Container Icon

Melongok Angkor Wat di Kamboja

Udah lama niy, engga nulis tentang traveling. Kita flashback agak jauh, yuk! Di bulan April 2013 kemarin, aku en Mba Via maen-maen ke Siem Reap, Kamboja. Awalnya kami engga ada rencana kesana. Sebagai impulsive buyer akan tiket murah, waktu Air Asia menggelar promo, kami membeli tiket ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Eh, lha kok tak dinyana, beberapa bulan menjelang keberangkatan, rute Jakarta - Ho Chi Minh City ditiadakan. Kalo saat itu kami membeli tiket pulang HCMC - CGK, mungkin engga bakalan ada masalah, tinggal di-refund dua-duanya gitu. Yang bikin pusing adalah, dikarenakan tiket pulangnya waktu itu bukan harga promo, kita pulang via Kualalumpur. Mau ngehangusin tiket pulang kok sayang juga, secara masing-masing udah beli 2 tiket, gitu (HCMC - KUL en KUL - CGK).

Akhirnya kami putuskan untuk menambah jumlah hari dalam cuti kami dan menyempatkan berkunjung ke Kamboja, sebelum melanjutkan perjalanan ke Vietnam. Kota Siem Reap di Kamboja menjadi pilihan karena disana terdapat Angkor Wat yang merupakan salah satu situs warisan dunia, seperti yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Kami penasaran dengan penampakan asli Angkor Wat yang sempat dijadikan lokasi syuting Tomb Raider (dibintangi oleh Angelina Jolie). Padahal aku sendiri belum pernah nonton film yang jagoannya bernama Lara Croft itu, loh, hihihi... Btw, beberapa temenku merasa heran dengan tujuan traveling  kami yang engga biasa ini. Yah, alasannya adalah karena Jepang sudah terlalu mainstream.
#yang bener karena duitnya engga cukup buat ke Jepang
#lagian kenapa tiba-tiba nyambung ke Jepang yak

Karena Mba Via stay di Bandung dan aku di Jakarta, kami janjian untuk bertemu di KLIA. Aku tiba di KLIA menjelang tengah malam. Flight ke Siem Reap dijadwalkan pukul 6 keesokan harinya. Daripada menginap di hotel hanya untuk beberapa jam, kami memutuskan untuk menginap di bandara saja. Lumayan lah, mengirit beberapa ringgit. Setelah makan di McD, kami pun menggelar alas tidur di sebuah sudut bandara. Jangan ngebayangin alas tidur yang hangat dan nyaman ya, karena kami masing-masing hanya membawa selembar kain pantai. Satu digunakan sebagai alas, satunya lagi sebagai selimut. Dan voila, jadilah "kamar" sementara kami di bandara!

yang ijo gede itu tempat sampah -_-"

Kesalahan kami saat itu adalah engga terpikir buat check in dulu. Kalo udah check in, kami bisa menginap di bagian dalam bandara, yang mana tentunya lebih nyaman. Tapi ya sudahlah... Kapan lagi dapet pengalaman kebangun pagi-pagi dengan pemandangan papan pengumuman jadwal keberangkatan pesawat di atas kita. Hihihi... #sungguh pengalaman yang tidak penting
 
Yang pertama kali kami lakukan setelah membereskan peralatan tidur kami adalah cuci muka, gosok gigi, trus sholat. Awalnya mau mandi, tapi ternyata toilet yang terdekat dengan tempat kami "bermalam" tidak memiliki fasilitas shower di dalamnya. Alhamdulillah ya, di antara kami berdua engga ada yang bermasalah dengan BB, hehe... Abis sholat, lanjut sarapan. Menu yang kami pilih adalah Marry Brown. Kemudian check in, deh!

belinya menu paket yang paling murah :p

Kualalumpur - Siem Reap ditempuh dalam waktu 2 jam. Seperti biasa, di dalam pesawat kami mengisi Arrival Card untuk diserahkan ke petugas bandara saat kami tiba di Siem Reap nanti.

