Container Icon

Live On Board - Cerita Saya Selama Tinggal di Kapal

Ini postingan kedua saya tentang exploring Flores. Postingan pertama yaitu tentang Komodo Sailing Trip bisa ditengok disini. Sebelum melanjutkan cerita tentang spot-spot seru yang saya datangi, saya pengen cerita tentang suka duka tinggal di kapal. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir separo liburan saya habiskan dengan sailing trip. Bersama 15 teman dan 5 orang ABK, kita menghabiskan 4 hari 3 malam di sebuah kapal. Sebuah home stay di Senggigi menjadi titik awal keberangkatan. Btw, home stay-nya lumayan lho, deket ama pantai. Jadi pagi-pagi sebelum sarapan, saya sempat melipir buat narsis di Pantai Senggigi bentar :p

Senggigi, tinggal jalan kaki 5 menit dari home stay

Dari home stay, kami naik bis ke pelabuhan Kayangan.

welfie itu wajib!

Komodo Sailing Trip - Latar Belakang, Itinerary, dan Budget

"Kamu yakin mau ngabisin cutimu tahun ini?" Bapak Kasi, atasan saya di kantor meminta penegasan setelah sekilas membaca berkas permohonan cuti saya yang mencantumkan kata-kata "mengajukan cuti selama 5 hari".
"Yakin Pak. Kalopun saya mendadak harus cuti lagi, saya terpaksa ijin ya, Pak, potong gaji."
"Hmm, oke," sahut Bapak Kasi sambil meneruskan membaca berkas di tangannya.

"Hah? Kamu mau ke NTT? Ngapain?" Rupanya beliau sampai pada bagian dimana saya menuliskan alamat saya selama mengambil cuti. Tentang pertanyaan "ngapain" ini entah sudah berapa orang yang menanyakan. NTT masih dipandang sebagai suatu destinasi yang sangat tidak biasa untuk sebuah acara bertajuk liburan.
"Ya ngapain lagi selain liburan, Pak," saya pun menjawab apa adanya.

Saat berkas saya yang sudah diberi persetujuan oleh Bapak Kasi sampai di tangan Ibu Bos, ada bonus pertanyaan tambahan, mau kemana saja selama di NTT. Plus pertanyaan "sama suami?".
Jawaban saya kurang lebih seperti ini:
"Saya mau berlayar, Bu, dari Lombok sampai Labuan Bajo. Kali ini engga bareng suami, karena dia mabuk laut."

menyongsong pagi dari atas kapal

Dan demikianlah liburan panjang saya berlangsung selama 9 hari. Dimulai dari Jumat sore 17 Oktober saat pesawat saya bertolak ke Lombok dan berakhir pada 27 Oktober saat saya kembali ke Jakarta.

Mencicipi Gelato di Laboratorium Kimia Milik Ron

Menaiki eskalator ke lantai 5 Grand Indonesia, mata saya langsung tertuju pada sebuah gerai yang terlihat unik. Di sebelah kiri tampak seperti gerai biasa dengan deretan kursi yang cukup untuk menampung sekitar 40 orang pengunjung. Namun ketika pandangan beralih ke sebelah kanan, tampaklah beberapa orang dengan jas laboratorium berwarna putih yang terlihat sibuk dengan tabung-tabung reaksinya di balik kaca. Sesekali asap mengepul dari peralatan di depan mereka. RON'S LABORATORY. Demikian nama yang tertera di depan tenant. Waww, bagaimana bisa ada laboratorium kimia di dalam mall? Rasa penasaran pun menarik saya untuk mendekat.

sebuah gerai yang unik

Ternyata laboratorium satu ini bukanlah laboratorium biasa. Ia menyajikan gelato bagi para pengunjungnya. Sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang laboratorium unik ini, saya akan sedikit menjelaskan apa itu gelato. Banyak orang mengira bahwa gelato itu sama dengan es krim. Padahal dari teksturnya saja sudah berbeda. Gelato lebih lembut dan tidak terasa tajam di lidah. Hal ini dikarenakan suhu dalam masa pendinginannya tidak serendah es krim, rata-rata hanya berkisar 10 - 15 derajat celcius saja. Bandingkan dengan es krim yang proses pendinginannya membutuhkan suhu sekitar 18 - 20 derajat celcius. Ini yang menyebabkan es krim lebih cepat mencair daripada gelato. Kandungan lemak pada gelato juga lebih sedikit dibanding es krim, yaitu sekitar 5-7%, sedangkan es krim lebih dari 10%.

