Container Icon

Bandung, untuk 17 Jam Saja

Waktu jalan-jalan ke Plaza Senayan hari Sabtu kemarin, tiba-tiba Mr. Banker mengusulkan buat belanja di Bandung. Rencana mendadak pun disusun, yaitu berangkat Senin, pulang Selasa. Malam itu juga, kita nyari tiket Argo Parahyangan. Sepulang dari nge-mall, dibantuin Ratna yang udah download aplikasi Paditrain di Android-nya, tiket pun langsung didapatkan. Btw, beli tiket pake aplikasi ini lumayan juga biaya administrasinya. 25ribu-an gitu untuk 2 tiket pp. Bandingin ama beli di Indomaret yang cuma kena biaya 7500. Masalahnya, mau beli ke Indomaret udah keburu tutup. Maklum, Indomaret terdekat engga buka 24 jam. Mau beli lewat website resminya PT. KAI, pembayaran lewat ATM. Hmm, males juga ke ATM malem-malem. Kalo beli lewat Paditrain, bisa bayar pake CC.

Untuk hotelnya, kita browsing-browsing keesokan harinya. Karena tujuan utama ke Bandung kali ini adalah ke FO di daerah Riau, kita nyari hotel daerah situ juga. Kalo yang letaknya di pinggir jalan Riau, harganya lumayan juga. Akhirnya, pilihan pun jatuh ke Hotel Progo yang terletak di Jalan Progo, persis di belakang FO Heritage, dengan harga Agoda 362ribu. Lagi-lagi bayar pake CC.

Singkat cerita, Senin sore menjelang jam pulang, Mr. Banker udah nongol di kantorku. Setelah absen jam 5 sore, aku mengganti baju seragam dengan kaos dan jeans trus kami jalan kaki ke Stasiun Gambir. Kereta kami berangkat jam 18.05 dan tiba di Bandung jam 21.05. Dari stasiun Bandung, kita langsung naik taksi menuju Hotel Progo. Ternyata engga jauh. Argo taksi Blue Bird yang kita tumpangi hanya menunjukkan angka 18ribu-an.

Setelah menyerahkan printout dari Agoda kepada staf resepsionis, kami pun diantar ke kamar. Hmm, Hotel Progo ini ternyata merupakan hotel lama. Kamarnya gede, jendelanya gede. Walopun demikian, tampak terawat baik. Hanya saja, harap dimaklumi kalo bednya udah agak kempes trus pemanas airnya lemot (maklum, pake pemanas sentral).

bagian belakang bed-nya kayu gitu, lupa engga dipoto -_-

maap, terlihat suram karena kesalahan pada Tab

di sebelah kiri ada wastafel

Engga berlama-lama di hotel, kami keluar untuk makan malam di Hummingbird. Oya, denger-denger, Hummingbird ini adalah kafe baru yang lagi ngehits di Bandung. Karena kami nyampe Bandung lumayan malem, aku sempat kuatir kalo kafe ini udah tutup waktu kami tiba. Sampe-sampe aku mention @Hummingbird_eat di twitter untuk menanyakan batas waktu last order-nya. Dibalas, loh, sama adminnya! Jadi, untuk weekday, last order pada jam 22.30, sedangkan untuk weekend, jam 23.30. Sipp, aman! Secara kami meninggalkan hotel pada jam 21.30, padahal untuk menuju Hummingbird, dibutuhkan waktu... 1,5 menit saja! Lah iya, secara itu kafe ternyata cuma berjarak 3 rumah dari hotel kami!

Lokasi outdoor yang kami pilih membuat kami serasa duduk di sangkar besar. Hehe... Walo ada lampu di tengah "sangkar", di tiap meja juga tersedia lilin. Hmm, sangat berguna buat yang dapet tempat duduk di pojokan kayak kami ini. Engga papa lah, anggep aja candle light dinner buat ngerayain kepindahan Mr. Banker ke Malang. Oya, aku emang belum cerita. Alhamdulillah, Senin pagi barusan, Mr. Banker dapat kabar kalo ia dipindah ke Malang. Mutasi aja siy, bukan promosi. Tapi bisa kembali ke Jawa itu bener-bener sesuatu yang membahagiakan. Lagipula engga nyangka aja, gitu, bisa balik ke Malang lagi. Jadi, kapan aku menyusul? Kayaknya siy tahun depan itu udah paling cepet >.< Ya udah lah, yang penting, ongkos ketemuan bisa lebih ngirit. Hehe...

suasana outdoor

aku dan Rosy Lychee

anggep aja candle light dinner

Disini aku memesan Hamburg Steak (59,5K) yang katanya recommended. Emang enak siy. Di tengah cacahan daging burgernya ada lelehan keju gitu. Disajikan bersama telur, french fries, trus sayurannya terdiri dari potongan gede jagung, wortel, en ketimun. Untuk minuman, aku memesan Rosy Lychee (32,5K) yang sepertinya merupakan kombinasi antara jus stroberi dan leci, dengan es batu yang sudah dihancurkan, bikin minuman ini berasa dingin banget. Di dalamnya ada buah lecinya juga.

Mr. Banker memesan Mushroom Aglio Olio (59,5K) yang merupakan spaghetti aglio olio dengan jamur dan potongan-potongan gede fillet ikan dori. Ini juga enak, walo aromanya kurang oke (kayak tahu tektek, kata Mr. Banker). Untuk minuman, Mr. Banker memesan Caramel Milkshake (32,5K). Kalo terkadang Caramel Milkshake memiliki rasa manis yang berlebihan, yang satu ini menurutku pas. Oya, harga-harga yang aku sebutin tadi belum termasuk service charge 5% dan pajak restoran 10% ya...