gambarnya aja udah Angkor Wat, tuh :D

Sesampai di Cambodia Airport, kami disambut tulisan-tulisan keriting yang merupakan alfabet Khmer. Penampakannya mirip dengan alfabet Thai.
tiba di Cambodia Airport

Keluar dari bandara, kami mencari seseorang yang membawa papan nama bertuliskan nama Mba Via. Sebelum berangkat traveling, kami memang sudah memesan kamar di sebuah hotel yang menyediakan fasilitas free airport pick up. Jangan ngebayangin kami dijemput pake mobil, ya. Jemputan yang ini lebih seru, karena merupakan kendaraan tradisional. Namanya tuktuk, bentuknya menyerupai delman namun ditarik oleh sepeda motor. Yah, perpaduan antara delman dan bentor, lah. Bentor alias becak bermotor bisa kita temui di beberapa kota di Indonesia.

saat berpapasan dengan tuktuk-tuktuk lain

Dari bandara, kami langsung menuju hotel. Sepanjang perjalanan, kami melewati jalan yang terbilang sepi. Hmm, mungkin karena bukan sedang musim liburan, kali, ya? Di dekat bandara banyak terdapat hotel mewah. Wah, para pemilik hotel itu niat juga ya, bikin hotel keren-keren gitu, mengingat kota ini sepi tidak terlalu ramai.

Oya, tentang hotel, kami memilih Reflection Boutique Hotel. Pertimbangan memilih hotel ini adalah karena interiornya yang unik cenderung unyu. Oya, kami memesan kamar lewat agoda, dapet harga US$ 32.24. Di website-nya, dia menyebut dirinya sebagai Siem Reap's most stylish contemporary hotel. Kalo di hotel lain biasanya menggunakan penomoran untuk tiap kamarnya, disini menggunakan penamaan. Kami mendapatkan kamar berjudul "From Belgium with Love". Hmm, penampakannya seperti apa, ya...

disambut boneka beruang di dekat gerbang masuk

ini di lobi, bukan tempat persewaan DVD


duduk dulu bentar ah...

kamar kami di pojokan... kalo gini kayak rumah kos-kosan yak

"pemandangan" di depan kamar kami

penampakan kamar kami...lupa belum nyingkirin jaket2 :p

masih di kamar kami

tirai polka di kamar mandi, love it!

Tidak berlama-lama di kamar, kami memutuskan untuk segera memulai penjelajahan. Angkor Wat tentunya menjadi jujugan pertama. Tujuan kami ke Siem Reap memang kesini, kan? Untuk berkunjung ke Angkor Wat, ada tiga pilihan jumlah hari yang ditawarkan. Wisatawan bisa memilih paket 1 hari, 3 hari dalam seminggu (US$ 40), atau 7 hari dalam sebulan (US$ 60). Tidak heran bila tersedia pilihan 7 hari, mengingat luasnya kompleks kuil yang ada, yaitu 24 km2.

informasi di loket pembelian tiket

Pilihan kami? Cukup 1 hari saja. Setelah membayar US$ 20, kami difoto kemudian diberi Angkor Pass yaitu sebuah kartu yang memuat periode kunjungan kami. Satu kartu hanya bisa digunakan oleh 1 orang. Itulah mengapa kartu ini juga memuat foto kami. Jadi tidak ada kecurangan yang bisa dilakukan, misalnya kita keluar kompleks lalu meminjamkan kartu ini pada teman lain agar bisa memasuki kompleks kuil dengan gratis. Kartu ini harus ditunjukkan kepada petugas setiap kali kami akan memasuki sebuah komplek kuil.

Angkor pass

berlatarbelakang kompleks kuil yang lagi direnov

para biksu di belakang itu lagi poto-poto juga, loh

bersama Mba Via

Mba Via heboh motret-motret

Ta Prohm Temple, tempat syuting Tomb Raider

Angelina Jolie sebagai Lara Croft dalam Tomb Raider

Capek berkeliling kuil, kami mampir membeli buah mangga dingin yang dijual seharga US$ 1 per buah. Tentunya penjual langsung mengupaskan mangga itu untuk kami sehingga bisa langsung dikonsumsi.

