Container Icon

Wisata Kuliner di Solo (Lagi)

Hari Senin kemarin, waktu baru nyampe kantor, langsung disambut dengan sapaan oleh Ibu Kabid : "Isti kemarin dari Solo, ya? Wah, jalan-jalan mulu, niy..." Hihihi, kalo boleh jujur, sebenarnya kemarin itu engga diniatin  buat jalan-jalan, tapi mau konsul ke dokter. Kebetulan ada dokter di Solo yang adalah sahabat dari istri Pak Kasi (atasan langsungku). Ketika Pak Kasi kasih saran untuk menemui dokter tersebut, aku pikir engga ada salahnya dicoba. Jadilah disusun rencana ke Solo ama Mr. Banker.

Aku berangkat dari Jakarta dengan menumpang kereta Bima yang berangkat jam 5 sore *lagi-lagipotonggaji* Kebetulan aku berhasil dapet harga promo. Jadi kalo aslinya tiket Si Bima ini harganya minimal 390ribu, aku berhasil dapet di harga 238ribu. Demikian juga untuk tiket pulangnya. Namanya harga promo, kursi yang disediakan jelas terbatas. Kali ini aku dapet kursi jomblo. Itu loh, kursi yang cuma sendirian doang, engga sepasang. Aku en Mr. Banker menyebutnya kursi jomblo.

duduk di kursi jomblo

Waktu cerita ama Mr. Banker kalo aku duduk di kursi jomblo,ini tanggapannya :

semacam ada yang jealous ama lelaki tak dikenal :p

Di Solo, kami menginap di The Sunan Hotel. Cerita tentang hotel dengan ranking terkecil di Tripadvisor ini (dibandingkan dengan hotel-hotel lain di Solo) aku bahas di postingan tersendiri, ya.

The Sunan Hotel Solo

Kami sempat browsing untuk mencari alamat hotel. Yang kami temukan hanyalah bahwa RS Yarsis terletak di Jl. Ahmad Yani. Udah, gitu doang, engga ada nomornya. Padahal hotel tempat kami nginep juga di Jl. Ahmad Yani. Ada siy, info yang nyebutin kalo RS ini terletak depan Gubug Makan Mang Engking. Baiklah, mari kita cari dima alamat Mang Engking ini. Setelah ketemu, alamatnya adalah depan RS Yarsis. Ya elah, sama-sama geje >.< Hmm, benernya engga gitu penting juga pencarian lamat detil ini, kita bakal naik taxi kok, bukan jalan kaki :p

Sabtu siang, abis check out, kami langsung menuju RS Yarsis dengan salah satu taxi berupa mobil Avanza yang antre berderet di depan hotel. Argo menunjukkan angka 11 ribuan saat kami sampai di RS (argo dimulai dari angka 5000). Just info, pembayaran taxi di Solo ini minimal 20ribu. Sopir taxi bernama Mas Ali yang mengantarkan kami ke RS memberiku nomor HP-nya sehingga setelah selesai urusanku di RS bisa langsung menghubunginya untuk kemudian diantar ke tempat lain yang ingin kutuju.

Sesampai di RS, aku diberitahu kalo dokter yang ingin kita temui ternyata lagi ada seminar di Makassar. Lah, emang dari kemarin-kemarin aku engga janjian dulu, gitu? Nah, kalo yang ini, mari kita salahkan aturan pendaftaran di RS Yarsis, yang mana pasien hanya boleh mendaftar di pagi hari sebelum dia konsul. Masalahnya lagi, di pagi harinya aku udah telpon ke RS, tapi karena aku adalah pasien baru, aku diminta untuk langsung datang ke RS. Petugas yang menerima telponku sepertinya juga engga tau kalo dokter yang aku tuju lagi engga praktek. Hiks...

Daripada bermuram durja, kita jalan-jalan aja lah di Kota Bengawan ini! Aku pun menghubungi Mas Ali yang tak berapa lama datang menjemput kami. Yang pertama ingin kami *lebih tepatnya aku* tuju adalah PGS alias Pasar Grosir Solo. Disini aku memborong batik, sprei, mukena, en sajadah batik. Hehehe...

