Container Icon

North Sumatera #Day 1-2



Ceritanya saya dan 3 orang rekan seinstansi (saya mau nyebut temen, sungkan, semuanya udah senior) ditugaskan oleh instansi kami ke satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan industri karet yang berlokasi di Simalungun, 20 km dari Pematang Siantar. Rabu siang, tanggal 5 September, kami mendarat di Bandara Polonia, Medan. Selanjutnya kami langsung menuju Simalungun untuk bertemu dengan staf perusahaan, mengantarkan surat terkait penugasan kami dan mengambil beberapa dokumen. Oya, dalam perjalanan dari Medan ke Simalungun, kami sempat mampir makan siang dan sholat di sebuah restoran Padang di Perbaungan.

Selanjutnya kami check in di Siantar Hotel untuk istirahat sebentar. Fasilitas di hotelnya lumayan lengkap. Ada TV, AC, kulkas, water heater. Di depan kamar ada teras dengan 2 kursi dan 1 meja. Hotel ini juga punya kolam renang, entah di bagian mana. Hotelnya lumayan luas, siy. Kamar mandinya pke shower dan toilet duduk. Lucunya, saya menemukan gayung gede di wastafel :) Di atas bed-nya, saya menemukan bahwa sprei dan sarung bantalnya bolong-bolong. Kecil-kecil siy, lubangnya, tapi saya tetep bisa lihat. Bantalnya juga engga empuk, dan sepertinya agak lembab. Oya, waktu pertama kali masuk kamar, saya langsung mengecek semua lampu. Semua lampu yang ada berwarna kuning. Waduh, saya kan sukanya lampu putih. Lampu kuning tuh bikin suasana horor suram dan muram aja, deh. Saya telpon ke reception buat cross check, masa iya engga ada lampu putihnya. Eh, ternyata ada loh, cuma yang di kamar saya lagi trouble kayanya. Waktu teknisi dateng en ngecek, ternyata memang ada satu lampu yang tidak berfungsi. Langsung deh, saya minta dibenerin.

penampakan kamar hotel en kuncinya
Jam 7 malam, kami keluar untuk makan di Rumah Makan Madukoro. Sembari makan malam, kami mengobrol. Dari obrolan itu, terungkaplah sebuah fakta bahwa saya belum pernah ke Danau Toba. Demi memuaskan rasa penasaran saya, kami memutuskan bahwa besok kami akan menginap di Parapat yang bisa ditempuh dengan 1 jam perjalanan saja dari Siantar. Kalo menurut saya siy, engga cuma saya aja deh, yang pengen kesana. Walau bapak-bapak bertiga itu udah pernah ke Danau Toba, tetep aja pengen kembali kesana. Tapi saya yang dijadiin alesan. Xixixi...

Rencana sudah disusun, namun masih ada satu hal yang menjadi perdebatan. Kami akan menginap di tepian Danau Toba, ataukah di Pulau Samosir. Karena tidak menemukan kata sepakat, kami pending dulu kesimpulannya. Untuk berjaga-jaga, kami melakukan reservasi via telepon di Hotel Inna Parapat. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel Siantar untuk menurunkan isi perut sekalian menunggu Dindri, teman saya seinstansi yang ditempatkan di Siantar. Waktu dia datang, langsung kami ajakin beli duren. Hehehe...

Malemnya, saya ama Dindri ngobrol dulu sebelum bobo. Oya, saya emang minta dia nemenin saya tidur di hotel. Benernya saya engga masalah juga tidur sendirian di hotel. Masalahnya, ada temen saya yang cerita, dia pernah 5 malam nginep di Hotel Siantar, en 3 kali kejadian tiba-tiba lampu mati. Nah, ini niy, yang saya engga suka. Lampu mati. Saya benci gelap :'(

Keesokan harinya, kami sarapan di hotel. Menu sarapannya sederhana banget. Prasmanan, siy, tapi pilihannya cuma ada nasi goreng, bihun goreng, telor ceplok, soto ayam, en roti tawar dengan selai. Plus krupuk. Plus ada teh dan kopi. Udah, gitu doang.  Menimbang rate hotelnya yang adalah 485ribu, jadi berasa hampa. Yah, gini deh, kalo hotel engga ada saingannya. Hotel yang recommended di Siantar emang cuma ini siy, kata Dindri. Dia menambahkan, orang-orang Kantor Pusat kalo ke Siantar juga nginepnya disini. Hmm, padahal seingat saya, saya sempat lewat sebuah hotel lain yang penampakannya lebih bagus. Namanya Hotel Sapadia. Yah, mungkin karena masih baru, jadi belum ada rekomendasi untuk hotel itu.

