Container Icon

Banjarmasin Selayang Pandang

Wah, bed rest ini memang bikin semangat nge-blog, deh. Cerita yang dari dulu pengen ditulis tapi engga pernah keturutan jadi punya kesempatan buat ngeksis, niy. Tapi karena kebanyakan, bingung juga benernya, mau nulis yang mana. Hihihi... Oke, aku cerita tentang  kunjunganku ke Banjarmasin aja, ya. Tepatnya di awal bulan Juli 2013 lalu. Kalo ada yang nanya, ngapain aku tiba-tiba ke Banjarmasin? Adalah karena penugasan dari kantor. Aku dan 2 bapak-bapak dari kantorku meninjau sebuah lokasi pertambangan yang jaraknya sekitar 6 jam dari Banjarmasin.

sepatunya matching ama celanaku yak :D

Tentang kunjungan dinas ke lokasi pertambangan yang satu ini, sebenarnya agak-agak membuatku trauma cos sempat menjadi sasaran flirting ama seseorang yang disegani di sana. Padahal udah tau kalo aku udah merid. Padahal juga aku udah ditemenin sama 2 bapak dari kantorku *apa hubungannya?*

aku bersama 2 rekan yang bapak-bapak semua

Trus kenapa tiba-tiba aku pengen cerita tentang Banjarmasin ini? Adalah gara-gara niy aku lagi nunggu oleh-oleh dari Ivna yang sekarang lagi dalam perjalanan pulang dari Balikpapan. Hmm, engga nyambung ya? Memang engga nyambung, siy. Abisnya aku engga punya cerita tentang Balikpapan, siy. Selama di Balikpapan taon kemarin (yang adalah juga merupakan penugasan dari kantor), aku cuma sempat jalan-jalan ke Kebun Sayur (pasar kerajinan dan cenderamata) sama makan di Ocean's Garden. Jadi kayanya engga ada yang bisa diceritain, deh. Eh, kecuali satu, hotel tempatku menginap di Balikpapan, yaitu Grand Jatra Hotel yang mana kamar mandinya cuma dibatasi kaca transparan. Asekkk...

don't worry, ada tirai yang bisa diturunkan kok

Kembali ke cerita tentang Banjarmasin, ya. Dalam perjalanan kembali ke Banjarmasin dari lokasi pertambangan, kami sempat berhenti di tengah jalan karena ada suatu penunjuk nama daerah yang menurutku unik aja, gitu. Berbentuk huruf-huruf besar di bukit. Huruf-huruf gede macam begini sering aku temui di berbagai lokasi wisata di Makassar.

bukitnya memang kecil aja, siy :)

Sesampai di Banjarmasin, kami makan malam di Pondok Ikan Bakar Asian yang menyajikan beraneka ragam seafood. Beberapa hari sebelumnya, dalam perjalanan menuju lokasi pertambangan, kami sempat makan di  salah satu cabang dari resto ini, yang terletak di Sungaidanau. Menu yang disajikan benar-benar menggugah selera. Tapi menu favoritku disini adalah tahu goreng yang sayangnya malah engga kefoto. Hihihi...

hmm...

yummy...

Setelah makan malam, kami mencari oleh-oleh di Toko Oleh-oleh Andalas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Banjarmasin.

di depan Toko Andalas

Yang aku beli sebagai oleh-oleh pastinya engga jauh-jauh dari amplang yaitu krupuk ikan. Amplang ikan tengiri dan amplang ikan pipih. Hmm, amplang memang ada di berbagai penjuru nusantara, ya...

Di Banjarmasin kami menginap di Hotel Grand Mentari. Hotel ini merupakan hotel pertama berbintang yang terletak di pusat kota Banjarmasin. Kami memilih menginap disini karena dekat dengan kantor yang harus kami datangi. Plus rate-nya sesuai pagu. Hehehe... Engga ada yang istimewa dengan hotel ini. Standar bintang 3, lah. Yang aku inget, menu sarapannya engga terlalu banyak. Sebagai pecinta hotel yang menyajikan menu bervariasi, aku sedikit kecewa. Hehehe...

Keesokan paginya kami jadwalkan untuk melihat-lihat Pasar Terapung di Sungai Barito, tepatnya di daerah  Muara Kuin, Banjarmasin Utara. Cerita lebih lengkapnya dapat dibaca di postingan tersendiri.

pasar terapung, Banjarmasin
Dari pasar terapung, kami menyempatkan mampir ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin, yaitu Masjid Jami alias Masjid Besar Banjarmasin.

