Container Icon

Cerita Perjalanan: Menyusuri Negeri Laskar Pelangi

Mari menyusun seroja bunga seroja
Riasan sanggul remaja putri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja
Pujalah ia oh saja sekedar saja

Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung
Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung
Janganlah engkau percaya dengan asmara
Janganlah engkau percaya dengan asmara
Sekarang bukan bermenung jangan bermenung
Sekarang bukan bermenung jangan bermenung
Mari bersama oh adik memetik bunga
Mari bersama oh adik memetik bunga

Lagu Bunga Seroja yang dilantunkan oleh Veris Yamarno dan Mara Kama dan merupakan salah satu soundtrack dari film Laskar Pelangi, menjadi teman perjalanan kami saat memasuki Gantong. Perjalanan ke Gantong ini merupakan salah satu agenda dari tour kami ke Belitung. Saking panjangnya, cerita tentang perjalanan kami menyusuri Negeri Laskar Pelangi ini bakal aku bagi dalam beberapa postingan. Walopun udah dibagi, tetep aja postingan yang satu ini bakal panjang banget, karena menceritakan secara garis besar tour 4 hari 3 malam kami. Jadi, sebelum scroll ke bawah, kalo bisa siapin cemilan buat temen baca.  Engga usah dipaksain kalo udah cape bacanya, kan bisa dilanjutin besoknya :D

Pertama, aku kasih liat dulu siapa yang aku maksud dengan "kami" di atas...

atas : Mas Dimas, Mba Via, aku
bawah : Mba Arie, Evi, Bu Iin, Mba Kania
foto : koleksi Mba Kania

Untuk bisa berlibur ke Belitung ini, kami mengambil paket tour dari www.belitungisland.com. Selanjutnya disebut BIC. *Woiii, saya lagi ngiklan neh, bayarannya tour gratis, yak!* *ngarep* 

www.belitungisland.com


Satu rombongan tour berjumlah 35 orang, terbagi dalam beberapa tim. Bukan BIC yang ngebagi timnya, tapi dari peserta sendiri. Jadi peserta yang daftar untuk ikut tour emang udah bawa tim masing-masing. Tim kami terdiri dari 7 orang seperti yang aku sebutin di atas tadi dengan Mba Via sebagai koordinator. Ceritanya disini Mas Dimas dan Evi lagi hunimun trus minta ditemenin. Kok aneh? Ya suka-suka mereka dunk. Yang aneh sebenarnya adalah permintaan yang tidak berbanding lurus dengan penawaran. Kalo minta ditemenin, harusnya ngebayarin juga dunk, ya? *minta ditimpuk sendal ama Mas Dimas* 

the honeymoon couple
foto : koleksi Mba Via



Oya, temen-temen dalam timku ini benernya yang aku kenal deket cuma satu. Mba Via aja. Itu pun kenalnya karena dikenalin ama Mr. Banker. Jadi...semua anggota tim di atas adalah temen-temennya Mba Via yang notabene adalah seinstansi ama Mr. Banker. Eh,  ada yang bukan seinstansi, ding. Yaitu aku en Evi. Kita berdua senasib, korban cinta buta yang memaksa kita hengkang dari instansi tersebut *halah*
Kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta di Jakarta menuju Bandara H.A.S. Hananjoedin di Tanjungpandan. Terkait bandara ini, ada cerita lucu. Peserta dari tim lain ada yang membeli tiket ke Tanjungpinang alias ke Kepulauan Riau. Sepertinya dia lagi agak galau waktu beli tiket. Jadi begini, ibukota Bangka yang notabene tetangganya Belitung kan berjudul Pangkalpinang. Jadi kemungkinan niy, yang muncul di ingatan si pembeli tiket yang salah tadi adalah kombinasi dari nama ibukota di Belitung serta Bangka yaitu Tanjungpandan (TJQ) dan Pangkalpinang (PGK) yang "gabungan"nya adalah Tanjungpinang (TNJ). Wewww...ada-ada aja, yak. Tapi beneran deh, belajar dari pengalaman peserta lain tersebut, temen-temen yang pengen liburan ke Belitung kudu mencamkan bahwa tujuan perjalanan kalian adalah TANJUNGPANDAN (TJQ) *ini penting, jadi pake capslock*

