Container Icon

Mengejar Bus ke Ho Chi Minh City

Bagaimana rasanya ketinggalan bis? Pasti panik! Lebih panik lagi jika tragedi ketinggalan bis ini terjadi di negara orang yang mana faktor bahasa turut menjadi kendala. Pengalaman ini aku alami bersama Mba Via ketika sedang berada di Phnom Penh, Kamboja dan berencana melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. 

instaweather Phnom Penh tapi berlatar Night Market di Siem Reap :p

Penjelajahan di Siem Reap, Kamboja sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Karena keterbatasan waktu, kami memang tidak berencana untuk berlama-lama di Siem Reap. Cukup sehari semalam saja. Rencana selanjutnya adalah meneruskan perjalanan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Sebenarnya tersedia bus yang dapat langsung mengantarkan kami ke Ho Chi Minh City, yaitu Mekong Express. Jadwal keberangkatan bus tersebut dari Siem Reap adalah jam 7.30. Dalam sehari, hanya ada 1 kali pemberangkatan. Hanya saja, karena kami juga ingin melihat-lihat kota Phnom Penh yang merupakan ibukota negara Kamboja, kami memutuskan untuk membeli tiket bus lain yang berhenti di Phnom Penh.

Agar rencana bisa berjalan dengan baik, dari awal kami tiba di Siem Reap, kami telah memesan bis menuju Phnom Penh kepada petugas hotel. Kami meminta bus dengan jadwal paling pagi. Selanjutnya petugas hotel melakukan percakapan melalui telepon dengan bahasa Khmer yang tak kami pahami. Tak lama kemudian, ia menjelaskan bahwa bus yang kami minta akan menjemput kami pada pukul 5.15 keesokan paginya. Setelah mendapatkan kejelasan mengenai jadwal bus, kami pun memulai petualangan kami di Siem Reap. 

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah bersiap menanti kedatangan bus yang akan mengantar kami ke Phnom Penh. Anehnya, bus tersebut tak kunjung menampakkan diri padahal sudah jauh melewati jadwal yang dijanjikan sebelumnya yaitu pukul 5.15. Kami meminta tolong pada petugas hotel untuk melakukan konfirmasi kepada kantor bus tersebut. Hasilnya, kami mendapat penjelasan bahwa bus memang sedikit terlambat.

Akhirnya pada pukul 6.15, muncullah bus yang kami tunggu-tunggu. Sialnya, bus yang menjemput kami ternyata merupakan shuttle bus. Kami hanya diantar ke terminal untuk kemudian berganti bus lain. Dari rencana semula yang mana kami mengira pukul 5.15 bisa langsung berangkat ke Phnom Penh, kenyataannya kami baru bisa berangkat pada pukul 7.

Perjalanan ke Phnom Penh memakan waktu 6,5 jam, sedikit lebih lama dari perkiraan kami yaitu 6 jam. Tiba di pangkalan bus di Phnom Penh pukul 13.30, kami sudah merasa sedikit panik. Hal ini dikarenakan jadwal keberangkatan bus Mekong Express dari Phnom Penh adalah pukul 14.30. Memang masih ada 1 jam tersisa. Namun lokasi pemberangkatan bus Mekong Express yang berbeda dengan lokasi dimana kami tiba menyebabkan kami langsung membatalkan rencana city tour kilat di Phnom Penh.

Masalah berikutnya muncul karena kami tidak tahu pasti darimana bus Mekong Express akan berangkat. Mencoba bertanya pada karyawan armada bus yang berada di dekat kami, ternyata dia mengaku tidak tahu. Kami pun mendatangi segerombolan tukang ojek. Sayangnya tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berbahasa Inggris. Hmm, penduduk lokal di Phnom Penh ternyata berbeda dengan yang kami temui di Siem Reap. Penyedia jasa untuk turis di Phnom Penh tidak begitu cakap berbahasa Inggris.

Tak berputus asa, kami mendatangi sebuah warung yang terletak di dekat pangkalan bus. Bertanya kepada sekumpulan pria yang duduk disana, “Does anybody here speak English?” Syukurlah, salah seorang pria disana bisa berbahasa Inggris. Mba Via menjelaskan secara singkat permasalahan kami. Untungnya pria tersebut cepat tanggap dan kebetulan mengetahui dimana lokasi pemberangkatan bus Mekong Express. Pria itu mendatangi 2 tukang ojek yang mangkal di dekat kami, kemudian menjelaskan arah kepada mereka. Tukang-tukang ojek pun memberikan anggukan tanda mengerti.