Nongkrong Cantik di Koloni 108

Udah lama banget saya engga bikin review tentang tempat hangout yang asyik. Alasan utamanya adalah karena saya engga pinter menilai makanannya. Hehehe... Tapi kali ini, atas permintaan Debby, seorang temen di Balikpapan sana yang kayanya mau ada rencana jalan-jalan ke Bandung, saya memberanikan diri *haiyah* menceritakan Koloni 108 Eatery & Art-Venture, sebuah spot yang lagi ngehits di Bandung. Sebenarnya udah banyak juga blogger yang bikin review tentang tempat makan sekaligus toko pernak-pernik ini.

welcome to Koloni ;)

Awal mula saya terdampar disini siy cuma gara-gara saya lagi ada penugasan ke Bandung bareng ama ibu bos *nyontek penyebutan di blognya Ivna* en satu temen, ke sebuah kampus yang ada kerjasama dengan kantor kita. Maklum, namanya juga humas. Setelah tugas selesai, saya dapet titipan dari Bagian lain di kantor buat mampir ke salah satu hotel di Bandung karena ada keperluan disana. Nah, selagi melewati jalan yang menuju ke hotel tersebut, saya dan ibu bos kebetulan menoleh ke arah yang sama. Disitu berdiri sebuah bangunan vintage yang menarik. Warna merah dan putih yang menaungi jendela-jendelanya bikin kita langsung ngiler pengen liat dalemnya.

Kecanduan Air Asia

Beberapa hari terakhir ini, kalau sedang buka HP atau laptop atau PC, bawaan saya gatel pengen buka web Air Asia mulu. Gara-garanya Air Asia engga brenti-brenti bikin promo. Mulai dari promo penukaran Big Point, yaitu mulai dari 0 poin udah bisa dituker ama penerbangan! Besoknya ganti sale besar-besaran, terbang mulai 0 Rupiah alias kursi gratis. Siapa yang engga ngiler, coba? Kalo engga ingat masih berstatus pegawai, kerjaan saya sepanjang hari bakal melototin web Air Asia doang. Hahaha...

melototin ini sambil ngences-ngences
(gambar dari web Air Asia)

Air Asia berhasil membuat saya kecanduan! Saya jadi ingat sebuah quote dari Michael Palin.

"Once the travel bug bites there is no known antidote, and I know that I shall be happily infected until the end of my life."

Mengintip Kamar di Ora Beach Resort

Kalo di postingan sebelumnya saya sudah bercerita tentang keindahan Pantai Ora dan sekitarnya, di tulisan ini saya khusus akan membahas mengenai Ora Resort, hotel tempat kami menginap yang terletak di tepian Pantai Ora, Maluku Tengah.


finally here

Ora Resort memiliki 3 macam kamar yaitu kamar laut, kamar gantung, dan kamar darat. Kami menempati kamar laut terbesar disana, yaitu sebuah cottage berisikan 3 kamar. Dua kamar dengan double bed dan satu kamar dengan twin bed.

Ora Beach, Serpihan Surga yang Jatuh ke Bumi

Sepertinya postingan tentang Pantai Ora yang lebih sering disebut Ora Beach ini *oke, sama aja artinya* udah ditunggu oleh banyak penggemar saya *trus ditabok berjamaah*. Setelah sebelumnya explore Ambon dan Desa Saleman, agenda kami di hari ketiga adalah menuju Ora Beach yang disebut-sebut sebagai Maldives-nya Indonesia. Ora Beach ini terletak di Teluk Sawai, sisi utara Pulau Seram, Maluku Tengah. Just info, hanya dengan lanjut naik speed boat sekitar 3 jam lagi ke arah utara, kita bakal nyampe ke Misool yang merupakan bagian dari Raja Ampat, Papua Barat.

