Container Icon

North Sumatera #Day 3


Kalo minggu kemarin saya sudah bercerita tentang perjalanan di Sumatera Utara hari pertama dan kedua, sekarang saya melanjutkan cerita di hari ketiga  yang dimulai dengan semangat. Setelah mandi pagi, saya keluar ke balkon. Hari masih belum terang benar. Beberapa rekan saya berenang di kolam renang tengah hotel. Satu yang saya sesali, kenapa saya engga kepikiran untuk turun untuk menikmati sunrise? -_-  Menjelang waktu sarapan, saya baru turun. Foto-foto dulu ah! :p
 

malam sebelumnya kami makan durian dekat gazebo di bawah itu :D
Kami sarapan di gazebo dekat kolam renang. Saya memesan mie goreng. Ternyata yang dimaksud mie disini adalah bihun. Lagi-lagi porsinya gede. Salah satu rekan meminjam gitar dari hotel. Jadi kita nyanyi-nyanyi dulu sebelum sarapan :D

penampakan sarapan ceria
Setelah sarapan, dengan kereta sewaan, kami menuju Desa Tomok. Oya, just info, sepeda motor disini disebut kereta. Sedangkan mobil disebut motor. Guide yang menyambut kami setibanya kami di kawasan wisata ini, langsung meminta kami untuk memakai ulos. Kemudian ia menceritakan legenda Sigale-gale. Ya, kunjungan pertama kami adalah mengunjungi Patung Sigale-gale, yaitu boneka dari kayu yang diukir menyerupai manusia. Boneka ini bisa menari, loh. Tentunya karena dimainkan dengan tali oleh dalangnya. Guide tadi menawarkan untuk menyuguhkan pertunjukan tarian Sigale-gale dengan tarif 80 ribu. Sayangnya karena waktu yang kami miliki tidak banyak, dengan terpaksa kami melewatkan tarian Sigale-gale tersebut.
Sigale-gale sendiri konon ceritanya adalah patung yang dibuat oleh tabib kerajaan pada jaman dahulu kala untuk mengobati kerinduan Raja Rahat pada anaknya yaitu Manggale yang tewas dalam perang. Tabib kerajaan tersebut memanggil roh Manggale untuk masuk ke dalam patung tersebut. Dengan iringan khas musik Batak Toba, boneka Manggale itu manortor (menari) selama tujuh hari tujuh malam. Pada hari kedelapan, boneka itu berhenti menari. Boneka Manggale yang berhenti menari itu disebut dengan Sigale-gale.
nampang bersama Sigale-gale
Puas berfoto dengan Sigale-gale, kami melanjutkan berjalan kaki menuju Museum Batak. Disana saya berkesempatan mencoba pakaian adat Batak Karo. Ceritanya saya menjadi Putri Batak. Yang lucu, saya sempat diminta berdiri diam dan guide tadi menaruh mangkuk yang lumayan berat di kepala saya. Kalau mangkuknya tidak jatuh, berarti saya putri sejati. Hasilnya...(backsound : jeng jeng jeng)...mangkuk tadi tidak jatuh. Saya agak bingung siy sebenarnya, dengan eksperimen mangkuk tadi. Menurut saya, mangkuk tadi memang engga akan jatuh asal saya engga bergerak-gerak. Saya jadi ingat pernah menonton film tentang pelajaran untuk menjadi seorang putri adalah meletakkan tumpukan buku-buku tebal di kepala lalu berjalan. Tapi tadi saya malah diminta untuk tetap diam. Entahlah…

penampakan Duta Wisata #halah

kiri : penampakan museum
kanan : penampakan pintu masuk museum






putri sejati *kedip-kedip*

Oya, di museum tadi, tidak ada tiket masuknya, tapi saat keluar museum kami diminta mengisi kotak sumbangan. Di foto paling kiri, di belakang guide yang membantu saya memakai pakaian adat, terlihat ada box warna putih. Di kotak tercetak tulisan "contribution box". Itulah kotak sumbangannya.

Dari Museum Batak, kami menuju Makam Raja Sidabutar. Di gerbang masuk makam, ada ukiran cecak menghadap 4 payudara yang melambangkan bahwa orang Batak harus bisa hidup seperti cecak, yaitu bisa menetap dimana saja (mudah beradaptasi). Namun kemana pun dia pergi, dia harus selalu ingat dengan ibu yang melahirkannya dan juga tanah kelahirannya. Oya, empat payudara ini juga menyimbolkan sifat wanita Batak yaitu subur. Kenapa ada 2 pasang payudara disana? Penjelasan menurut guide : karena sepasang untuk anaknya di waktu siang, sepasang untuk bapak si anak di waktu malam. Errr....Oya, subur atau montok dalam bahasa Batak yaitu "tomok", sama dengan nama desa yang sedang kami kunjungi tersebut.