Sesampai di bandara, kami dijemput oleh para tour guide dari BIC. Mobil yang disediakan oleh BIC terdiri dari Travello, Avanza, ama Microbus Elf. Langsung menuju Hotel Grand Pelangi (bintang tiga). Bagi yang beruntung alias kamarnya udah siap, bisa langsung check in. Bagi yang belum beruntung (dalam hal ini saya, Mba Via dan Bu Iin yang sekamar) boleh numpang dulu di kamar anggota lain ato mau bengong2 cantik aja di lobi hotel. Mengingat kamar-kamar ada di atas en aku males jalan-jalan naik tangga, aku memilih alternatif kedua. Ama Mba Via bengong di lobi... cantiknya udah otomatis lah. Bu Iin milih buat numpang istirahat bentar di kamar Mba Kania en Mba Arie.

Oya, just info, paket tour-nya niy benernya mematok 2 orang per kamar. Tapi karena jumlah tim kami yang ganjil, diputuskan bahwa ada yang sekamar bertiga, daripada yang 1 (yang mana adalah aku yang daftar terakhir) ngerasa kurang nyaman sekamar dengan peserta lain yang engga dikenal *bisa kenalan siy, tapi kayanya lebih seru kalo sekamar ama yang udah kenal aja*

Mampir hotel cuma 15 menit-an aja, abis itu kita langsung capcus ke destinasi pertama. Pantai Tanjung Tinggi. Saat pantai mulai terlihat, para peserta tour udah ber-wow wow alias berdecak kagum aja. Abisnya emang keren siy. Pantainya berpasir putih dan dihiasi dengan batu-batu granit berukuran raksasa. 

Pantai Tanjung Tinggi

Sebetulnya pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi aku, karena udah pernah aku nikmati di Bangka *pasang muka sok cool padahal aslinya juga girang*. Perbedaan pantai di Bangka dengan Belitung, kayanya dari kuantitas batu-batu granit raksasanya deh. Di Belitung lebih banyak, berdasar pengamatan awamku, siy. Nyampe di pantai, naluri narsis para peserta langsung tersalurkan. Semuanya heboh foto-fotoan. Tentang foto-fotoan itu, just info, sampe tour berakhir, juga tetep engga ada matinya, kok.

foto : koleksi Mba Via

Kelar foto-fotoan, peserta menikmati snack yang disediakan BIC. Engga jauh dari pantai tempat kita pertama diturunin, ada lokasi syuting Laskar Pelangi. Kami taunya dari plang yang ada disana. Kata Bang Andi, salah satu tour guide yang nemenin kami, yang bikinin plang itu ya BIC. Kata Bang Andi lagi, BIC adalah travel agent pertama di Belitung. BIC jugalah yang ngeboyong semua artis dan kru filmnya Laskar Pelangi ke berbagai lokasi syuting. Disini kami berfoto dengan semua peserta tour.

foto : koleksi Mba Kania
masih...Pantai Tanjung Tinggi
kayak gini niy, jalan menuju lokasi tempat aku bisa ngambil foto di atas

Dari Pantai Tanjung Tinggi, kami makan siang di... hadeh, lupa nama restonya... Yang penting judulnya rumah makan, lah. Menunya mengundang selera. Cumi, tumis kangkung, ikan asap-bakar (entah apa nama ikannya, belum sempat kenalan, tapi yang jelas pengolahannya diasap dulu, baru dibakar... rasanya manteb tenan!), trus juga ada kuliner khas Belitung yang namanya gangan. Minumnya es jeruk kunci yang katanya juga khas Belitung. Oya, tadi aku sempat menyebutkan gangan. Gangan ini merupakan sop ikan kuah kuning yang rasanya asam gurih karena dilengkapi dengan irisan nanas muda. Jenis ikan yang biasa diolah menjadi gangan ini adalah kepala ketarap, ikan ilak, ikan terisi, ikan bebulus, ikan ekor kuning, ikan belanak, bahkan masyarakat Belitung banyak yang yang menggemari gangan ikan pari dan ikan hiu.

Begini penampakan gangan :
sumber : www.belitungisland.com
Maap terpaksa nyomot gambar dari webnya BIC. Benernya aku udah motoin tapi ternyata gambarnya kabur :(

Kalo ngeliat sop ikan, yang saya pikirin cuma amis, aja. Tapi sop ikan yang satu ini engga amis! Ternyata rasa amis memang bisa ditanggulangi dengan penggunaan cabe. Gangan sebaiknya dimasak menggunakan cabe rawit merah, trus yang paling pas adalah menggunakan cabe rawit asli Belitung. Semakin pedas gangan, semakin hilang rasa amisnya! Emm, mari kita cut agar postingan aku berpindah jalur dari postingan tentang traveling menjadi postingan tentang masak-memasak!

