Container Icon

Wisata Sehari ke Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust

Cerita wiken di Bandung belum selesai, tapi kali ini aku malah pengen nulis tentang pengalaman jelajah 3 pulau yaitu Pulau Kelor, Pulau Cipir, dan Pulau Onrust yang masuk ke wilayah Kepulauan Seribu bersama Smartrip Adventure. Promonya siy wisata alam, sejarah, budaya, dan religi bergabung menjadi satu di event One Day Trip ke 3 pulau ini. Cukup dengan membayar 115 ribu per orang, peserta tour mendapatkan tiket kapal (pp), tiket masuk pulau, materi wisata sejarah, guide, dan dokumentasi. Untuk makan dan asuransi tidak ditanggung. Oya, untuk balita, diskon 50%.

Jam 5 pagi, aku, Ratna, Ivna, Baby Nizam en Papa Nizam jalan kaki ke pinggir jalan besar buat nyari taksi. Weww, pagi banget!? Iya, soalnya kita kudu kumpul di Muara Kamal jam 7.30. Dan kita belum tau pasti bakal butuh waktu berapa lama buat nyampe kesana. Engga enak dunk, kalo kita ntar telat en bikin peserta trip laennya nungguin. Mendingan kita dateng kepagian deh.

Kita naik taksi ke shelter busway Atrium cos kita janjian buat ketemuan ama Yofan en Mba Nadia jam 5.30 disana. Kita sempet foto-fotoan juga waktu nunggu busway. Tapi kata Ratna, fotonya jangan dipajang disini, cos kita kliatan kayak lagi antre Puskesmas -__- Engga lama nunggu, mereka dateng disusul busway ke arah Kalideres juga dateng. Walo masih pagi, itu busway ternyata udah lumayan banyak penumpangnya. Kita pun duduk trus cerita-ceritaan dengan heboh sampe ditegur ama kondekturnya :(

Kami bertujuh turun di shelter Rawa Buaya. Jam menunjukkan pukul 6.30. Selanjutnya, berdasar petunjuk  via bbm dari Mas Yudha, salah satu pemandu trip, kami nyari omprengan. Awalnya kami mengira omprengan itu semacam angkot tua. Ternyata kami salah. Omprengan disini adalah angkot berupa mobil Suzuki Carry. Lumayan juga, niy. Info dari Mas Yudha, tarif omprengannya 5000 per orang. Kami bertujuh memilih omprengan yang masih kosong.

Saat kami sudah di dalam, sopirnya menawarkan untuk langsung berangkat dengan tarif 100 ribu. Walah, kok mahal! Setelah tawar-menawar, kami mendapatkan harga 60 ribu. Perjalanan ke tempat pelelangan ikan (TPI) memakan waktu 20 menit. Omprengannya udah engga bisa masuk lebih jauh karena penjual dan pembeli sudah meramaikan TPI. Saking ramenya, jalan menuju dermaga juga dijadikan tempat bertransaksi. Sebelum turun, kami minta si sopir untuk ngejemput kami lagi di TPI jam 5 sore.
Kenapa tasku gede? Adalah karena bawa banyak makanan

Meeting point dengan peserta tour lain adalah di sebuah rumah dekat dermaga. Sebelum menyeberang ke pulau, kami bertujuh sarapan dulu. Kebetulan aku dan Ratna sudah menyiapkan roti tawar berlapis susu dan meses yang kita bawa dari rumah. Setelah semua peserta berkumpul, tim pemandu melakukan briefing singkat sambil membagikan materi dan pin. Materi yang dibagikan adalah info seputar pulau-pulau yang akan kita datangi. Jam 8 kami memulai perjalanan. 35 peserta dibagi menjadi 2 perahu. Tujuan pertama adalah Pulau Kelor. Di perahu tetep poto-potoan dunk...

