Container Icon

Pengalaman Naik Susi Air

Beberapa waktu lalu, Septi, seorang temen di kantor, nge-upload foto-foto kita di Susi Air. Jadi pengen sharing ceritanya, niy. Waktu itu, tepatnya di bulan Oktober 2012, aku, Septi, dan 4 orang rekan kerja lain ditugaskan untuk meninjau lokasi pertambangan batubara di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Dari Jakarta kami naik Garuda ke Balikpapan, first flight. Dari Bandara Sepinggan, Balikpapan, kita lanjut naik Susi Air ke Muara Teweh.

Pengalaman naik pesawat kecil ini lumayan berkesan. Abis check in, penumpang beserta barang bawaan ditimbang. Perkara timbangan ini dijadiin becandaan ama temen-temen kantor. Katanya, kalo ternyata melebihi ketentuan, kita kudu milih, mau orangnya ato bagasinya yang berangkat? -_- Aku sempet poto pas ditimbang ini, sayang gambarnya agak blur, jadi pas mau balik ke Balikpapan, aku poto lagi buat dipajang disini :p

bawa kresek isinya Taro dll buat dicemil di pesawat :p

Oya, penetapan harga tiket pesawatnya juga unik. Pembelian jauh-jauh hari sampai minimal H-3 harganya 1 juta. Makin mendekati hari keberangkatan, harganya naik 100-150 ribu, sampe akhirnya di hari H, harga tiketnya adalah sebesar Rp 1.350.000,- Btw, itu harga di bulan Oktober 2012. Engga tau deh, harga sekarang berapa :D

Tentang per-tiket-an Susi Air menuju Muara Teweh

Untuk menuju Muara Teweh via udara, bisa ditempuh melalui Balikpapan atau Banjarmasin. Berdasarkan informasi dari rekanan, keberadaan Susi Air ini pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan site tambang di lokasi terpencil. Jadi kalo ada orang-orang tambang yang mendadak mau terbang, para penumpang biasa terpaksa dialihkan ke jadwal penerbangan berikutnya. Itulah mengapa kita memilih untuk berangkat dari Balikpapan, karena tersedia 2 flight per hari untuk menuju Muara Teweh. Berbeda dengan keberangkatan dari Banjarmasin yang mana hanya ada 1 jadwal penerbangan ke Muara Teweh. Jadi kalo kita memilih berangkat dari Banjarmasin dan mendadak jadwal kita digeser, jelas akan mengacaukan agenda kegiatan selanjutnya. Karena kita kudu bermalam dulu di Banjarmasin dan baru berangkat keesokan harinya. Alternatif lain, terpaksa menempuh jalan darat.

Pas udah saatnya boarding (ada delay 1 jam siy), ternyata lokasi parkir pesawatnya lumayan jauh dari gate. Kalo untuk maskapai lain biasanya kita menuju pesawat dengan naik bis, kali ini cukup dengan mobil van. Karena kapasitas mini van-nya hanya cukup untuk sekitar 10 penumpang, beberapa orang dari rombongan kita dapet giliran kedua.

van Susi Air

Sesampai di pesawat, kita naik tangga kecil yang udah menyatu sama badan pesawat untuk masuk ke dalam kabin. Melongok ke dalem... hihi, emang bener-bener kecil. Kapasitas pesawat tipe Propjet Cessna ini hanya 14 orang termasuk pilot dan co pilot. Engga jauh beda ama naik angkot :p Engga ada nomor seat, jadi suka-suka kita aja mau duduk dimana.

Saat semua penumpang udah duduk di seat masing-masing, sang pilot yang bule menyapa, mengucapkan selamat datang di penerbangan Susi Air. Dia juga meminta para penumpang untuk mempelajari sendiri kartu petunjuk keselamatan yang tersedia di kantong kursi. Jadi, disini engga ada peragaan keselamatan dari pramugari seperti yang lazimnya ada pada penerbangan dengan pesawat standar. Ya emang engga ada pramugari yang meragain juga, siy :p

Oh, iya, karena engga ada sekat yang memisahkan penumpang dengan pilot dan co pilot, control panel pesawatnya keliatan jelas.