Dengan kecepatan tinggi, 2 sepeda motor yang kami tumpangi melaju membelah kota Phnom Penh. Dalam hati aku merasa sedikit ketakutan. Maklum, cara mengemudi mereka bisa dibilang ugal-ugalan. Berkali-kali aku merapal doa dalam hati. Ya Allah, aku tidak mau mati di negeri orang…

Walaupun merasa ketakutan, aku tidak rela melepaskan kesempatan menikmati pemandangan di sekeliling. Ternyata keinginan kami untuk sekilas city tour tercapai juga, meskipun tidak disengaja.  Kami melalui jalan-jalan besar yang tengah-tengah ruas jalannya dibangun taman. Di Phnom Penh sendiri memang banyak terdapat taman yang nyaman. Disediakan kursi-kursi agar warga bisa duduk sambil menikmati kehijauan yang berbaur dengan suasana kota. Kami juga melewati gedung parlemen dan beberapa kantor Kementerian. Sayang karena sedang berada di atas sepeda motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, kami tidak mungkin bisa mengambil gambar.

Tiba di tempat yang diduga merupakan lokasi pemberangkatan bus Mekong Express, kedua tukang ojek menghentikan laju motornya. Kami melayangkan pandangan ke sekitar. Memang daerah situ merupakan jajaran tour and travel, namun tetap saja kami tidak menemukan sosok bus yang kami cari. Rasa panik semakin meningkat. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 14.00.

Setelah bertanya kepada seseorang yang ditemui di pinggir jalan, kami kembali melaju. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan sebuah bus yang didominasi warna oranye. Kami curiga kalau itu adalah bus yang seharusnya kita sekarang berada di dalamnya. Sampai di kantor agen Mekong Express, kami langsung bertanya kepada petugas. Ternyata benar, bus yang tadi sempat kami lihat di jalan adalah bus Mekong Express yang menuju Ho Chi Minh City.

bus Mekong Express (gambar dari sini)

Lemaslah kami berdua. Karena seperti sudah aku ceritakan sebelumnya, dalam satu hari hanya tersedia satu jadwal keberangkatan. Mengenai informasi jadwal keberangkatan jam 14.30 yang kami miliki, hmm, mungkin ada yang salah dengan info tersebut, karena nyatanya bus berangkat setengah jam sebelumnya. Pilihan untuk bermalam di Phnom Penh benar-benar tidak ada dalam rencana kami, bahkan untuk plan B sekalipun.

Melihat kekecewaan yang jelas terbaca di raut muka kami, salah satu petugas di kantor agen tersebut menawarkan bantuan untuk menghubungi kondektur bus, lalu memintanya berhenti di kantor agen yang berada di lokasi lain, untuk selanjutnya menunggu kedatangan kami disana. Tanpa berpikir dua kali, kami langsung mengangguk setuju. Setelah melakukan percakapan singkat melalui ponselnya, petugas tadi memberikan arahan kepada 2 tukang ojek yang masih setia menemani kami. Sekali lagi, kami melaju dengan kecepatan tinggi di atas motor. Kali ini kami yakin kami sudah berada di jalan  yang benar.

Beberapa waktu kemudian, sampailah kami di lokasi kantor agen Mekong Express yang berada di bagian lain kota. Kami menyerahkan sejumlah uang kepada 2 tukang ojek yang telah bekerja keras mengantarkan kami sampai tujuan. Tambahan uang telah kami sertakan di dalamnya, sebagai ungkapan rasa terima kasih kami atas ketulusan mereka.

Kondektur bus Mekong Express menyambut kami dengan ramah. Ketika kami dan semua barang bawaan kami telah aman di dalam bus, berangkatlah bus oranye tersebut menuju kota tujuan kami, Ho Chi Minh City. Akhirnya kami pun bisa bernafas lega.

Akhir cerita, kami tiba di Ho Chi Minh City, Vietnam jam 19.30 waktu setempat. Yang kami lakukan adalah mencari restoran yang menyediakan free wifi agar kami bisa mengirim email ke pihak hotel. Hehehe... Selanjutnya, semua berjalan lancar, Alhamdulillah...

foto ini diambil keesokan harinya, berlatar jalanan depan hotel

Keterangan :
Tulisan senada pernah dimuat di Kompasiana, dengan judul yang sama. Sebelum mem-posting ulang disini, ada beberapa editan yang aku lakukan. Beberapa bagian tulisan dihilangkan karena sudah dimasukkan dalam tulisan sebelumnya.

2 comments :

Hana said...

Hehehe...serunyaaa dinegeri orang ya mbk ^^.itu vespanya lucu hehe

isti thoriqi said...

Bikin deg-degan... Tapi yang begini ini yang bikin traveling berkesan, ya, mba hana, hehehe...
Iyaaa... pas banget, pas kita foto ada vespa lucu lewat :p

Post a Comment