Container Icon

Belajar Surfing di Bengkulu

Hah, belajar surfing di Bengkulu? Engga salah tuh? Bukannya kalo belajar surfing alias selancar itu biasanya di Bali, gitu? Hmm, belajar surfing di Bali siy udah biasa banget. Tapi karena aku anti mainstream, aku pilih Bengkulu aja. Hehehe... Oke, alasan sebenarnya bukan itu, meskipun pantai-pantai di Bengkulu memang memiliki beberapa spot ombak yang berpotensi untuk dijadikan lokasi surfing berkelas dunia. Kontes surfing pun sudah pernah dilaksanakan disini. Pada bulan September 2013 kemarin, Dinas Pariwisata setempat memasukkan kontes surfing dalam Bengkulu Beach Festival yang digelar bersamaan dengan momen Kemilau Sumatra 2013. Hanya saja, dibandingkan Bali, Lombok, Mentawai, atau bahkan Banyuwangi (dengan Pantai Plengkung-nya), lokasi surfing di Bengkulu memang belum populer.

ehem ehem, uhuk uhuk

Aku sendiri menjadwalkan traveling ke Bumi Raflesia bukan khusus untuk belajar surfing, tapi untuk mengunjungi temen yang tinggal disana, yaitu Anis. Terakhir ketemu dengan Anis udah lama banget, waktu barengan main ke Bangka. Ketika itu, aku janji bakal menyempatkan diri untuk mengunjungi Bengkulu. Rencana ini seharusnya udah terealisasi tahun kemarin. Waktu itu aku sempat membeli tiket Merpati ke Bengkulu. Namun entah kenapa, beberapa minggu menjelang keberangkatan, rute Jakarta-Bengkulu dihapuskan -_-

Akhirnya, rencana traveling ke Bengkulu ini bisa terwujud pada long weekend Imlek kemarin. Jumat pagi-pagi sekali, sekitar jam 5.15, aku berangkat dari kontrakan dengan taksi ke Stasiun Gambir. Dilanjutkan dengan naik Damri ke Cengkareng, sampai di sana aku mampir dulu ke Blue Sky Executive Lounge yang ada di Terminal 1C.

mengisi perut sebelum terbang

Dengan menumpang Citilink pagi, aku terbang ke Bengkulu, kemudian menjejakkan kaki di Bandara Fatmawati Soekarno pada jam 8.30. Anis baru nongol dengan sepeda motornya sekitar jam 9 gara-gara paginya surfing dulu sebelum jemput aku. Dasar Anis! Tapi engga papa kok, bisa dimaklumi secara dia emang hobi banget buat surfing. Tiada hari tanpa surfing, lah! Kalo bisa, sehari 2 kali malahan. Hehehe...

Tempat pertama yang kami tuju adalah Warung "Iko Nan Ado" di Jalan S. Parman 4, Tanah Patah yang menyediakan menu spesial Dendeng Batokok. Sebenarnya makanan ini bukan makanan khas Bengkulu, tapi merupakan makanan khas Sumatera Barat. Berupa irisan tipis dan lebar daging sapi yang diberi cabe. Kami menikmatinya bersama dengan sayur terong dan kubis, plus es jeruk. Aku engga tau pasti berapa harga 1 porsi dendeng batokok ini, yang jelas setelah menambah 3 sisir pisang, kami ditagih 57ribu.

walo berwarna merah, rasanya engga pedes kok

ceki-ceki dulu sebelum pulang

Setelah makan, kami mampir sebentar ke kost Anis untuk meletakkan ranselku. Trus langsung capcus ke Fort Marlborough, yaitu benteng peninggalan Inggris. Konon, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India. Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi Samudera Hindia (sumber : wikipedia).

di depan gerbang

berlatar belakang lautan

bersama meriam-meriam, bukan Meriam Bellina #apaseh

di gerbang belakang

ala model :p

banyak spot keren untuk berfoto

kalo ini modelnya yang keren #halah

Kelupaan bilang, sebelum menjelajah benteng, kami diharuskan membayar sebesar 2500 per orang di dekat pintu masuk. Di dekat Fort Marlborough ada pantai Tapak Paderi. Di sini, terlihat aliran sungai yang bermuara disini. Kalo lagi pasang, aliran sungai ini engga keliatan.

ini judul pantainya :D

sungai yang bermuara ke laut

memandang kejauhan

hening...