penampakan sarapan di hotel
Setelah sarapan, kami langsung check out dan berangkat ke Simalungun. Terkait penugasan kami, di Simalungun kami mengunjungi beberapa lokasi yang menghabiskan waktu seharian. Sore harinya, sebelum menuju Danau Toba, kami mampir beli durian (lagi!). Beli 10 buah. Separo buat dimakan di tempat, separonya lagi buat dibawa ke Parapat. Lalu kami ke Toko Selera di Jalan Sutomo untuk membeli selai srikaya dan kopi untuk oleh-oleh. Terus, engga jauh dari Toko Selera, ada toko yang berlabel Roti Ganda. Ini niy, roti yang terkenal dari Pematang Siantar. Pantesan rame banget. Pembelinya engga cuma turis, tapi juga penduduk asli Siantar. Roti ganda adalah roti tawar berbentuk loaf, yang akan dibelah menjadi dua bagian memanjang, kemudian bagian tengahnya diolesi krim dan meses atau selai srikaya (sesuai pilihan pembeli), trus dipotong-potong lagi sehingga memudahkan saat akan dimakan. Saya beli 2 roti. Yang satu adalah roti putih yang diolesi selai srikaya. Yang satu lagi roti pandan yang diolesi krim dan meses. Harga untuk kedua roti besar tadi 28 ribu saja. Selain yang berbentuk loaf, ada juga roti dengan ukuran lebih mini. Tapi saya engga nyobain.

mba-mba yang sibuk melayani pembeli
Oya, saya ingin bercerita sedikit tentang kota Pematang Siantar. Kota terbesar kedua di Sumatera Utara ini hanya memiliki dua ruas jalan utama, yaitu Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Objek wisata di Siantar adalah Museum Simalungun dan Patung Dewi Kwan Im, yang sayangnya sampai akhir "liburan" saya di Sumatera Utara, keduanya belum sempat saya datangi.

Meninggalkan Siantar, kami menuju Danau Toba di Parapat. Pas mau sunset, kami belum sampai benar ke tepian Danau Toba, namun kami sudah sampai di daerah Panatapan, sebuah lokasi dimana kita dapat "menatap" keindahan Danau Toba. Kami berhenti di sebuah kafe bernama Putra Kembar Cafe. Memesan kopi dan teh, kami numpang foto-fotoan disana. Untungnya, atasan saya punya hobi fotografi. Hasil fotonya jelas oke banget deh. Eh, sebentar, kok muka saya kelihatan berminyak. Hmm, touch up dulu, ah! Saya langsung sigap mengeluarkan compact powder yang saya beli waktu acara Muslimah In Style pas bulan puasa kemarin. Bapak-bapak cuma bengong lihat saya yang dengan cueknya berbedak ria :D

Dari tempat saya berdiri, saya melihat sebuah pulau kecil dengan latar belakang pulau besar yang terlihat memanjang. Saya kira, pulau kecil itulah yang dinamai Pulau Samosir. Engga jauh beda lah, ama Pulau Sempu yang pernah saya datengin. Just info, Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil dengan luas 8.77 km2 dan terletak di selatan Pulau Jawa. Pulau Sempu yang berada di dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur dapat ditempuh dengan perahu dari Pantai Sendang Biru. Tapi ternyata saya salah besar! Pulau Samosir adalah sebuah pulau besar yang tadi saya lihat memanjang tadi! Lha yang pulau kecil mirip Pulau Sempu tadi itu apa? Entahlah...hehehe... Dari hasil googling, saya baru tahu kalau Pulau Samosir yang diyakini sebagai pulau terbesar yang terdapat dalam sebuah pulau ini luasnya 630 km2. Wow, luas pulau ini hampir sebesar luas negara Singapura yang adalah 714 km2!
 
Background : Danau Toba dan Pulau Samosir
Di tengah sesi foto-foto, saya teringat akan roti Ganda yang tadi saya beli. Ketika saya mengambil roti tersebut dan membawanya ke kafe, monyet-monyet yang katanya memang banyak dijumpai disana bermunculan. Serbuan monyet-monyet tadi membuat saya mengurungkan niat untuk menikmati roti sambil memandang keindahan Danau Toba. Roti yang baru saya keluarkan tadi saya kemasi lagi. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

20 menit kemudian, kami sampai di Pelabuhan Ajibata. Disana kami menghelat diskusi kecil untuk melanjutkan "perdebatan" kami kemarin. Tercapai kata sepakat, kami akan menginap di Pulau Samosir. Ferry yang berangkat dari Pelabuhan Ajibata adalah ferry besar yang juga bisa mengangkut mobil. Jadwal keberangkatan ferry terdekat adalah pukul 21. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 18. Waduh, lumayan bengong juga ya, kalo kami menunggu ferry yang jam 9 malam itu. Kalo udah nyampe disana, bakalan langsung istirahat dunk. Akhirnya kami memutuskan untuk menyeberang tanpa membawa mobil. Kami balik arah menuju Pelabuhan Tigaraja. Tanpa perlu lama menunggu, kami langsung mendapatkan tempat duduk di sebuah ferry kecil. Ongkosnya 15 ribu per orang. Lumayan sepi. Ferry yang berkapasitas 40-an orang itu hanya terisi 7 penumpang.