Ora Resort

Setelah sarapan bersama dengan menu nasi goreng telur mata sapi, kami berdelapan beserta Pak Marwan berangkat dengan berjalan kaki menuju dermaga. Berpapasan dengan anak-anak Desa Saleman yang berangkat ke sekolah dan juga sekumpulan binatang ternak.


keceriaan pagi

Desa Saleman, Sebuah Negeri Dongeng

Setelah sebelumnya mencicipi kuliner kota Ambon, agenda kami hari itu adalah menuju Desa Saleman yang terletak di Pulau Seram, Maluku Tengah. Kami berangkat menuju Pelabuhan Tulehu setelah sebelumnya menikmati sarapan berupa nasi kelapa yaitu nasi uduk khas Ambon.

nasi kelapa

Nasi uduk khas Ambon ini sedikit mengingatkanku pada sego megono khas Pekalongan. Rasa nasinya memang berbeda, secara nasi uduk ini rasanya gurih sedangkan sego megono menggunakan nasi biasa. Yang bikin mirip adalah keberadaan parutan kelapanya. Untuk nasinya sendiri, nasi kelapa ini dimasak dengan santan kelapa dengan tambahan bumbu rempah seperti sereh dan jeruk lemon cina. Di dalam nasi kelapa ini terdapat potongan ikan asar, yaitu ikan tongkol yang sudah melalui proses pengasapan sehingga rasanya gurih dan lebih kering.

Sampai di Pelabuhan Tulehu, kami disambut oleh pemandangan anak-anak yang bermain di tepi pelabuhan.

berulang-ulang, mereka meloncat ramai-ramai ke air

Ambon - Say Hi to Miss Blue Starfish and Mr. Giant Eel

Aku baru sedang akan membayar beberapa barang di kasir Alfamart ketika sebuah panggilan dari nomor lokal masuk ke HP. Ternyata dari "Taxiku" yang menginformasikan bahwa sopir yang akan mengantarku ke bandara sudah mengarah ke rumah *maksudnya kontrakan*. Segera kubayar belanjaanku yang tidak terlalu banyak malam itu sebelum kemudian terburu-buru kembali pulang. 

Aku masih sempat mampir ke sebuah toko alat elektronik untuk membeli kabel olor mungil untuk kubawa travelling. Melewati warung ayam penyet langganan, aku teringat bahwa tadi aku sempat memesan seporsi nasi dengan ayam beserta jus mangga. Pesananku ternyata sudah 90% siap. Sambil memohon maaf, aku meminta Si Bapak untuk membungkusnya saja. Sembari Si Bapak menata nasi, ayam, dan sambal di wadah styrofoam, aku menghabiskan jus mangga yang sudah tersaji dalam gelas.

Tak jauh dari warung, sebuah taksi berwarna kuning terlihat sudah menanti di depan pagar. Waktu masih menunjukkan pukul 21.40.

Kenapa Harganya Musti Turun?

Tulisan ini sepertinya berbalik 180 derajat dengan tulisan saya sebelumnya. Ceritanya saya tiba-tiba iseng ngecek harga tiket buat saya hanimun ama Mr. Banker beberapa hari lagi. Yang ada saya bete abis. Gara-gara tiket Mr. Banker yang udah saya beliin bulan kemarin sekarang turun harga. Engga tanggung-tanggung, dari harga 1,3jutaan cuma jadi 970ribuan. Heran, itu kenapa Lion mendadak promo kayak gitu! Parahnya, saya jadi mengecek harga tiket kami berdua untuk balik dari tempat hanimun ke Surabaya.

melayang :'(

Saya pede bakal terhibur melihat kenaikan harganya. Secara Garuda, gitu. Tapi apa yang saya lihat? Itu tiket turun harga jugak, 275ribu-an per orang, yang artinya 550ribu berdua! Ini tumben-tumbenan Garuda tiba-tiba turun harga gitu menjelang tanggal keberangkatan.

Malam yang Kalut di Payakumbuh

Catatan pembuka :
Tulisan di bawah ini mengisahkan perjalananku dari Bukittinggi menuju Lembah Harau, melalui Payakumbuh. Agar pembaca tidak bosan, aku mengemasnya dalam bentuk cerpen.
Selamat menikmati...