Oya, menurutku, pasir disini cantik, karena dihiasi "ukiran" yang mestinya dibuat tanpa sengaja oleh kepiting-kepiting kecil yang hidup di bawahnya.

lukisan alam

Dari pantai, kami beranjak ke Monumen Thomas Parr yang letaknya engga jauh dari Fort Marlborough. Monumen ini dibangun oleh pemerintah Inggris untuk mengenang Thomas Parr, penguasa Inggris di Bengkulu yang ke-49. Pada masa itu Thomas Parr menerapkan sistem tanam paksa untuk membuka perkebunan kopi di Bengkulu. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak korban nyawa yang melayang selama masa tanam paksa tersebut. Sampai suatu ketika, kebencian rakyat Bengkulu sudah tidak dapat dibendung lagi, sehingga mereka berama-ramai menghabisi Residen Inggris tersebut (sumber dari sini).

Monumen Thomas Parr

pose menyeberang

Oke, foto yang kedua engga penting. Tapi aku pengen aja foto disini, memperlihatkan gedung kantor pos yang terlihat lawas sekaligus jalanan yang sepi. Padahal di dekat situ ada pasar, loh. Pasar Barukoto namanya. Ya aku amazed aja ngeliat ada pasar tapi jalanan di sekitarnya sepi. Hehehe...

Berdiri di lokasi Monumen Thomas Parr, terlihat sebuah menara di tengah alun-alun kota. Menara yang dinamai View Tower ini berfungsi untuk memantau tinggi gelombang laut. Maklum, Bengkulu adalah daerah rawan gempa dan tsunami. Menara setinggi 43 meter ini dilengkapi lift yang diperuntukkan untuk warga yang ingin menikmati pemandangan Bengkulu dari ketinggian. Sayangnya, waktu kami kesana, kami tidak melihat ada petugas yang menjaga menara. Padahal aku pengen mencoba naik ke atas. Kata Anis, beberapa waktu lalu saat dia kesini, dia juga engga ketemu ama penjaga menara. Atau mungkin awalnya ada penjaga, namun karena menara ini jarang dikunjungi jadi akhirnya si penjaga tidak lagi bertugas. Entahlah...

amazed menemukan menara cantik

Terkait kondisi Bengkulu yang rawan gempa, aku menemukan banyak "Tempat Berkumpul"  di sana. Eh, udah pada tau kan, maksud dari "Tempat Berkumpul" ini apa? Ada juga yang menyebutnya "Titik Bertemu". Soalnya niy ya, ada seorang temen -yang tak boleh disebut namanya- yang ngira kalo "Titik Bertemu" ini berfungsi sebagai tempat janjian kalo mau ketemu temen. Ini serius loh -_-" Kebayang aja kalo dia beneran janjian buat ketemu temennya di "Titik Bertemu" yang ada di depan kantor. Yang ada dia bakal dipandang aneh ama satpam yang posnya kebetulan deket situ. Secara engga ada tanda bahaya apapun, eh, dia bengong aja gitu disitu. Hihihi...

Oya, View Tower tadi terletak di pusat kota Bengkulu, di depan rumah dinas Gubernur Bengkulu. Di halaman rumah gubernur ini, terlihat beberapa rusa sedang merumput. Wah, kayak di Istana Bogor niy... Konon di bawah rumah yang dulu bernama Mount Felix (disinilah Thomas Parr pernah tinggal) ini terdapat terowongan rahasia yang tembus ke Fort Marlborough, melewati Monumen Thomas Parr. Hanya saja saat ini terowongan itu telah tertimbun oleh tanah.

Rumah Gubernur Bengkulu dengan rusa-rusa di tamannya

numpang duduk

Dari rumah Gubernur Bengkulu, kami menuju Rumah Kediaman Bung Karno di Jalan Soekarno-Hatta (sebelumnya bernama Jalan Jeruk). Rumah ini merupakan lokasi pengasingan Bung Karno setelah sebelumnya diasingkan di Ende, Flores. Pada masa 1940-an, Bengkulu dipilih karena akses yang sulit dan terpencil. Di rumah ini, Sukarno ditemani oleh istrinya, Inggit Garnasih dan anak angkatnya, Ratna Djuami.

