Container Icon

Menanti Senja di Kampung Daun

Sebelum nongkrong di Citroengras Cafe seperti yang udah aku ceritain tadi, kita benernya udah makan di Kampung Daun Culture Gallery & Cafe. Sebuah resto unik bernuansa alam dengan pemandangan cantik yang terletak di belahan utara kota Bandung. Mengusung tagline "Where Culture and Taste Meet", pengunjung dapat menikmati beragam sajian  menu ditemani gemericik air sungai yang mengalir di bawah saung diiringi alunan musik Sunda. Oya, seragam yang dikenakan para waiter disini juga khas Sunda.

Saung kita di Kampung Daun

Oya, kalo mau makan disini, kudu reservasi dulu, trus masuk waiting list. Bukan reservasi lewat telpon, siy. Tapi pesen meja di counter reservasi deket gerbang masuk resto. Abis itu kita duduk di seberang counter reservasi. Kalo udah ada saung kosong, kita bakal dipanggil ama waiter-nya,  untuk mengikuti si waiter menyusuri jalanan yang agak berliku dan sedikit mendaki dengan tumbuhan pakis di sekitarnya menuju saung yang tersedia. FYI, disini tersedia 57 saung atau pondok Sunda. Semacam gazebo gitu deh.

reservasi dulu disini

antrian pengunjung yang udah reservasi

areal depan Kampung Daun

Setelah memesan, sembari menunggu makanan datang, kita poto-poto dulu, yuk!

kenapa jadi berasa lagi di pemotretan prewed yak :p

Baby Nizam enjoy, engga, ya?

a happy family :D

Tentang Kampung Daun, restoran ini dibangun di antara 2 tebing batu dan dilewati sungai. Engga jauh dari gazebo tempat kita makan, ada air terjun mini. Aku en Ratna sempet poto-poto di sekitar air terjun.

"menjelajahi" Kampung Daun

Kampung Daun menyediakan menu-menu tradisional dan juga menu-menu Western. Untuk menu tradisional, sebagian besar merupakan makanan khas Sunda, tapi ada juga beberapa menu dari daerah lain di Indonesia. Karena harga main course-nya relatif mahal, yaitu berkisar antara 35ribu sampai 110ribu, kita berlima mengambil kebijakan buat pesen light meal aja, yaitu batagor, gado-gado, pizza, en lasagna, yang harganya berkisar antara 15ribu - 30ribu. Untuk minumannya, kita pilih teh poci yang mana harganya 15ribu-an. Sungguh kita memang bukan golongan pengunjung yang berprospek cerah -_- 

pizza, lasagna, gado-gado, batagor en teh poci ala Kampung Daun

Tentang teh poci, kebetulan di buku menu ada 5 pilihan rasa yaitu jasmine, vanilla, peach, strawberry, en mint. Karena kita berlima (Baby Nizam engga ikut diitung cos dia mimik susu aja), jadi kita pesen kelima rasa yang ada, trus saling nyobain punya masing-masing. Dari situ kita bisa mengambil kesimpulan bahwa teh poci paling enak adalah yang rasa peach. Sedangkan teh poci yang rasanya paling absurd adalah teh poci pesenanku yaitu rasa mint. Teh rasa mint ini bikin kita jadi berasa lagi minum obat batuk -_-

Walo jam masih menunjukkan pukul 5 sore, tapi karena hujan, sekitar kita menjadi gelap. Lampu di tebing mulai dinyalakan, memunculkan suasana temaram. Hmm, kayaknya kita kudu poto-poto lagi, deh.

yang keliatan di bawah tebing itu sungai loh
 
muka udah berminyak banget -_-
Suasana senja yang temaram ditambah perut kenyang ternyata membawa efek yang menakjubkan. Aku jadi ngantuk... Mana di tiap bilik makan, disediain bantal-bantal kecil lengkap ama gulingnya. Jadi kalo udah kenyang, kita emang bisa langsung bobo :p
 
kata Ratna : "koyok ra kanggo"

Di sisi satunya, Baby Nizam juga udah siap buat bobo.

a touching moment

Awalnya, seperti judul postingan ini yaitu "Menanti Senja di Kampung Daun", kita pengen nunggu sampe agak malem karena obor-obor yang ada di sekitar air terjun  juga bakal dinyalain, trus bakal ada api unggun buatan juga. Pasti bakal romantis abis en keren banget pemandangannya! Namun karena kondisi hujan yang makin deres aja, kita jadi kuatir kalo Baby Nizam kedinginan trus malah sakit ntar. Jadi sebelum terlalu gelap dan sebelum hujannya makin deras, kita mutusin buat pulang aja.

0 comments :

Post a Comment