Container Icon

Museum Kata dan Tradisi Bedulang (Masih tentang Belitung)

with Andrea Hirata, author of "The Rainbow Troops"

Seperti sudah aku janjiin di postingan sebelumnya, cerita tentang Museum Kata dan tradisi bedulang bakal aku bahas di postingan tersendiri. Langsung aja deh, ya. Dengan diiringi alunan lagu Bunga Seroja, kami berbelok ke sebuah jalan yang plangnya bertuliskan Jl. Laskar Pelangi. Dan sampailah kami di Museum Kata milik Andrea Hirata.

pose dulu ama Mba Via
Museum Kata

Sebelum menemui tuan rumah, kami makan siang terlebih dahulu. Penjelasan tentang makan siangnya akan aku bahas di bagian terakhir dari postingan ini.

Mengusung tagline "Indonesia's Most Inspiring Place", kehadiran Museum Kata dimaksudkan untuk memberikan inspirasi, memberikan semangat bagi para pengunjung untuk tidak lelah bermimpi.

"Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu"
"Dream for God will embrace your dreams"

Kalimat bijak di atas langsung menyambut pengunjung yang memasuki museum. Bangunan museum berupa rumah melayu kuno yang konon sudah berusia 200 tahun. Tulisan-tulisan maupun penunjuk ruangan yang ada di museum yang dananya berasal dari royalti novel Andrea ini tertuang dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Sebagai museum sastra pertama di Indonesia berisikan karya-karya Andrea Hirata, baik penggalan novel, puisi, bahkan ada tiga cerpen yang memang tidak untuk dipublikasikan. Ketiga cerpen yang masing-masing berjudul "Lesli Terbang Tinggi, Tinggi Sekali", "Sahabat yang Tak Mudah", dan "Bloomington di Singapura" ini hanya bisa dibaca oleh pengunjung museum. Sayang, karena keterbatasan waktu, aku engga sempat baca-baca cerpen Andrea yang ada disana.

unpublished short stories

Tak cuma karya sastra, namun juga ada karya seni seperti lukisan (baik goresan tangan Andrea sendiri maupun karya orang lain), dan lagu ciptaan Andrea. Selain itu juga foto-foto adegan dari film Laskar Pelangi, kumpulan artikel dari berbagai media tentang Laskar Pelangi, duplikat sampul novel Laskar Pelangi yang diterbitkan di berbagai negara, dan beberapa alat musik terpajang di ruangan. 
   

foto dari berbagai sudut di Museum Kata

Di bagian belakang museum, terdapat ruangan berjudul "Ruang Menulis Andrea Hirata". Di ruangan sederhana inilah Andrea Hirata menulis novel Laskar Pelangi.

terpajang di dekat pintu masuk ruang menulis
ruang menulis Andrea Hirata
bagian dalam ruang menulis

Di samping ruang menulis, atau tepatnya di bagian paling belakang museum terdapat Warung Kupi Kuli. Di warung ini, pengunjung bisa menikmati kopi khas Belitong sambil menikmati suasana dapur tempo dulu. Ruangan berdinding papan ini dilengkapi meja perapian untuk memasak. Nuansa jadul turut dihadirkan oleh radio model lama dan poster Rhoma Irama -_- Di warung ini juga tersedia beberapa peralatan musik seperti gitar dan gendang yang bisa dimainkan oleh para pengunjung.

Warung Kupi Kuli

Oya, di Museum Kata ini aku bertemu dengan 2 temen seinstansi, Rahmat dan Gilang. Rahmat pernah sekantor sama aku, tapi sekarang dia pindah ke Jambi. Kalo Gilang, di Kantor Pusat. Jadi inget, sewaktu landing di bandara H.A.S. Hanandjoedin, aku juga ketemu Winda, temen magang yang dapat penempatan di Jakarta juga, tapi beda kantor. Ya ampun, jadi wondering, berapakah jumlah orang di instansiku yang berpikiran sama denganku, yaitu untuk menghabiskan liburan di Belitung?