di depan rumah kedua Bung Karno

disambut foto Sukarno dan Fatmawati

Di rumah ini pula Sukarno bertemu dan kemudian jatuh cinta pada teman Ratna. Dialah Fatmawati, gadis asli Bengkulu berumur 15 tahun yang kemudian menjadi istrinya sekaligus sang penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kisah ini ikut tertuang dalam film Sukarno yang sempat aku tonton beberapa waktu lalu. Pernikahan Sukarno dengan istri sebelumnya yaitu Inggit Garnasih pun berakhir dengan perceraian karena Inggit engga rela dimadu. Sedih deh ngeliatnya, apalagi alasan Sukarno menminta ijin menikah lagi adalah karena Inggit engga bisa punya anak :'(


bagian dalam rumah

rak ini berisi buku-buku tua

set meja kursi dibatasi pagar agar tidak diduduki

sepeda tua, bukan kereta tua, apalagi kereta malam #iniapalagi

di kamar Sukarno

permisi, mau minta air :p

bingung ama plang yang sebelah kiri

Oya, untuk bisa masuk ke dalam, para pengunjung ditarik 2500 per orang, sama seperti  di Fort Marlborough tadi. Dari rumah Sukarno, kami menuju rumah Fatmawati. Yang pertama terlintas dalam benakku saat melihatnya adalah : rumah Fatmawati di film Sukarno memang mirip banget ama rumah aslinya! Hehehe... Kebetulan pada saat kami berkunjung kesini, kami engga ketemu pengunjung lain, jadi bebas poto-poto. Hehehe...

rumah Fatmawati

mengisi buku kunjungan

di antara 2 pigura besar

dengan mesin ini Ibu Fatmawati menjahit bendera proklamasi

Cantiknya Sang Ibu Negara

di depan kamar Fatmawati

dipan bertirai yang bernuansa mistis

kenapa makin mistis yak?

Karena foto-foto yang ada makin mistis aja, kita foto di luar aja yuk.

"tamu yang aku tunggu udah datang belum, ya? intip dulu ah"

"Welcome to my house"

"Eh, langsung mau ngajak pergi? Oke deh"

Selanjutnya kami bersantai di Pantai Panjang. Sambil menikmati rujak dan es kelapa muda, kami melayangkan pandang ke arah pantai yang sepi pengunjung. Oya, tiap kali ngelewatin penjual rujak di Bengkulu, kami pasti mencium bau mangga kweni yang tajam, yang selalu bikin aku pengen brenti trus beli rujak lagi. Hehehe...

andai tiap hari bisa kayak gini...

ungu-ungu unyu :D

a private beach? :)

Oya, di pinggir jalan sepanjang pantai, ada banyak penginapan  berbentuk cottage yang aku liat. Sepertinya hotel-hotel ini sekaligus merupakan tempat dugem, cos di depan sebagian besar hotel tersebut ada billboard gede yang memajang foto para DJ yang akan memeriahkan acara malam disana. Penampilan para FDJ (Female DJ) di foto tersebut bervariasi, ada yang make up-nya to the max, ada juga yang cuma bergaya ala abg alay.

ini abg alay ato FDJ yak?

yang ini udah nyaris mirip FDJ ibukota lah

salah satu hotel di seberang Pantai Panjang

pepohonan ini memisahkan pantai dengan jalan raya

Pantai berikutnya yang kami datangi adalah Pantai Pasir Putih. Disini aku ketemu ama Doraemon jadi-jadian. Kenapa aku bilang jadi-jadian? Abis dia berwarna pink en punya kuping. Mau bilang kalo dia Dorami, adiknya Doraemon yang berwarna pink, penampakannya kok beda ya? "Doraemon" itu ditemani seorang tukang foto yang menawarkan foto bareng *ama "Doraemon" lah, bukan ama tukang fotonya* dengan membayar 20ribu. Hasil fotonya langsung dicetak gitu deh. Engga aku iya-in siy, tapi aku minta foto bareng pake Tab-ku aja. Jadinya aku diminta membayar 5ribu per klik. Baiklah...

bersama "Doraemon"

"Doraemon" ini iseng banget, suka ngejar-ngejar kita gitu. Tapi jadinya lucu buat diabadikan.

isn't he so cute? :D

Sebenarnya di pantai Pasir Putih itu, engga cuma ada "Doraemon", tapi ada Spongebob en 1 kucing berwarna biru yang entah siapa namanya. Tapi yang paling lucu penampilannya emang Si "Doraemon" ini.