Hamburg steak pesenanku

Mushroom aglio olio pesenan Mr. Banker

duo frozen drinks

Pulang dari Hummingbird, kita langsung ke hotel. Sebenarnya aku berencana mencoba Nasi Kalong yang direkomendasikan Yofan (walo kata Yofan rasanya biasa aja, tapi pernah masuk wisata kuliner Pak Bondan :D), apa daya perut ini sudah terasa penuh. Mr. Banker aja tadi engga berhasil menghabiskan makanannya!

Keesokan harinya, kami baru turun untuk sarapan pada jam 9. Sekalian bawa ransel karena langsung mau check out aja. Waktu nyampe di restoran hotel, kami baru tau kalo ternyata jam sarapan di Hotel Progo adalah jam 6.30 - 8.30. Hmm, padahal seingatku staf resepsionis kemarin menyebutkan bahwa sarapan disediakan sampai jam 9.30. Ato aku yang salah denger, ya? Ya sudahlah. Eh, walo jam sarapan udah lewat, staf di restoran menawarkan roti dan kopi/teh untuk menu sarapan kami. Ya wis lah, lumayan, sekedar mengisi perut.

di restoran hotel yang lengang

Selesai sarapan, kami check out dan menitipkan ransel ke staf resepsionis. Sekarang saatnya shopping! Kami mulai dari FO Heritage yang ada di belakang hotel. Cukup dengan jalan kaki 5 menit, udah nyampe aja! Selanjutnya kami ke FO-FO lain di sekitarnya. Cascade, Passion, Terminal Tas, The Summit, dan Stamp.

suka deh, ama kantong belanja dari Stamp ini!

Muter-muterin 6 FO doang engga terasa ternyata ngabisin waktu 2 jam. Udah siang, saatnya maksi. Daripada bingung mau kemana en naik apa, kita balik ke Jalan Progo aja. Rencananya mau ke Tokyo Connection yang letaknya agak menyerong di seberang hotel. Dalam perjalanan, malah berhenti di sale-nya Gee Eight di sebelah Tokyo Connection. Dan bertambahlah 1 kantong belanjaan. Hehehe...

Sesampai di Tokyo Connection, kami pun memesan makanan. Oya, selain makanan Jepang, di pilihan menunya juga tersedia pancake. Dari review di blog siy, rasa ramen disini engga nyante. Ya wis, kita cobain aja. Pesananku Seafood Ramen (35K) dan Vanilla Macadamia Blend (24K). Sedangkan Mr. Banker Yaki Ramen (35K) dan seperti sudah bisa ditebak, Ice Chocolate (24K). Untuk pilihan ramen, kalo mau di-upgrade ke udon (ukuran mie-nya lebih gede) juga bisa, loh. Tinggal nambah 10ribu. Oya, harga-harga tadi belum termasuk pajak restoran 10%, ya.

Seafood Ramen... porsinya gede

Yaki Ramen

gambar Doraemon en Astro Boy dkk itu ada di dinding resto

Tentang rasa, aku kok lebih suka ramennya Gokana, ya. Masalah selera aja, deh, kayaknya. Tapi kalo ramen yang dipesen Mr. Banker, yang penampakannya mirip Mie Jawa, rasanya enak loh, dibandingin ama ramen berkuahku. Mungkinkah rumput tetangga memang lebih hijau? #apasiy Kali ini aku yang tidak berhasil menghabiskan makananku...

Dari Tokyo Connection, kami kembali ke Hotel Progo untuk mengambil tas ransel serta menata belanjaan. Oya, dari tadi aku belum menampilkan penampakan bagian depan Hotel Progo, ya? Ini dia...

cuma 3 lantai saja...

Untungnya, menata bawaan ke dalam ransel yang kami bawa (kami hanya membawa 1 ransel milikku) bukanlah hal yang susah. Secara bawaan kami engga banyak, trus belanjaan kami juga kecil-kecil walo terdiri dari 5 kantong.

hasil ngiderin 7 FO

Kami pun berpamitan kepada staf resepsionis. Sebenarnya ia menawarkan untuk memanggilkan taksi, kami cukup menunggu maksimal 10 menit. Tapi Mr. Banker memilih langsung nyari aja di pinggir jalan besar.

Perjalanan menuju stasiun lancar jaya. Setelah sholat di musola stasiun Bandung yang bersih dan baru itu, kami pun naik ke kereta yang sudah menunggu. Jam 14.35 tepat, Argo Parahyangan membawa kami kembali ke Jakarta...

on the train

Perjalanan kereta ini memunculkan satu rencana baru dalam hidupku. Gara-garanya, waktu aku lagi buka Instagram sambil liat poto-poto yang dipajang sama onlen shop, Mr. Banker tiba-tiba bilang gini, "Kamu boleh resign trus bikin usaha." Bisa jadi dia bilang gitu karena kita abis shopping, ketambahan liat gambar di Instagram yang aku buka, jadi mikirnya aku jualan aja, gitu.

Wah, kalo jualan online aku males. Buka butik juga males. Engga tertarik aja untuk berkecimpung di dunia fashion yang trend-nya selalu berubah itu. Aku pengen buka usaha spa aja. Jadilah sepanjang perjalanan ke Jakarta aku menghabiskan waktu untuk browsing tentang franchise spa. Abis itu bikin itung-itungan sederhana di dalam kepala. Hmm, masalah modal jelas engga bisa dianggap enteng, niy. Ngajuin pinjaman di bank aja kudu punya usaha yang udah jalan minimal 2 tahun dulu. Trus, trus... Hmmm...

Udah ah, malah ngajakin pusing berjamaah. Sekian...

2 comments :

Hana said...

Bah.seru bgtttttt....

isti thoriqi said...

Hihihi, dibikin seru aja mba hana, walo kilat :p

Post a Comment