Traveling alone is a joy and priviledge. Not everyone can afford to do so, be it in terms of finance or time. However, it is definitely something every single person should do, at least once in their lifetime :)

Dari kejauhan, sebuah L300 berjalan menuju ke arah kami berdiri di tepi jalan raya. Entah dengan cara bagaimana, Ii memastikan bahwa itu Tranex yang aku tunggu, yang akan membawaku ke Payakumbuh. Aku melirik jam di pergelangan tangan. 17.30. Sudah terlalu sore bagi seorang perempuan memulai perjalanan menuju kota lain di daerah yang masih asing baginya. Bagaimanapun, sesuai rencana yang telah disusun, aku harus terus melanjutkan perjalananku.

L300 tersebut penuh, namun aku bersyukur masih tersisa sebuah bangku untuk aku duduki. Saat aku masuk ke dalam Tranex, Ii dan motornya pun kembali ke Padang Panjang, tempat ia tinggal. L300 yang aku tumpangi ini terdiri dari 4 baris termasuk baris paling depan dimana sopir berada. Bangku kosong untukku terletak di baris ketiga. Merupakan bangku tambahan tanpa sandaran yang diletakkan di antara celah antara bangku untuk dua orang yang sudah permanen di sebelah kanan dan bangku untuk satu orang di sebelah kiri yang juga sudah melekat dengan rangka mobil. 

Baru beberapa menit aku duduk disana dan Tranex melaju pergi, salah satu penumpang di barisan paling belakang meminta sopir Tranex untuk berhenti. Nampaknya ia telah tiba di tujuannya. Karena rute yang harus dilaluinya untuk menuju pintu keluar adalah melewati bangkuku, mau tidak mau aku harus beranjak turun untuk memberinya jalan. Pastinya dengan sedikit kerepotan karena membawa serta ransel besarku.

aku dan ranselku

Backpacker Narsis di Bukittinggi

Prakata :
Kalo mau langsung baca yang ini, monggo. Kalo ada yang bingung, bisa menengok tulisan-tulisan terkait sebelumnya, yaitu:
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat serta Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur.

Dengan mengendarai motor dari Lembah Anai ditambah "beristirahat" sebentar karena turun hujan, aku dan Ii baru tiba di Bukittinggi sekitar jam 12. Kota ini berhawa sejuk dan memiliki kontur yang unik. Sesuai namanya yang mengandung kata "bukit", kontur tanah disini memang berbukit-bukit. Jalan yang kami lewati pun naik turun. Kami langsung menuju Jam Gadang. Seperti halnya di Pantai Pasir Putih Bengkulu, disini aku bertemu remaja-remaja berkostum tokoh kartun yang mengajak foto bersama dengan meminta bayaran 5000. Sedikit memaksa gitu, siy. Ya wis lah, yuk ambil 1 foto bersama tokoh kartun yang entah apa namanya.

badut ini sebenarnya merusak pemandangan -_-

Dalam bahasa Minang, Jam Gadang ini berarti Jam Besar. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh sebuah mesin yang diproduksi di Jerman yang hanya dibuat 2 unit. Mesin satunya menggerakkan Big Ben di London, Inggris. Ada keunikan lain dari Jam Gadang ini. Coba perhatikan gambar di bawah ini dengan lebih seksama. 

perhatikan apa yang aneh disini

Jus Penangkal Ilmu Hitam sampai Sate Mak (Pak) Syukur

Pendahuluan :
Sebelum membaca tulisan di bawah ini, sebaiknya baca yang ini dulu :
Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Kenapa judul tulisanku mengandung mistis begini ya? Hahaha... Sebenarnya aku cuma mau cerita tentang hari pertama di Padang, dimulai dari saat pertama kali menjejakkan kaki di sana. Trus kenapa ada penangkal ilmu hitam segala? Itu siy biar orang tertarik buat baca aja. Hihihi... Eh, tapi tentang jus tersebut nanti ada di dalam cerita juga kok.

Pesawat Citilink yang akan membawa saya ke Padang mengalami delay sehingga dari yang seharusnya take off jam 18.10 berubah menjadi setengah jam kemudian. Perjalanan Jakarta-Padang memakan waktu 1 jam 25 menit.

tiba di bandara

Setelah antri beberapa saat untuk turun dari pesawat, officially aku tiba di Padang jam 20.15. Keluar dari terminal kedatangan, aku celingukan mencari keberadaan Damri. Sempet nyesel kenapa engga mencaritahu terlebih dahulu dimana Si Damri menunggu penumpang. Berdiri sendiri di luar pintu kedatangan, aku dikerumuni orang-orang yang ribut bertanya, "Mau kemana?" ato "Udah ada yang jemput atau belum?". Mereka adalah orang-orang yang menawarkan taksi ato travel. Dengan halus kutolak semuanya. Aku pun mengeluarkan HP dan menghubungi Ve untuk menanyakan tempat Damri. Ternyata aku harus berjalan dulu ke arah kiri terminal kedatangan.

