Container Icon

Menginap di Hotel Nomor Satu di Solo

Tiap orang memiliki alasan yang berbeda dalam memilih tempat menginap saat berlibur. Ada yang menyukai penginapan murah tapi nyaman, ada yang asal murah aja, ada yang cari aman dengan menginap di hotel yang pernah diinapi oleh temennya, ada yang suka mencoba  the new-5 star hotel  yang lagi ngehits *colek Ivna yang abis nginep di Eastparc Jogja*, ada juga yang memilih hotel dengan ranking paling kecil di Tripadvisor.

Aku sendiri bukan salah satu tipe tamu di antara berbagai kriteria di atas, karena aku adalah tipe tamu galau. Ya suka-suka aku aja gitu, lagi pengen nginep dimana. Tapi pada saat ini, bisa jadi aku masuk kriteria yang terakhir aku sebutkan. Karena The Sunan Hotel Solo yang berbintang empat ini menduduki peringkat 1 hotel di Solo menurut Tripadvisor. Hehehe...

rekomendasi dari Tripadvisor dipajang di meja resepsionis

Jadi, bagaimana pelayanan di hotel nomor satu di Solo ini? Langsung simak pengalamanku saat menginap disini aja, ya...

Ketika masih duduk di kereta, sekitar jam11 malam, aku tiba-tiba kepikiran buat confirm ke The Sunan Hotel Solo, yang voucher-nya udah aku beli via www.tiket.com. Ya secara aku bakal nyampe jam 1.30 dini hari, gitu, kuatirnya para staf hotel udah pada tidur #sotoy

Sebelum membeli voucher di tiket.com, aku sempat memesan tiket lewat booking.com, tapi udah aku batalin (tanpa biaya pembatalan) gara-gara salah pilih jenis kamar. Aku memilih harga termurah yang mana ternyata engga termasuk sarapan. Walah, apalah guna menginap di hotel kalo kita engga dapat sarapan? *engga mau rugi*

Yang bikin aku en staf hotel sama-sama bingung, pemesanan yang tercatat di hotel adalah yang via booking.com. Waduh, masa iya tiket.com belum mengirim konfirmasi ke hotel? Ato mungkin pihak hotel yang melewatkan email dari tiket.com? Entahlah, yang jelas ini bisa dijadiin pelajaran. Untuk selanjutnya, tiap abis beli voucher hotel dari web apa pun, sebaiknya kita langsung mengkonfirmasi ke hotelnya. Namun, karena aku sudah pegang voucher-nya (dikirim via email) dan ada bukti pembayaran juga (ada receipt dari tiket.com), aku pede aja, lah. 

Sebelum menutup telpon, aku sempat menanyakan pada staf tersebut, bagaimana caranya menuju hotel setiba di stasiun nanti? Apa masih ada taxi, gitu? Kata si staf, taxi masih ada siy, tapi ia menawarkan untuk mengirim driver guna menjemputku. Free of charge! Asekkk... Excellent service, niy. Tip untuk si driver tetep disiapin, lah, ya.

Tiba di Stasiun Solo Balapan tepat waktu, di dekat pintu keluar udah berdiri seseorang berseragam rapi ala driver hotel yang membawa kertas bertuliskan namaku (diketik, loh!). Aku pun mendekatinya kemudian memberitahu kalo akulah tamu hotel yang ia tunggu. Selanjutnya aku mengikuti si driver ke mobil milik hotel. Perjalanan dari stasiun menuju The Sunan Hotel Solo hanya memakan waktu kurang dari 10 menit!

Setelah melakukan pengecekan pada voucher hotel yang aku bawa, resepsionis melakukan open kartu kredit (menggesek CC sebagai ganti deposit dengan uang tunai). Selanjutnya ia memberikan kunci kamar padaku. Karena aku hanya membawa ransel, aku pun melenggang sendiri ke kamar tanpa ditemani petugas hotel. Mr. Banker sendiri baru datang 1 jam kemudian. Ia ke Solo dengan menumpang bis Rosalia Indah. Kenapa engga naik kereta juga? Adalah karena jam berangkatnya engga ada yang pas dengan jam pulang kantornya. Jadi naik bis aja, lah. Murmer, 90ribu saja. Hehehe...