Selama ini tour dengan travel agent identik dengan makanan seadanya, sehingga waktu menuju resto untuk makan siang tadi, aku engga terlalu semangat. Ternyata BIC nyuguhin menu yang beyond my expectation. Langsung hepi deh. Tapi aku juga sekaligus jadi mikir, apakah memang BIC yang oke banget ato aku yang selama ini aku terjebak dalam tour-tour bersama travel agent yang salah? *halah*

Oya, satu hal yang mengurangi kehepian makan siang itu adalah lampu rumah makan yang bolak-balik mati. Aku itung-itung, tiga kali ada kejadian lampu mati itu. Jadi kita sempet ngerasain candle light lunch (padahal lilin disini maksudnya buat ngusir lalat) ditemani hujan deras di luar. Karena hujan deras itu pula, agenda tour yang semestinya langsung menuju Pantai Tanjung Kelayang tertunda. Kami pulang ke hotel dulu. Alhamdulillah, engga lama kemudian, hujan reda, dan kami diminta berkumpul lagi di lobi hotel untuk selanjutnya menuju Tanjung Kelayang.

Sunset di Pantai Tanjung Kelayang

Malamnya, kami makan di Sari Laut. Ada menu kepitingnya. Sebagai bukan penggemar kepiting, aku cuma nyomot sedikit. Syarat aja, gitu *padahal ga mau rugi*. Yang bikin aku excited disini adalah ada menu kepiting isi atau ada juga yang menyebutnya rajungan crispy. Kepitingnya imut deh. Aku yang bukan penggemar kepiting *jiah, disebutin lagi* jatuh cinta ama makanan ini! *mata lope-lope*

kepiting isi

Setelah makan, tour guide di mobil yang saya tumpangi sempat menanyai peserta, apakah ada yang ingin mampir ke minimarket dulu sebelum pulang. Kebetulan tidak ada, jadi kami langsung pulang ke hotel. Bicara tentang hotel, kurang afdol rasanya kalo aku engga menyertakan foto-fotonya. Ini dia :

Hotel Grand Pelangi
not bad, eh?

Oya, tragedi lampu mati kembali terjadi. Parahnya, momennya bener-bener pas banget. Pas aku lagi di kamar mandi. Hwaaa... aku benci banget ama gelap. Belum sampe ke taraf achluophobia alias fobia gelap siy, tapi aku paling engga nyaman berada di tempat yang gelap dalam kondisi sendirian. Itulah kenapa aku engga pernah matiin lampu kalo tidur, kecuali ada temennya. Padahal denger-denger, mematikan lampu saat tidur itu sunnah loh. Ada haditsnya. Shahih, pula (sumber). Selain itu, berdasar penelitian, hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan melantonin, salah satu hormon dalam sistem kekebalan yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat. Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari, sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon melantonin terhenti (sumber unindra). Tapi aku beneran engga suka gelap! Kegelapan yang mengungkungku seakan membuatku tidak bisa bernapas *lebay*

Kembali ke tragedi lampu mati tadi, setelah 5-10 menit yang terasa seperti satu jam bagiku, akhirnya aku terselamatkan oleh... lampu yang menyala kembali. Hmm, semacam antiklimaks memang. Tapi mau ngarepin apa., coba? Muncul superhero, gitu? Oke, lebay-nya kumat lagi... Berhasil lolos dari kegelapan, aku beringsut ke bed. Huaaa... aku cuinta ama bed hotel! *bed di beberapa hotel termasuk yang pernah aku ceritaindisini merupakan pengecualian* Kecintaanku pada bed hotel engga otomatis menghilangkan penyakit insomniaku. Aku baru bisa tertidur ketika sudah lewat tengah malam, padahal Bu Iin dan Mba Via aja udah engga ada suaranya saat jam bahkan belum menunjukkan pukul 10 malam.