Kami hanya meluangkan beberapa jam saja di Angkor Wat. Maklum, keterbatasan waktu. Plus bosen. Lha dimana-mana cuma ketemu kuil. Ya iya lah, namanya juga kompleks candi Hindu terbesar di dunia (walo sekarang Kamboja merupakan negara dengan penduduk yang mayoritas memeluk agama Buddha)!. Eh, tapi kabarnya Candi Muaro Jambi di Jambi memiliki luas 2 kali lipat dibandingkan Angkor Wat, loh. Tapi saat aku menyempatkan diri berkunjung kesana (ke Muaro Jambi maksudnya), kelihatannya tidak seluas itu. Mungkin karena masih banyak candi yang terkubur di dalam tanah. Saat ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi sedang berjuang memasukkan Candi Muaro Jambi ke dalam daftar warisan dunia (World Heritage List), menyusul Candi Borobudur dan Prambanan.

di depan peta kawasan Percandian Muaro Jambi

latar belakang : Candi Tinggi di Muaro Jambi

Setelah flashback ke Jambi sebentar, kita kembali ke Kamboja. Setelah menjelajahi kuil-kuil di Angkor Wat, kami juga melakukan sightseeing ke sekeliling kota. Di Kamboja terdapat beberapa museum, namun karena harus merogoh kocek untuk bisa masuk kesana, kami pun melewatkannya saja. Sebagai gantinya, kami berkunjung ke Artisans Angkor yang merupakan workshop pembuatan kerajinan Kamboja yang juga memberdayakan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik (disable).

salah satu pekerja di Artisans Angkor

Alfabet Khmer dalam isyarat tangan

Artisans Angkor berperan serta dalam restorasi Angkor Wat

Kami juga mampir ke Senteurs d'Angkor, yaitu workshop pembuatan suvenir dan kerajinan Kamboja. Lah, apa bedanya sama Artisans Angkor, dong? Kalo Artisans Angkor, kerajinannya lebih fokus ke pahatan batu dan kayu (stone and wood carving) karena bertujuan untuk mengembalikan kejayaan masa lalu Kamboja yang memang tersohor dengan pahatan-pahatan relief di kompleks kuilnya yang luas itu. Walopun demikian, disana juga ada pembuatan benda seni lainnya seperti lukisan, kerajinan perak, dan lain-lain.

Nah, kalo Senteurs d'Angkor, kerajinannya lebih "ringan", lah, sebangsa anyaman, sabun dan lilin aromaterapi, serbuk bumbu dapur (hasil ekstraksi), gitu, deh. Kami berkeliling tempat workshop ditemani oleh seorang guide.

masuknya free, loh!

para pekerja sedang membuat anyaman

kotak anyaman kayak gini disebut "smok"

sabun dari bahan-bahan alami

bumbu-bumbu dapur dan hasil ekstraksinya

semua dalam bentuk serbuk

Ada satu jenis tanaman yang sering banget disebut-sebut oleh guide yang menemani kami. Yaitu lemongrass alias serai. Di tempat workshop pun, kami banyak menemukan tanaman serai tersebut. Mungkin serai ini adalah salah satu tanaman yang menjadi bumbu favorit dalam berbagai kuliner Kamboja, ya? Hehehe... Setelah puas berkeliling, kami disuguhi minuman di kafe depan workshop. Nama "lemongrass" masih terngiang di telingaku, sehingga aku memesan lemongrass ice tea.

Yang jadi background... lemongrass juga, hehe

Sebelum meninggalkan Senteurs d'Angkor, kami memasuki artshop-nya. Engga enak juga udah diajakin keliling trus disuguhin minuman tapi engga membeli apa-apa. Ketika kami berkeliling sambil menimbang-nimbang apa yang perlu dibeli, para pegawai di dalam artshop memperhatikan kami. Kemudian tiba-tiba mereka sudah berada di dekat kami. Salah satu dari mereka bertanya, "Where do you come from?" Kami pun menjawab, "Indonesia". Mimik mereka terlihat sedikit bingung. Kami curiga baru kali ini ada wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke workshop ini.