Sendirian Menjelajahi Sumatera Barat

Travel is a remarkable thing, right? Somehow it brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. It's the simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger.
(Ika Natassa - Critical Eleven)

Kalimat-kalimat di atas aku baca di sebuah buku kumpulan cerpen, "Autumn Once More" yang menemani perjalananku dari Jakarta ke Padang pada pertengahan bulan April lalu. Sungguh sebuah awalan yang tepat dalam memulai traveling soloku di Sumatera Barat dan menjadi seorang asing disana.

di Lembah Harau, Kab. 50 Koto

Sebenarnya dalam rencana hidupku *halah*, engga pernah terbersit keinginan untuk traveling sendirian. Semuanya terjadi begitu saja *kalimat ini kok berkonotasi negatif ya*. Berawal dari promo tiket Citilink yang cuma seharga 55ribu sekali jalan sekitar setengah tahun lalu, berujung pada traveling solo ke Padang. Dari dulu aku emang pengen ke Padang. Bukan ke Padang siy, tepatnya, tapi ke Bukittinggi. Pengen liat Jam Gadang. Kenapa gitu? Ya pengen aja. Sama kayak waktu aku ke Bengkulu kemarin (yang tiketnya juga Citilink 55ribuan) dengan alasan pengen liat bunga Rafflesia Arnoldi (walo sayangnya pas engga mekar). Alhamdulillah dapet tiket untuk long weekend untuk bisa pergi ke kedua kota ini. Cerita tentang Bengkulu sudah aku tulis disini.

akhirnya bisa kesini

Undangan Terbuka Sunday Sharing #5

Sunday Sharing #5

Undangan acara Sunday Sharing #5 bertemakan "Jurus Hemat ke Luar Negeri Ala Backpacker" ini juga sudah disebar di Blogdetik :
http://blogdetik.com/2014/04/22/berlatih-jurus-hemat-ke-luar-negeri-ala-backpacker-di-sundaysharing-5/

Buat yang mau daftar, segera hubungi saya yaaa!
Bisa dengan menulis komen di bawah ini, via email di isti.thoriqi@gmail.com atau mention ke twitter @istithoriqi

See you at Sunday ^^

Pengalaman Naik Sleeper Train dari Bangkok ke Penang

Adakah yang pernah mencoba naik sleeper train alias kereta bertempat tidur? Maksudku, kursi keretanya bisa disulap menjadi tempat untuk tidur. Aku bersama 4 teman seperjalananku pernah menumpang kereta ini dalam perjalanan dari Bangkok ke Penang bulan Juni tahun 2013 kemarin. Sebuah pengalaman yang unik karena baru pertama kalinya bagi kami berlima. Kami disini yaitu aku, Galuh, Novie, Winciii, dan Rini. Kami berangkat dari Stasiun Hua Lampong, Bangkok jam 14.45 menuju Butterworth, Penang, tiketnya 1120 Baht untuk upper atau tempat tidur atas, dan 1210 Baht untuk lower atau tempat tidur bawah. Ini harga setahun yang lalu, loh, ya. Di stasiun, kami poto-poto dulu, hehe...

dengan bawaan yang segambreng

yang di sebelah kiri itu kereta kami

Foto Bareng Pak SBY Bersama Komunitas Love Our Heritage

Postingan ini masih dalam rangka tour "Jelajah Jakarta Pusat 2014" bersama Love Our Heritage (LOH), sebuah komunitas pecinta seni, sejarah, dan budaya.  Visi dari LOH adalah melestarikan budaya, peninggalan sejarah dan kesenian Indonesia dengan tindakan nyata mengembangkan rasa peduli dan cinta terhadap peninggalan sejarah, seni, dan budaya Tanah Air kepada lingkungan sekitar (sumber dari sini).