Dari PGS, kami beralih ke Pasar Klewer dengan menumpang becak. Bukan untuk belanja lagi, tapi untuk mencoba Tengkleng Klewer yang tersohor itu. Sebenarnya jalan kaki dari PGS juga bisa, tapi secara kami engga tau kudu jalan kemana, kami memilih naik becak aja.

Tentang tengkleng, ada yang bilang kalo ke Solo, belum afdol kalo belum makan tengkleng. Ada lagi yang menyatakan belum ke Pasar Klewer kalo belum makan Tengkleng Klewer. Tengkleng adalah semacam gulai tapi engga bersantan yang diolah dari tulang belulang dan tetelan kambing. Walopun aku bukan penggemar tulang belulang yang jelas berdaging sedikit itu, aku tetep ngeyel pengen nyobain makan disana. Semacam menggugurkan kewajiban lah *kewajiban apa coba*.

Adalah sebuah perjuangan menemukan Tengkleng Klewer. Bertanya-tanya dulu ke beberapa teman yang tinggal ato setidaknya pernah tinggal di Solo. Kebanyakan pada engga inget namanya. Yang mereka ingat cuma tempatnya rame, antriannya banyak, letaknya deket gapura. Ketika akhirnya  kami menemukan warung dimaksud, ternyata benar, Tengkleng Klewer yang ngehits itu letaknya persis di bawah gapura depan Pasar Klewer,  tepatnya di sisi utara gapura. 

Jujur aku en Mr. Banker paling sebel ama orang yang menyebutkan arah mata angin saat menjelaskan tentang suatu lokasi. Dikira kita suka bawa-bawa kompas, apa. Tapi siapa tau ada anggota-golongan-yang-suka-menyebut-arah-mata-angin-saat-menunjukkan-lokasi yang browsing-browsing tentang Tengkleng Klewer kemudian nyasar ke blog ini, aku tulis aja tentang "sisi utara" itu. Biar lebih jelas, di deretan poto bawah, ada penampakan gapura dan Pasar Klewer yang diambil dari posisiku duduk menikmati tengkleng.

Tengkleng Klewer tersohor yang ternyata bernama Tengkleng Klewer Bu Edi ini sebenarnya memasang spanduk, tapi letaknya di dalam warung. Lah, pantes aja susah dicari! Tapi seperti sudah disebutkan oleh teman-teman yang memandu (via bbm), warung ini rame banget. Buka jam 1 siang, dagangannya sudah pasti akan ludes hanya dalam waktu beberapa jam. Harganya engga bisa dibilang murah, siy, yaitu 20 ribu per porsi. Untuk minuman, bisa dibeli di kios sebelahnya. Harganya standar aja kok. Kemarin aku en Mr. Banker membayar 10 ribu untuk sebotol Pocari Sweat dan teh botol. Btw, si ibu penjual minuman sempat bilang kalo aku mirip artis. Asekkk... *entah artis apa ato siapa*

maaf ya, ibu penjual yang engga kepoto :'(

penampakan Tengkleng Klewer Bu Edi

Mr. Banker menggerogoti tulang *dalam arti sebenarnya*

ada artis maem tengkleng di pinggir jalan #eaaa

posisi gapura dan Pasar Klewer dari tempatku duduk

Dari Pasar Klewer, aku mengajak Mr. Banker mencari lokasi Pusat Grosir Danarhadi.  Infonya siy, harga batik disini murmer gitu. Kata Ratna, tokonya berlokasi di dekat Matahari Singosaren. Kata si ibu penjual minuman, Matahari Singosaren deket aja kok, dari situ. Sekitar 100 meter doang ke arah barat *mana pulak arah barat itu* Ya wis, kita jalan kaki aja deh, menyusuri jalanan yang ternyata bernama Jl. Rajiman itu. 

jalan kaki sambil bawa ransel kayak backpacker

Btw, di foto itu, Mr. Banker keliatan sedang bawa-bawa kantong plastik. Nah, sebenarnya kantong tempat belanjaan yang dia tenteng dari PGS itu memuat peta daerah sekitar, cuma kami telat aja ngehnya -_-".