Agenda kami di hari kedua yaitu menjelajahi Belitung Timur. Gantong yang udah aku sebut-sebut di awal cerita tadi masuk ke wilayah Belitung Timur. Oya, dresscode aku dan Mba Via hari ini adalah rok. Emm, untuk hari-hari lain engga ada aturan dresscode kok, cuma kebetulan waktu packing kami sempat janjian mau bawa rok untuk foto-foto cantik. Secara Mba Via yang dapet giliran mandi duluan udah pake rok, otomatis aku kudu ngikut :D

Perjalanan ke Belitung Timur memakan waktu 1,5 jam. Beruntung tim kami saat itu berhasil menguasai Travello. Walo kapasitasnya 10 orang termasuk sopir (ato 11 kalo pengen duduk berdua di sebelah sopir), engga ada anggota dari tim lain yang pengen semobil ama kita. Maklum, 1 tim biasanya terdiri dari minimal 4 orang dan pengennya selalu bareng. Dalam rombongan kami ada pasangan hunimun *yang aku maksud bukan Mas Dimas dan Evi* yang sempat mau masuk ke mobil kami *jiah, ngaku-ngaku pemilik* namun melihat ketersediaan seat yang ada tidak memungkinkan mereka untuk duduk bersebelahan *maklum, kita semua udah pewe aja*, mereka mengurungkan niat untuk masuk. Lagian, niat hunimun kenapa engga ambil private tour aja siy? Lebih romantis, kan, berdua kemana-mana (eh, bertiga ama guide, ding)! *Mas Dimas dan Evi adalah pengecualian* *kenapa aku jadi rese ya?*

Destinasi pertama di Belitung Timur, tepatnya di Desa Burung Mandi adalah Vihara Budhayana Dewi Kwan Im. Bangunan vihara berada di atas perbukitan. Untuk menuju kesana kami menaiki puluhan anak tangga. Vihara Dewi Kwan Im ini, yang tercatat sudah ada pengurus vihara pada tahun 1747, namun kapan persisnya vihara itu berdiri, tidak ada yang tahu.


Vihara Dewi Kwan Im

Selain tersohor karena usianya yang sudah ratusan tahun, vihara ini juga terkenal karena ramalan nasibnya (Ciam Si). Beberapa peserta meminta untuk diramal. Pengurus vihara memulai ritual dengan berdoa di depan altar, kemudian orang yang ingin diramal mengocok tabung berisi puluhan lidi sampai ada salah satu lidi yang jatuh. Setiap lidi memiliki nomor sendiri. Sebenarnya ada ritual-ritual lain dilakukan, tapi aku engga terlalu merhatiin. Kuatir dianggep kepo. Hehehe...

di altar ini beberapa pengunjung melakukan ritual ramalan
foto : koleksi Mba Kania

Selanjutnya pengurus vihara akan mengambil kertas sesuai nomor pada lidi, kemudian ia akan membacakan ramalan yang tertera pada kertas tersebut. Ramalannya tertulis dalam bahasa Mandarin, namun di baliknya ada terjemahan dalam bahasa Indonesia, sedangkan interpretasi dari ramalan tersebut akan disesuaikan dengan permohonan pengunjung, mau tentang kesehatan, ato kesuksesan, ato jodoh. Karena engga pengen syirik, tim kami engga ada yang minta diramal.

rak berisi kartu ramalan

Dari Vihara Dewi Kwan Im, kami melipir ke Pantai Burung Mandi. Nah, disini kami menemukan keunikan. Berbeda dengan pantai-pantai lain di Belitung, tepatnya di Belitung Barat yang sudah kami kunjungi kemarin, di Pantai Burung Mandi ini kami tidak menemukan batu-batu granit raksasa. Engga usah yang raksasa, yang kurcaci pun engga ada. Pantainya bener-bener bersih. Satu lagi keunikannya, pantai ini berlatar belakang gunung, yaitu Gunung Burung Mandi. Sepanjang pantai, berjajar pohon pinus yang memberikan kesejukan.

kenapa aku motonya dari sudut yang engga kliatan gunungnya yak -_-

Dari Pantai Burung Mandi, kami menuju kota Manggar untuk ngopi di warung kopi. Weleh, emangnya penting gitu buat ngopi di warung kopi? Kayak di Jakarta engga banyak tempat buat ngopi aja! Loh, jangan salah! Manggar memang terkenal dengan warung kopinya. Itulah mengapa kota Manggar dijuluki sebagai Kota 1001 Warung Kopi, saking banyaknya kedai-kedai kopi yang bertebaran disini. Bahkan banyak warung kopi disini yang buka 24 jam. Kebiasaan untuk nongkrong sambil ngopi yang sering dilakukan oleh kaum lelaki disini memang sedikit dipandang miring. Emangnya pada engga kerja, ya? Berdasar penjelasan Mba Icha, tour guide kami, kebiasaan ngopi yang dilakukan kaum bapak disini adalah dikarenakan mereka mengantar istrinya ke pasar. Sembari menunggu sang istri selesai berbelanja, mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama dengan teman-temannya di warung kopi.

