Container Icon

Tanjung Bira, Bulukumba

Ngebahas rencana hunimun selanjutnya bersama Mr. Banker, benernya aku ngiler pengen ke Taman Nasional Laut Taka Bonerate. Letaknya di Sulawesi Selatan, bagian paling selatan. Kepulauan ini adalah gugus karang atol terbesar ketiga di dunia, luasnya sekitar 220.000 hektar. Katanya siy, Taka Bonerate merupakan salah satu destinasi terbaik untuk diving. Lebih dari 20 dive spot dimiliki oleh Taka Bonerate. That's why Olik (adikku) yang memang penghobi diving ngiler banget pengen kesana. Oke, aku emang engga bisa diving, jadi kalo kesana palingan pengen snorkeling aja.

Sayang, karena lokasinya jauh banget, Mr. Banker keberatan. Maklum, perjalanan dari Makassar kesana butuh waktu minimal 14 jam, yaitu 8 jam bermobil (ato nge-bis) dari Makassar ke Tanjung Bira, lanjut 2 jam menyeberang dengan kapal ferry ke Pelabuhan Pamatata di Selayar, lanjut 4-9 jam lagi (tergantung transportasinya) ke Taka Bonerate (gabungan perjalanan darat dan laut).

Makassar-Selayar juga bisa ditempuh dengan pesawat, sekitar 40-50 menit, yaitu dengan Aviastar. Tiketnya murah siy, cuma 210 ribu-an sekali jalan, masalahnya penerbangan cuma ada di hari Jumat (aku udah nanya ke agennya yaitu Ibu Rostina di 085395759311).  Perjalanan ke Bandara Aroepalla di Selayar bakal ditempuh dengan pesawat kecil. Mirip lah, ama Susi Air, yang penumpang en barang bawaan sama-sama ditimbang (pengalamanku naik Susi Air bisa dibaca disini).

Ada info kalo Merpati mulai Maret 2013 juga punya rute penerbangan Makassar-Selayar, menggantikan Sabang Merauke Air Charter yang sekarang udah engga beroperasi. Tapi waktu aku buka web-nya en nyari penerbangan di tanggal yang aku pengen, tertulis engga ada penerbangan. Nanya lewat telpon ke Merpati, ternyata memang sekarang lagi engga beroperasi, karena penumpangnya sangat terbatas. Jumlah penumpang yang minim engga bisa nutup operational cost-nya, kali, ya?

Sebenarnya kita berdua udah pernah nyampe ke Tanjung Bira. Sayangnya karena keterbatasan waktu, jadi engga bisa lanjut ke Taka Bonerate.Mana jadwal ferrynya juga cuma satu kali sehari, yaitu Selayar-Tanjung Bira di pagi hari dan Tanjung Bira-Selayar di siang hari.

Daripada ngebahas Taka Bonerate yang cuma bisa aku angan-angankan, aku cerita tentang Tanjung Bira di Bulukumba aja, deh. Aku en Mr. Banker kesana di akhir bulan Oktober 2012. Perjalanan ke Bulukumba bisa dibilang merupakan perjalanan yang menyenangkan. Seperti halnya perjalanan ke Toraja, sepanjang jalan kami banyak menemui rumah warga yang masih tradisional, yaitu rumah panggung dari kayu.

Meninggalkan Makassar menuju Bulukumba, kota yang kita lewati pertama kali yaitu Takalar. Jalanannya relatif bagus. Memasuki kota Jeneponto, kondisi jalannya banyak yang berlubang dan berdebu.

kondisi jalan di Jeneponto
 
Kami juga memperhatikan aktivitas warga di sepanjang jalan yang kami lewati. Lebih tepatnya aku ding, secara Mr. Banker fokus nyetir. Di Jeneponto, aku banyak melihat anak kecil yang berprofesi sebagai peminta-minta berdiri di pinggir jalan. Beberapa kali aku juga melihat ibu-ibu ato gadis-gadis yang hanya mengenakan sarung dan berangkat untuk mandi. Aku juga ngeliat ada seorang ibu yang mandiin anaknya dengan menggunakan bak di bagian depan rumahnya yang dekat dengan jalan raya. Agak aneh mengingat halaman rumah mereka yang luas. Kata Mr. Banker, kalo dibandingkan kota-kota lain di Sulawesi Selatan, kondisi perekonomian di Jeneponto memang masih kurang jauh dari bagus. Di Jeneponto juga masih banyak terdapat padang rumput luas dengan kuda-kuda sedang merumput disana.

