Container Icon

Ini Kursiku, Mana Kursimu?

Waktu nonton 5 cm di Atrium Senen kemarin, kita bertiga (aku, Ratna, en Ivna) milih buat duduk di baris E, deket lorong. Walopun saat memilih tiket, di baris A-D masih banyak seat kosong, tapi menurut kami, baris E ato F itu yang paling pas. Pandangan mata ke layar kayaknya lurus, gitu. Engga perlu mendongakkan ato menundukkan kepala demi menikmati film yang diputar.

(sumber : www.uniknih.com)
Kami baru masuk studio 2 menjelang film dimulai. Saat kami menuju ke seat kami, yaitu E 6-7-8, ternyata seat E6 sudah ditempati. Hmm, pasti ada oknum yang seenaknya sendiri, niy, pindah kursi. Aku melayangkan pandang ke arah E2 yang kosong, disusul dengan memfokuskan pandangan ke orang yang duduk di E3. Ternyata bener dugaanku, si cewe yang duduk di E3 itu tersangkanya. Dia langsung bergeser ke arah kanan, diikuti dengan pergeseran 3 orang di sebelahnya, sampai akhirnya seat E6 siap untuk aku duduki.

Tak lama setelah kami duduk, datang 4 orang cewe menuju seat F yang ada di depan kami. Keempat seat di kelompok kanan yang dekat dengan lorong sudah diduduki oleh segerombolan cowo. Salah satu cewe yang datang belakangan itu protes, meng-klaim bahwa kursi mereka adalah F 5-8. Aku tidak mendengar tanggapan dari para cowo yang udah mapan duduk itu. Kemungkinannya ada 2. Emang mereka yang terlalu shock kena protes dari para cewe sampe engga bisa ngejawab ato suara mereka terlalu lirih untuk bisa aku dengar. Hmm, menganalisa situasi dalam waktu sekian detik, kayanya kemungkinan pertama yang bener.

Aku ngelirik ke potongan-potongan tiket yang dipegang cewe yang protes tadi. Terlihat jelas dengan font ukuran besar dan dicetak tebal, angka 4 disana. Aku langsung nyela, deh. "Maaf, mba, itu tiketnya untuk Studio 4. Disini Studio 2". Cewe-cewe itu terlihat kaget, kemudian setelah minta maaf ke mas-mas yang duduk di F, mereka ngacir keluar studio. Gimana dengan mas-mas tadi? Engga sekali pun mereka menoleh ke arahku. Hmm, mungkin mereka bener-bener engga tau, kudu ngomong apa dalam berbagai situasi :) Sebenernya aku kasian juga ama mba-mba tadi. Harusnya di depan studio 2 tadi, tiket mereka udah diperiksa petugas, sehingga mereka engga perlu menanggung malu karena salah masuk studio.

Sepulang dari nonton, di kontrakan, seperti biasa aku membuka group chat temen-temen SD-ku di whatsapp. Seperti biasa pula, ada ratusan messages yang belum aku baca disana. Mereka emang rajin banget buat chatting. Hihihi... Menyenangkan sekali punya temen-temen kayak mereka... Selesai membaca kisah hari itu, aku ikutan nimbrung dengan cerita kalo aku baru nonton 5 cm. Kebetulan Fiki yang juga member group itu baru pulang dari nonton film yang sama, di bioskop yang berbeda tentunya. Dia bawa cerita. Begini ceritanya...

Sebelum nonton, Fiki kelaparan sangat, tapi males buat beli maem dulu. Begitu ngasih tiket ke petugas di depan studio, sobekan tiketnya lupa engga diambil. Dan bukannya langsung masuk ke dalam studio, dia malah ngibrit beli popcorn di dekat situ. Untungnya dia inget kalo dapet seat H8. Oya, just info, dia nonton sendirian waktu itu. Ketika film sudah diputar sekitar 10 menit, ada segerombolan cewe yang lapor ke mba petugas tiket kalo mereka engga dapet tempat duduk gara-gara Fiki. Si petugas ngedatengin Fiki lalu terjadilah percakapan berikut ini:
Mba tiket : "Mbak kursi nomor berapa?"
Fiki : "H8."
Mba tiket : "Mana tiketnya?"
Fiki : "Tiketnya hilang."
Waktu Fiki kasih jawaban ini, dia udah panik aja sampe popcorn-nya pada tumpah en hp-nya jatoh (saat didatengin petugas itu dia lagi merintah para pegawainya buat ngurus pengiriman barang).

Interogasi selanjutnya adalah si mba tiket nanyain studio berapa yang dituju oleh Fiki. Berhubung engga hapal, Fiki malah ngasih jawaban yang salah. Trus si mba tiket bilang gini, "Salah, mba, ini studio 2. Mba mau nonton Breaking Dawn ya, di studio 3?" Disini pertanyaan si mba jadi terasa absurd secara film jelas-jelas udah main. Kalo Fiki salah studio, harusnya dia udah nyadar dari tadi, dunk. Jadi Fiki ngejawab "Engga, mba, aku emang mau nonton ini."