FYI, Sri Ratna itu nama toko yang ngasih kantong ini

Kalo info dari ibu penjual minuman tadi menyebutkan bahwa jarak antara Pasar Klewer dan Matahari Singosaren hanya 100 meter saja, pada kenyataannya jarak yang kami tempuh engga sedekat itu. Ada kali, 300 meter! Ditambah 200 meter lagi untuk sampai ke tujuan kami.  Sebuah kenyataan pahit menanti disana yaitu Pusat Grosir Danar Hadi yang-mana-aku-ngebet-banget-pengen-ngeborong-disana itu tutup ketika kita datengin. Waktu ke Solo bulan kemarin, aku sempat lewat sini juga. Kondisinya juga tutup. Entah aku yang engga berjodoh ama batik-bermerk-tapi-didiskon-gede ato emang niy toko udah tutup selamanya, engga tau deh.

Buat yang penasaran, coba aja mampir ke toko yang letaknya di pojok jalan di  belakang Matahari Singosaren. Engga jauh dari toko ini, juga ada Batik Danar Hadi Pusat di Jl Rajiman en Batik Danar Hadi di Jl Gatot Subroto (seberang Hotel Amarelo). Tapi aku engga mampir ke 2 toko ini. Maklum, niatnya kan nyari yang diskon gede doang :p

Hujan turun ketika kami menyusuri jalanan di sekitar Matahari Singosaren itu. Namun karena ini bukan kisah romantis, cerita tentang hujan turun ini juga engga romantis. Yang ada kita malah jadi bengong di depan Matahari Department Store itu, bingung mau kemana. Mr. Banker sibuk memencet-mencet Note-nya. Curiga kalo dia chatting engga penting ato apa, aku ngintip ke layar Note-nya. Ternyata dia lagi browsing-browsing untuk menentukan tujuan selanjutnya. Wah, sip deh, kalo gitu. Yah, gini deh, resikonya kalo engga diniatin dari awal buat jalan-jalan. Engga ada itinerary yang jelas. Hehehe...

sibuk browsing

Setelah Mr. Banker sejenak berkutat dengan gadget-nya *dan aku cuma berkutat ngeliatin dia, uhuk*, sebuah keputusan besar diambil. Dia ngajakin makan di Warung Gudeg Mekarsari di Jl Rajiman 182 B, persis di sebelah Batik Danar Hadi Pusat. Meskipun mengusung judul "gudeg", menu yang terkenal disini adalah selat solo (di menunya ditulis sebagai "selad"). Selat solo disini banyak dianggap sebagai salah satu racikan selat terenak di Solo.

penampakan warung

harga menu RM mekarsari
berbagai pilihan menu yang tersedia

pesananku : selad en es sirup asem

Setelah makan, kami mampir sholat dulu di Masjid Raya Fatimah yang kebetulan berada di depan Warung Gudeg Mekarsari. Abis sholat, lagi-lagi bingung mau kemana. Kami pun menyusuri jalanan belakang masjid. Kalo nyontek kalimat yang banyak muncul di Path, istilahnya "dipikir karo mlaku". Hehehe...

Tiba-tiba kepikiran pengen nyobain susu Shi-Jack. Gara-gara postingan Widi, seorang temen di Path yang pernah nulis kalo Shi-Jack ini lebih nge-soul dibanding Kalimilk, jadi penasaran deh. Tentang Kalimilk, bisa dibaca di postingannya Ivna. Dari hasil browsing, diketahui bahwa ada 12 cabang Shi-Jack di Solo ini. Yang terdekat dari lokasi kami adalah Galabo.