menuju Pulau Kelor

Perjalanan ke Pulau Kelor ditempuh dalam waktu 40 menit. Dahulu, di pulau yang juga dikenal dengan nama Pulau Kherkof ini Belanda membangun armada artileri. Disana masih terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng kokoh bernama Benteng Martello yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis pada abad ke-17. Benteng anti meriam berbentuk lingkaran ini dilengkapi dengan senjata api yang bisa melakukan manuver 360 derajat untuk menembak musuh. Dengan keberadaan benteng ini, Pulau Kelor terlihat mirip sebuah cerobong asap di tengah laut. Masyarakat sekitar menyebut pulau yang luasnya tak lebih dari dua hektar ini sebagai Pulau Kuburan. Konon pada masa lalu, tengkorak-tengkorak para tahanan politik yang dihukum mati pada zaman penjajahan juga dikubur di pulau ini, salah satunya adalah 23 awak kapal, pemberontak yang melawan Belanda dari atas kapal Zeven Provincien pada Februari 1933.


Pulau Kelor
turun dari perahu


maunya kita naik-naik ke balok-balok itu, tapi takut :p
potret keluarga bahagia :D
foto bareng rombongan di depan benteng

sekarang poto di dalam benteng (dok : Smartrip)

Poto-potoku sendirian juga wajib ada, dunk :D


biar engga eneg ngeliatnya, engga usah banyak-banyak deh :p

Dari Pulau Kelor, kami beranjak ke Pulau Cipir juga sering disebut dengan nama Pulau Kahyangan (entah mengapa dinamai demikian). Lagi-lagi membutuhkan sekitar 40 menit perjalanan dengan perahu. Dalam bahasa Belanda, pulau ini bernama Pulau Cuijper. Jelaslah darimana nama "Cipir" berasal :D Pada tahun 1911 hingga 1933, Pulau Cipir difungsikan sebagai tempat karantina haji. Para calon jemaah haji yang tak tertampung di Pulau Onrust yang berada di seberangnya akan ditampung disini.

Sisa-sisa bangunan yang terlihat sekarang ialah bangunan ruang pasien, barak dan rumah sakit. Sisa tembok-tembok di pulau ini termasuk bekas bangunan sebuah penjara dari masa yang belum begitu lama. Selain itu terdapat sisa bangunan bekas sanatorium yang dibangun pemerintah pada tahun 1960an. Pulau Cipir dan Pulau Onrust dihubungkan oleh jembatan batu (yang tersisa hanya pondasinya). Saat ini pemerintah setempat sedang mulai membangun kembali jembatan yang menghubungkan kedua pulau tersebut yang mana pada hakekatnya adalah mengembalikan kondisi kedua pulau itu ke masa lampau.

Di pulau ini terdapat juga pondasi sebuah benteng bundar besar dan empat meriam kapal yang digali dari pasir pantainya. Di pulau itu pada abad-abad yang lalu disimpan barang muatan kapal yang sedang diperbaiki di Onrust. Hingga beberapa dasawarsa yang lalu, pulau-pulau itu penuh dengan meriam kuno yang pada tahun 60-an dijual (dengan izin penguasa setempat) ke toko-toko barang antik atau kepada pedagang besi tua.

Di Pulau Cipir ini, sandal yang aku pake udah engga layak pake lagi. Kerusakannya dimulai waktu aku loncat dari kapal waktu turun di Pulau Kelor tadi. Tapi di pulau kedua, rusaknya udah engga bisa ditoleransi lagi. Mau nyeker juga takut kena pecahan kerang di pasir. Alhamdulillah banget aku punya Ratna en Yofan yang ahli dalam mereparasi sandal. Dengan bantuan peniti, sandalku udah bisa dipake lagi. Aku curiga mereka berdua adalah reinkarnasi dari pembuat sandal kerajaan di masa lampau...