Di Bengkulu masih ada beberapa pantai lain yang cuma kami lewati sekilas, yaitu Pantai Jakat (disini pengunjung bisa menyewa banana boat ato jetski) dan Pantai Malabero yang merupakan kampung nelayan.

Pantai Malabero

masih Pantai Malabero

Di Pantai Malabero, banyak rumah makan pinggir pantai. Konsepnya agak mirip dengan di Jimbaran, Bali, walo tempat makan yang tersedia engga seluas disana. Di pinggir jalan juga banyak penjual ikan kering.

maap, ngambil potonya saat motor masih jalan

Tujuan kami berikutnya adalah Mie Pangsit Ayam Keriting Siantar. Pangsit mie-nya emang engga seenak Pangsit Mie Bromo Pojok yang aku nikmati di Malang, tapi tetep maknyus lah :D Mie disini disajikan bersama telur pindang. Mie-nya sendiri seharga 12ribu, sedangkan telurnya 3ribu. Aku sempat meminta 1 porsi pangsit lagi. Hehehe...

nom...nom...

Selanjutnya kami kembali ke Pantai Tapak Paderi, karena Anis mendadak pengen surfing lagi. Mungkin karena surfing-nya tadi pagi bentar banget kali, ya. Sebelum ke pantai, kami mampir dulu ke rumah Mba Devi, sesepuh TPSC (Tapak Paderi Surf Community) dimana Anis bergabung, yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai. Disana Anis berganti pakaian kemudian mengambil papan surfing-nya yang memang sering dititipkan disana. Dengan Anis menyetir motor, aku yang duduk di belakang menenteng surfboard milik Anis.

pake sunblock dulu

Kami di pantai sampai menjelang matahari terbenam.

sunset di langit yang agak mendung

Abis surfing, kami kembali ke rumah Mba Devi. Kami mengobrol dulu dengan beberapa teman disana. Bang Wawan, suami Mba Devi yang juga surfer sempat menyuruhku berlatih surfing besok pagi. Selagi di Bengkulu, katanya. Walah, aku kan engga bisa berenang! Eh, tapi ternyata untuk bisa selancar engga harus bisa renang loh. Yang penting engga takut air en engga gampang panik. Hmm, baiklah...

Karena para surfer itu juga suka musik, jadilah agenda malam itu berlanjut dengan nge-jam di sebuah studio musik. Aku jelas ikut buat jadi vokalis, bergantian dengan Anis. Lumayan, menyalurkan hobi :p Lagu-lagu yang sempat aku nyanyikan yaitu Kiss Me - Sixpence None The Richer, A Thousand Years - Christina Perri, Hysteria - Muse, dan Leaving On A Jet Plane - Chantal Kreviazuk.

let's sing!

pada ndeprok di lantai

Anis sempet nge-drum juga

Mba Devi nyanyi "Kereta Malam"

Pulangnya, aku, Anis, ditemani Yuki, temen sebelah kamar Anis di kost yang juga pecinta surfing yang tadi ikut nge-jam juga, mampir ke Warung Selera Sambal untuk menyantap ikan nila goreng. Asekkk...

enakkk

Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk belajar surfing. Sebenarnya kemarin Denny, seorang temen dari TPSC udah janji mau ngebawain soft top buat aku berlatih. Oya, Si Denny ini suka manggil aku dengan sebutan "Ayuk" yang merupakan panggilan untuk kakak perempuan di daerah Sumatera Selatan. Karena belum familier dengan panggilan ini, aku sering engga ngeh en setelah dipanggil berkali-kali baru deh aku nyadar kalo aku lagi dipanggil. Hihihi... maafkan saya...

Tentang soft top surfboard, ini merupakan jenis papan selancar yang sering digunakan untuk belajar surfing. Papan ini terbuat dari foam yang sangat ringan, mudah mengapung, stabil di air sehingga mempermudah bagi pemula untuk berdiri di atasnya. Fin yaitu siripnya pun terbuat dari karet sehingga lunak dan aman untuk mengurangi dampak kecelakaan. Kecelakaan yang aku maksud disini adalah terbentur papan saat berlatih. Hehehe...