kayak di Texas :p

Oya, waktu mau berangkat tadi, aku sempat membawa Kit Kat. Karena cuaca lagi panas banget, itu Kit Kat jadi leleh. Engga kurang akal, Mr. Banker nyuruh aku buat naruh Kit Kat di depan AC mobil. Lumayan, jadi bisa dimakan :D

bukan iklan

Ketika memasuki kota Bantaeng, terasa banget perbedaannya. Bantaeng adalah kota pantai yang indah. Wilayahnya membentang sepanjang 22 km arah timur ke barat dengan lebar tak lebih dari 5 km. Di sisi selatannya, semua berbatasan langsung dengan Laut Flores. Sedangkan di bagian barat dibatasi barisan pegunungan Lompobattang. Pantai kotanya sudah ditata dengan tanggul beton berpedestrian, dibersihkan dari bangunan-bangunan yang menghalangi pemandangan samudera lepas view indah Laut Flores (sumber : kompasiana).

jalanan di Bantaeng

di beberapa spot, berjajar pohon kelapa

pemandangan padang rumput juga masih ada di Bantaeng

Memperoleh Adipura pada tahun 2010 lalu, kota Bantaeng jelas terlihat sebagai kota yang bersih. Uniknya, di sepanjang jalan, kita banyak menemui slogan-slogan bertema religius yang ditulis di tiang-tiang di pinggir jalan.





Selain slogan-slogan singkat di atas, ada juga kalimat-kalimat bijak seperti "Sucikan diri dan harta Anda dengan zakat", "Islam adalah persatuan dan kebersamaan", serta "Salah satu pencegahan penyakit HIV/AIDS adalah dengan iman dan taqwa".

Bantaeng memiliki sebuah kawasan wisata pantai yaitu Pantai Marina. Kita sempat mampir sejenak disana, namun enggan berlama-lama karena kondisi cuaca saat itu panas banget! Padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul 10.30 pagi.

narsis bentar walo kepanasan

Pantai Marina

Kami meneruskan perjalanan ke Bulukumba. Sekitar 1 jam kemudian, tibalah kami Bulukumba. Kami mampir sejenak di rumah Hairil, anak buah Mr. Banker yang memang berasal dari Bulukumba. Di rumahnya, kami disambut hangat oleh ibu dan kakak-kakaknya. Karena bertepatan dengan jam makan siang, keluarga Hairil menjamu kami dengan berbagai makanan khas Bulukumba, yaitu soto yang dimakan dengan buras atau ketupat (mereka menyajikan keduanya). Soto ini mirip dengan coto Makassar yang pernah aku ceritakan disini. Untuk penganannya, keluarga Hairil menghidangkan lemang, ketan hitam, jipang, dan es campur. Karena sungkan dengan tuan rumah, mohon maaf, kali ini aku engga motoin makanannya :p

Selanjutnya, Hairil ditemani seorang kawannya menemani kami ke Tanjung Bira. Bukannya ikut bergabung di mobil kami, mereka memilih membawa sepeda motor. Tak berapa lama, sampailah kami ke Pantai Bira. Yang pertama kami lakukan adalah mencari lahan parkir.

tarif parkir di Pantai Bira

Kemudian kami segera mencari penginapan. Penginapan di Pantai Bira harganya bervariasi. Mr. Banker cerita kalo dia dan seorang temannya pernah menginap di kamar dengan tarif 75 ribu per orang, tapi kamar mandi di luar. Di Pantai Bira juga ada resort  yang dikelola asing. Namanya Amatoa Resort, yang mana tarif kamar paling murahnya aja masih di atas 1 juta. 

Untuk saat ini, pilihan kami jatuh pada Bira Beach Hotel yang terletak tepat di tepi Pantai Bira. Kamar-kamarnya berbentuk cottage. Tarifnya 225ribu per malam, tapi  harganya berbeda di hari biasa. Aku masih mencatat nomor telepon hotelnya, siapa tau ada yang berminat. 0413-81515.

kamarnya berbentuk rumah-rumah kayu sederhana

yang penting ada AC-nya

Karena kamarnya memang engga gitu nyaman buat berlama-lama, kita langsung ke pantai aja. Kalo menurutku, pantainya biasa aja, siy. Mana di pinggir pantai banyak warung beratap seng. Menurutku jadi agak merusak pemandangan, gitu.

yang keliatan atap-atapnya itu warung-warung

tetep poto berdua

Engga lama kemudian, matahari pun turun.






2 comments :

covalimawati said...

uhuuuuy... mantep bgt potonya.. bikin panas dingin.. *apasih* hihihi..
dr kmrn aku bertanya2 Mr. banker itu siapa sih? aaih.. ternyata yayanknya.. :D

isti thoriqi said...

Potonya bikin mupeng ya, mba? Ayeyyy...Hahaha...
Iya, Mba, Mr. Banker itu suamiku. Hehehe...

Post a Comment