Kami mampir ke Warung Atet. Minuman yang direkomendasikan disini tentunya adalah kopi hitam. Aku memang penggemar kopi, tapi bukan kopi hitam. Jadi disini aku memesan kopi susu, pake es soalnya siang-siang jadi kayaknya seger gitu deh kalo minum pake es. Temen-temen yang engga suka kopi pada pesen teh tarik. Waktu kita mesen-mesen minuman, pelayan warungnya engga pake nyatet. Kita udah kagum aja, wah, ingatannya super tuh, kayaknya. Secara bisa menghafal pesanan dari puluhan anggota rombongan tour kami. Tapi ujung-ujungnya si pelayan bolak-balik nanyain ulang pesenan kita. Jadi lumayan lama kita menunggu pesenan dianter. Heran, kenapa engga dicatet aja, siy? Engga efisien banget deh. Hmm, bagaimana kalo ini kita anggap sebagai ciri khas juga, selain ciri khas lain yang akan aku jelasin di bawah? Pesanan tidak tercatat kedengarannya lebih menarik ;)

Oya, walo aku mesennya es kopi susu, sempet juga siy, nyobain sesendok kopi hitam *yang udah dicampur air maksudnya* punya temen dari tim lain yang emang udah saling akrab. Menurut aku, rasanya biasa aja. Mungkin karena aku bukan penggemar kopi hitam kali, ya *pengulangan disini sebagai penegasan* Kopi Manggar memiliki ciri khas sendiri dalam peracikannya. Aku sempat mendatangi dapur di bagian belakang warung buat ngeliat langsung peracikan kopinya. Ternyata serbuk kopinya dimasak terlebih dahulu sebelum diracik menjadi sajian siap minum.

roleplay...peracik kopi :D

Puas nongkrong sambil ngopi di Manggar, kami menuju Pantai Serdang. Sama seperti Pantai Burung Mandi, Pantai Serdang ini bersih, tanpa dihiasi batu-batu granit. Just info, kami tiba di Pantai Serdang ini hanya beberapa menit setelah jam menunjukkan pukul 12 siang. Ceritanya kita abis nge-drop kaum lelaki (yang jumlahnya hanya segelintir) untuk Jumatan. Bisa dibayangin kayak apa teriknya matahari di atas kepala dan panasnya pasir di bawah kaki kita. Rasanya pengen lompat-lompat aja di pasir saking nyelekitnya. Makcleng deh rasanya!!! Dan kita jadi lompat-lompat beneran!

lompat-lompat cantik di pantai cantik
foto : koleksi Mba Via

Bener-bener keren kan, fotonya? Untuk foto maksimal memang perlu usaha maksimal. Tentunya juga perlu kerelaan untuk jadi item maksimal. Inget, kita foto-fotoan begitu di siang hari yang nyaris bolong! Walo udah pake sunblock, kayaknya mataharinya engga rela kalo engga membakar kulit kita :(

Oya, sedikit cerita tentang rok yang dipake Mba Via... Iya, rok tie dye warna-warni pelangi itu, kata dia, benernya udah rencana mau ngebawain rok yang senada seirama buat dipake ama aku. Selain biar keliatan lebih matching di foto, lumayan juga buat ajang promosi. Hihihi... Jadi ceritanya mba Via niy, selain berprofesi sebagai Mrs. Banker, juga adalah Mrs. Boutique owner. Kurang keren apa coba? Ehm, kenapa aku jadi semacam secret admirer begini -_-

Banyaknya perahu nelayan warna-warni yang berjajar di pantai berpasir bener-bener sayang untuk dilewatkan begitu saja. Untuk apa? Yaelah, pake nanya. Ya buat background foto, lah!


foto : koleksi Mba Via

Balik ke mobil, Mba Via mamerin foto-foto cihuy kita di pantai tadi. Ya, anggota tim yang lain engga rela untuk jadi item maksimal sehingga mereka memutuskan untuk jalan-jalan di bawah kerimbunan pohon pinus yang memagari sepanjang pantainya. Ide fotonya tetep sama. Lompat-lompat cantik :p

foto : koleksi Mba Kania

Meninggalkan Pantai Serdang, kami beranjak ke Bukit Samak. Dulunya Bukit Samak ini merupakan pemukiman elit orang Belanda dari perusahaan tambang timah di Manggar. Salah satu rumah dinas Belanda yang ada disana sekarang difungsikan sebagai rumah dinas Bupati Belitung Timur. Ya, Basuki T. Purnama yang biasa disapa Ahok yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, mendampingi Jokowi pernah tinggal disana.