Masjid Raya Banjarmasin

Setelah itu kami kembali ke hotel untuk sarapan. Kemudian menyelesaikan urusan pekerjaan di sebuah kantor yang letaknya dekat dengan hotel kami. Urusan beres, saatnya berburu kain sasirangan yang merupakan kain batik khas Banjarmasin. Kain ini didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Menurutku siy, mirip dengan tie dye, gitu (kayak yang biasanya ada di Pekalongan dan banyak ditemui di rancangannya Dian Pelangi). Kami pun menuju pusat pembuatan sasirangan yang disebut Kampung Sasirangan.

gerbang Kampung Sasirangan

Kami engga memasuki tiap toko yang ada disana, siy. Satu aja cukup, deh. Dipilihlah Irma Sasirangan yang katanya terkenal dan harganya cukup kompetitif.

plang gede di depan toko

niy dia tokonya

Memasuki toko, kami disambut oleh deretan sandal jepit. Oh, ternyata disini aturannya harus melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal jepit yang telah disediakan.

deretan sandal jepit

Di Irma Sasirangan aku sempat membeli beberapa sasirangan untukku sendiri, untuk oleh-oleh, dan juga untuk kado kepada sepasang temen yang baru merid akhir bulan sebelumnya tapi aku engga bisa datang. Eh, jadi kepikiran, sasirangan yang aku beli aku simpan dimana ya? Hadehhh... Kebiasaan niy, ceroboh. Ya wis lah, ntar kalo lagi engga dicari juga ketemu sendiri :p

Belum ke Banjarmasin kalo belum makan Soto Banjar. Dari Irma Sasirangan, kami pun menuju Soto Bang Amat yang tersohor.

Soto Bang Amat

Kami memilih meja di belakang. Pemandangannya seperti ini...

yup, depotnya terletak di tepi sungai
Apa aja menunya? Ini dia...

menunya engga cuma soto

Kami pun memesan soto spesial dan sate ayam. Untuk minumnya, aku memesan es jeruk.

soto, sate, dan es jeruk

Selamat menikmati!
tetep narsis
Tiga puluh menit kemudian...

ludesss

Waktu aku nanya ke rekan kerja yang tadi mesenin, aku tadi dipesenin nasi separo ato penuh? Ternyata penuh, Saudara-saudara. Duh...parah, niy... Walo cewe satu-satunya di rombongan, kayanya makanku paling banyak, neh. Tapi kan... tapi kan, itu karena soto Banjar en sate ayamnya maknyus semua! Sayang kalo engga diabisin. Hehehe... *pembelaan diri*

Oya, selama makan tadi, kami dihibur oleh live music. Kayak di cafe aja, gitu, ada live music-nya.

performance yang menghibur pengunjung depot

Oya, ada satu hal yang aku wanti-wanti banget kepada temen-temen yang berniat untuk berwisata kuliner disini. Jangan sekali-kali kesini pada hari Jumat.

Apakah karena Jumat itu hari keramat? *apa siy*

Bukan...
Trus, apa dong, alasannya?
Hmm... kasih tau engga ya...

Oke, aku kasih tau...

Karena eh karena...

camkan ini!

Hihihi... maap, lagi iseng. Tapi memang demikian pengumuman yang terpasang disini. Jadi, jangan berwisata kuliner di Soto Bang Amat pada hari Jumat. Karena kalian hanya akan gigit jari soalnya  engga ada yang jualan :D

Kesimpulan yang aku dapat setelah sekilas berkeliling Banjarmasin adalah... aku lumayan menyukai kota ini. Kalo misalnya Mr. Banker suatu saat dimutasi kesini, aku dengan senang hati bakal ngikut ;)

2 comments :

lia wahyu said...

Mbk isti ne lia adekx mb yeni, sampean detail bgt crita banjar kata org banjar : harat banar pian neh leh (bgs bgt mbk ne) sya aj ¥äñĞ dtnggal dtanjung 5 jam klo dr bjm,,βέЇϋм smua keliling ketempat situ,,smngat mbk,,

isti thoriqi said...

Hai hai Lia...wah, ayo disempetin kesana, selagi masih deket, hehe.
Btw, gimana kelanjutan programnya? :)

Post a Comment