Oya, seperti biasa, poto-potoan di Pulau Cipir ini hukumnya wajib!

mejeng di "gerbang" Pulau Cipir

nyari spot buat poto sambil tetep dipoto ;)

papan ini penanda lokasi bekas RS Karantina Haji
engga kompak niy, ngeliat kemananya -_-
pada bisa nebak dunk, siapa yang request adegan absurd kayak gini?
adegan absurd 2 : menjaring brondong #eh
pose sejuta umat (temennya pose megang DSLR)

Pulau terakhir yang kami jelajahi adalah Pulau Onrust. Waktu nyampe di pulau, kami langsung makan siang. Dari rumah, kami udah bawa bekal sendiri. Engga mau ribet, dari malam sebelumnya aku en Ratna udah ngebeliin KFC. Benernya siy, ada warung disana. Tapi karena panitia bilang mendingan bawa bekal, kita nurut aja. Yah, padahal daripada berat-berat bawa bekal, mending kita nge-warung aja ya... Yah, sudahlah. Abis makan, kita sholat di musola yang ada disana. Abis itu, leyeh-leyeh bentar trus lanjut jalan-jalan mengelilingi pulau. Kali ini giliran aku yang gendongin Baby Nizam.

biar engga capek, dipakein gendongan dulu ama Mama Nizam


Sedikit kisah tentang Pulau Onrust. Pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar menyebut pulau ini Pulau Kapal karena pulau ini sering dikunjungi kapal-kapal VOC yang berlabuh dan melakukan perbaikan disini. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi dari masa kolonial Belanda. Disini juga terdapat sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Nama 'Onrust' sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti tak pernah istirahat, karena kondisi pulau ini tak pernah berhenti membongkar muat barang-barang komoditi dan kegiatan perbaikan kapal-kapal. Banyak cerita tersimpan di Pulau Onrust yang konon juga merupakan tempat dimakamkannya seorang tokoh DI/TII. Dari cerita sejarah sampe cerita hantu. Cerita lebih detil dan menarik tentang Pulau Onrust bisa dibaca di postingan selanjutnya.

Untuk sesi poto-poto, karena disana banyak tempat berbau misteri, kami agak takut buat poto-poto. Kuatir ada penampakan :p

poto bareng rombongan (dok : Smartrip)
yang lain heboh bergaya, aku bergaya gendong baby nizam aja deh :p

Sorenya, kami kembali ke Jakarta. Dari Muara Kamal ke Rawa Buaya, kami naik omprengan yang sama dengan waktu kami berangkat. Perjalanan pulang dilanjutkan dengan taksi, cos badan berasa cape banget, jadi kayaknya engga sanggup kalo kudu berdiri di busway :D

Oya, beberapa foto di atas aku ambil dari facebook maupun fan page-nya Smartrip Adventure. Yang bikin ngiri, disana banyak poto Baby Nizam. Pengen sedikit komplain siy... Kenapah yang banyak cuma potonya Baby Nizam? Kenapah tante dan omnya yang keren-keren ini engga banyak potonya? Kenapah??

Baby Nizam emang adorable :-* (dok : Smartrip)

It's a quite fun adventure. Sedikit saran aja untuk Smartrip Adventure...untuk dokumentasinya, kalo bisa dibagikan ke peserta dalam bentuk CD trus dikirim ke alamat. Abisnya kalo kudu ikutan kopdar buat ambil dokumentasinya, kitanya yang engga bisa. Maklum, sibuk :p

Oke, sekian dulu cerita wisata kali ini. Oya, postingan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway : Jalan-Jalan Seru untuk Keke dan Nai yang diadakan oleh Mak Myra Anastasia dari KEB. Semoga bisa menginspirasi ;)

4 comments :

keke naima said...

jalan2nya seru dan saya menikmati bgt foto2nya.

terima kasih udh berpartisipasi, ya :)

isti thoriqi said...

Makasiy, Mak Myra...
Oya, Mak, selamat atas terpilihnya Mak sebagai Srikandi Persahabatan. Maaf saya engga bisa dateng di malam penganugerahan.
Sukses terus ya, Mak :-*

indah nuria Savitri said...

waaaah...kayaknya seruuu nih...aku belum sempet2 mampir ke pulau-pulau ini, padahal dekeeet :D...thanks for sharing...

isti thoriqi said...

Coba disempatkan, mba. Cukup sehari aja. Untuk pilihan pulaunya, masih banyak pulau-pulau lain yang lebih gede. Tapi kalo cari yang bersejarah, memang disini.
Thx for reading yak ;)

Post a Comment