Di bawah sana terdapat pantai yang dinamai Pantai Olivier, tapi tanpa perlu turun kesana, pemandangannya sudah bisa dinikmati dari atas Bukit Samak sembari duduk di gazebo-gazebo yang tersedia. Emm, lebih tepatnya kami duduk-duduk sebentar trus berdiri buat melongok pemandangan laut luas dari pinggir pembatas yang solid. Fasilitas pendukung wisata pun sudah tersedia disana.

yang kliatan atap merah itu atapnya gazebo

Fasilitas favorit yang langsung diserbu oleh peserta tour adalah toilet. Engga cuma toilet, di Bukit Samak juga ada tempat bermain anak-anak, musola bahkan penginapan. Ada cafe juga, loh. Kalo dilihat sekilas, logo cafe-nya mirip dengan Starbucks. Setelah didekati, ternyata bertuliskan Desta Coffee.

Desta Coffee

Engga berlama-lama di Bukit Samak, kami berkendara lagi menuju Gantong. Seperti sudah saya ceritakan di atas, kami memasuki Gantong dengan diiringi lagu Bunga Seroja. Kami menuju Museum Kata milik Andrea Hirata.

with The Author of "Laskar Pelangi"
foto : koleksi Mba Via

Sebelum menemui Kak Andrea yang akrab disapa sebagai Kak Andis dan foto bersama seperti yang aku pajang di atas, kami makan dulu di ruangan belakang museum. Makan siang kali ini dilakukan dengan tradisi Belitung, yaitu makan bedulang atau senampan bersama. Cerita selengkapnya tentang bedulang dan tentunya Museum Kata akan aku ceritakan di postingan tersendiri.

1 nampan untuk 4 orang

Usai mengunjungi museum dan numpang sholat di masjid seberangnya, kami menuju Bendungan Pice. Bendungan yang merupakan ikon dari Kecamatan Gantong ini dibangun sekitar tahun 1933 - 1936 dan direnovasi pada tahun 2000. Nama "Pice" berasal dari nama arsitek belanda yang membangunnya yaitu Sir Vance. Bendungan Pice yang memiliki luas 140 m2 ini terletak di bagian hulu sungai Lenggang.

duduk-duduk sambil menikmati pemandangan Sungai Lenggang
cantiknya Sungai Lenggang
nampang di jembatan

Aku pernah membaca kalau di Bendungan Pice ini banyak terdapat ikan-ikan kecil yang oleh masayarakat setempat dinamakan ikan cempedik. Ikan-ikan itu akan banyak ditemui jika selama beberapa hari turun hujan yang sangat lebat. Oleh penduduk, ikan cempedik yang setelah digoreng akan terasa gurih itu dijadikan lauk atau camilan.

Dari Bendungan Pice kami berpindah ke lokasi replika SD Muhammadiyah yang digunakan sebagai lokasi syuting Laskar Pelangi yang juga akan ditulis dalam postingan tersendiri.

background : Replika SD Muhammadiyah Gantong

Pulangnya kami mampir ke Mie Belitung Atep di Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan. Mie khas Belitung yaitu mie kuning berukuran besar seperti mie celor Palembang, yang disajikan dengan kuah kecoklatan bersama dengan irisan kentang rebus, udang, ketimun, tahu, taoge dan emping melinjo. Sambil menikmati mie Belitung yang rasanya manis itu, kami memandangi sekeliling dinding restoran yang dihiasi foto-foto artis. Rupanya Mie Belitung Atep yang tidak membuka cabang di tempat lain ini sering dikunjungi artis, sehingga mendapat julukan mie artis. Oya, untuk menikmati seporsi mie Belitung beserta segelas es jeruk, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 15.000,-

penampakan Mie Belitung

Agenda keesokan harinya adalah menjelajah pulau-pulau di sekitar Belitung, plus snorkeling tentunya. Tunggu cerita tentang pulau Lengkuas, mercusuar, dan pemandangan menakjubkan dari atas mercusuar di postingan berikutnya!

