Container Icon

North Sumatera #Day 4

Dalam 2 postingan sebelumnya, aku udah pernah cerita tentang perjalanan di Sumatera Utara hari pertama dan kedua serta hari ketiga. Di hari keempat, Dindri sudah menyiapkan agenda wisata yang seru. Hari keempat itu hari Sabtu, jadi Dindri, Mega dan Indra libur. Kami membuka hari dengan sarapan bubur ayam khas Cirebon. Aku disaranin pesen setengah porsi saja. Ternyata benar, setengah porsi disana adalah sama dengan 1 porsi di Jawa. Perjalanan wisata hari ini dimulai dari Air Terjun Sipiso-piso yang ditempuh dalam waktu 2 jam dari Siantar. Selama perjalanan, Dindri dan Mega berasa mabuk darat gitu, karena kondisi jalan yang memang rusak. Sejauh itu aku masih baik-baik saja, Alhamdulillah. 

Tiket masuk ke objek wisata yang merupakan air terjun tertinggi keempat di Indonesia ini hanya 4000 per orang. Nama Sipiso-piso berasal dari piso yang artinya pisau. Derasnya air-air yang berjatuhan dari bukit berketinggian 120 meter ini diumpamakan berbilah-bilah pisau yang tajam. Selain itu, jurang yang curam jika dilihat dari puncak bukit membuat orang setempat menyebutnya piso dari Tanah Karo. Air terjun Sipiso-piso mengalir melalui sebuah gua di sisi kawah Danau Toba. Dari puncak bukit dekat tempat kita memarkir mobil, kita sudah bisa melihat keelokan air terjun tersebut. Apalagi saat itu ada pelangi yang semakin menambah kecantikan air terjun tersebut.

penampakan air terjun berpelangi



Karena ingin melihat lebih dekat, aku dan Dindri menyusuri punggung bukit yang ditumbuhi pepohonan pinus, menuruni anak tangga kecil berjumlah ratusan yang disediakan. Mega, Indra dan Felis memutuskan untuk menunggu di warung dekat parkiran mobil. Kata Mega, mereka sudah pernah ke bawah. Dan dia kapok, karena saat kembali mendaki, rasanya berat banget. Mana dia masih harus menggendong Felis, pula! Walah, sebegitu capeknya-kah mendaki untuk kembali dari bawah? Oke, kami coba. Berdasarkan saran Dindri, kami hanya setengah jalan saja menuju air terjun. Bukan apa-apa, kami juga harus ingat semakin jauh kami turun, semakin jauh pula kami harus kembali. Ingat ya, disini engga ada elevator atau lift. Hehe… Tak apalah, walaupun setengah jalan, keindahan air terjunnya sudah bisa dinikmati. View lain yang kita dapatkan disini adalah Danau Toba. 


penampakan aku en dindri di separo jalan ke bawah
penampakan Danau Toba di latar belakang

Setelah mengambil beberapa foto berlatar belakang air terjun dan Danau Toba, kami kembali ke atas. Dalam perjalanan kembali ke atas, aku benar-benar merasa ingin menyerah. Di tengah jalan, saya pusing. Benar-benar mau pingsan rasanya. Air mineral yang aku bawa engga banyak membantu untuk mengembalikan penglihatan aku yang berkunang-kunang. Saat semuanya menjadi semakin gelap, aku memutuskan untuk duduk dulu. Dindri udah panik aja. Masalahnya, Air Terjun Sipiso-piso bukan termasuk objek wisata yang ramai dikunjungi pengunjung. Dari awal kami turun sampai sudah setengah jalan kembali ini, kami hanya bertemu tidak lebih dari 10 pengunjung. Kalau akupingsan, siapa yang akan membawa aku ke atas?