40 menit mengarungi danau, ferry berhenti di Tomok. Tapi tujuan kami bukan disini. Ferry pun melanjutkan perjalanan. 10 menit kemudian, kami sampai di dermaga kecil milik hotel Carolina II, Tuktuk. Kami ke lobi untuk memesan kamar. Sayangnya, kamar yang tersisa hanya tinggal 4, padahal kami berlima. Itupun 1 dari 4 kamar tersebut letaknya terpisah. Karena ketersediaan kamar yang ada engga mencukupi, rekan-rekan saya keluar untuk mencari hotel lain di sekitar situ. Saya menunggu di lobi hotel. Mengedarkan pandang ke sekeliling, saya menemukan bule dimana-mana. Kebetulan saat itu, orang pribumi yang saya lihat hanya karyawan hotel.

Sekilas pandang, saya mengira kamar-kamar yang tersedia berada pada kisaran rate 250 ribu-an. Iseng-iseng saya nanya ke petugas hotel. Ternyata rate kamarnya dimulai dari harga 100 ribu-an saja. Untuk kamar yang menghadap danau (beach front), rate-nya 180 ribu. Untuk family room yang bisa diisi 4 orang, rate-nya 330 ribu. Hanya saja hotel ini tidak menyediakan TV di kamar. Wah, saya jadi bersyukur kami tidak mendapat kamar disana. Secara saya bakal sendirian, engga enak juga kalo di kamar engga ada tivi. Kan lumayan buat temen bobo.

Engga begitu lama, saya dijemput untuk menuju hotel lain. Lebih bagus dari hotel yang kita datengin pertama tadi. Namanya Samosir Villa Resort. Cantik, deh, hotelnya. Saya sempat memotret foto berpigura yang dipajang di belakang resepsionis, yang memperlihatkan seluruh bangunan hotel. Saya dapat kamar di lantai 2, dengan view ke bagian tengah hotel yaitu kolam renang. Kamarnya lebih bagus dibanding Hotel Siantar kemarin.

penampakan hotel dari arah Danau Toba

aslinya engga sesuram di gbr (maap, kamera bb-nya ga bagus)
Lagi-lagi saya melihat sebuah gayung di atas wastafel. Sepertinya ketersediaan gayung merupakan salah satu standar hotel disini. Oya, walo kamar mandinya oke, sayang banget tempat sampahnya merusak pemandangan :(

penampakan tempat sampahnya
Setelah menaruh barang, saya langsung keluar kamar. Di dekat kolam renang, sedang ada performance tari Tor-Tor. Kami mengambil meja yang nyaman untuk makan sambil menonton performance tersebut. Engga disangka-sangka, saya dan seorang rekan didaulat oleh para penari untuk ikut menari bersama mereka. Padahal seumur-umur saya belum pernah tahu gimana siy, tari tor-tor itu. Saya cuma sekedar tahu gerakan tangannya saja. Hmm, seru juga ternyata, ikutan tari tor-tor. Hehehe...

Selesai menari, pesanan saya datang. Nasi Goreng Samosir yang saya pesan ternyata porsinya gede. untuk ukuran hotel, loh, ya. Dengan harga 25ribu Rupiah, saya mendapatkan 1 porsi nasi (bagi saya, itu satu setengah porsi), ayam, 2 tusuk sate ayam, dan telor ceplok. Weww...lumayan mengenyangkan. Apalagi ditutup dengan jus alpukat. Eits, ternyata itu belum semuanya. Kami baru ingat kalo durian yang kami bawa tadi belum dimakan. Jadilah kami membawa durian-durian itu ke tepian danau. Sebenarnya ada bangunan kayu semacam gazebo besar dengan beberapa set kursi-meja di tepi danau. Namun kami tidak menemukan lampu disana, melainkan wadah-wadah lilin. Sepertinya gazebo itu biasanya di-setting untuk oh-so-romantic candle light dinner :) Jadi inget hunimun pertama saya dan Mr. Banker di Gili Trawangan yang pake acara dinner di tepi laut *senyum-senyum sendiri*

penampakan saya dan Mr. Banker 2 tahun yang lalu...pantainya di sebelah kanan kita ;)
Dan begitulah, malam hari kedua ditutup dengan pesta durian ditemani angin semilir di tepi danau...

2 comments :

Javas K. Niscala said...

jalan-jalan.... mauuuuuu....
terakhir kali kmrn aku dr Jmber. di hotel juga. :)

isti said...

Waktu masih kerja di kantor lama, saya pernah ditugaskan ke Jember, nginepnya di Hotel Panorama. Lumayan bagus :)

Post a Comment