Ketika pesawat mengudara, suara mesin pesawat terdengar bising. Tapi kebisingan yang ada engga terlalu mengganggu. Masih sanggup lah, untuk ditahan ama telinga kita, jadi kita engga perlu menyumpal telinga dengan earplug (penutup telinga). Padahal waktu tau aku bakal terbang dengan Susi Air, aku sempat browsing-browsing untuk mencari tahu dimana aku bisa membeli earplug dan berapa harganya. Tapi setelah tau harganya cukup mahal (60ribu itu lumayan mahal, tho? :p), aku mengurungkan niat. Pertimbangan lainnya, kalopun ternyata memang dibutuhkan pemakaian earplug, mustinya pihak maskapai juga sudah menyediakan.

Ketika pesawat mulai mengudara, awalnya aku berusaha agar engga tertidur. Niatnya pengen ngerasain sensasi terbang dengan pesawat kecil. Walo yang laen udah pada tidur, aku en Septi masih nyempetin buat poto-potoan dulu.


Ketinggian pesawat memang tidak terlalu jauh di atas permukaan air laut, sehingga dari jendela kita lumayan bisa menikmati pemandangan di bawah.

pemandangan dari jendela Susi Air

Sekitar 15 menit aku bertahan hingga akhirnya aku bosan dan memutuskan untuk tidur. Apalagi perjalanan ke Muara Teweh lewat jalur udara diperkirakan memakan waktu 1 jam.

Aku benar-benar terlelap hingga tiba saatnya landing. Kata temen-temen yang terbang bersamaku saat itu, tadi pesawat sempat mengalami goncangan parah yang lumayan nyeremin. Hah? Masa siy? Kok aku engga kebangun sama sekali, ya? Hiks, hiks... Rada nyesel juga engga sempat ngerasain sensasi goncangan yang jelas engga bakal aku alami kalo aku naik pesawat standar. Belakangan, waktu kembali dari Muara Teweh ke Balikpapan dengan menumpang Susi Air lagi, aku bener-bener memastikan untuk engga tidur. Sama sekali. Sayangnya, nothing happened #loh, kok malah ngarep -_-

Sesampai di bandara Beringin di Muara Teweh, penumpang bergantian turun dari pesawat. Pilot dan co pilot mengambilkan barang-barang yang ada di bagasi. Selanjutnya penumpang langsung membawa sendiri barang-barangnya. Hihi, enak juga niy, engga perlu ngantri di baggage delivery conveyor belt.


Sebelum beranjak ke gedung bandara, kita nyempetin buat foto bareng pilot ganteng dari Susi Air. Hehehe...


Trus poto rame-rame juga ama rekan kerja lainnya :D


Oya, niy dia penampakan pesawatnya...

 

Dan, demikianlah pengalaman saya naik Susi Air. Hmm, kok penutupnya jadi kayak gaya bercerita anak SD, yak -_- Baiklah, abaikan... Ngarepnya siy, aku bakal dapet kesempatan buat ngerasain naik Susi Air lagi :D

5 comments :

Agus Mulyadi said...

Walah, jadi inget film dono pas naik pesawat mini kaya gini, btw itu pesawatnya bensin-nya ngecer apa gimana ya mbak, hehehe

空キセノ said...

Susi Air... Namanya agak aneh ya. Ehehe. Asik kayaknya naik pesawat kayak gitu, berasa private.

isti thoriqi said...

@ Mas Agus : Wah, ada ya, film dono yang ada naik pesawat mininya? Baru tau saya, mas :p Haha, pesawatnya sama kayak pesawat laen mas, engga pake bensin :D
@ Nisa : Iya, bener, coba waktu itu yang berangkat cuma kita-kita doang, jadi private jet beneran tuh :p Btw, waktu BW ke rumah Nisa, aku jadi menemukan kalo kita dari SMA yang sama, tapi beda angkatan jauhhh...hahaha

Rosyid Asabri said...

haha,, masak yang berangkat barangnya bukan orangnya, keren lah

isti thoriqi said...

Ahaha, becandaannya kayak begitu, Mas Rosyid, karena harus ditimbang semua... Hihi

Post a Comment