lesung untuk menumbuk padi. Hingga kini pun bekas lubang itu dapat ditemukan pada sisi landasan arca ini. Patung yang dikaitkan dengan perwujudan Raja Adityawarman itu diangkut oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1935 ke Kebun Margasatwa Bukittinggi. Lalu pada tahun 1937 arca ini diboyong ke Museum Nasional (sumber : wikipedia).

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ini berasal dari Palembang. Keberadaannya diperkirakan sudah ada dari abad ke-7 Masehi. Aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno yang terukir disini menginformasikan pejabat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya dan kutukan terhadap siapa-siapa yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada Raja Dapunta Hyang. Prasasti ini juga sekaligus sebagai alat detektor kebohongan. Pada masa itu, untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak, maka ia diminta meminum air cucuran yang akan keluar dari bagian tengah bawah prasasti tersebut. Siapa-siapa yang berbohong akan mati setelah meminumnya. Bila ia jujur, maka ia akan baik-baik saja.

Masih banyak koleksi lain di museum ini namun kami tidak berlama-lama di sana karena kebetulan ada ruang pameran yang ditutup.

ini juga koleksi Museum Nasional

yang paling depan tidak termasuk koleksi museum yak :p

Selanjutnya, kami berjalan kaki ke Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta. Disana terdapat Jakarta City Planning Gallery yang menjadi tujuan terakhir tour kami hari ini. Disana kami makan siang sambil mendengarkan sharing dari Mba Christie Damayanti, a stroke and cancer survivor, yang memiliki latar belakang profesi sebagai arsitek. Dengan Mba Christie, kami berdiskusi mengenai kondisi lingkungan di Jakarta dan bagaimana prediksi ke depannya. Tak hanya sharing soal lingkungan, Mba Christie juga memotivasi kami semua dengan kisah perjuangannya melawan stroke. Dokter yang merawatnya pernah memvonis bahwa Mba Christie akan menghabiskan sisa hidupnya dengan hanya berbaring di tempat tidur. Namun dengan tekad dan semangat yang kuat, kondisi Mba Christie berangsur membaik. Sekarang dia aktif sebagai narasumber dan menulis di Kompasiana. ia juga aktif melakukan pengabdian di gereja.

Mba Christie didampingi Pak Adjie

Setelah sharing dengan Mba Christie, kami diajak berkeliling galeri, ditemani oleh Bu Dewi dari Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta.

Bu Dewi di depan maket utama

Sebagai sebuah galeri atau ruang pameran, Jakarta City Planning Gallery ini berisikan berbagai bentuk informasi terkait dengan penyelenggaraan tata ruang dan berbagai produk dan kebijakan tata ruang, baik yang telah dan akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Visualisasi mengenai Jakarta tempo dulu, yaitu pada saat terbentuknya Kota Jakarta melalui Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai cikal bakalnya, Rencana Induk 1965-1985, RUTR 1985-2005, RTRW 2010 sampai dengan Jakarta masa depan yang tergambar dalam Konsep RTRW 2030, dapat kita lihat di sini, baik melalui gambar 2 dimensi maupun melalui maket-maket.

Aku sempat berfoto bersama Om Stephen di depan maket utama dengan skala 1:750 berukuran 6.0 m X 10.8 m. Maket ini menyajikan kawasan bisnis utama (CBD) kota Jakarta. Maket ini merepresentasikan 10% dari luas kota Jakarta.

bersama Om Stephen di depan maket utama


maket embosse kawasan Pantura Jakarta

FYI, Jakarta City Planning Gallery ini terbuka untuk umum setiap hari kerja, mulai Senin sampai Jumat, jam 9 pagi - 4 sore. Gratis! Tanpa dipungut biaya. Selain mengunjungi langsung fasilitas ini, masyarakat juga dapat mengakses http://www.tatakota-jakartaku.net untuk mendapatkan berbagai informasi terkait dengan perencanaan Kota Jakarta.