Kayak orang-orang kebanyakan yang ketemu ama temen lama, kita foto bareng. Oya, kenapa di foto ini kita engga pake sendal? Itu karena sebelum memasuki museum,  pengunjung memang harus melepaskan alas kaki.

dari kiri : aku, Rahmat, Gilang
*pandangan tertuju ke suatu titik*
*itu kaki ato aspal siy, item banget*
*nunjuk kaki sendiri*
*nangis*
Baru inget, kemarin waktu ketemu Winda, engga sempet foto bareng. Padahal pengen majang foto Winda disini. Ya udah, pasang foto jadul jaman tahun 2011 aja ya...

itu yang di belakang bukan di-crop, tapi emang fotonya kayak gini

Oya, tadi aku bilang mau cerita tentang makan siang di ruangan belakang museum. Makan siang kali ini dilakukan sesuai dengan tradisi di Belitung, yaitu makan bedulang alias senampan bersama. Filosofinya adalah untuk kebersamaan. Tradisi makan bedulang ini biasanya dilaksanakan dalam acara-acara pesta pernikahan masyarakat Belitung, walau kabarnya tradisi ini mulai tenggelam seiring banyaknya pasangan muda Belitung yang ingin menggelar pesta pernikahan yang praktis di gedung.

Memasuki ruangan, kami langsung disambut oleh belasan poster besar yang terpasang di dinding.



Kami melangkah dengan hati-hati mencari space kosong untuk duduk karena belasan dulang alias nampan telah diletakkan di berbagai titik di atas karpet. Porsi makanan di satu dulang biasanya disajikan untuk empat orang. Aturan yang diberlakukan dalam makan bedulang adalah yang muda mengambilkan makanan untuk yang tua. Orang paling tua di satu dulang adalah yang pertama kali dilayani, demikian seterusnya sesuai urutan usia.

porsinya udah pas untuk berempat

Kelompok kecil yang mengelilingi dulang kami terdiri dari Mas Dimas, Mba Via, Evy, dan aku. Sesuai aturan main, Evy mengambilkan makanan untuk kami bertiga. Dimulai dari Mas Dimas, kemudian Mba Via, selanjutnya aku, dan terakhir dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

Dessert untuk makan siang kita hari itu adalah kue jongkong. Kue dengan adonan lembut yang lezat dan gurih ini merupakan kue khas masyarakat Melayu. Kue jongkong terbuat dari tepung beras, tepung ketan, tepung kanji, kelapa muda, santan, air perasan daun pandan suji (sebagai pewarna hijau), gula merah, dan gula pasir. Oke, segera hentikan aku sebelum postingan ini lagi-lagi mengarah ke postingan tentang masak-memasak. Langsung saja aku tampilkan fotonya.

kue yang dipegang Bu Iin inilah yang disebut kue jongkong

Jadi ceritanya waktu aku mau moto kue, Bu Iin juga pengen difoto. Ada kekhawatiran bahwa yang akan aku pasang adalah foto crop-cropan yang mana hanya memperlihatkan tangan Bu Iin. Demi menghargai usaha Bu Iin memegangkan kue yang akan diambil gambarnya, fotonya engga aku crop *pasang senyum manis*

Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Bu Iin, kuenya aku foto ulang.
*maksudnya apa*
*Bu Iin berkacak pinggang*
*tapi kayaknya Bu Iin engga bisa marah deh*
*pasang senyum manis lagi, dengan bumbu innocent*

kue jongkong
Kemudian, ini penampakan kue jongkong setelah disendok ujungnya. Maksudnya biar keliatan lapisan gula merahnya, gitu...
suer, kue ini enak banget!!
Yak, demikian cerita tentang tradisi bedulang!

Jadi, apa yang kami bawa pulang dari Museum Kata? Tentunya inspirasi untuk terus berkarya, semangat untuk terus berusaha meraih mimpi, plus suvenir dengan tanda tangan Andrea Hirata!

Andrea Hirata menandatangani kaos Museum Kata



2 comments :

belitung said...

keren mbak.kalau saya makan bedulangnya,hampir setiap hari di lakukan.makan bedulang,rasa kekeluargaan nya terasa lebih erat

isti said...

Makasiy :)
Hehe, iya ya, sambil nganterin peserta tour, tiap hari jadi makan bedulang :D

Post a Comment