Dindri mengoceh tidak karuan untuk membuat aku tetap sadar. Aku engga kuat buat ngejawab suara Dindri yang makin lama makin tidak jelas aku dengar itu. Memejamkan mata sejenak dan mengatur nafas beberapa menit, lama-lama pusingku ilang juga. Alhamdulillah, akhirnya aku kuat untuk kembali ke atas. Aku bener-bener engga nyangka kalo aku sebegitu lemahnya. Aku inget, waktu jaman kuliah, aku pernah 2 kali mengunjungi Bromo bersama teman-teman. Kedua perjalanan itu dilakukan dalam kondisi keuangan sangat minim, sehingga kami engga mampu menyewa Hardtop atau kuda. Satu-satunya cara menyeberangi lautan pasir bahkan sampai naik ke Penanjakan adalah dengan berjalan kaki berjam-jam lamanya. Kembali ke penginapan ya begitu juga. Gila ya, betapa aku dulu kuat banget *menerawang mengenang masa lalu*

Oya, sedikit yang disayangkan dari kunjungan ke Air Terjun Sipiso-piso ini adalah kurangnya perhatian pemerintah setempat terkait perawatannya. Gazebo-gazebo yang disediakan untuk duduk-duduk penuh dengan coretan. Di sekitarnya juga banyak tumpukan sampah.
penampakan gazebo yang tidak terawat
Dari Air Terjun Sipiso-piso, kita beralih ke Taman Simalem Resort yang terletak di Jalan Raya Merek-Sidikalang Km 9. Kawasan ekowisata ini memiliki luas 206 hektar. Kawasan ini dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata di Sumatera Utara yang menggabungkan konsep agrowisata dan kegiatan ekowisata di dalam satu kawasan terpadu. Simalem dalam bahasa batak karo berarti sejuk dan nyaman. Taman Simalem Resort menawarkan kesejukan dan view yang indah ke Danau Toba.

Tarif masuknya lumayan mahal, 250 ribu untuk mobil pada saat weekend (kalo hari biasa 200 ribu). Charge untuk masuknya adalah 250.000 untuk 1 mobil, termasuk voucher yang bisa digunakan di kafe, belanja di minimarket, outbound, tentunya yang terletak dalam kompleks tersebut. Fasilitas yang ditawarkan di Taman Simalem Resort meliputi taman buatan, perkebunan biwa dan markisa, kebun pembibitan bunga, pondok-pondok di tepi sungai untuk berpiknik (riverside place), dan area outbound. Karena keterbatasan waktu, kita hanya mengunjungi taman buatannya yang dinamai Pearl of Lake Toba.

penampakan kami di taman buatan
dari sini Danau Toba-nya juga keliatan loh!

latar belakang : Danau Toba
  Setelah puas berfoto, kami mampir membeli jus di Tongging Point.  Di sana ada kafe tempat kami bisa mempergunakan voucher yang tadi kami dapatkan pada saat membayar tiket masuk. Aku mencoba jus "Ole-ole" yaitu campuran dari jeruk, apel, dan susu Hi Lo active low fat vanila. Dindri mencoba "Trovical Heaven" (bukan aku yang typo, tapi di menu nya emang tertulis seperti ini) yang mana merupakan kombinasi antara stroberi, nenas, dan jeruk. Sedangkan Mega memilih "Happy Detox" yang dibuat dari wortel, apel, jeruk, daun seledri, bit, dan daun kailian.

ki-ka : Trovical Heaven, Happy Detox, Ole-ole
Di sebelah kafe juga ada ruang bermain kecil untuk anak-anak dan minimarket. Jangan membayangkan minimarketnya seperti Indomaret atau Alfamart gitu. Minimarket disana hanya menjual teh, kopi, buah dan sayur organik. Oya, disana kami juga sempat mencoba tester kopi dan teh Simalem. Rasanya memang agak berbeda dari teh dan kopi kebanyakan, tapi saya cenderung tidak menyukainya.

penampakan Mega dan Indra waktu ngedengerin penjelasan mas-mas peracik kopi dan teh