Sayangnya, pagi itu Denny berhalangan datang. Jadilah aku berlatih surfboard milik Bang Wawan yang berukuran agak gede, beda ama surfboard yang biasa dipake Anis. Tapi karena board-nya Bang Wawan kegedean kalo diajakin poto, aku pinjem punya Anis aja buat take photo. Hihihi...

surfboard yang aku pake

Maap, engga ada foto waktu di pantai gara-gara segala barang berharga kami titipkan di rumah Mba Devi selama kami main di pantai. Engga terasa, nyaris 2 jam kami di air. Hasil  belajar surfing-ku masih mengenaskan. Aku baru bisa menyeimbangkan badan di atas papan. Buat bisa seimbang aja susahnya minta ampun. Gile, padahal cuma ngangkat badan aja ke atas papan yang sudah mengapung di air. Sempat siy, meluncur mengikuti gerakan ombak sampai nyaris ke tepian. Tapi buat meluncur ini pun bisanya kalo didorong dari belakang.

Jadi boro-boro bisa surfing, latihan berdiri di atas papan aja belum! Tapi untuk mampu berdiri tegak di atas papan selancar, memang butuh waktu yang engga singkat. Dengan porsi latihan sekitar 2 jam sehari, rata-rata peselancar pemula membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk bisa berdiri di atas papan (sumber dari sini). Tegak disini bukan tegak kayak lagi upacara ya. Tapi posisi berdiri merendah (seperti kuda-kuda), tangan di atas pinggang, mata menuju ke depan, karena peselancar akan jatuh kalo mata melihat ke bawah ato menunduk (sumber dari sini).

Bagaimanapun, aku sangat berterima kasih pada Anis dan juga Reza en Bayu, para surfer yang udah ngajarin aku. Maafkan murid kalian yang bodoh ini yang cuma bisa bolak-balik jatuh en menelan air laut. Hihihi...

Keluar dari air, kami engga langsung balik ke rumah Mba Devi, tapi duduk-duduk dulu sambil menikmati kelapa muda, teh botol, dan opak.

Ketika matahari sudah tinggi, kami menumpang mandi di rumah Mba Devi, kemudian pergi makan. Kali ini kami ingin menikmati Mie Aceh. Mampirlah kami ke Warung Kopi Rumoh Atjeh. Disana aku memesan Mie Aceh goreng kepiting dan es teh kopi susu mint.

nampang :p

minta tolong dipotoin mas waiter :D

closer look to my "Mie Aceh goreng kepiting"

Selesai makan, kami berangkat ke Danau Dendam Tak Sudah. Mba Devi sempat menceritakan legenda yang menjadi asal-usul nama unik dari danau ini. Ada 2 kisah. Yang pertama tentang sepasang kekasih yang tinggal di kampung yang berseberangan, dipisahkan oleh danau. Kisah cinta mereka tidak direstui oleh orang tuanya. Pada suatu ketika, mereka janjian buat ketemu di tepi danau. Si cewek yang datang duluan duduk menunggu di sebuah tikar. Ternyata tikar yang didudukinya adalah ular siluman yang menyerupai tikar. Ia pun mati digulung oleh tikar tersebut. Keluarga si cewe menuduh bahwa keluarga si cowo-lah yang mengirim ular tikar tersebut, sehingga mereka menjadi dendam pada keluarga si cowo.

Kisah kedua masih tentang sepasang kekasih yang cintanya juga tidak direstui orang tua. Pada suatu hari, si cewe pergi ke danau dan tenggelam. Keluarga si cewe menuduh kelurga cowo-lah yang menyebabkan ia tenggelam, entah dengan cara bagaimana. Dendamlah mereka pada keluarga si cowo. Selanjutnya si cowo bunuh diri, mungkin merasa terlalu sedih atas kematian si cewe. Dengan demikian, dendam kedua keluarga tak juga berakhir.

Bang Wawan yang sempat nimbrung dalam obrolan kami memiliki versi sendiri. Pada jaman dahulu, di danau ini akan dibuat bendungan. Namun pada kenyataannya, pembangunan bendungan atau dam ini terhenti atau tidak pernah selesai. Masyarakat sekitar menyebutnya “Dam Tak Sudah”dan entah bagaimana lama-kelamaan penyebutannya berubah menjadi “Dendam Tak Sudah”.

Di danau ini, lagi-lagi kami memesan kelapa muda. Hehehe...

