Bukan isti kalo traveling-nya lancar jaya. Setelah berbagi cerita tentang ketinggalan bus ke Ho Chi Minh City di Kompasiana, kali ini aku meninggalkan tasku. Parahnya, keteledoran ini bisa terjadi 2 kali hanya dalam 5 menit!

Ceritanya, aku bersama Ratna, Ivna, en Umay (selanjutnya disingkat R-I-U) mau balik ke Jakarta setelah menghabiskan wiken ceria di Singapore. Dari awal kami udah niat buat mengeksplorasi Changi. Secara jadwal pesawat kami adalah jam 13.20 padahal toko-toko di Singapore baru buka jam11, emang engga ada hal lain yang bisa kami lakukan menjelang pulang. So, jelajah Changi yang diusulkan oleh Olik (adikku) terdengar sebagai ide yang sangat menarik!

Pukul 8.30, kami meninggalkan daerah Hougang  yaitu tempat tinggalnya Olik dimana kami numpang selama 3 malam. Mendekati halte bus, muncul bus 27 yang akan membawa kami menuju Changi. Pas banget! Lucunya, kami menaiki bus yang sama dengan bus yang membawa kami ke Ikea hari sebelumnya. Aku masih inget banget interior busnya dan terutama pak sopir yang menyapa dengan ucapan "Good Morning" sambil tersenyum kami saat kami naik ke bus.

Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, sampailah kami di Terminal 1. Kami memutuskan untuk makan dulu. Karena dari kemarin kita belum makan nasi, R-I-U request kalo sarapan kali ini harus pake nasi. Sebenarnya di Hougang Mall deket tempat Olik tinggal, ada yang jual nasi lemak. Tapi R-I-U keberatan untuk makan itu. Jadilah kita menunda sarapan sampai kita tiba di Changi.

Tempat makan murmer di Changi adalah di Staff Canteen. Kalo di Terminal 1, letaknya di Basement 1. Ancer-ancernya kalo dari Departure Hall, kita cari Pizza Hut (ada di level 2). Trus kita naik lift yang terletak di belakang Pizza Hut, turun menuju Basement 1.

Dari pintu masuk, kita langsung lurus aja. Disana ada 4 gerai halal. Mereka memajang label halal di depan gerainya. Ada yang berupa sertifikat, ada juga yang berupa tulisan bersebelahan dengan nama gerainya. Pilihan makanannya mulai dari nasi goreng, mie kuah, rojak, sampe gado-gado. Untuk minuman ada gerai tersendiri yang letaknya berdekatan dengan gerai-gerai halal tadi.

Oya, tidak usah kuatir mengenai peralatan makan yang digunakan. Manajemen Staff Canteen benar-benar melakukan pemisahan pada piring dan sendok-garpunya. Troli yang digunakan untuk membereskan peralatan makan bekas pun berbeda.

Pada kesempatan kali ini, aku memilih nasi goreng dengan lauk fish finger dan kentang. Semuanya hanya seharga SGD 3.5. Minumnya teh tarik hangat (di menunya tertulis tea with milk) seharga SGD 1.2.

Setelah makan, kita menuju counter check in. Bagasi yang udah kita beli (tepatnya Ratna yang beli karena dia bawa koper) adalah dengan kapasitas 15 kg (seharga Rp 180.000,-). Setelah ditimbang, ternyata beratnya hanya 11,9 kg. Kita mencoba menambahkan tas Ivna ke atas timbangan. Ternyata beratnya tas Ivna 4 kg-an. Saat kita mengurungkan niat untuk membagasikan tas Ivna, si petugas dengan ramah mempersilakan kita untuk tetap membagasikannya. That's the kind of her, and we're so touched!

Aku masih inget banget waktu aku en Mba Via berada di counter check in-nya Air Asia di LCCT, Kuala Lumpur. Kelebihan bagasi kita engga sampe 1 kg tapi mba petugasnya engga memberi keringanan sama sekali. Kita terpaksa membongkar koper di depan petugas, dan pastinya di depan penumpang lain yang antre di belakang kita. Untung kita engga bawa barang yang aneh-aneh. Saat itu, ada juga penumpang lain yang terpaksa membongkar bagasinya karena excess baggage.

Selanjutnya si mba petugas memasangkan label untuk tas-tas yang kami bawa ke kabin.

Setelah check in, kita antre di Pemeriksaan Paspor. Keluar dari situ, kita disambut oleh The Social Tree. Disini kita bisa foto-foto trus hasilnya bisa langsung di-share via email/Facebook/Flickr. Engga cuma itu, selama beberapa saat foto kita bakal nongol di layar "pohon"nya.

penampakan kita nangkring di bagian atas "pohon"

hasil foto-foto narsis kita

Puas berfoto di The Social Tree, kami naik Sky Train ke Terminal 3. Mampir ke Taman Kaktus, trus lanjut ke Terminal 2. Naik Sky Train lagi pastinya. Cerita lengkap tentang jelajah Changi ini bakal ada di postingan tersendiri.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Sedikit berlari, kita menuju "halte" sky train. Kembali ke Terminal 1, jam sudah menunjukkan pukul 12.45, padahal kami dijadwalkan boarding jam 12.50. Ngeliat info penerbangan di layar, tertulis kalo pesawat kami sekarang waktunya boarding. Dari petunjuk arah, tertulis kalo perkiraan waktu menuju C26 adalah 13 menit.

