Container Icon

Pulau Lengkuas, Mercusuar, dan Bintang Laut

Tetiba aku seperti diingatkan akan sebuah janji yang pernah aku tulis disini, yaitu bakal ngebahas tentang mercusuar di Pulau Lengkuas, sebuah pulau di dekat Belitung. Aduh, jadi engga enak ati, niy *padahal engga ada yang nagih* Baiklah, lebih baik aku segera menuliskannya. Lagian waktu itu udah sempet bikin draft-nya di memo di Tab, sayang kalo engga kepake :p Oya, just info, foto-foto di bawah ini diambil dari Facebook-nya Mba Via (yang poto-potonya dimacem-macemin :D) en Mba Kania (yang potonya murni tanpa editan plus ada tanggalnya).

Agenda kita hari itu adalah  menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar Belitung, termasuk Pulau Lengkuas, dan snorkeling. Karena spot snorkelingnya berada di dekat Pulau Lengkuas, kita sekalian aja berangkat pake baju renang.

siap berangkat!

yuk, mareee

Berangkat dari Tanjung Kelayang, perjalanan menuju Pulau Lengkuas ditempuh dalam waktu 40 menit. Oya, beberapa saat sebelum kami sampai di Pulau Lengkuas, perahu kami sempat berhenti. Selanjutnya, seorang pemandu turun untuk menyelam. Tidak berapa lama, dia kembali sambil membawa 2 bintang laut. Lucuuu... Kedua bintang laut itu bener-bener menjadi bintang di perahu kami ;)

stars in the boat

Setiba di Pulau Lengkuas, kami keliling untuk berfoto tentunya.







Di foto atas, keliatan ada sebuah mercusuar di sana. Pulau Lengkuas memang memiliki sebuah mercusuar peninggalan Belanda setinggi kurang lebih 50 meter yang dibangun pada tahun 1882. Untuk bisa masuk ke dalam, cukup dengan membayar 5000 Rupiah. Para pengunjung diharuskan melepas alas kaki di depan pintu. Di dekatnya disediakan ember berisi air tawar untuk membersihkan kaki terlebih dahulu sebelum mulai mendaki. Kenapa harus mencuci kaki dulu dengan air tawar? Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan sisa pasir laut yang melekat di kaki pengunjung. Mengapa? Karena garam-garam klorida (Cl) yang terkandung dalam pasir laut memiliki sifat yang sangat tidak menguntungkan bagi komponen besi yang menyusun tangga mercusuar, karena dapat menyebabkan karat. Jelasnya akan memperparah kondisi tangga mercusuar yang sudah berkarat (serta keropos) itu.

foto dengan latar belakang mercusuar
 
Selesai makan siang, aku, Mba Via, Bu Iin en Mba Kania sempat naik ke atas mercusuar 18 lantai. Dengan isengnya aku ngitung jumlah tangga yang ada. Ternyata ada 17 anak tangga untuk menuju ke tiap lantai. Jadi total ada 306 anak tangga. Hufft, lumayan melelahkan pastinya. Untungnya kita bisa beristirahat sebentar di tiap lantai, sambil menikmati pemandangan dari jendela mercusuar. Sesampai di lantai 18, kalo kita mau menikmati angin, kita bisa naik beberapa anak tangga lagi dan membuka pintu yang menuju keluar. Pemandangan 360 derajat yang tersaji disana sungguh luar biasa!

view from the top (no editing)

ini udah diedit ama Mba Via :D

bebatuan granit tempat kita berfoto-foto sebelumnya

Selanjutnya kami snorkeling di perairan dekat Pulau Lengkuas. Sebelum kami terjun ke laut, kami memakai dulu peralatan snorkeling kami, plus latihan bernafas pake mulut. Kalo udah siap, nyebur deh.

yeay!!!
 
Di dalam air, beberapa kali aku ngeliat ubur-ubur melintas di depanku. Waktu kami naik ke perahu, ternyata beberapa dari kami sempat tersengat ubur-ubur. Jadi pada heboh mengoleskan odol ke bagian tubuhnya yang kena sengatan. Aku ikut euforia pake odol itu. Benernya aku kena ato engga,  siy? Kalo aku, kayaknya cuma kesenggol doang deh. Hihihi... Oya, karena kita engga bawa underwater camera, jadi harap maklum kalo engga ada foto-foto bawah airnya ya :(

Dari Pulau Lengkuas, kita beranjak ke Pulau Burung. Kenapa dinamakan Pulau Burung? Karena di dekat situ ada batu besar yang berbentuk kepala burung. Di Pulau Burung itu kita sempat beristirahat sejenak, bersantai sambil menikmati teh dan kopi. Hehehe...

background : batu berbentuk kepala burung

pose loncat itu wajib

Destinasi berikutnya adalah Pulau Babi. Disana kita disuguhi es kelapa muda. Dalam perjalanan kembali ke Tanjung Kelayang, kami sempat melewati Pulau Batu Berlayar dan Pulau Pasir. Pulau Pasir ini engga selalu keliatan, loh. Pulau yang hanya merupakan hamparan pasir yang tidak terlalu luas (bener-bener cuma pasir, engga ada pohon, bebatuan ato apapun di atasnya) ini bakal tenggelam kalo laut sedang pasang. Rombongan kami engga berhenti di Pulau Pasir, karena saat kami lewat, pulaunya sudah nyaris tenggelam. Jelas perahu kami engga bisa berlabuh disana. Dari kejauhan, kami melihat ada 3 wisatawan sedang berada disana. Dan saat itu, sepertinya itu pulau memang hanya cukup untuk mereka bertiga. Hehehe...

Kami pun kembali ke Tanjung Kelayang.

Sebuah hari yang menyenangkan. Oya, ada beberapa pengalaman yang membuatku terkesan dengan para tour guide dari www.belitungisland.com. Mereka bener-bener care pada anggota rombongan tour. Waktu di Pulau Lengkuas, gara-gara terlalu semangat nyari spot buat berfoto, trus pake acara naek-naek ke atas karang kemudian buru-buru turun buat pindah ke spot foto berikutnya, kakiku sempat luka en berdarah. Eh, kaki Bu Iin juga berdarah ternyata. Waktu kita minta perlengkapan P3K ke tour guide, mereka engga cuma ngasih kotak P3K, tapi mereka langsung turun tangan buat ngebersihin en ngebalut luka kita.

Masih ada lagi ceritaku. Di Pulau Lengkuas, salah satu sandalku putus (entah gimana kronologis kejadiannya, aku lupa). Abis itu aku dipinjemin sandal ama tour guide yang namanya Mba Icha. Lha Mba Icha pake apa? Ya engga pake sandal. Nyeker, gitu. Aku udah nolak-nolak tapi dipaksa. Katanya bahaya kalo aku engga pake alas kaki. Bisa ketusuk-tusuk apa gitu, di atas pasir. Lha Mba Icha sendiri gimana? Udah biasa, katanya. Jadilah dengan penuh rasa terima kasih aku memakai sandalnya.

Plus lagi mereka engga pernah cape buat motoin kita. Mereka juga yang milihin spot-spot fotonya. Hehehe... So, many thanks buat para tour guide dari www.belitungisland.com.

0 comments :

Post a Comment