Acara terakhir pada tour hari ini adalah kuis. Ada 5 paket hadiah yang disediakan panitia. Secara berturut-turut, Pak Adjie melempar 5 pertanyaan. Setelah pertanyaan pertama terkait dimana saja keberadaan Istana Negara, pertanyaan keduanya ternyata lumayan susah, terkait sebuah arca besar yang sempat kita lihat di Museum Nasional. Engga ada peserta yang bisa jawab. Om Stephen ngebisikin sebuah jawaban kepadaku, yaitu Adityawarman, namun masih salah juga. Tapi berkat bantuan Tab, terjawablah pertanyaan tadi. Jawabannya adalah Bhairawa. Horeee, aku dapet goodie bag dari LOH dan Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta :D

duo goodie bag baru sempat kepoto di rumah
 
Hmm, oke, aku memang sudah menuliskan tentang arca Bhairawa ini di atas, tapi informasi tentang arca itu baru aku dapat sepulang dari museum. Maklum, waktu Pak Adjie menjelaskan soal arca tersebut kepada rombongan, aku malah asik moto-moto. Hihihi... 

Pertanyaan penutup kuis adalah tanggal ulang tahun LOH. Lagi-lagi engga ada peserta yang bisa jawab. Pak Adjie pun mengurangi tingkat kesulitan pertanyaannya "Ya udah, kalo engga tau tanggalnya, bulannya aja deh." Masih saja tidak ada peserta yang berani menjawab. Cepat-cepat aku googling di Tab-ku. Eh, nemu sebuah wall post di FB-nya LOH tentang ucapan selamat ulang tahun dari seorang anggota pada tanggal 2 Mei.

Segera aku berbisik kepada Om Stephen, "Mei, Om".
Om Stephen pun meneruskan jawabanku ke forum. "Mei," katanya keras-keras.
"Tanggalnya?" Pak Adjie iseng membiarkan Om Stephen menebak lebih lanjut.
Lagi-lagi aku berbisik kepada Om Stephen, "Dua, Om".
Om Stephen pun sekali lagi meneriakkan jawabanku "Dua!"
Pak Adjie bengong, panitia lain bengong, aku juga ikutan bengong karena mereka bengong. Aku kira jawaban ini ngawur. Bisa saja contekanku di Tab tadi salah. Bukan engga mungkin ucapan selamat disampaikan tidak tepat tanggal. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena memberikan jawaban yang salah pada Om Stephen. Duh, ntar Om Stephen dikira ngawur, lagi.

Reaksi selanjutnya dari Pak Adjie adalah :
"BENAR!!!"
Dilanjutkan dengan tepuk tangan membahana dari semua panitia dan peserta. Sepertinya semua orang amazed dengan ketepatan jawaban yang diberikan Om Stephen. Yeayyy!!! Aku pun ikutan heboh tepuk tangan. Om Stephen pun ikut ngedapetin goodie bag, deh :D

Meninggalkan gedung Dinas Tata Kota, aku sempat ditanya oleh peserta lain, kok bisa jawab pertanyaan-pertanyaan susah. Rupanya peserta lain pun tahu kalo jawaban mengagumkan dari Om Stephen tadi dapet dari aku. Aku jawab dengan santai, "Untung ada Tab :D" Untungnya lagi, sinyal T*lkomsel-nya juga lagi mendukung :D

Terakhir, makasiy banyak buat panitia dari LOH yang udah bikin acara seru. Oya, buat temen-temen yang pengen ikutan acaranya LOH, bisa liat agenda di bawah ini :

agenda kegiatan LOH 2014

Untuk lebih jelasnya, bisa like Facebook Fanpage-nya Love Our Heritage ya...

Tulisan terkait :
1. Awal mula bisa bergabung dengan tour LOH
2. Kunjungan ke Museum Taman Prasasti

2 comments :

dian_ryan said...

wow ternyata seru juga yah mba isti tournya, bener2 menjelajahi gedung2 kebudayaan yang ada di Jakarta, aku aja terakhir ke museum pas SMP

isti thoriqi said...

Iya, mba dian, ternyata di Jakarta banyak gedung seru yang bisa dijelajahin. Hehe, aku sendiri sebelum ikut tour yang ini, terakhir ke museum juga entah kapan mba :p

Post a Comment