Hmm, tampaknya konflik yang sedang terjadi ini engga bakal ada titik temu dan kata mufakat *lah, emangnya musyawarah?* Permasalahan ini sepertinya menemui jalan buntu.

Sampai akhirnya salah satu dari segerombolan cewe tadi nyeletuk "oh, bukan mbak, kita di B8." Mba petugas tiket menunjuk ke arah seat yang benar, trus berlalu begitu saja. Bahkan tidak terucap kata maaf. Hewww, tragis sekali nasibmu, Fik... *pukpuk Fiki*

Itu tadi cerita tentang kursi di bioskop. Tentang mereka yang suka pindah kursi sesukanya sendiri, dan juga tentang mereka yang engga merhatiin dimana mereka seharusnya duduk. Pengalaman serupa biasanya juga terjadi di pesawat. Aku pribadi cenderung suka memilih kursi saat naik pesawat. Preferensiku berganti-ganti, tergantung sikon, yang penting engga di kursi yang membuatku diapit dua orang atau kursi yang terletak di depan kursi darurat (cos kursinya kudu tegak). Kalo sedang melakukan perjalanan sendirian dan tanpa bagasi, aku memilih kursi di lorong. Sebisa mungkin paling depan ato paling belakang sekalian. Bukan apa-apa, biar cepet keluarnya.

(sumber : www.berbagaihal.com)
Kalo bawa bagasi, engga masalah mau di lorong ato di deket jendela. Mau depan, tengah, belakang, juga no problem. Secara, mau aku turun pertama ato turun terakhir, nunggu bagasinya tetep lama. Jika menyangkut perjalanan ke daerah-daerah yang belum pernah aku datengin, aku pilih kursi deket jendela. Biar bisa ngeliat pemandangan di luar dari jendela, gitu. Kalo perjalanan rame-rame, terserah aja. Yang penting bisa duduk bareng ama temen seperjalanan.

Aku termasuk orang yang sebisa mungkin menunda masuk pesawat sampai detik-detik terakhir. Memilih untuk menunggu di executive lounge sampai dateng final call. Pada dasarnya karena aku males ngantri berdiri buat masuk pesawat. Tapi ini pun ada perkecualian. Kalo aku engga bawa bagasi tapi bawa banyak barang ke kabin, aku berusaha dapet antrian awal buat masuk pesawat. Kuatirnya, kabin di atas kepala udah penuh kalo aku masuk terakhir. Tentang kursi tadi, engga ada bedanya dengan waktu di bioskop, aku paling sebel kalo kursiku udah ditempatin orang lain. Aku engga mau ngalah begitu aja, menduduki kursi yang seharusnya ditempati oleh perebut kursiku. Aku selalu menjelaskan dengan nada sedikit mengintimidasi bahwa kursi tersebut memang kursi yang aku pilih. Jadi bukan sekedar karena dipilihkan oleh petugas di counter check in. Loe pikir kite di angkot, bisa duduk terserah loe? *berasa aneh ngomong loe-gue*

Walo aku suka "ngomel" kalo ada orang yang ngerebut kursi orang ato salah kursi, aku sendiri udah 2 kali jadi orang yang menyebalkan tersebut. Yang pertama, karena seringnya perjalanan *sok iyes* membuat aku terkena serangan amnesia ringan. Jadi, dalam perjalanan pulang yang ada di ingatanku adalah nomor kursi waktu aku berangkat. Yang kedua, mungkin karena lelah ato apa, dapet seat 28 tapi yang teringat adalah seat 26. Yang kedua ini kejadiannya baru aja, tepatnya minggu tanggal 16 kemarin. Maklum, siangnya abis dugem berjamaah di acara HUT kantornya Mr. Banker. Aku bilang dugem cos acaranya mengambil tempat di D'Liquid Cafe, Grand Clarion Hotel yang menahbiskan dirinya sebagai "the best place to party in town". Mengingat artis-artis ibukota kalo konser di Makassar ya disana itu, jadi engga usah dibantah, kali, ya. 

Kembali membahas kursi. Beruntung, kebiasaanku yang suka masuk pesawat di saat-saat terakhir, membuat aku bukan sebagai orang menyebalkan yang menduduki kursi orang lain, namun sebagai orang menyebalkan yang ingin merebut kursi orang lain *abaikan poin tentang sama-sama menyebalkan* Untungnya momen-momen memalukan tapi biasa terjadi di pesawat itu belum pernah sampai melibatkan pramugari. Cos biasanya, saat orang yang aku protes keukeuh mempertahankan kursinya, aku langsung terpanggil untuk memeriksa tiket. Saat tersadar bahwa telah terjadi kesalahan, selanjutnya ya minta maaf dan berlalu menuju seat yang benar.

Jadi inti dari celotehan engga jelasku malam ini adalah "Duduklah pada Tempatnya". Yah, masih setipe ama "Buanglah Sampah pada Tempatnya", gitu deh :p

Good night all!!!

0 comments :

Post a Comment