Danau Dendam Tak Sudah

Oya, Bengkulu terkenal dengan bunga Rafflesia Arnoldi-nya. Sayang pada saat aku kesana, bunga terbesar di dunia itu sedang engga mekar. Sebagai informasi, masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya ± 1 minggu. Setelah itu Raflesia Arnoldi akan layu dan akhirnya mati. Jadilah kami engga berkunjung ke lokasi tumbuhnya yang memang lumayan jauh dari kota (sekitar 1 jam, kata Anis).

Menyebut dirinya sebagai Bumi Rafflesia, gambar bunga ini bisa kita temukan dimana-mana. Salah satunya di sebuah tugu entah apa di dekat Fort Marlborough.

31 Januari, belum keliatan judulnya

Besoknya, judul dari tugu itu baru keliatan. Ternyata tugu ini merupakan Tugu Pers Bengkulu yang baru aja didirikan, karena pada bulan Februari 2014 ini Bengkulu menjadi tuan rumah Peringatan Hari Pers Nasional 2014.

1 Februari, udah keliatan judulnya!
Kami menghabiskan sore di Pantai Panjang, dimana Anis kembali melakukan hobi surfing-nya. Aku sendiri duduk-duduk saja menanti sunset di tempat yang sama dengan kemarin, sambil menikmati es durian yang sempat kami beli dalam perjalanan kesini. Sayangnya si penjual engga membekali kami sendok plastik, jadi potongan-potongan duriannya engga bisa aku makan saat itu juga. Sisa separo es durian itu pun aku masukkan lagi ke dalam plastik.

menanti sunset

the same hammock

beautiful...

Malamnya, aku sempat mampir membeli oleh-oleh di daerah Anggut Atas.

yang dibawa pulang...

Sekitar jam 9 malam kami kembali ke rumah Mba Devi untuk menikmati ikan  yang dibakar sendiri di rumah Mba Devi untuk merayakan ulang tahun Bang Wawan. Ikan bakar ditemani sambal spesial buatan Nenek terasa sangat lezat!

impiannya Bang Wawan beristri tiga yak? :))))

everybody happy!!

Mba Devi nyuruh aku ngambil 2 ikan >.<

poto lageee

Kenyang makan-makan, ditemani ubi yang dimakan dengan mentega dan gula, kami nongkrong di pinggir jalan sambil menyanyi diiringi gitar. Walopun aku adalah orang asing yang bukan siapa-siapa dan bahkan bukan seorang surfer, temen-temen di TPSC memperlakukanku seakan aku udah kenal lama dengan mereka. Mba Devi, bersama Mba Ivana yang juga anggota TPSC juga sempat menunjukkan foto-foto yang diambil saat temen-temen TPSC surfing bareng di beberapa tempat, misalnya foto ini.

warna background-nya keren!

Baru sampai di rumah jam 12, aku langsung teringat sesuatu. Apa kabar separo es durian yang tadi terlupakan? Aku mencoba memakan sepotong kecil duriannya. Hwaaa, udah asem >.< Rasanya engga rela untuk membuangnya begitu saja, tapi daripada besok ada berita "2 gadis tergeletak tak bernyawa di kost berlantai 4 di Bengkulu karena memakan es durian basi", terpaksa kami melemparnya ke tempat sampah. Trus bobo deh.

Keesokan paginya aku kembali ke Jakarta.Aku meninggalkan Bengkulu tidak hanya dengan badan yang pegel-pegel plus sedikit gosong, tapi juga membawa kenangan akan kehangatan dan kekeluargaan di TPSC. Mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa kembali kesini...

foto terakhir di Bengkulu

5 comments :

dian_ryan said...

akh...seru banget sih mba isti jalan2nya...

yang aku bingung mba isti kan makan2 melulu tuh, tapi ko masih langsing aja tuh badan, trus makanannya pada kemana itu....

HM Zwan said...

hiyyyyaaaaa......komplit banget reportsenya mbk,pinginnn ke bengkulu nih jadinya ^^

isti thoriqi said...

@ Mba Dian : Hahaha...asekkk...dibilang langsing ama Mba Dian ^^ Mba Dian juga jalan-jalan mulu tuh :D
@ Mak Hana : Yuk, mari mba, ke Bengkulu ;) Niy masih ada beberapa spot yang belum aku datengin loh :p

Ridho Prayoga said...

Ikut dong

isti thoriqi said...

Monggo langsung ke Bengkulu :)

Post a Comment