Dari Taman Simalem Resort, kami beranjak ke sebuah bukit yang dinamai One Tree Hill. Kenapa dinamai demikian? Yaitu karena di bukit itu hanya ada sebatang pohon pinus. Dari sini, Danau Toba juga terlihat jelas.

penampakan One Tree Hill
penampakan Danau Toba dari kawasan One Tree Hill
chibi-chibi ama felis

Tujuan wisata terakhir kami adalah Berastagi. Sebelum sampai disana, kami makan sekalian sholat di sebuah rumah makan di Kabanjahe. Di Berastagi, kami naik dokar (tarifnya 25ribu) dan diajak menyusuri jalanan kota Berastagi selama 15 menit.

penampakan di dokar
Setelah jalan naik dokar, kami shopping (teuteup). Sebelum kembali ke Siantar, kami nongkrong sebentar di dekat pasar Berastagi, menikmati jagung bakar dan air tebu. Perjalanan kembali ke Siantar memakan waktu 3 jam. Sesampai di Siantar, Dindri mengajakku mampir ke kantornya karena ada 1 temannya yang mengadakan syukuran karena dimutasi kembali ke homebase, yaitu ke Tulungagung, Jawa Timur. Dia memang bernazar akan potong kambing kalau dimutasi ke homebase-nya.

Kami engga lama-lama di kantor karena Dindri ada janji dengan seorang penyiar di radio. Bersama Mba Reta (ini teman kantornya Dindri tapi aku juga udah kenalan waktu diklat MC di Jakarta bulan kemarin). Ceritanya, buat acara kantornya minggu depan (yang kemarin mereka pake acara latihan nari juga itu loh), Dindri diminta untuk membuat yel-yel yang diiringi musik. Jadi ia minta bantuan Bang Andi, penyiar radio Citra Anak Siantar FM untuk mengedit potongan-potongan lagu yang ia jadikan backsound untuk yel-yelnya. Selain agenda pengeditan lagu itu, Dindri membawa aku ikut ke radio juga untuk sebuah misi. Aku diminta untuk menyanyikan 1 dari 2 yel-yel yang ada, untuk direkam dalam sebuah cd sample. Menurutnya hal ini penting untuk memudahkan dia melatih karyawan lain dalam membawakan yel-yel tersebut. Wah, berasa artis neh. Oya, tadi aku bilang ada 2 yel-yel. Yel-yel satunya dinyanyikan sama Mba Reta. Malem ini kita berdua bener-bener dikerjain sama Dindri. Tapi kita ikhlas kok. Apalagi aku, ikhlas...banget!! *maklum, obsesi artis rekaman*.

penampakan duo artis dan manajernya
Pulang dari radio, kami mampir ke Paradep Taxi untuk memesan travel besok pagi yang akan membawaku ke Medan. Jadi disini travel itu disebut taksi ya? Hmm... Sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Abis mandi, aku diminta mengerahkan kemampuan kreatifku untuk memberikan feed back dan saran tentang gerakan-gerakan yel-yel yang sudah dibuatnya selama aku mandi tadi. Oke, setelah jadi penyanyi, aku jadi koreografer. Siap! Aku nemenin Dindri latihan sampe jam 2 pagi. Bukan cuma nemenin dengan duduk bengong atau tiduran di bed, loh, ya. Tapi aku juga ikut dancing-dancing gitu. Bener-bener deh, kita berdua kayak engga punya capek aja udah dari pagi keluyuran seharian.

Begitulah cerita hari keempatku di Sumatera Utara. Tinggal hari kelima aja, ya? Tunggu postingan selanjutnya ya...

2 comments :

Fabianus Gita said...

Seru banget yaa... Jadi pengin wisata ke Danau Toba, slama ini cuman bisa liat aja dari kejauhan hahaha... padahal udah sering banget lalu lalang melintasi rute Medan - Aceh Selatan :)

isti said...

Berarti abis ini klo lewat rute medan-aceh selatan lagi, sempetin mampir ke danau toba ya, jangan cuma liat dari kejauhan :D

Post a Comment