Dengan becak kami menuju ke Galabo. Galabo yang merupakan singkatan dari Gladag Langen Bogan merupakan tempat wisata kuliner malam di Solo yang menyajikan beragam menu makanan, mulai dari HIK (hidangan istimewa kampung) sampe ke hidangan tradisional yang "Solo banget" macam sate kere, timlo, dll. Sesampai di Galabo, kami baru ngeh kalo kami tadi udah melewati spot ini, karena letaknya persis di depan PGS. Oalah, berasa bego banget jadinya -_-"

Secara disini berkumpul berbagai macam makanan khas Solo, engga heran kami juga menemukan Tengkleng Klewer Bu Edi. Woalah, tau gitu, ngapain kami tadi ke Pasar Klewer, yak? Emm, tapi engga papa lah, kayanya makan di tempat aslinya tuh lebih afdol deh :D

Menyusuri Galabo yang baru buka sebagian ini, kami engga berhasil menemukan Shi-Jack yang kami cari. Mau mampir ke kedai yang udah buka, rasanya kok udah kenyang. Ya wis, poto-poto dulu aja lah.

nampang...

engga nampang...

Abis poto-poto, lanjut browsing. Ternyata setelah diteliti lebih dalam, Shi-Jack Galabo yang kita cari ini letaknya engga persis di kawasan Galabo, melainkan di sebelah Luwes. Hadeh, mana pulak Luwes ini! Kata Mr. Banker, "Waduh, orang-orang yang nulis tentang Solo ini sepertinya menganggap semua orang dari luar Solo juga paham tentang Solo, ya?" Keluhan ini menginspirasiku untuk menulis tentang Solo dari sudut pandang orang yang engga paham Solo. Hmm, sejujurnya aku emang bener-bener engga paham siy -_-"

Menyerah dengan ketidakpahaman yang berlarut-larut, aku mengajukan sebuah ide brilian, "Nanya aja, yuk!" Hehehe... Pepatah "Malu bertanya sesat di jalan" itu ternyata masih berlaku di era digital seperti sekarang, loh! Terutama saat Mbah Google yang biasanya bahkan pinter nebak pertanyaan *bukan jawaban, tapi pertanyaan* itu lagi tak berdaya. Hehehe...

Seorang ibu penjaga kedai terdekat dari tempat kami berdiri menyebutkan bahwa untuk menuju Shi-Jack kita tinggal jalan lurus aja (ceritanya Galabo ada di sisi kiri kita) trus belok kiri. Udah, gitu doang! Hahaha, ternyata kita udah deket banget!

Informasi dari sumber terpercaya ini jelas kami ikuti. Sampai di perempatan jalan, tampaklah sebuah bangunan bertuliskan "Luwes". Ealah, ini tho, Luwes yang tadi disebut-sebut sebagai petunjuk lokasi Shi-Jack.

Luwes itu ini loh...

Dan inilah dia warung Shi-Jack yang ngehits itu! Sorry agak nge-blur, maklum motretnya sambil tetep jalan kaki.

warung Shi-Jack

Tentang Shi-Jack, warung susu ini menyebut dirinya sebagai satu-satunya pioneer warung susu murni di kota Bengawan ini *abaikan bahwa pioneer itu mustinya memang cuma ada satu*. Tagline "Kami Memang Beda" sepertinya cocok melihat daftar menu yang ajaib, seperti Tante Susi (Susu Syrup Tanpa Telor), Superboy (Susu Perah Boyolali), sampai Jaman Korupsi (Jahe Manis Kopi Syrup). Harganya berkisar antara 4000 sampai 7000 Rupiah saja.

Selain susu, disini juga menyediakan berbagai snack seperti roti bakar (dengan nama-nama yang engga kalah ajaib), pisang owol, en makanan ala angkringan seperti nasi bandeng, gorengan, dan sate-satean. Untuk harga dijamin murah, lah. Aku en Mr. Banker yang ngabisin 2 susu dingin (coklat en stroberi), 4 gorengan, en 2 pisang owol (keju en coklat) cuma perlu ngeluarin duit 20 ribu.