Pulau Lengkuas
foto : koleksi Mba Kania

Malamnya, kami mampir membeli oleh-oleh khas Belitung di Toko B & B yang terletak di Jalan Veteran Kampung Parit. Disana aku membeli sambal lingkong (sejenis abon ikan), kopi, sirup jeruk kunci, kricu (kripik telur cumi), dan dodol agar-agar. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli disana adalah kerajinan kerang, kaos, gantungan kunci, kemplang, kerupuk ikan, kerupuk cumi, getas, stik rumput laut, dan lain-lain. Untuk harga, oleh-oleh khas Belitung tergolong mahal.

Setelah itu, kami mampir lagi ke toko oleh-oleh yang lain yaitu Toko Oleh-oleh Cap Keluarga di Jalan Pattimura, dekat dengan Hotel Grand Pelangi tempat kami menginap. Disana Bu Iin membeli rusip yang tidak tersedia di toko sebelumnya. Rusip yaitu sejenis sambal untuk lalapan yang terbuat dari ikan teri (atau disebut bilis oleh masyarakat Belitung) yang difermentasikan dan ditambah gula aren (gula jawa/gula merah) sebagai perasa.

Sebenarnya, ada satu suvenir unik yang hanya bisa ditemui di Belitung, yaitu batu satam. Serpihan meteor berwarna hitam ini biasanya dijadikan batu perhiasan untuk kalung, cincin, bros, dan lain-lain. Harganya berada di kisaran ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mengunjungi toko kerajinannya.

Di hari keempat kami mengunjungi rumah adat Belitung. Karena kepagian, kami engga bisa masuk ke dalam.

Rumah Adat Belitung
aku suka lampunya :)
  
Selanjutnya, dalam perjalanan menuju bandara, kami mampir dulu ke Danau Kaolin yang letaknya memang tidak jauh dari bandara. Danau ini dulunya merupakan tempat penambangan kaolin. Aktivitas penambangan tersebut menyebabkan terbentuknya lubang-lubang besar yang kemudian terisi air hujan yang bercampur dengan air dari sumber mata air di dasar lubang galian. Pemandangan yang akan memanjakan mata kita disana adalah danau dengan air berwarna biru toska yang dikelilingi oleh dinding bebatuan kaolin berwarna putih dan hijaunya pepohonan sebagai latar belakang.

pemandangan di Danau Kaolin
Lompat berjamaah di Danau Kaolin
foto : koleksi Mba Kania

Danau Kaolin menutup kunjungan kami ke Belitung, Negeri Laskar Pelangi. Wanna say thank you very much buat para tour guide dari www.belitungisland.com. Para tour guide yang sabar, fun, dan care. Percaya engga, waktu sendal aku putus di Pulau Lengkuas, Mba Icha minjemin sendalnya untuk aku pakai berkeliling ke pulau-pulau lain. Mba Icha rela nyeker demi aku *terharu*. Trus waktu kakiku dan kaki Bu Iin luka terkena karang, kita engga boleh ngerawat luka sendiri, karena tim dari BIC yang langsung turun tangan.

dari kiri : aku, Bang Andi, Mba Icha, Mas Vicky, Bang Iwan

What a pleasant journey with awesome friends! 
Hope to see you again, Belitung :)

NB:
Buat Mba Via en Mba Kania, makasiy ya, udah kasih ijin pasang koleksi foto-fotonya :-*
Jadi, kapan kita ke Wakatobi? :p 

Note :
Postingan ini turut serta memeriahkan Popcorn's 2nd Anniversary. Happy birthday, Popcorn... And keep writing, Mba Arma :-*



4 comments :

armae said...

Terimakasih sudah berpartisipasi dalam Giveaway Popcorn's 2nd Anniversary, mbak Isti... Sudah saya catat :)

isti said...

Makasiy, Mba Arma :)

Kopi Kampoeng said...

Katanya disana banyak banget warung kopi ya? pernah sih dibawain Kopi Indonesia asli dari belitung tapi kayaknya pingin seruput langsung dari sana degh :D

isti thoriqi said...

Monggo dicoba @Kopi Kampoeng :)

Post a Comment