Selain berkomitmen untuk menjaga peninggalan sejarah, LOH ini juga mendukung gerakan Go Green loh! Perjalanan rombongan tour ini dilakukan dengan jalan kaki! Untungnya lokasi-lokasi yang dipilih dalam tour kali ini tidak terlalu berjauhan. Tak sampai 15 menit, kami pun mencapai kompleks Sekretariat Negara.

Salah satu syarat untuk bisa melakukan pendaftaran wisata ke Istana Negara sudah kami lengkapi pada saat melakukan registrasi sebelum memulai kunjungan ke Museum Taman Prasasti, yaitu menyerahkan KTP. Syarat lainnya adalah berpakaian rapi (tidak boleh menggunakan T-shirt dan sandal).

Menyimak Nisan Berkisah di Museum Taman Prasasti

aku di dalam museum

Sebulan yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu, 1 Maret 2014, aku mengikuti tour bersama Komunitas Love Our Heritage, sebuah komunitas pencinta sejarah, seni dan budaya Indonesia. Dalam tour yang berjudul “Jelajah Jakarta Pusat 2014 - Dulu, Kini & Mendatang" ini, peserta tour akan diajak mengunjungi Museum Taman Prasasti, Istana Negara, Museum Nasional, dan Jakarta City Planning Gallery.  Biaya ikut tour ini cukup seratus ribu Rupiah saja, sudah mencakup snack, makan siang, serta segala macam tiket dan perizinan. Eh, dapet buku juga, ding, judulnya "Petunjuk Museum Sejarah Jakarta".

Yang akan aku ceritakan disini adalah kunjungan di Museum Taman Prasasti saja. Awalnya, di postingan ini aku mau nulis lengkap tentang sehari bersama Komunitas Love Our Heritage, tapi kepanjangan. Hehehe...

The Last Passenger

Waktu lagi nunggu di waiting room bandara, pasti pernah denger panggilan kepada beberapa orang penumpang, pake nyebutin nama. Kalo denger kayak gini, kadang aku ngerasa heran. Niy orang kemana aja siy, lha wong sebelumnya udah diumumin kalo penumpang disuruh naik pesawat, dianya malah nyante-nyante, pake acara nunggu dipanggil namanya segala.

Engga nyangka, kejadian ini terjadi juga padaku. Yaitu pada Kamis malam kemarin. Yup, Alhamdulillah, aku masih sempat terbang sebelum Kelud meletus dan menyebabkan bandara ditutup sementara. Dengan jadwal terbang Citilink ke Surabaya jam 8.20, aku udah duduk manis di Blue Sky Lounge sebelum jam 7. 

Menginap di Hotel Nomor Satu di Solo

Tiap orang memiliki alasan yang berbeda dalam memilih tempat menginap saat berlibur. Ada yang menyukai penginapan murah tapi nyaman, ada yang asal murah aja, ada yang cari aman dengan menginap di hotel yang pernah diinapi oleh temennya, ada yang suka mencoba  the new-5 star hotel  yang lagi ngehits *colek Ivna yang abis nginep di Eastparc Jogja*, ada juga yang memilih hotel dengan ranking paling kecil di Tripadvisor.

Aku sendiri bukan salah satu tipe tamu di antara berbagai kriteria di atas, karena aku adalah tipe tamu galau. Ya suka-suka aku aja gitu, lagi pengen nginep dimana. Tapi pada saat ini, bisa jadi aku masuk kriteria yang terakhir aku sebutkan. Karena The Sunan Hotel Solo yang berbintang empat ini menduduki peringkat 1 hotel di Solo menurut Tripadvisor. Hehehe...

rekomendasi dari Tripadvisor dipajang di meja resepsionis

Wisata Kuliner di Solo (Lagi)

Hari Senin kemarin, waktu baru nyampe kantor, langsung disambut dengan sapaan oleh Ibu Kabid : "Isti kemarin dari Solo, ya? Wah, jalan-jalan mulu, niy..." Hihihi, kalo boleh jujur, sebenarnya kemarin itu engga diniatin  buat jalan-jalan, tapi mau konsul ke dokter. Kebetulan ada dokter di Solo yang adalah sahabat dari istri Pak Kasi (atasan langsungku). Ketika Pak Kasi kasih saran untuk menemui dokter tersebut, aku pikir engga ada salahnya dicoba. Jadilah disusun rencana ke Solo ama Mr. Banker.