Yuk, langsung kita cek kamarnya!

tipe kamar Deluxe

pajangan di dinding kamar

Tentang kasur dan selimutnya... jelas nyaman, lah. Anehnya, hotel ini juga menyediakan guling. Emm, aku udah engga inget kapan terakhir aku nemu guling di hotel. Hehehe... TV yang terpasang di dinding kamar merupakan TV kabel, tapi aku engga menemukan 2 channel favoritku yaitu Star World dan Warner TV :( Btw, disini tersedia free wifi dengan koneksi internet yang bagus (mengingat sinyal Telkomsel disini kurang oke).

Di meja sebelah tempat tidur, ada telepon. Di dekatnya ada 2 buah permen bermerk "The Sunan" seperti yang biasa kita temui di bank ataupun di kantor-kantor pelayanan publik. Juga ada memo pad beserta pensil bertuliskan nama hotel, serta lipatan kertas yang intinya merupakan ucapan selamat datang dari manajemen hotel. Standar lah, ya. Hanya saja waktu aku iseng membuka lipatannya yang ternyata berisi kuesioner tentang pelayanan hotel, di dalamnya sudah ada coret-coretan. Mungkin staf hotelnya mengira, kuesioner ini engga bakal diisi -ataupun dicoret-coret- oleh tamu sehingga engga terpikir untuk menggantinya.

Meskipun di kamar ini tersedia kulkas, anehnya di dalam kulkas tersebut kami engga menemukan apa pun. Padahal udah lumrah kalo di kamar hotel tersedia mini bar yang memanfaatkan kulkas sebagai wadah untuk beberapa pilihan minumannya. Tapi ya sudahlah, aku juga engga bakal membeli cemilan ato minuman yang tersedia di mini bar *ngirit*

Saklar lampu di kamar ini tersebar di berbagai lokasi. Sebagai tamu yang agak pemalas, kami kurang sreg ama yang kayak gini. Apalagi ada 1 lampu yang engga kami temukan saklarnya, yaitu lampu yang menempel di bagian kiri lemari pakaian, di atas perlengkapan minum teh.

Tentang kamar mandi, terawat baik, lah. Meskipun hotel ini terbilang hotel lama, klosetnya sudah menggunakan kloset model baru yang flush-nya udah jadi satu. Tersedia bath tub di kamar mandi, di atasnya ada shower yang menempel di dinding. Aku engga suka shower model begini >.< Tapi ini masalah selera lah, ya. Untuk setelan air hangat, responnya cepet kok.

ada penampakan cewe cantik di kamar mandi :p

Selanjutnya, langsung aja kita menuju cerita tentang sarapan yang disediakan dari jam 6 sampe jam 10 pagi. Restoran Narendra tempat kami sarapan ini menghadap ke kolam renang. Sebagai seseorang yang engga bisa renang, jangan cari review tentang kolamnya di tulisan ini. Yang jelas gede aja, gitu. Hehe...

penampakan kolam renang dari balik resto

Engga enaknya makan di hotel ama Mr. Banker adalah aku bakal dipelototin kalo makan kebanyakan >.< Jadilah dari sekian banyak menu yang ada, aku cuma nyobain beberapa. Yaitu  salad dan nasi liwet *secara ini menu khas Solo*.

gambar sebelah kiri itu penampakan restonya

Di deretan cake en pastry, ada banyak banget pilihannya. Maap, lupa engga kepoto. Tapi karena pada dasarnya aku bukan penyuka cake en pastry, aku nyaris engga meliriknya. Kecuali satu, croissant! Udah pada tau kan, kalo croissant ini adalah menu wajibku kalo sarapan di hotel? Kayanya aku bisa deh, stay di Paris en makan croissant tiap hari :p *ngarep* Kecintaanku pada croissant ini menular ke Mr. Banker, loh! Oya, kalo biasanya hotel menyediakan pilihan selai standar macam selai nanas en strawberry, disini ada tambahan pilihan selai blueberry, selai mangga, en selai srikaya yang rasanya yummy banget untuk disandingkan dengan croissant yang enak ini. Kalo mentega untuk diolesin di croissant sebelum kita tambahkan selai di potongan rotinya, standar lah... Elle and Vire.

croissant dengan berbagai pilihan selainya

Selain yang udah aku sebutin di atas, aku juga sempat nyicipin yoghurt rasa anggur yang enak en engga terlalu asem, puding yang flanya encer en terasa hambar, jelly yang adalah semacam nutrijell dengan isian leci, potato wedges yang rasanya standar aja (mana udah dingin, pulak), plus sepotong mendoan.