Oke, saatnya olahraga. Aku mendorong troli sambil setengah berlari. Di travelator pun aku berusaha tidak mengurangi kecepatan. Sesampai di Gate C24, R-I-U brenti lari. Lah, ternyata kita di C24 tho, bukan C26? Hufftt, gara-gara petunjuk arahnya mengacu ke C26, yang ada di pikiranku cuma C26. Tapi jarak C24 ke C26 emang engga gitu jauh, siy.

Terburu-buru meletakkan troli di seberang Gate, aku langsung menyusul R-I-U yang lagi pemeriksaan paspor dan tiket. Di bahuku tersampir shoulder bag coklat dan tanganku menenteng plastik gede isi oleh-olehnya Ivna dan juga ASI yang tadi diletakkan di troli.

Sebelum meletakkan barang bawaan di mesin scanning, kami menjelaskan pada petugas bahwa kami membawa ASI alias breast milk. Ketika plastik gede tadi keluar dari mesin scanning, petugas menghentikan kami. Namun sebelum kami sempat menjelaskan, petugas yang kami temui di depan mesin tadi menjelaskan ke rekannya kalo Ivna membawa kantong-kantong ASI. Oke, lolos! Ternyata engga ribet. Padahal Ivna udah aku suruh nyiapin print-printan ketentuan dari TSA (Transportation Security Administration) terkait kelonggaran membawa ASI ke dalam pesawat. Buat jaga-jaga aja kalo petugas bandaranya kurang paham mengenai ketentuannya.

Kami berempat pun duduk di ruang tunggu sambil mengatur nafas. Untungnya belum boarding. Hmm, padahal sign board-nya tadi menyatakan boarding. Ya sudahlah, engga papa. Sambil menunggu, kita ngebahas kehebohan barusan, pake acara lari-larian gara-gara keasyikan mengeksplorasi Changi. Yang paling bikin ngikik pastinya Ivna. Tadi aku sempet pengen motret Ivna dari belakang yang sampe nyopot sepatu biar lebih cepet larinya. Apa daya kita bener-bener dikejar waktu.

Pas lagi ketawa-ketawa gitu, tiba-tiba Ratna nanya, "Mba, ranselmu mana?" Hah, ransel?! Ya ampun, iya, ranselku dimana ya? Pas lagi panik gitu, terdengar pengumuman yang agak kurang jelas dari salah satu petugas di Gate bahwa sesuatu berwarna hitam telah tertinggal di troli.

Aku langsung berdiri dan mendatangi petugas pemeriksa tiket, menginformasikan bahwa akulah pemilik tas hitam yang tertinggal tadi. Petugas meminta tiketku. Setelah itu, aku sempat bingung mau keluar lewat mana sampe akhirnya petugas tiket membukakan sebuah pembatas jalan untukku. Aku pun keluar dari Gate untuk mengambil ransel.

Di luar Gate, telah menunggu 2 orang petugas, cowo dan cewe, dengan muka sedikit bete,  yang mengapit sebuah troli dengan ranselku bertengger di atasnya. Dengan malu-malu aku menghampiri mereka dan menyatakan bahwa ransel itu adalah milikku. Berbarengan mereka mengingatkanku untuk lain kali berhati-hati, dengan tidak meninggalkan bawaan di troli. Aku minta maaf berulang kali. Kemudian berbalik dan kembali masuk Gate. Pastinya dengan terlebih dahulu meletakkan bawaanku di mesin scanning.

Memasuki Gate, aku malah sempat bercanda dengan bapak petugas X-Ray yang bercerita bahwa petugas yang tadi ngumumin sampe bingung mendefinisikan barang yang tertinggal tadi. Bingung mengatakan yang mana, antara "black" dengan "bag". Aku hanya menjawab bahwa sebenarnya dia engga perlu bingung, karena yang tertinggal memang adalah tas hitam, "the black bag".

Mengambil tiket yang tadi ditahan oleh petugas tiket, aku menghampiri teman-temanku. Belum sempat duduk, Ratna (lagi!) nanya, "Lha tas coklatmu mana, mba?" Oh em ji, kali ini tas coklat yang tertinggal! Baru inget kalo aku tadi keluar Gate dengan tas coklat masih tersampir di bahuku. Karena aku harus mengulang prosedur pemeriksaan barang, otomatis tas coklatku ikut diletakkan di mesin scanning. Parahnya, karena aku udah terfokus pada ransel hitam, tas coklat jadi terlupakan! Duhhh, kok bisa siy, aku melakukan kesalahan bodoh untuk kedua kalinya! Padahal katanya cuma keledai yang bisa jatuh di lubang yang sama dua kali. Nyambung, engga siy, pepatahnya? Whatever lah.

Yang jelas lagi-lagi aku mendatangi petugas pemeriksa tiket (kali ini belum ada pengumuman penemuan tas lagi), dan mengatakan dengan lebih malu-malu, "Sorry, I forgot my bag again. Now the brown one." Petugas-petugas yang ada disana pun bengong berjamaah mendengar pengakuanku.
"What happen to you?" gumam salah satu petugas.
"She's so excited of going home," jawab petugas lain, seakan mewakili aku.
Dan demikianlah, seperti prosedur sebelumnya, petugas meminta tiketku dan aku pun ngeluyur ke deket mesin scanning buat mengambil shoulder bag coklatku.

Dohhh, aku jadi merasa telah mempermalukan bangsaku... #oke, lebay 


Oh, iya, ini penampakan kedua tas yang setia menemaniku traveling. Baru kali ini mereka mengecewakanku. Hiks...