Aku berangkat dari Jakarta dengan menumpang kereta Bima yang berangkat jam 5 sore *lagi-lagipotonggaji* Kebetulan aku berhasil dapet harga promo. Jadi kalo aslinya tiket Si Bima ini harganya minimal 390ribu, aku berhasil dapet di harga 238ribu. Demikian juga untuk tiket pulangnya. Namanya harga promo, kursi yang disediakan jelas terbatas. Kali ini aku dapet kursi jomblo. Itu loh, kursi yang cuma sendirian doang, engga sepasang. Aku en Mr. Banker menyebutnya kursi jomblo.

duduk di kursi jomblo

Belajar Surfing di Bengkulu

Hah, belajar surfing di Bengkulu? Engga salah tuh? Bukannya kalo belajar surfing alias selancar itu biasanya di Bali, gitu? Hmm, belajar surfing di Bali siy udah biasa banget. Tapi karena aku anti mainstream, aku pilih Bengkulu aja. Hehehe... Oke, alasan sebenarnya bukan itu, meskipun pantai-pantai di Bengkulu memang memiliki beberapa spot ombak yang berpotensi untuk dijadikan lokasi surfing berkelas dunia. Kontes surfing pun sudah pernah dilaksanakan disini. Pada bulan September 2013 kemarin, Dinas Pariwisata setempat memasukkan kontes surfing dalam Bengkulu Beach Festival yang digelar bersamaan dengan momen Kemilau Sumatra 2013. Hanya saja, dibandingkan Bali, Lombok, Mentawai, atau bahkan Banyuwangi (dengan Pantai Plengkung-nya), lokasi surfing di Bengkulu memang belum populer.

ehem ehem, uhuk uhuk

Aku sendiri menjadwalkan traveling ke Bumi Raflesia bukan khusus untuk belajar surfing, tapi untuk mengunjungi temen yang tinggal disana, yaitu Anis. Terakhir ketemu dengan Anis udah lama banget, waktu barengan main ke Bangka. Ketika itu, aku janji bakal menyempatkan diri untuk mengunjungi Bengkulu. Rencana ini seharusnya udah terealisasi tahun kemarin. Waktu itu aku sempat membeli tiket Merpati ke Bengkulu. Namun entah kenapa, beberapa minggu menjelang keberangkatan, rute Jakarta-Bengkulu dihapuskan -_-

Antara Semarang dan Solo

Bulan kemarin, menjelang liburan Natal, aku, Ratna, en Ivna sempet main-main bentar di Semarang en Solo. Ceritanya ada undangan nikahannya Septi, temen 1 bidang, di Sragen. Trus kenapa kita ke Semarang? Adalah karena kita kehabisan tiket ke Solo. Tiket kereta bisnis, maksudnya. Kalo eksekutif siy masih ada, tapi karena nikahannya Septi ini udah deket banget ama musim liburan, harga tiket kereta eksekutifnya jelas udah melangit. Jadilah kita memilih kereta bisnis saja, ke Semarang *walo dengan harga yang juga udah membumbung tinggi* Ntar di Semarang bakal minta tolong dianterin mas bojonya Ivna ke Solo, hehehe...

Pulang kantor, kami bertiga janjian sama Ade en Andri untuk berangkat bareng dari Stasiun Pasar Senen. Selagi duduk bareng di kereta, kita udah kepikiran mau poto bareng-bareng untuk dilaporkan ke temen-temen kantor via Whatsapp Group *apa fungsinya coba*. Tapi bingung juga mau minta tolong ama siapa. Kebetulan banget, saat kita lagi galau mencari korban untuk motoin kita, muncullah sosok seseorang yang mengenal Ivna. Temennya, maksudnya. Dengan pasang muka tak berdosa, kita minta tolong dipotoin. Hihihi...