Ini beberapa foto disana...

nama-nama di menunya lucu-lucu kan?

deretan gorengan dan makanan ala angkringan

cemilan soreku
 
mas yang melayani pembeli pake kaos seragam

Kalo soal rasa, emm, menurutku Shi-Jack ini biasa aja... Rasa pisang owol yang menjadi cemilan khasnya juga standar. Untuk citarasa susunya, aku lebih suka Kalimilk. Bukan soal variasi rasanya, tapi karena lebih berasa susu aja, gitu, kalo di Kalimilk. Hehehe... Ato mungkin karena susu di Shi-Jack ini lebih encer ya? Ato mungkin karena es batu di susu pesenanku yang kebanyakan? Engga tau juga, siy. Tapi pastinya semua balik ke selera masing-masing lah...

Kenyang ngemil, lagi-lagi sebuah pertanyaan besar menghantui kami. Mau kemana lagi? Kebetulan malam ini kami juga ada janji ketemuan ama Bapak Kasi-ku beserta keluarganya. Kalo kami jalan tak tentu arah, Pak Kasi pasti bingung mau jemput kami dimana. Daripada bingung, kami ke Luwes aja, lah.

Aku pun mengabarkan pada Pak Kasi kalo kami menunggu di Luwes. Jawaban bbm-nya : "Luwes-nya deket PGS ya mbak? Soalnya Luwes di Solo ada 4 tempat.." Yeah, info baru lagi, niy. Herannya, Pak Kasi kok bisa menebak dengan benar ya, kalo kami di Luwes yang deket PGS. Ngalah-ngalahin Mbah Google neh.

Sementara Mr. Banker berdiri menunggu di teras, aku melenggang masuk ke dalam swalayan itu. Disana aku engga cuma menemukan swalayan, tapi juga ada toko aksesoris yang lumayan gede. Masuklah aku kesana. Berlanjut dengan kalap demi ngeliat harga aneka aksesoris yang murmer itu.

segini banyak 35 ribu doang

Sesuai waktu yang dijanjikan, yaitu pukul 19.30, Pak Kasi mengabari lewat bbm kalo beliau dan keluarga udah di depan. Aku pun keluar swalayan. Di teras, Pak Kasi udah ngobrol aja ama Mr. Banker. Hehehe... Kami pun mengikuti Pak Kasi ke mobilnya yang diparkir di seberang. Setelah bersalam-salaman dengan istri dan anaknya, kami mengobrol sembari mobil menyusuri jalanan Solo yang lumayan rame di malam Minggu itu.

Ternyata awalnya Pak Kasi mau ngajakin kami ke Shi-Jack. Eh, lha kok kami udah nyobain duluan. Kata Pak Kasi siy, pilihan kami ke Shi-Jack deket PGS itu bener banget, secara itu yang paling enak dalam segi rasa. Pilihan sajiannya juga paling lengkap. Menurut Pak Kasi loh, ya.

Mobil berhenti di Roda Dim Sum. Sepertinya Pak Kasi udah paham kalo kami udah kenyang banget, jadi diajakin "ngemil" lagi aja. Lumayan lah, buat menuhin isi perut sebelum kami naik kereta nanti, jadi ntar di kereta langsung bobo aja, gitu. Hehehe...

bersama Pak Kasi dan keluarga

Abis makan, Pak Kasi sekeluarga mengantar kami ke stasiun Solo Balapan. Terima kasih banyak, Bapak dan Ibu...

Walopun berdua di stasiun, kami menunggu kereta yang berbeda. Aku menunggu kereta Bima ke Jakarta dengan jadwal jam 22.05, sedangkan Mr. Banker menanti Malioboro Ekspres dengan jadwal jam 23.10.

menunggu...

Nyampe Jakarta, balik ke rutinitas lagi, deh :)

5 comments :

HM Zwan said...

jiah,berarti nggak jadi konsultasi dong???makan2 dong2..asiikkkk...

isti thoriqi said...

Hahaha...iya, engga jadi konsul tapi malah makan-makan, Mak Hana :p

dian_ryan said...

mba isti, asyik banget jalan2 melulu, pacaran terus hihihi...

isti thoriqi said...

Hahaha...emang masih pacaran ini, mba...kan masih abegeh #halah

Kuliner Solo said...

Kuliner terkini di Solo

Post a Comment