penampakan saya dan ukiran
Di kompleks pemakaman, terdapat tiga buah makam para raja yang pernah memimpin Kerajaan Sidabutar. Oya, sebelum masuk kompleks tadi, lagi-lagi kami berkewajiban memakai ulos. Disana, guide menceritakan kisah raja-raja Batak terdahulu. Lagi-lagi tersedia kotak sumbangan untuk biaya pemeliharaan makam.

penampakan Makam Raja Sidabutar
Agenda selanjutnya adalah shopping. Walaupun saya berwisata bersama Bapak-bapak, bukan berarti cuma saya yang pengen shopping, loh. Bapak-bapak yang bersama saya juga engga kalah gila-gilaan kalau belanja oleh-oleh untuk istri dan anaknya. Walau jelas di akhir shopping, belanjaan saya yang paling juara :p
Kembali ke hotel, kami langsung check out. Jam 10 tepat, feri kami menjemput di dermaga. Awalnya saya duduk di kabin. Tapi kemudian, saya naik ke atas kabin untuk menikmati semilir angin danau :D

penampakan saat menunggu feri di dermaga


penampakan di atas feri
Selanjutnya, kami kembali ke perusahaan karet di Simalungun. Eh, mampir makan dulu ding, di Rumah Makan Beringin Indah I untuk menikmati burung puyuh. Di Simalungun, saya sempat memperhatikan seorang pekerja menderes karet. Saya sempat foto-fotoan juga di perkebunan karet milik perusahaan.


penampakan petualang hutan karet
Kemudian kami ke Kantor Pusat perusahaan untuk bertemu dengan manajer perusahaan, yang memang baru bisa ditemui siang ini, karena sampai kemarin beliau masih ada urusan di Jakarta. Dan selesailah sudah perjalanan dinas saya.
Rekan-rekan saya kembali ke Jakarta, tapi tidak halnya dengan saya. Sepulang dari perusahaan, saya langsung menuju kantor Dindri. Ternyata dia engga bisa langsung pulang karena bersama teman-temannya sedang berlatih untuk performance tari untuk acara kantornya minggu depan. Saya diantar ke kost-nya untuk beristirahat, trus dia kembali ke kantor.
Malamnya, Dindri mengajak saya nongkrong di Kafe A+. Kami engga cuma berdua, karena Dindri juga mengajak temannya, yaitu Mega yang datang bersama Indra, suaminya dan Felis, putri kecil mereka yang centil banget. Saya dan Dindri memesan sup jagung, tom yam dan salad buah untuk berdua. Seperti sudah bisa diduga, porsinya besar. Dessert-nya es krim yang juga engga kalah besarnya. Hehehe...

penampakan pesanan kami berdua
Belum puas nongkrong,  kami pindah ke Kok Tong, warung kopi asli Siantar yang berbentuk kafe. Di sana juga tertulis Lim’s Café. Semacam nama alias untuk kafenya-kah? Entahlah. Disana saya memesan pisang goreng dan Air Jali. Pisang gorengnya siy nyaris kayak pisang goreng Pontianak yang crispy-crispy gitu. Bedanya, ada tambahan selai srikaya khas Siantarnya. Enak juga ternyata makan pisang goreng yang dicocol dengan selai srikaya. Kalo Air Jali, engga tahu deh itu minuman terbuat dari apa, kayanya dibuat dari campuran tumbuh-tumbuhan gitu. Yang jelas rasanya aneh banget.

dari kiri : felis, mega, aku, dindri
Oya, karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Felis terlihat mengantuk. Walau begitu, putri kecil yang baru berumur 2,5 tahun ini tetep semangat waktu disuruh nge-dance. Lucu banget, deh. Mana dia tuh engga rewel plus bukan tipe anak yang takut dengan orang asing (dalam hal ini saya orang asingnya). Gimana ya, caranya bikin anak kayak gini? Hehehe...

penampakan berbagai gaya felis
Mulai dari A+ lanjut Lim's Café tadi kayanya saya engga makan makanan berat, tapi berasa kenyang banget. Ya iya lah, cemilannya porsi jumbo semua! :p Pulang dari Lim’s Café itu, saya dan Dindri berencana untuk naik bentor (becak motor), tapi karena sudah kemalaman, rencana dibatalkan. Maklum, jalanan di Siantar udah sepi kalau sudah lewat jam 9 malam.

Cerita hari ketiga ternyata panjang bener, ya. Hari keempat dan kelimanya menyusul deh, ya. Stay tune, ya! *halah

4 comments :

Javas K. Niscala said...

bikin ngiri kalo cerita jalan-jalan gini. kapan Javas bisa ngikutin jejak mbak Isti ya...

*envy*

isti said...

Bisa lah...sekarang sekolah dulu yang bener, oke? ;)

Vivien DH said...

wew.... seruuuu... tapi sekarang Q udah bisa bayangin deh mba... hehehe

isti said...

Seppp...finally, pien :D

Post a Comment