Lalu salah satu dari mereka bertanya lagi, apakah semua perempuan di negara kami memakai kain penutup kepala (maksudnya jilbab) seperti yang kami gunakan. Teman-temannya bersiap menyimak jawaban kami. Kami pun menjelaskan bahwa kami memakai jilbab ini based on our religion, not our tradition. Haduh, maap pake bahasa Inggris, lha aku bingung gimana ngejelasinnya dalam bahasa Indonesia >.< Yang tidak kami sangka-sangka adalah selanjutnya mereka menyatakan bahwa jilbab yang kami pakai ini makin menambah kecantikan kami. Asekkk, dipujiii... tengkyuuu... hehehe... Alhamdulillah...

Kami membeli solid perfume mungil yang memiliki kemasan unik seharga US$ 7. Aku memilih aroma teratai. Selesai membayar di kasir, kami pun meninggalkan Senteurs d'Angkor.

Oya, segala penjelajahan hari ini disponsori oleh tuk-tuk sewaan. Mau tahu berapa duit yang kami keluarkan untuk meminta tukang tuktuk mengantar kami berkeliling itu? Adalah sebesar US$ 15. Kami rasa bisa dibilang murah secara penjelajahan kami menghabiskan waktu berjam-jam. Tukang tuk-tuk yang kami sewa bisa dibilang cakap berbahasa Inggris. Ternyata bahasa Inggris memang lumrah digunakan di Siem Reap. Hal ini mungkin dikarenakan Siem Reap merupakan salah satu destinasi wisata populer bagi turis mancanegara, sehingga para penduduk, terutama yang menyediakan jasa untuk turis, terbiasa menggunakan bahasa Inggris.

Kami sempat mengajak tukang tuk-tuk makan siang bersama. Kami memilih KFC sebagai menu makan siang kami. Daripada bingung menentukan mana makanan yang halal, mana yang tidak, mendingan kami cari aman saja.

jauh-jauh ke Kamboja, makannya di KFC juga :p

Ketika membayar makanan, aku merasa sedikit aneh. Jadi begini, Kamboja memiliki mata uang sendiri yaitu Riel. Namun mata uang Dollar Amerika sangat diterima disini. Bila uang yang kita bayarkan ternyata harus mendapat kembalian, bisa jadi uang kecil yang kita dapatkan adalah campuran antara Riel dan Dollar Amerika. Memang agak sedikit membingungkan, jadinya. Tapi kami tak ambil pusing untuk memperhitungkan kembalian yang kami dapatkan. Kami memilih percaya saja dengan kasirnya. Oya, di nota yang kami dapatkan, juga tertera secara rinci tentang kembaliannya, berapa Dollar dan berapa Riel.

Saat menu yang kami pesan sudah tersaji di meja, lagi-lagi ada pengalaman unik yang kami alami. Aku dan Mba Via langsung menggunakan tangan untuk menikmati ayam dan nasi tersebut. Sedangkan si tukang tuk-tuk menggunakan sendok dan garpunya. Menurut si tukang tuk-tuk, penjajahan Prancis membawa pengaruh besar kepada kebudayaan penduduk Kamboja, sehingga ketika duduk di meja makan, mereka terbiasa untuk selalu menggunakan sendok dan garpu. Ooo, begitu, ya...
Puas mengelilingi kota, sorenya kami menyempatkan diri untuk mencoba Thai Massage di sebuah salon and spa yang terletak persis di depan hotel. Sebelum treatment dilakukan, kami diminta berganti baju. Di atas kasur yang diletakkan di atas lantai, telah tersedia piyama untuk kami pakai. Pijat disini dilakukan tanpa melepas pakaian. Selesai pijat, kami juga tidak dipersilakan untuk mandi. Dibandingkan pijat tradisional di Indonesia, Thai massage sedikit lebih keras. Lumayan lah, untuk merilekskan badan yang lelah ini #halah

Oya, sebelum kembali ke hotel, aku menyempatkan diri untuk mejeng di depan banner salon yang penuh dengan huruf keriting. Kalo di bandara ato di tempat wisata siy, penulisan alfabet Khmer disertai tulisan dalam huruf latin, tapi tidak demikian di tempat-tempat lainnya. Seperti pada banner yang terpasang di depan salon ini. Huruf dan angkanya keriting semua!

itu mungkin artinya Thai massage, facial, ear candle, ...