Nizam ikut juga loh

Bandung, untuk 17 Jam Saja

Waktu jalan-jalan ke Plaza Senayan hari Sabtu kemarin, tiba-tiba Mr. Banker mengusulkan buat belanja di Bandung. Rencana mendadak pun disusun, yaitu berangkat Senin, pulang Selasa. Malam itu juga, kita nyari tiket Argo Parahyangan. Sepulang dari nge-mall, dibantuin Ratna yang udah download aplikasi Paditrain di Android-nya, tiket pun langsung didapatkan. Btw, beli tiket pake aplikasi ini lumayan juga biaya administrasinya. 25ribu-an gitu untuk 2 tiket pp. Bandingin ama beli di Indomaret yang cuma kena biaya 7500. Masalahnya, mau beli ke Indomaret udah keburu tutup. Maklum, Indomaret terdekat engga buka 24 jam. Mau beli lewat website resminya PT. KAI, pembayaran lewat ATM. Hmm, males juga ke ATM malem-malem. Kalo beli lewat Paditrain, bisa bayar pake CC.

Untuk hotelnya, kita browsing-browsing keesokan harinya. Karena tujuan utama ke Bandung kali ini adalah ke FO di daerah Riau, kita nyari hotel daerah situ juga. Kalo yang letaknya di pinggir jalan Riau, harganya lumayan juga. Akhirnya, pilihan pun jatuh ke Hotel Progo yang terletak di Jalan Progo, persis di belakang FO Heritage, dengan harga Agoda 362ribu. Lagi-lagi bayar pake CC.

Mengejar Bus ke Ho Chi Minh City

Bagaimana rasanya ketinggalan bis? Pasti panik! Lebih panik lagi jika tragedi ketinggalan bis ini terjadi di negara orang yang mana faktor bahasa turut menjadi kendala. Pengalaman ini aku alami bersama Mba Via ketika sedang berada di Phnom Penh, Kamboja dan berencana melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. 

instaweather Phnom Penh tapi berlatar Night Market di Siem Reap :p

Penjelajahan di Siem Reap, Kamboja sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Karena keterbatasan waktu, kami memang tidak berencana untuk berlama-lama di Siem Reap. Cukup sehari semalam saja. Rencana selanjutnya adalah meneruskan perjalanan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Sebenarnya tersedia bus yang dapat langsung mengantarkan kami ke Ho Chi Minh City, yaitu Mekong Express. Jadwal keberangkatan bus tersebut dari Siem Reap adalah jam 7.30. Dalam sehari, hanya ada 1 kali pemberangkatan. Hanya saja, karena kami juga ingin melihat-lihat kota Phnom Penh yang merupakan ibukota negara Kamboja, kami memutuskan untuk membeli tiket bus lain yang berhenti di Phnom Penh.

Melongok Angkor Wat di Kamboja

Udah lama niy, engga nulis tentang traveling. Kita flashback agak jauh, yuk! Di bulan April 2013 kemarin, aku en Mba Via maen-maen ke Siem Reap, Kamboja. Awalnya kami engga ada rencana kesana. Sebagai impulsive buyer akan tiket murah, waktu Air Asia menggelar promo, kami membeli tiket ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Eh, lha kok tak dinyana, beberapa bulan menjelang keberangkatan, rute Jakarta - Ho Chi Minh City ditiadakan. Kalo saat itu kami membeli tiket pulang HCMC - CGK, mungkin engga bakalan ada masalah, tinggal di-refund dua-duanya gitu. Yang bikin pusing adalah, dikarenakan tiket pulangnya waktu itu bukan harga promo, kita pulang via Kualalumpur. Mau ngehangusin tiket pulang kok sayang juga, secara masing-masing udah beli 2 tiket, gitu (HCMC - KUL en KUL - CGK).

Akhirnya kami putuskan untuk menambah jumlah hari dalam cuti kami dan menyempatkan berkunjung ke Kamboja, sebelum melanjutkan perjalanan ke Vietnam. Kota Siem Reap di Kamboja menjadi pilihan karena disana terdapat Angkor Wat yang merupakan salah satu situs warisan dunia, seperti yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Kami penasaran dengan penampakan asli Angkor Wat yang sempat dijadikan lokasi syuting Tomb Raider (dibintangi oleh Angelina Jolie). Padahal aku sendiri belum pernah nonton film yang jagoannya bernama Lara Croft itu, loh, hihihi... Btw, beberapa temenku merasa heran dengan tujuan traveling  kami yang engga biasa ini. Yah, alasannya adalah karena Jepang sudah terlalu mainstream.
#yang bener karena duitnya engga cukup buat ke Jepang
#lagian kenapa tiba-tiba nyambung ke Jepang yak