Emm, jadi siapa tadi yang bilang cuma nyobain beberapa? -_-" Eh, tapi, tapi, aku loh engga sempat nyicipin menu buffet-nya sama sekali. Padahal kan itu penting buat di-review! #alesan Pagi itu, menu buffet yang disediakan terdiri dari nasi goreng Yang Chow, kwetiaw goreng, ikan cabe ijo, ayam goreng mentega, red bean, dan tumis sayur. Selain itu, juga ada bubur ayam yang berdampingan dengan sup kaldu ayam (tertulis di nama menunya sebagai "chicken stock"). Maap juga engga ada potonya. Tapi udah kebayang kan, penampakannya kayak apa.

Di deretan menu buffet juga ada  beef bacon, beef sausage, dan potato wedges yang udah aku ceritain di atas. Mr. Banker sempat mencoba bacon dan sosisnya. Penyajian sosis yang engga diberi alas roti, bikin "keringat"-nya engga terserap. Rasanya jadi engga enak, kata Mr. Banker.

Ini penampakan beberapa penyajian makanan yang ada di resto. Dari mulai aneka macam krupuk; beragam jenis minuman (jus apel, jus jambu, jus jeruk, ice lemon tea, beras kencur, dan air mineral); berbagai macam manisan yang tersaji sebagai dessert berdampingan dengan buah-buahan (slices en whole fruit); puding (coklat en stroberi) dengan fla, yoghurt (pilihan rasanya plain, stroberi,  anggur), dan jelly; serta penampakan di salah satu gubug yang memasang judul "aneka gorengan".

beberapa hasil jepretan makanan di resto

Gubug aneka gorengan yang terselip di foto di atas menyajikan mendoan, pisang goreng, sate usus, dan bungkusan daun pisang berisi nasi bandeng. Selain gubug ini, masih ada beberapa gubug lain di dalam resto, yaitu gubug nasi liwet (yang sempat kami coba), gubug bubur tradisional, dan gubug soto.

Satu lagi pelayanan di resto yang menurutku masih kurang. Secara di meja kita udah disiapin cangkir beserta tatakannya, biasanya siy di hotel-hotel besar akan ada waiter/waitress yang mendatangi meja untuk menanyakan apakah kita ingin memesan kopi/teh. Tapi entah kenapa hal itu engga berlaku disini. Kalo pengen kopi/teh, kita kudu memanggil waiter/waitress dulu.

Keluar dari restoran dan menuju lift untuk kembali ke kamar, di sebelah kanan terlihat ada drugstore. Trus aku juga menemukan telepon koin loh :D

telepon koin di depan lift

Sekian review tentang The Sunan Hotel Solo. Secara umum pelayanan disini memuaskan, lah, cuma tamunya aja (baca : aku) yang terlalu banyak maunya, hehehe...

2 comments :

ivna prawesti said...

Kadang ada hotel yg musti request mini bar dulu mba baru diisi kulkasnya...kyk kemaren di Eastparc, krn butuh kulkas buat nyimpen susu so minta dibuka dulu kulkasnya (ada bbrp hotel yg kulkasnya jg dikunci klo ga request) trus sama stafnya dibukain plus diisi juga kulkasnya...wlpn offkors ga ada yg dicomot tu isian kulkasnya#irit...hehehe

isti thoriqi said...

Ooo...berarti kebetulan aq belum pnah nemu yang kayak gitu, ya... Ato pnah tapi krn engga niat nge-review jadi diabaikan begitu saja. Hihihi... Berarti itu hotel semacam irit listrik juga, ya. Go green ^^

Post a Comment