Setelah merasa rileks, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan sholat. Abis itu, keluar hotel lagi, dong. Masa iya mau langsung bobo? Melewati lobi, kami tergiur untuk berfoto sejenak di lautan boneka yang ada di lobi hotel.

yang kami dudukin juga boneka-boneka loh

Selanjutnya, lagi-lagi dengan menyewa tuktuk, kami meminta untuk diantar ke Pub Street, sekedar untuk menikmati suasana malam disana.

Pub Street, Siem Reap

Sebenarnya kami berencana menonton tarian tradisional Kamboja yaitu Apsara dance di Pub Street. Tapi karena yang menyuguhkan pertunjukan adalah sebuah pub, agak waswas juga buat masuk ke dalam. Lah, nama jalannya aja Pub Street, jelas aja isinya pub semua! Hehehe...

Temple Club yang menyuguhkan traditional dance

Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju Night Market. Letaknya tidak jauh dari Pub Street. Night Market disini tersebar di beberapa kawasan. Saat berjalan kaki, kami melewati penjual pancake. Hmm, jadi penasaran, seperti apa siy, penampakan pancake di Kamboja?

kami memesan rasa pisang-coklat

penampakannya engga menarik, ya

Intinya, pancake disana adalah semacam crepes tapi engga crunchy. Si penjual menyajikannya di dalam bungkusan kertas, mirip dengan penyajian kebab yang kadang aku beli di pinggir jalan sepulang dari kantor. Rasanya lumayan, tapi untuk menikmatinya agak merepotkan karena coklat yang digunakan bukan meses, tapi susu coklat. Kebayang kan, tiap 1 gigitan ada coklat yang berleleran keluar?

Setelah berhasil menghabiskan pancake sambil berdiri di pinggir jalan, kami memasuki gerai-gerai di Night Market untuk berbelanja oleh-oleh khas Kamboja. Harga oleh-oleh di Kamboja relatif murah. Jangan lupa untuk menawar sampai sepertiganya, ya!

Setelah puas membelanjakan uang di Night Market, kami makan malam di sebuah restoran India bernama India Gate yang berada di kawasan Old Market. Kami memesan 2 porsi nasi goreng yang kemudian kami sesali karena ternyata 1 porsi aja sudah lebih dari cukup untuk dimakan berdua.

menunggu pesanan tiba

nasgor jumbo dan teh tarik

Sebelum pulang ke hotel, kami sempat mampir ke sebuah supermarket. Niatnya untuk menghabiskan sisa Riel yang kami miliki. Maklum, di Vietnam nanti, mata uang yang digunakan lain lagi, yaitu Dong. Ketika membayar belanjaan kami yang berupa makanan kecil dan air mineral, ternyata uang yang kami miliki tidak cukup. Tepatnya kurang 100 Riel. Untunglah kasir supermarket tersebut berbaik hati dengan tidak mempermasalahkan kekurangan pembayaran kami. Oya, 100 Riel itu setara dengan 300 rupiah, jadi nilainya memang tidak besar. Tapi tetap saja kami sangat menghargai kebaikan hati kasir tersebut kepada kami yang orang asing.

kasir supermarket ini berhati mulia

Demikianlah, kami pun pulang ke hotel dengan gembira. Balik ke hotel naik apa? Ya naik tuktuk lah, pastinya :D

4 comments :

Tatik Fariqoh said...

Isti... suka banget semua tulisanmu.... Menarik dan bahasanya juga asik...

isti thoriqi said...

Makasiy banyak mba tatik. Jadi makin semangat nulis, niy ^^

Anonymous said...

trims infonya...kami akan ke siemreap 2015 memanfaatkan promo air asia juga...

isti thoriqi said...

Mudah-mudahan tulisan di atas bisa membantu ya. Have a nice trip :)

Post a Comment